Empat : Dijodohkan? (Aldi)

1407 Words
AUTHOR's POV Setelah pulang dari cafe, saat ini Aldi masih berada di rumahnya, merokok di balkon kamar. Dia bimbang atas permintaan yang lebih pantas disebut perintah dari momnya. Bagaimana tidak, Aldi mendapat firasat bahwa makan malam ini tidak akan berjalan sesuai keinginannya. Untuk selama ini, dia bisa memberi alasan. Namun kali ini, mamanya sudah tau bahwa alasan itu omong kosong. Drt... Drt... Drt... Sejenak Aldi berpikir bahwa itu panggilan dari mom-nya. Makanya dia menunggu sampai panggilan itu berhenti dan berdering lagi hingga tiga kali. Akhirnya di deringan ke empat kali, Aldi menjawab panggilan yang ternyata bukan dari sang mama. ("Hallo, Di?") sapa Nina dari seberang sana. "Iya, Na. Ada apa?" Aldi menjawab dengan nada ramah yang dibuat-buat. Cewek itu tertawa kecil. ("Gak papa, sih. Cuma gabut aja. Btw, kamu ada acara gak?") "Hm, ada sih." ("Ada, yah.") Nada Nina berubah kecewa. ("Ya udah deh aku tut—") "Emang ada apa?" potong Aldi. Dia harus mempertahankan kesan Nina sebagai pacar yang baik hati sebelum hubungan mereka berakhir. ("Gak jadi, tadi nya mau ngajakin kamu keluar.") "Kemana?" ("Kemana aja, deh. Tapi kalo gak bisa gak papa, kok.") Aldi melirik arlojinya. Masih ada setengah jam sebelum rencana dinner nanti—itupun kalau dia memutuskan untuk datang. "Bisa-bisa aja, sih. Tapi sebentar aja, ya?" ("Serius? Makasih. Kamu emang pacar aku yang paling baik, deh.") "...." Aldi diam, tidak menjawab sampai Nina kembali berbicara. ("Kan emang kamu pacar aku. Hehe.") "...." ("Kok kamu diem, sih?") "...." ("Hem! Aku tunggu.") Tut! Huh! Aldi mendengus. Selalu saja seperti itu. Kalau bukan karena KaKak Nina yang merupakan temannya itu, mana mau Aldi melakukan hal yang tabu dilakukan bagi orang yang sudah berpasangan. Nina juga berperilaku seolah-olah dia seorang putri yang segala keinginannya harus dituruti, membuatnya jengkel setengah mati saat harus berhubungan dengannya. Tunggu, berpasangan? Yah, Aldi sudah berpacaran dengan cewek seumurannya namun sedang dalam masa long distance relationship atau nge-trendnya LDR di mana ia di Jakarta sedang sang cewek di Aussie. Mereka sudah berpacaran dua tahun mana mungkin putus hanya karena Nina? Dan jangan pikir semua perlakuan manis yang dilakukan Aldi itu murni karena pada dasarnya itu hanya pura-pura! Oh, satu lagi. Kalau sang pacar tidak menyetujuinya juga mana mau Aldi seperti ini. Entah kenapa, pacar Aldi menyetujui Aldi pacaran 'pura-pura' asal tak melebihi batas. Oke, kembali ke Aldi. "Huh, rileks. Cuma pura-pura Aldi, c'mon, smile," ucapnya menyemangati diri dengan menunjukkan fake smile miliknya kemudian mengambil kunci mobilnya dengan malas. Dia sempat melirik setelan tuxedo dengan sebuah note. Pasti mom-nya. ~~~ Setelah sampai di rumah Nina, Aldi membunyikan klakson mobilnya untuk memberi sinyal bahwa ia sudah sampai berbarengan dengan Nina yang berlari ke arah mobilnya. Cewek itu mengenakan jeans denim dan kaos putih berbalut jaket. "Makasih ya mau nemenin aku," ucapnya saat pantatnya mendarat di kursi penumpang. Yang diajak bicara hanya berdehem sebagai jawaban. Kakakkelasnya itu mengatakan bahwa tujuan mereka ke sebuah pusat perbelanjaan yang belum lama ini dibuka. Sepanjang perjalanan Nina terus saja mengoceh dari selebriti, kejadian hari ini, bahkan sampai perihal kartun Doraemon tak luput dari celotehannya. "Ih, masa ada dinosaurus jaman sekarang. Jenis pse- pseosaurus eh apa ya? Ya itu deh. Dari batu jadi dinosaurus! Ada-ada aja, deh. Terus sama si Nobi dikasih nama Pisuke. Terus ...." Dan mengalirlah cerita dari a-z yang author pun malas menulisnya, eh, mengetiknya. Sedang yang diajak ngobrol tak menggubris sedikitpun perkataan yang keluar dari mulut lawan bicara nya. Pikirannya masih tertuju pada apa yang akan terjadi sekitar setengah jam lagi. Keputusannya juga belum diputuskan, antara datang atau tidak. Ia heran kenapa momnya mau repot-repot mengikuti dinner keluarga seperti itu. Aldi hafal tabiat momnya yang akan mengatakan "Kalau gak penting-penting amat, gak usah buang-buang waktu. Lebih baik melakukan hal yang lebih berguna". Tapi kali ini momnya yang meminta, bahkan menyuruhnya turut ambil bagian dalam dinner ini. Memang apa gunanya? Benar-benar tak masuk akal sama sekali. Aldi curiga kalau ada udang dibalik batu. "Aldi!" seru Nina membuat Aldi terlonjak kaget lantas menginjak pedal rem. Napasnya menderu sambil melihat ke depan, takut-takut dia sudah menabrak sesuatu. Sadar tak ada apapun, Aldi merasa dia dikerjai. Dia menoleh marah pada Nina. "Lo kenapa, sih?!" bentak Aldi. "Ta-tadi k-kamu ke-kenapa ngelamun?" tanya Nina gemetar antara takut dan terkejut. "Gue pusing, banyak masalah. Jadi dari pada lo nambah masalah mending lo diem. Bisa?" Nina menjawabnya dengan anggukan. "Gue mau balik! Lo mau lanjut atau gue anter pulang?" "Pu-pulang aja." Lalu Aldi berbalik arah kembali ke rumah Nina. Suasana di dalam mobil benar-benar canggung. Saat sampai didepan rumah Nina, Aldi mematikan mesin mobilnya yang artinya ingin bicara. Nina sudah pede bahwa Aldi hendak meminta maaf karena tadi membentaknya. "Na?" panggil Aldi. Dia melihat lurus ke depan. "Kenapa?" "Gue mau ngomong. Penting." Lalu Aldi menghela napas sebelum mengatakan hal yang mungkin menghilangkan senyum gadis sebelahnya. "Gue gak bisa lanjut," gumam Aldi. "Apa?" Nina membeku, tidak menyangka hal ini akan dibicarakan Aldi. Suhu tangannya mendingin namun matanya terasa panas. "Ma-maksud kamu?" Nina mulai terisak. "Ya gue udah muak sama semua tingkah lo! Dan lo tau semua yang gue perbuat ke elo itu palsu! Cuma sandiwara! Ngerti?" Sama dengan pernyataan nya, saat ini Aldi juga tengah bersandiwara. Meskipun apa yang diungkapkannya itu fakta. Dia tidak pernah ingin membuat cewek manapun menangis, namun kali ini dia harus. "Pa-palsu?" Nina semakin terisak hebat. Aldi mendesah lelah. "Intinya gue bukan orang yang tepat buat lo. Di luar sana banyak laki-laki yang jauh lebih baik dibanding gue." "Tapi kenapa? Kenapa kamu kayak gini?" "Suatu saat lo bakal ngerti. Gue ada janji lain. Gue pulang." Aldi menyalakan mobilnya walau Nina belum keluar, sebuah pengusiran secara tidak langsung untuk mantan pacarnya. "Di? A-aku boleh gak meluk kamu, sekali aja?" "Keluar! Gue udah gak ada urusan lagi sama lo, dan bilang ke Kakaklo kalau gue udah gak peduli lagi." Dengan keadaan terisak hebat, Nina menggenggam pintu mobil lalu keluar dengan Kaki gemetar. Bahunya juga berguncang dengan tubuh sedikit membungkuk. Primadona sekolah itu tidak terlihat baik-baik saja. "Maaf. Tapi gue terpaksa buat lo nangis," ucap Aldi lirih. Lalu Aldi melajukan mobilnya ke restaurant tempat mom dan papanya berada sekarang. Sebelumnya dia mampir ke rumahnya terlebih dulu untuk mengganti hoodie-nya dengan setelan tuxedo. "Mom!" seru Aldi begitu dia menginjakkan Kaki di beranda restoran, memastikan keberadaan orang tuanya. Dia melihat sang mama yang duduk bersama beberapa orang melambai. "Nah, Aldinya udah ada jadi kita mulai aja," seru Bella begitu Aldi sampai. Cowok itu terkejut namun wajahnya datar ketika mengetahui ada sosok yang dikenalnya selain orang tuanya. Orang itu yang tadi pagi tidak sengaja dia tabrak. Seingatnya dari name tag, namanya Adinda. "Mulai apa, bun?" tanya cewek itu. "Udah, nanti juga tau, kok," jawab Dera, sang mama dari cewek itu. "Di, kenalin ini Adin—" "Adinda. Aldi udah tau kok, mom." Kerutan di kening Bella —mama Aldi— mengarahkan pada pertanyaan, "Kalian udah kenal?" Dinda mengangguk. "Iya, Tante." "Duh, jangan panggil Tante, panggil mom aja kayak aldi." "Karena kalian udah saling kenal ...." Bella menjeda ucapannya lalu saling bertukar pandangan dengan Dera. "Mom sama Bunda Dera sepakat untuk menjodohkan kalian." Mata Aldi melotot, tatapannya tertuju pada sang mama. Apa-apaan ini? Mom-nya tidak pernah menyinggung sedikitpun soal perjodohan, lalu tiba-tiba sekarang dia dijodohkan begitu? Sedangkan Bella sudah tahu bahwa Aldi memiliki pacar. "Kalian?" ulang Dinda. "Ya. Kamu sama Aldi." "Apa!" Aldi menyerukan suara keberatannya. Mendengarnya secara langsung hanya menambah kegeramannya. Dia bahkan tidak sadar berdiri sambil menggebrak meja. "Aldi! Yang sopan kamu," tegur papanya. "Dijodohkan?" ulang Aldi. Dia menatap bergantian Bella dan Dera, tidak peduli wajah mama Adinda itu sudah Kaku dan memucat. Sejenak muncul rasa khawatir pada Aldi melihat Tante Dera memegang dadanya, dia takut terjadi sesuatu. "Iya, tapi tenang. Cuma dijodohkan, oke?" ucap Bella. Susah payah Aldi mempertahankan nada suaranya agar tidak terlalu menunjukkan emosinya. "Tapi mom, Aldi kan—" Ucapan Aldi dipotong Dinda. "Bisa Dinda pikirkan dulu?" Terlihat Adera dan Bella berpandangan sebelum tersenyum pada Dinda. "Tentu. Tapi jangan lama-lama ya," ucap Bella. "Boleh Dinda permisi ke toilet?" tanya Dinda diangguki sang Bunda. "Boleh, dong." "Permisi," pamit Dinda lalu pergi ke toilet. "Mom, Aldi kan ... yah, mom tau lah. Tapi kenapa sekarang pengen Aldi sama Dinda sih, mom?" tanya Aldi mengundang kekesalan Bella. Wanita itu bahkan berdiri, berhadapan dengan puteranya. Mereka lupa keberadaan empat pasang mata dan konsumen lain restoran. "Kamu gak mau karena kamu pengen sama dia, kan?" ucap Bella membuat Aldi kaget karena mom-nya menyangkut-pautkan hal ini dengan dia. Meski dalam konteksnya, Aldi belum tau pasti siapa dia yang dimaksud dari kedua orang yang sama-sama memiliki tempat berarti baginya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD