(Revisi) Dua: Rencana Gagal Dinner

1680 Words
Tring...! Tring...! Tring...!   Bel pulang berbunyi memperingatkan aku untuk mulai mencari alasan apa yang akan kugunakan untuk menolak ajakan Bunda tanpa membuat Bunda marah. Walau Bunda tak pernah benar-benar marah padaku, namun tetap saja aku tak mau Bunda kecewa.   "Din, kamu mau datang buat dinner sama partner Ayah kamu itu?" tanya Vina di perjalanan kami menuju halte bus. Hanya aku yang naik bus, Vina dan Salsa diantar-jemput oleh supir. Mereka menemaniku di halte sampai jemputan mereka datang.   Aku menggeleng. "Aku juga enggak mau, tapi gimana caranya aku nolak?"   "Uhm ... kerkom mungkin?" saran Salsa.   "Mana ada kerkom sampai malam? Yang mungkin aja, deh, lagian kalau alasannya gitu Bunda juga pasti gak ngizinin," ucapku menendang batu-batu kecil di trotoar.   "Abisnya apa? Shopping? Nginep?" usul Vina.   Aku mulai pusing dengan alasan apa yang akan kugunakan untuk menolak tawaran Bunda. Hanya menolak saja seperti mau resign dari kerjaan. "Serius, deh, Na."   Bukan soal nolaknya sih yang membebaniku, tapi alasan yang menjadikannya kuat agar Bunda menyetujuinya.   Vina menggaruk kepalanya. "Otakku lagi tumpul, Din. Gak bisa mikir."   Aku teringat sesuatu. "Oh ya, Sal, gimana cowok yang mau dijodohin sama kamu?" Vina ikut menatap Salsa yang wajahnya memerah.   "Ada deh, sebenernya kalian juga kenal, kok, dia itu—"   Tin! Tin!   Kami menatap sebal pada jemputan Vina dan Salsa. Kenapa pula harus datang sekarang sih? Bersamaan pula. Selain aku tak ada teman, rumpinya harus di-pending dulu deh.   "Pokoknya Sal, kamu harus tetep cerita nanti," ucap Vina diangguki Salsa.   "Ya udah, kalian duluan, gih! Udah datang, tuh," usirku menunjuk dua mobil yang datang bersamaan dengan daguku. Bisa-bisanya mereka dijemput bersamaan, 'kan aku jadi sendiri.   "Ngusir, Mbak?" tanya Vina nyeleneh.   Aku menampangkan wajah sok sangarku. "Kalo iya, kenapa? Gih, sana pergi, ganggu tau!"   "Ya udah, deh. Selamat berpikir, haha."   Aku menggerutu ketika mereka pergi. Bunda pernah menawariku jasa antar-jemput pakai bang ojek pertigaan dekat komplek, tapi aku menolak. Lebih menyenangkan bisa berbaur di bis dengan orang-orang meski ada kekurangannya, seperti bus penuh atau menunggu seperti sekarang.   Aku berdecak pelan saat tetes-tetes hujan turun, bertambah lebat seiring waktu. Langit yang semula cerah mendadak redup, digantikan awan hujan yang gelap. Yahh, bagus sekali. Sendirian, menunggu, dan kedinginan di tengah hujan. Baju seragamku tak terlalu tebal makanya dingin hujan terasa menusuk.   "Belom pulang?" Sebuah suara menginterupsi membuatku berjengit kaget. Ini sudah sore dan aku sendirian, siapa yang tidak kepikiran macam-macam coba? Aku mendongak dan mendapati seseorang duduk di motornya bertanya padauk—hujan-hujanan.   "Astagfirullah, kaget aku," rutukku memegang d**a. Suaranya yang terdengar berat lebih mengejutkan dibanding suara petir—yang jauh.   "Belom pulang? Hujan, lho," ucapnya menunjuk langit gelap di atas sana. Seragamnya basah terkena gerimis.   "Ehm ... Busnya ‘kan belum datang."   "Busnya barusan lewat."   Mata dan mulutku membulat lalu berkata, "Apa?" Dan aku yakin wajahku sangat memalukan dengan ekspresiku saat terkejut. Aku melihat arlojiku. "Kok bisa, harusnya 'kan sebelas menit lagi ...," Tunggu. Ish, jamku mati ternyata! Pantas aja aku sendirian.   "Mau gue anter?" tawarnya.   "Eh, enggak usah. Aku bisa pakai taksi atau nunggu bus berikutnya, kok," kilahku. Dari dulu Bunda selalu mewanti-wanti aku untuk tidak berinteraksi dengan orang asing. Ya biarpun Aldi itu teman sekelasku, tetap saja 'kan kita tak pernah akrab.   Jangan-jangan nanti malah nyasar. ‘Kan Aldi baru saja pertukaran pelajar, ada kemungkinan lupa jalanan di kota sebesar ini yang jalan rayanya terkadang membingungkan.   "Naik aja lagi, buruan." Si dia menyalakan kembali motor yang digunakannya. Tipe motor gigi berwarna hitam itu mesinnya meraung pelan di tengah guyuran hujan gerimis.   "Serius gak us—" tolakku sebelum terpotong olehnya.   "Lo mau nunggu sampe maghrib di sini?"   Aku masih mematung mencerna perkataannya. Benar juga sih, sore aja sudah serem, gimana entar maghrib? Pasalnya bus selanjutnya yang sampai ke dekat rumahku jadwalnya malam. Hihh, sekarang saja sudah seram.   "Buruan!"   "I-iya."   Mau tak mau, aku menaiki motor hitam tersebut dengan gemetar. Pasalnya aku pernah mengalami kecelakaan saat aku SMP, masa bandel-bandelnya. Sehingga aku rada trauma menaiki motor, terutama motor seperti yang sedang kutumpangi saat ini.   ***   Setelah memberi tahu jalan menuju rumahku padanya, aku, lebih tepatnya kami sampai di rumahku. Hujan sudah reda, bahkan berangsur berhenti. Bajuku ikut basah dan mencetak tubuhku, tapi aku mengatasinya dengan menggendong tas di depan—sekaligus menjadi pembatas antara aku dan Aldi.   "Makasih ya ...." Aku terdiam sejenak, takut salah dugaanku kalau dia namanya Aldi. Kita 'kan tidak pernah berkenalan secara langsung.   "Aldi," jawabnya dan dugaanku benar. Aku mengembalikan helm yang sebelumnya kupakai pada Aldi. Cowok itu hanya punya satu helm dan bersikeras menyuruhku memakainya. Barulah sekarang aku sampai, dia yang pakai.   "Ehm ... makasih Aldi. Kamu mau mampir? Bunda bilang kalau ada teman yang mampir ke rumah diajak masuk dulu," tawarku. Aku hanya merasa enggak enak kalau tamu enggak di ajak masuk. “Kalau mau minjem baju Kak Andi ada deh kayaknya. Mending kamu ganti baju dulu, gak baik pake baju basah begitu.”   "Gak usah, gue ada urusan lain."   "Ya udah, kalo gitu aku—"   "Nda?"   Aku melotot sambil menoleh pelan ke belakang. Bunda berdiri di depan pintu lalu menghampiriku. Aduh, gawat! Bunda mana pernah membiarkanku dekat dengan cowok apalagi sampai diantar pulang.   Aldi turun dari motornya, menaruh helm di jok lalu menghampiri Bunda dan menyalami tangannya. "Eh, Tante," katanya mengundang kerutan pada dahiku.   "Lho, nak Aldi?" kata Bunda.   "Lho, kok Bunda kenal sama ... Aldi?" tanyaku tak mengerti. Hah? Aku saja baru mengenalnya hari ini. Bagaimana Bunda bisa terlihat akrab dengan 'orang asing'? Apalagi selama satu semester Aldi 'kan tidak di sini.   "Iya dia itu-—"   "Aldi pamit Tante, permisi." Aldi menyalami tangan Bunda lagi, menaiki motor lalu melajukannya hingga hilang dari pandangan lewat pagar rumah.   Aku memandang Bunda selidik dengan mata menyipit. "Bun, kok Bunda bisa kenal sama dia?" tanyaku sambil berjalan menuju teras untuk membuka sepatu. Aku langsung mengeluarkan semua buku di tas, takut ikut basah. Baru membuka sepatu dan kaos kaki yang ikut basah.   "Dia itu anak temen Bunda, Nda."   Bunda ikut duduk di sebelahku ketika aku bertanya, "Masa? Teman yang mana? Setahu Dinda Bunda gak punya lho temen selain Tante Vika sama sejenisnya deh."   Bunda menoleh dan pura-pura terkejut. Daster biru Bunda tersingkap sedikit ketika Bunda mendekat dan mencubit pipiku. "Eh, anak Bunda udah besar, ya? Belajar dari mana bicara seperti itu, hm?"   "Dari Bunda, dong. Hehe," ucapku cengengesan.   "Oh ya?"   "Udah ah, bun. Masuk yuk, kita makan. Nda udah laper, nih," rengekku mengelus perut. Katakanlah aku lebay atau manja, tapi memang seperti inilah sifatku kalau dekat keluarga. Maklum, anak bungsu dan putri satu-satunya.   "Anak Bunda laper, ya? Kasian, yuk masuk!"   ***   AUTHOR's POV   Di lain tempat tapi di waktu yang sama, tampak seorang cowok tengah duduk di cafe seorang diri dengan ditemani dua cangkir kopi. Cowok itu sendirian, namun ia memesan dua cangkir kopi yang sama. Wajahnya yang tergolong karismatik menarik perhatian beberapa pengunjung perempuan yang muda, menjadikannya objek 'cuci mata'.   Cowok itu sibuk dengan laptopnya, sesekali menyesap satu kopi sementara kopi yang lain belum tersentuh.   Drt! Drt! Drt!    Ponselnya di meja menampilkan panggilan dari kontak bertuliskan 'Mom'. Dia menggeser ikon hijau. "Halo?"   [Di, kamu nanti malem ada acara, Nak?] Suara wanita yang menjadi lawan bicaranya terdengar. Suara yang setiap hari dia dengar dan begitu akrab di telinganya.   "Nggak, Mom. Emang kenapa?"   [Partner Dad ingin makan malam bersama semua anggota keluarga, kamu ikut ya?]   Raut wajah Aldi berubah. Dia tidak pernah mau ikut terlibat dengan urusan orang dewasa. Dia sudah cukup benci harus terjebak dengan semua pertemuan Momnya yang ingin mengenalkan dia pada semua anak gadis temannya. "Kenapa harus ikut?"   [Kan Mom bilang semua anggota keluarga, jadi kamu harus ikut, oke?]   "Liat nanti aja deh, Mom," jawabnya dengan nada suara malas. Sudah jelas kalau dia berniat tak datang.   [Katanya gak ada acara?]   "Nanti Aldi pikir-pikir lagi. Bye, Mom."   Tut! Cowok itu memutuskan panggilan sepihak dan kembali meminum kopinya. Matanya menatap kopi di depan sambil memikirkan permintaan mamanya. Haruskah dia ikut?   ***   Adinda's POV   Dentingan garpu dan sendok mengisi keheningan ruangan ini, meja makan. Aku sama Bunda sedang makan. Ralat, aku saja yang makan karena Bunda hanya memperhatikan, membuatku semakin tidak enak untuk menolak ajakan Bunda. Usaha Bunda kalau sudah punya tekad enggak main-main.   Ehm... Aku bilang enggak ya sama Bunda kalau aku enggak mau? Tapi takut Bunda kecewa nantinya. Apalagi Bunda bilang aku sudah dibelikan baju gaun simple untuk dinner nanti malam.   Makanan di piringku sudah ludes, aku terdiam sebentar sebelum mengaduk-aduk s**u vanilla buatan Bunda. Oke, ini saatnya. "Ehm ... Bun?" panggilku pelan.   "Kenapa, Nda?"   "Gini ...," Aku meneguk s**u sampai setengah, setelahnya berkata, "Nda boleh gak nanti malem gak ikut?"   Bunda yang tadinya menopang dagu jadi duduk tegak. "Lho, kenapa?"   "Gak tahu, Bun. Nda serasa gak enak badan, nih."   Aku memulai akting sakitku. Membungkuk, memegang perut dan berusaha seolah-olah aku sakit yang mudah-mudahan bisa menaikan suhu tubuhku—paling enggak di dahi. Maaf Bunda, Nda bohong, cuma sekali doang kok.   "Nda sakit? Mau ke dokter?" tanya Bunda mendekat dan memegang keningku. Duh, semoga suhu tubuhku bisa bekerja sama.   "Gak usah, Bun. Kurang istirahat barang kali," jawabku lemah.   Aku sebisa mungkin tidak melihat wajah Bunda, takut luluh. Aduhh, jangan melas gitu dong Bun wajahnya. "Terus gimana?" tanya Bunda.   Tanganku ditumpuk di meja dan kususupkan kepalaku di antara keduanya—menghindari Bunda. "Yah, Nda gak bisa ikut nanti malam."   "Gak bisa, ya? Ya udah, nanti Bunda coba bicara sama Ayah." Bunda mengambil piring kotor dan meletakkannya di wastafel.   "Maaf ya, bun." Bunda hanya menanggapinya dengan senyum yang terlihat ... fake smile? Entah hanya penglihatanku atau memang Bunda sangat mengharapkan aku untuk datang.   Justru membuatku makin curiga, kenapa Bunda mau banget aku datang? Jangan-jangan ada sesuatu? Jadi rencanaku saat ini benar enggak sih?   Sekarang, aku tak tahu harus senang karena rencanaku berhasil atau justru mengatakan bahwa aku sudah lebih baik dan datang ke dinner itu agar Bunda senang. Atau memang sedari awal memang hanya aku yang pesimis dengan berpikir bahwa Bunda akan menjodohkanku dengan anak dari teman Ayah seperti yang dialami oleh Salsa.   "Bun, emang kenapa harus datang semua, sih?"   "Kamu akan tahu bila ikut, tapi nggak usah dipaksakan kalau gak bisa," ucap Bunda berlalu dari hadapanku.   Dan perkataan Bunda tadi sukses membuat rasa tidak nyaman muncul. Duhhh, Bunda ah!   ***   Selasa, 29 Juni 2021
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD