AUTHOR's POV
Aldi berdecak ketika dia pulang dari rumah Arman--temannya, mom-nya duduk di kursi ruang tamu sehingga dia tidak memiliki kesempatan melarikan diri. Tidak biasanya Bella belum tidur di jam selarut ini. Pantas saja pintu utama tidak dikunci seperti biasa sampai dia harus memanjat pohon agar bisa ke balkon kamarnya.
"Darimana?" tanya Mom-nya bersedekap d**a. Dia meletakkan katalog fashion ke dekat nakas lampu. Aldi tidak mengindahkan interupsi itu melanjutkan alannya dengan jas tersampir di bahu.
"Aldi! Mom nanya sama kamu!"
Aldi berhenti berjalan lalu berbalik ketika sudah di dekat tangga. "Apa? Mom mau melanjutkan perdebatan tadi?"
Bella berdiri. Emosinya tersulut menyaksikan bagaimana keras kepala anaknya hanya untuk seorang gadis. "Kamu itu dibuat buta sama pacar kamu! Mom sudah pilihkan yang terbaik, apa yang harus kamu tolak?"
"Aku bukan boneka, Mom, aku bukan boneka siapapun. Aku berhak menentukan setiap keputusan yang berkaitan dengan hidupku."
"Tapi kamu ... Aldi!" seru Bella karena sebelum dia menyelesaikan ucapannya, Aldi sudah berbalik dan naik ke lantai atas. Dia terduduk, merenung dan teringat kejadian di restoran tadi.
Bella menghela napas lelah menghadapi puteranya. "Asal kamu tau, Aldi, mom gak suka kamu sama dia. Dia gak baik buat kamu, Aldi. Mom gak mau kamu"
"Mom gak mau Aldi sama dia karena mom pengen Aldi sama Dinda, gitu?" tanya Aldi menyentak gelas kaca di dekatnya.
Bella memejamkan mata sekejap. "Mom tau mana yang baik mana yang enggak."
Aldi menggeleng kuat. "Tapi ini hidup Aldi, Aldi yang jalanin. Jadi mom gak berhak milih siapa yang akan jadi pendamping Aldi nanti. Siapapun dia nanti, Aldi yang pilih."
Bahkan meski kejadian itu disaksikan empat orang, tidak ada satupun yang berani ikut campur. "Kamu berani ngelawan mom demi dia? Ternyata pengaruhnya sangat besar ya walau gak ada di sini. Bahkan Aldi mom yang penurut jadi aldi pembangkang" Ucapan Bella dipotong oleh Aldi.
Sekarang Aldi mengerti siapa dia yang dimaksud. Dia yang sekarang. "Cukup, mom. Dia gak salah, emang Aldi yang pengen berubah."
"Tapi perubahan kamu bukannya bagus malah memburuk, kamu sadar itu!"
"Emang salah kalau Aldi berubah? Enggak, mom. Perubahan itu alamiah. Itu wajar, kok. Aldi kan dalam masa pertumbuhan," ucap Aldi.
"Tapi kamu yang sekarang egois, hanya mementingkan diri kamu sendiri. Apa kamu gak liat di mata Tante Dera kalau beliau sangat berharap perjodohan ini akan berhasil? Kamu tega buat ia sedih karena keegoisan kamu?" Dera yang namanya dibawa menundukkan kepalanya. Dia tidak terbiasa dengan perdebatan serius, terutama antar keluarga.
Aldi mendesis. "Aldi gak egois, mom."
"Tapi menurut mom kamu egois. Aldi, mom dan dad gak pernah mengajarkan kamu hal seperti ini!" Bella menunjuk anaknya.
"Lihat, mom juga membentak Aldi demi Tante Dera dan Dinda. Apa mom gak egois?"
"Tapi seenggaknya banyak pihak yang akan senang kalau memang ini terjadi. Mom, dad, Tante Dera, om Regar, Dinda sedangkan kamu? Hanya kamu dan dia yang senang. Selebihnya? Akan sakit hati, Aldi."
"Mereka cuma memikirkan tentang kerja sama, mom."
"Kamu ingat kan konsekuensinya kalau kamu menolak?"
Aldi tertawa tak percaya, dia memalingkan wajahnya sebelum berkata dengan mantap pada sang mama. "Ya sudah, lakukan saja. Memangnya kalau bukan Aldi, siapa yang akan mewariskan seluruh kekayaan dad?"
Bram menjawab pertanyaan Aldi, "Dad bisa mewariskan pada Jack."
Retina Aldi yang semula berpusat pada mamanya bergerak-gerak. Tak pernah terpikirkan sedikitpun keluarga bisa menjadi se-matrealistis ini. "Aldi gak menolak ataupun menerima. Ingat itu, mom." Cowpk berbalik dan meninggalkan restaurant dengan langkah lebar. Dia tak ingin mempedulikan apapun lagi.
Sementara di dalam, keadaan keluarga Bram dan Regar benar-benar Kaku. Bella memulai perbincangan dengan menyentuh tangan Dera. "Maaf ya, Der. Aldi memang gitu. Padahal gak pernah tuh ngajarin kayak gitu."
Dera tersenyum kecil. "Gak papa, Bel. Namanya juga anak muda, lagi labil."
Bella kemudian berdiri diikuti suaminya, mengambil beberapa benda yang tadi dibawa lalu mengelap bibirnya dengan tisu. "Der, aku pamit dulu. Tapi jangan khawatir, Aldi pasti mau kok."
"Bel, kayaknya kalau Aldi gak mau atau udah punya pacar jangan dipaksa. Kasihan dia," ucap Dera.
"Liat aja dia akan milih pacar LDR-nya atau momnya," kata Bella.
"Tapi apa kau yakin?"
"Tentu saja aku yakin. Sudah jangan dipikirkan, kau terima beres saja oke? Aku pergi, bye." Bella meninggalkan keluarga Regar dengan banyak pertanyaan. Ada apa dengan Aldi dan Bella? Siapa dia yang mereka maksud?
Dera melirik HP-nya. "Yah, Ndi, kalian tunggu duluan aja di mobil. Nanti Bunda sama Dinda nyusul." Regar mencium singkat pipi Bella sebelum menarik putranya keluar.
"Ya udah. Kita duluan ya, bun," ucap Andi sambil lalu.
Dera memanggil waiter untuk meminta membereskan mejanya, tak peduli bahwa waktu sewa masih panjang. "Udah?" tanya Dera saat Dinda kembali dari toilet dengan kerutan di keningnya yang membuat Dera menyimpulkan bahwa itu sebuah kebingungan dengan situasi yang ada.
"Mereka udah pulang. Nda sih lama ditoilet, jadi mereka duluan," omel Dera dan Dinda hanya bisa memperlihatkan deretan giginya. Tidak mungkin dia memberi tahu Dinda apa yang terjadi sebenarnya.
"Yuk, pulang."
***
Adinda's POV.
Dilema. Itu yang aku rasakan. Ternyata setelah mengalaminya sendiri, aku mengerti mengapa kemarin Salsa menangis tersedu-sedu. Bahkan aku sudah seperti orang gila; bolak-balik, jambak rambut sendiri, teriak-teriak yang diredam bantal dan banyak lagi aksi enggak jelas.
Bingung memang berada di dunia berisikan ibu-ibu yang masih saja melakukan adat perjodohan. Dikira zaman masih Siti Nurbaya kah? Ada banyak yang hal yang membuatku pusing, seperti keputusanku nanti, nasib Kakakkelasku kalau tau pacarnya hendak dijodohkan, dan apa yang terjadi selagi aku ke toilet.
Pagi ini, aku sudah menginjakkan kakiku di koridor kelas X IPA-4, kelasku. Dengan mata sembab, aku melangkah menuju tempat di mana aku akan disidang berbagai pertanyaan yang pastinya menyangkut perihal tadi malam.
Bingung mengapa mataku sembab? Seperti yang sudah kuceritakan sebelumnya perihal Aldi yang berpacaran dengan Nina dan tentang Bunda. Sebenarnya aku juga tidak mengerti kenapa aku harus menangis. Mungkin mengingat kondisi Bunda yang punya penyakit. Kalau bunuh diri tidak dilarang agama, mungkin tubuhku sekarang ada dirawa-rawa yang dihuni buaya, just kiding.
Huh. Kembali padaku.
"Dinda!" Kudengar panggilan namaku yang tak perlu kulihat pun aku sudah mengetahuinya. Vina dan Salsa, suara mereka familiar sekali di gendang telingaku.
Aku bersiap menceritakan hal yang akan membuat mereka terkejut, justru aku yang terkejut ketika Salsa bertanya, "Kok kamu bisa dinner bareng the most wanted sekolah kita, sih?"
"Kok kalian tau?" tanyaku heran. Di dinner semalam, yang datang 'kan hanya keluargaku dan Aldi. Aldi sudah jelas tidak mungkin membocorkan pada siapapun, itu akan mempengaruhi pandangan orang sekolah padanya. Kak Andi apalagi, dia bukan tipe orang yang terbuka. Terus siapa? Tidak mungkin 'kan para orang tua.
"Kamu gak liat mading? Pantesan kudet mulu," komentar Salsa.
"Ayo!" Detik berikutnya tanganku sudah ditarik oleh Vina menuju mading, tempat di mana segerombolan orang sedang berebut melihat majalah dinding. Walau penuh, namun dengan mudahnya Vina membuat mereka membelah jalan dan memberikan tatapan yang aneh. Entahlah tapi aku tidak terbiasa dengan tatapan seperti itu.
"Tuh liat! Itu kamu kan, Nda?" tanya Vina menunjuk foto yang menjadi trending topik teratas di sekolah, aku dan Aldi yang dinner tadi malam, lengkap dengan keluarga kami dari beberapa angel. Ada ketika saat Aldi belum datang, Tante Bella berkata soal perjodohan hingga pada saat aku pergi ke toilet. Tunggu, Aldi dan Tante Bella bertengkar kah?
"Siapa yang foto?" tanyaku setengah menggumam.
"Gue!" Lalu munculah sosok yang menjadi alasan dilemaku ini dari balik punggung orang-orang.
"Nina ...."