Adriana....
Setelah kepergian Edward, Adriana terus meratap. Seperti kehilangan separuh jiwanya. Terus memanggil nama Edward dan Adrian.
Adriana mengetahui letak villa Edward.
Sesungguhnya Adriana tidak bisa hidup tanpa Edward, dia laki-laki baik, setia. Kali ini Adriana kalah, Mark terus merayu Adriana melepas rindu. Adriana malah terjebak.
Adriana memohon pada penjaga untuk segera mengantarkannya.
"Please help me mister. Aku tak ingin berpisah dari Edward. Aku mohon, antarkan aku berjumpa Edward dan anakku." Raungan Adriana menggema, membuat penjaga pribadi menuruti keinginan Adriana.
Dimobil Adriana menangis dan menangis, tanpa bisa berucap.
Divilla, Adriana menerobos masuk menembus semua pengawal, mengeluarkan seluruh tenaga yang tersisa agar bertemu Edward memohon tidak menceraikannya.
"Edward.... Edward...." Suara Adriana menggema seketika diruang tamu.
Edward terlonjak, mendengar suara Adriana.
Bram dan Adrian berlari mencari tahu keberadaan suara ratapan itu.
Fene, Veni, Kevin beranjak menuju kamar.
"Edward... Aku mohon, jangan tinggalkan aku." Adriana bersimpuh dihadapan Edward.
Edward melihat pengawal hanya diam, membiarkan Adriana menerobos masuk.
"Angkat perempuan ini, aku tidak mau melihat dia disini." Teriak Edward pada pengawal.
Adrian berlari memeluk Adriana. "Dad, kenapa Daddy tega...." Suara Adrian terdengar keras menatap sinis pada Edward.
"Ooooh... Kamu ingin tau dia, dia telah berkhianat dari kita, dia adalah biang keroknya." Edward menunjuk kiri Adriana.
"Mi.... Kita masuk kedalam." Adrian membawa Adriana.
"Jangan pernah membawa penghianat menginjak rumahku." Sarkas Edward.
Bram memberi isyarat pada Adrian segera melepaskan Adriana.
"Kamu tau Adrian, dia telah berselingkuh dari Lim. Apa kamu tau, bahwa kamu adalah...."
Edward memilih pergi meninggalkan Adriana, Adrian, Bram, berlalu kekamarnya.
Adrian bersimpuh menatap Adriana, "Pulang lah mi, kami baik-baik saja."
Adriana memeluk erat Adrian.
Dengan berat hati, Adrian memilih menemui Edward untuk mencari jawaban dari pertanyaan hatinya.
"Adrian.... Adrian...." Suara tangis Adriana sangat memilukan.
Adriana dibawa pengawal.
"Tenanglah nyonya, biarkan tuan Edward berfikir."
Adriana menangis menuruti perintah pengawal.
Bram menemani Adrian menemui Edward.
"Dad... Boleh saya masuk.?" Pintu kamar masih terbuka.
Edward termenung didalam kamar mengambil amplop coklat dari laci nakas.
"Ya, masuklah." Edward mempersilahkan kedua putranya duduk.
"Dad... Ada apa sebenarnya.?"
Edward memberikan amplop coklat pada Adrian.
Adrian membuka, melihat satu persatu foto-foto Adriana bersama Mark masa dulu. Sangat lusuh, masih dapat dilihat.
Adrian tidak bisa membendung air matanya.
Foto perselingkuhan Mark dan Adriana, ada surat asli kelahiran Adrian.
Adrian tertunduk. 'benarkah aku anak biologis Mark, kenapa Mami begitu tega pada Papi.'
Bram mengambil beberapa foto, Adrian kecil menggandeng Fene kecil. Seketika Bram menanyakan siapa Fene pada Edward.
"Fene dan Mark dad.?" Tanya Bram.
"Fene adalah putri dari Hanz Parker, yang diberikan Hanz pada pada Mark."
Bram menatap nanar Edward.
"Apakah Kevin sepupu Fene.?" Tanya Bram kaget.
"Ya, Kevin dan Fene sepupu. Hanz telah memberikan keuntungan lebih pada Mark."
"Apakah Hanz telah menjual Fene pada Mark dad.? Apa Fene mengetahui tentang ini.?" Tanya Bram penasaran.
Edward menarik nafas panjang. "Fene tidak mengetahui apapun, karena Mark mengambil Fene saat usia 1 tahun." Jelas Edward.
"Tapi kenapa Mark tidak pernah menceritakan apapun.?"
"Adriana mengetahui semua sepak terjang Mark, semua. Semua tentang kalian.
Saat Bram dan Kevin bertemu Fene pertama kali di Swiss, saya mencari tau siapa Fene Claire Zurk. Ternyata benar, Fene adalah anak Hanz dan Irene Parker." Jelas Edward.
"Makanya, saya meminta Kevin untuk mendekati Fene, agar mau bekerjasama dengan kita melawan Mark." Tambah Edward.
Adrian tertunduk menggenggam fotonya bersama Chiang Lim, selama ini dia anggap Papi kandungnya.
"Apakah Papi Lim tau perselingkuhan Mami dan Mark dad.?" tanya Adrian.
"Saya tidak pernah mendengar Lim menceritakan tentang Adriana dan Mark, saya yakin Lim tau semua tentang ini sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya. Karena Lim bukanlah pria bodoh." Senyum Edward pada Adrian.
"Apakah Mami Marisa mengetahui tentang ini dad.?" Tambah Bram.
"Marisa yang memberikan bukti ini pada Alberth, saya sudah mengetahui ini sejak lama." Edward bersandar disofa menatap langit kamarnya dengan wajah sangat tenang.
"Apakah Daddy akan memusuhi ku setelah mengetahui semua ini.?" Adrian menatap mata Edward mencari jawaban.
"Kamu adalah putraku Adrian, jujur aku belum bisa menerima kenyataan ini, bagiku kamu adalah putraku. Aku akan melakukan apapun untuk mu." Mata Edward memerah menatap Adrian.
Adrian memeluk Edward menangis sesengukan dibahu kekarnya seperti anak kecil kehilangan arah.
Bram mengusap wajah dengan kedua tangannya.
"Aku ingin tidur disini dad." Adrian melepaskan pelukannya.
"Ya... Malam ini kita akan tidur bersama disini. Bram, apa kamu akan tidur bersama kami.?"
Edward menyentuh bahu Bram.
"Ya... Aku sangat merindukan mu daddy." Bram memeluk Edward membuka tangannya menyambut Adrian.
Mereka bersenda gurau bersama, memikirkan bagaimana dengan nasib Fene.
"Dad, besok Veni akan kembali ke Jakarta, ada beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan."
"Ya... Besok kamu dan Fene juga akan ke Italy. Bram dan Kevin akan mengurus paket dari Mr.Huang."
Adrian mengangguk setuju akan rencana Edward.
"Ingat, lo jangan pernah merayu Fene Adrian." Sindir Bram.
Adrian tertawa, "Ya, ingatkan Kevin agar tidak memberikan bingkisan pada Fene." Gelak Adrian merangkul Bram.
Edward tertawa mendengar gurauan kedua putranya.
"Saya akan mengawal Fene dan Adrian, Bram. Jangan kawatir akan itu." Sahut Edward.
Adrian memeluk Edward.
Fene dan Kevin....
"Vin, Bram masih dikamar daddy.?" Fene membelai rambut Kevin duduk dikasur bawah. Sementara Fene berada diatas.
"Hmmmm.... Biarlah dulu, mereka lagi melepas rindu." Tawa Kevin.
"Aaaah lo... Gue kan rindu pengen dipeluk Bram." Canda Fene.
"Bram apa Ad....." Bibir Kevin terhenti, melirik Veni.
"Lo tu jangan sebar berita hoax vin." Bantah Veni melempar bantal kearah Kevin.
Kevin tertawa.
Fene merangkul leher Kevin dari belakang, "Barang lo kemaren masih ada.?" Fene melentikkan mata menatap Kevin dari samping memutar kepalanya dengan paksa.
"Aaaaagh, gila lo... Ntar gue digorok Bram." Bantah Kevin.
"Besok gue ke italy." Fene merangkul makin erat.
"Sama gue.??? waaah... aman lo, kita akan berpesta diclub." Canda Kevin.
Fene menjambak rambut Kevin. Beralih kesamping memeluk tubuh Veni.
"Veni mengusap lembut tangan Fene, "gue besok ke Jakarta." Veni berbicara dengan mata terpejam.
"Oooouh... Cepet banget." Fene memeluk erat Veni.
"Ya... Papi akan mencoret namaku dari kartu keluarga, jika aku masih disini, hahahaha."
Fene tertawa mengusap perut Veni.
Mereka ingin melanjutkan kegiatan mereka tanpa ada masalah.
Bram masuk kekamar melihat Fene dan Veni sudah tertidur.
Kevin sibuk dengan permainannya merasa dikejutkan oleh kehadiran Bram masuk tanpa menggedor pintu.
"Vin... Kekamar daddy." Perintah Bram pada Kevin. Tak lupa matanya mengarah pada Fene.
"Oke." Kevin berdiri berlalu menuju kamar Edward.***