Revisi Tiga : Dinner Plus Plus

1777 Words
Di sinilah aku sekarang berada, restoran. Duduk bersama tiga orang dari pihak keluargaku dan tiga bangku kosong di seberang kami. Kalau bukan karena Bunda, mana mau aku duduk diam di sini dan mendengarkan celotehan Bunda yang senang akan keikutsertaanku malam ini. Kalau Bunda excited begini, aku makin yakin ini bukan sekedar makan malam antar keluarga.   Ya Allah, tolong lindungi hamba-Mu ini.   Jadi posisinya, aku duduk di kursi yang menghadap panggung kecil di mana sepertinya sering diisi band seperti sekarang ini. Kak Andi sebelah kiriku, Ayah sebelah kananku dan Bunda di samping Ayah. Sengaja aku tidak ingin berdampingan dengan Bunda agar bebas merutuki keputusanku.   "Yah, masih lama gak, sih? Nda kan belum belajar buat besok," gerutuku ditujukan pada Ayah, cukup keras untuk didengar Bunda dan Kak Andi. Pasalnya kami sudah menunggu sekitar dua puluh menit. Band itu saja entah sudah berapa kali membawakan lagu, tapi tamu yang ditunggu tidak juga datang.   "Emang besok ada ulangan, Nda?" tanya Ayah menyesap segelas air berwarna ... enggak tau deh warna apa. Warnanya s eperti minyak ikan. Kayaknya itu minuman rahasia yang hanya boleh diminum orang dewasa, buktinya aku ingin mencoba tapi Ayah langsung memelototiku.   "Emang belajar kalau ada ulangan aja?" balasku.   "Turunan kamu, tuh," tuduh Ayah pada Bunda yang sedang memakan salad buah.   "Ih, kok marah? Bagus dong anak kita belajar setiap waktu, gak kayak kamu dulu kerjanya nyanyi mulu. Giliran ada ulangan, kalau gak nyontek yah gatot!" ujar Bunda membuatku dan Kak Andi tertawa. Perdebatan kecil keluarga kami sering terjadi, tapi hanya memperdebatkan hal-hal sepele. Bunda yang enggak mau ngalah dan Ayah suka menggoda Bunda.   "Kamu mah, malu tau," ucap Ayah dan kami —aku dan Kak Andi— semakin tertawa.   "Duh, kayaknya seru, nih," ucap pria paruh baya serta wanita yang kuyakini istrinya menghampiri meja kami. Ayah berdiri, Bunda menyuruh kami ikut berdiri. Oh, jadi tamu yang ditunggu sudah tiba? Aku menghembuskan napas lega. Tidak ada anak lelaki mana pun yang keliatannya seumuran denganku. Sama sekali hanya wanita bergaun maroon dan pria ber-tuxedo hitam.   Ayah menjabat tangan pria itu. "Eh, Bram. Lama sekali nyampenya, tuh perut Dera sudah berdisko."   Bunda menyikut tulang rusuk Ayah. "Kamu, malu tau!" Pandangan Bunda beralih pada wanita istri tamu Ayah, lalu mencondongkan tubuhnya untuk ... tau 'kan yang semacam salaman ibu-ibu—menempelkan pipinya ke pipi temannya— gitu lah. "Eh, Bella, apa kabar?"   "Baik. Ini anak-anak kamu, Der?"   Aku tersenyum manis sebagai image anak baik dan memberi kesan baik pula. Tidak sepenuhnya image, aku 'kan murah senyum. Syukurlah, aku dapat menyimpulkan satu hal. Bunda dan Ayah tidak seenggak punya teman itu sampai teman mereka hanya orang tua Vina dan Salsa. Buktinya, dua orang ini teman Ayah dan Bunda.   "Ya iyalah, masa anak mbak jualan bakso depan komplek, sih," canda Bunda. Mereka duduk dan kami pun ikut duduk kembali.   "Nama kamu siapa, ganteng?" tanya Tante Bella pada Kak Andi.   "Andi, Tante. Andi Putra Pratama," jawab Kak Andi sopan. Aku diam-diam mengejeknya. Kak Andi kalau di rumah bar-bar, aku tidak menyangka bisa sesopan itu.   "Hm, marga Pratama ya. Kalo kamu, cantik?" Tante Bela gantian bertanya padaku.   "Dinda, Tante. Adinda Syifa Nayara."   Senyum Tante Bella mengembang. "Duh, cantiknya calon mantu." Pernyataannya sukses membuat keningku berkerut. Calon ... mantu? No ... please bilang kalau aku cuma pesimis!   Bunda memanggil waiter untuk menyajikan main course. Terlalu larut untuk appetizer. Malam-malam jangan terlalu banyak menimbun kalori, nanti makin melar. Apalagi selama menunggu kami sudah memesan beberapa makanan manis.   "Bel, anakmu kemana?" tanya Bunda.   "Bentar, ini katanya dia nyusul." Tante Bella lalu berbisik pada Om Bram saat pelayan datang dan menyajikan pesanan di meja.   Salmon Scrambled beserta dua jenis saus di depanku tidak begitu menggugah selera seperti biasa. Aku terlalu cemas dengan apa yang akan terjadi berikutnya. Kenapa coba tadi aku berubah pikiran?!   "Sebentar, Dad telpon dulu," kata Om Bram lalu mengotak-atik teleponnya beberapa kali dan mendekatkannya ke telinga, seperti sedang berusaha menghubungi seseorang.   "Nggak diangkat, Mom."   Aku yakin bukan hanya aku, tapi Bunda, Ayah, serta Kak Andi paham situasi saat ini dan mencoba untuk bersikap biasa saja. Semua kecuali Om Bram dan Tante Bella menyantap hidangan masing-masing. Bahkan Bunda saking mencoba biasa aja, malah mengomentari bentuk roti burger yang bulat. Memang roti burger mana yang bentuknya kotak? Kalau bukan roti isi biasa, bentuknya ya bundar.   "Mom! Dad!"   Terdengar suara yang cukup familiar di indra pendengaranku disusul siluet seseorang mendekati kami. Ragaku seolah mencelus begitu tau anak dari Tante Bella dan Om Bram. Jika dia anaknya, apa mungkin perjodohan itu benar?   "Aldi ...," lirihku mengetahui orang yang sedang berjalan kearah kami ialah orang yang tadi pagi menabrakku. Yahh, tak bisa kupungkiri kalau dia ganteng, apalagi dengan style semi formalnya itu. Tapi ya kalau dia akan dijodohkan denganku, hihhh, enggak mau.   "Nah, Aldinya udah ada jadi kita mulai aja," seru Tante Bella. Loh, mulai apa? Ini kita 'kan sudah mulai makan dari tadi.   "Mulai apa, bun?" tanyaku pada Bunda. Jangan sampai prasangka buruk ku terjadi, please!   Bunda tersenyum simpul sebelum berkata, "Udah, nanti juga tau, kok."   Tante Bella berdiri dan mengulurkan tangannya ke arahku. "Di, kenalin ini Adin—"   "Adinda. Aldi udah tau kok, Mom," potong Aldi. Dia masih berdiri dengan setelan persis Om Bram, hanya bagian lengannya digulung sedikit ke atas.   "Kalian udah kenal?" tanya Tante Bella menoleh padaku.   "Iya, Tante." Sebenarnya aku penasaran, kok Aldi bisa tau namaku? Kami kan belum kenalan dan aku tau namanya dari Vina dan Salsa. Tapi kok bisa Aldi tau, dari mana?   "Duh, jangan panggil Tante, panggil Mom aja kayak Aldi."   Aku tersenyum canggung sebelum membuang muka dan mendekat pada Kak Andi. "Kak, kayaknya ada yang gak beres deh," bisikku pada Kak Andi yang mengunyah steak pesanannya.   Kak Andi menegakan jari telunjuknya di depan bibir. "Sut! Kita gak boleh suudzon, Din."   "Tapi Kakak ngerasa gak sih ada yang aneh, gitu?"   Kunyahan Kak Andi melambat. "Ya, emang sih Kakak juga, aneh aja gitu." Aku kembali menegakkan punggungku sambil memanjatkan segala do'a, termasuk do'a makan yang tadi lupa k****a.   Setelah Aldi duduk, Tante Bella melanjutkan, "Karena kalian udah saling kenal ..." Tante Bella menjeda ucapannya, berpandangan dengan Bunda. "Aldi, Mom sama Bunda Dera sepakat untuk menjodohkan kalian."   Kalian tau rasanya jantung berhenti berdetak? Itulah yang kurasakan—cuma kiasan. Rasanya pasokan oksigen di sekitarku menghilang, lenyap tak bersisa. Bahkan garpu yang kugunakan sudah jatuh ke lantai. Ah, aku tidak bisa menggambarkan perasaanku dengan pasti. Lebur sudah.   Aku menatap linglung Bunda dan Tante Bella—tak sempat merekam ekspresi setiap orang terutama Aldi. "Kalian?" ulangku.   "Ya. Nda sama Aldi," jawab Bunda.   "Apa!" Bukan, bukan aku yang menyerukan keberatan. Namun cowok yang sedang duduk di depanku, Aldi. Dia berdiri dengan matanya menajam menatap Tante Bella dan Bunda. Aku pun ingin bisa menyuarakan keberatan, tapi pengendalian diriku tak sekuat Aldi. Aku terlalu terguncang, terlalu terkejut. Benar, semua pradugaku benar.   "Aldi! Yang sopan kamu," tegur Om Bram dengan suaranya yang berat. Kini suasana berubah, sampai tidak ada yang berani meneruskan menyantap hidangan.   "Dijodohkan?" ulang Aldi sedikit menggeram.   "Iya, tapi tenang. Cuma dijodohkan, oke?" kata Tante Bella. Kulihat Bunda, wajahnya tampak kaku. Aku yakin tidak ada yang menduga akan reaksi Aldi, terutama aku.   "Tapi Mom, Aldi kan—" Ucapan Aldi kupotong. Aku tak bisa berpikir jernih jika begini.   "Bisa Dinda pikirkan dulu?" pintaku. Terlihat Bunda dan Tante Bella saling bertukar pandangan sebelum Tante Bella tersenyum padaku.   Beliau mengangguk. "Tentu. Tapi jangan lama-lama ya."   "Boleh Dinda permisi ke toilet?"   Bunda menjawab, "Boleh, dong."   "Permisi," pamitku lalu pergi ke toilet. Rasanya, untuk berjalan saja aku lupa telah melakukannya sepanjang hidup. Aku tidak memakai korset, tapi ini lebih sesak dari memakai kebaya kekecilan untuk perpisahan sekolah dasar. Air dari keran di wastafel kubiarkan menyala sedikit sementara aku menatap cermin, teringat dengan kejadian siang ini di kantin.   Flashback   "Eh, liat deh itu."   Vina tiba-tiba menunjuk sebuah meja di bagian kiri kantin yang berisi sekitar 7 orang, 3 cowok dan 4 cewek dengan garpu kwetiaunya. Mereka makan diselingi perbincangan, itu biasa. Lalu apa istimewanya sampai Vina menyuruh aku dan Salsa melihat mereka?   "Apa, Vin?" tanyaku tak mengerti.   Salsa memekik kecil. "Itu tuh. Si Aldi sama pacarnya, so sweet ‘kan?" ucap Salsa. Aku menajamkan penglihatanku, baru sadar cowok yang duduk diapit dua orang itu Aldi. Sepertinya aku pernah lihat salah satu cewek di depannya. Tidak kenal pasti, tapi aku yakin dia kakak kelas.   Aku menghendikkan bahu. "B aja tuh," komentarku.   "Dih, belajar dari mana bahasa kayak gitu? Tumben," kata Vina menyuapkan lilitan kwetiau di garpunya.   Salsa yang masih memperhatikan Aldi dan pacarnya itu menggigit-gigit sendok. "Vin, itu lho, suap-suapan. Hm, apalah dayaku yang hanya seorang jones."   'Ih, apanya yang so sweet yang ada aku ingin memuntahkan mie ayam yang ada di mulutku,' dewi netizen dalam batinku mencemooh.   "Emang itu siapa?" tanyaku.   "Itu Kak Nina, anak 11 IPS 2."   "Mereka pacaran?" tanyaku lagi dan mereka langsung menoleh bersamaan padaku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan. Seperti kaget level tertinggi. Lho, emang ada yang salah dari pertanyaanku?   Salsa menangkup pipiku. "Ya ampun, Din. Dari Sabang sampai Merauke juga tau kalau mereka pacaran, bahkan mereka dinobatkan sebagai pasangan ter-so sweet se-SMA Bakti Kusuma."   Aku mengernyitkan dahi. "Bohong. Kalau dari Sabang sampai Merauke tau, kok aku gak tau?"   "Karena kamu kudet!" ejek Vina. Aku melihat pada Aldi couple. Yaa, oke lah, mereka so sweet. Tapi menurutku kadarnya berlebihan, terlalu lebay sampai suap-suapan begitu. Enggak malu apa?   "Duh, udah deh."   Dan aku bimbang, harus menerima atau menolak karena setiap satu keputusan yang kuambil akan berpengaruh besar. Jika aku menerima, konsekuensinya aku akan membuat hubungan seseorang sirna dan pasti ada orang yang menganggapku egois atau PHO alias perusak hubungan orang.   Dan kalau aku menolak, aku bisa membahayakan nyawa seseorang. Bunda. Aku tau Bunda punya penyakit yang tergolong parah, jantung. Sebabnya kalau aku menolak, bisa saja Bunda kepikiran, drop dan ... aku tidak bisa membayangkannya. Makanya sebisa mungkin apa pun itu, aku tidak akan menolak permintaan Bunda.   "Bagaimana ini? Aku tidak bisa menerima ataupun menolak," lirihku bimbang. Kubasuh wajahku dengan air, tidak peduli make-up luntur. Kepalaku perlu didinginkan beberapa waktu sebelum kembali ke sana.   Akhirnya aku memutuskan untuk kembali karena siap tak siap, aku harus menghadapi semua ini.   "Udah?" tanya Bunda saat aku sampai. Anehnya, di sini hanya tinggal aku dan Bunda saja. Piring-piring pesanan kami juga sudah diberesi dan kursi sudah rapi, siap menerima pelanggan selanjutnya. Padahal salmon scrambled-ku masih tersisa banyak.   "Mereka udah pulang. Nda sih lama di toilet, jadi mereka duluan," omel Bunda dan aku hanya bisa memperlihatkan deretan gigiku—untungnya aku masih bisa bereaksi normal. Baguslah jika mereka tidak menuntut jawabanku sekarang, perlu meditasi 7 hari 7 malam untuk memutuskannya. Semoga apapun keputusanku nanti, itu yang terbaik dan tidak merugikan bagi siapapun. "Yuk, pulang."   ***   Kalau kalian nih yang ada di posisi Dinda, bakal terima gak? Aku sih hantem aja yok bang Aldi.   1 Juli 2021.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD