Delapan : Si Pengganggu Vina dan Si Ember Salsa

845 Words
Bingung. Itulah kata yang mewakilkan keadaanku sekarang. Aku berada di kamarku, di kasurku. Tengah memikirkan jalan mana yang sebaiknya kuambil. Aku memang mengutarakan keputusan sementaraku pada Salsa, Vina dan Kak Andi. Setelah dipikirkan, Aldi juga 'kan egois, mementingkan keinginannya sendiri. Yah, mungkin keinginanku juga. Tapi dibanding keinginanku, aku lebih ingin membahagiakan Bunda. Lagipula, siapa yang tau kalau pilihan Bunda itu terbaik. "Nda! Ada Vina sama Salsa di bawah!" Suara Bunda memecah lamunanku. Ah, belakangan ini aku banyak melamun dan merenung. "Iya, Bun. Bentar!" jawabku sebelum beranjak dan turun—kamarku dilantai dua— ke ruang tamu untuk menemui Vina dan Salsa. Tumben hari libur begini mereka enggak rebahan di rumah. "Eh, Vin, Sal ada apa?" "Emang gak boleh main kesini?" tanya Salsa dengan mimik sedih yang dibuat-buat. Mereka udah rapi dengan pakaian kasual, sementara aku mandi pun belum. "Ya tumben aja, gitu." "Kita kesini mau gosip," ucap Salsa semangat. "Kalau mau gosip ya jangan di sini. Cari tempat yang isinya gosipers, dong." "Nah dan di sini gosipersnya berada." Giliran Vina yang menjawab. Heran, biasanya Vina jalannya lurus-lurus aja. Tapi kenapa mau repot ngegosip bareng Salsa. Wah, kebawa-bawa Salsa nih. "Siapa? Bunda? Ayah? Atau Kak Andi?" tanyaku berjalan kedapur. Diikuti Vina dan Salsa, tentunya. "Ya, kamulah, Dinda." "Aku?" tunjukku padaku sendiri. "Soal Aldi aja aku gak tahu, gimana mau jadi gosipers? Lupa kemarin kalian bilang aku kudet?" Vina meneguk segelas air yang kurang dan hendak kuminum. Setelahnya berkata, "Justru itu, kita gosip di sini supaya kamu jadi orang yang up-to-date." "Sayangnya, kalian gak datang ke tempat dan orang yang tepat. Oke?" ucapku menaiki tangga. Aku melewatkan sarapan dan sudah tak ingin menyantap nasi goreng buatan Bunda. "Ayolah, Din. Kan kita bisa bahas soal perjo—" Sebelum Salsa menyelesaikan bicaranya dan Bunda dengar, segera kubekap mulut Salsa yang ember ini. "Jangan ngomong di sini! Ayo ke kamar!" ucapku berbisik menarik mereka berdua. Bunda 'kan belum tentu senang kalau tau aku menceritakan semuanya pada dua sahabatku itu. "Sekarang, kalian mau ngomong apa?" tanyaku bersidekap memandang mereka berdua dengan tatapan mengintimidasi milikku saat sampai dikamar dan menutup pintu. Yang ditanya hanya saling berpandangan dan menunjukkan gigi masing-masing dengan wajah tanpa dosa milik mereka. "Aku harap ini penting, lho. Karena kalian tau, kan? Udah nyita waktu belajar aku, dan kuharap ini benar-benar emergency." "Gak ada, sih. Kita cuma gabut," ucap Salsa enteng membuatku dongkol. "Apa? Jadi kalian kesini cuma karena gabut? Gak penting?" "Tapi kan gabut kita berfaedah," ucap Vina. "Faedah apanya? Ganggu yang ada." "Sama temen kok gitu, din?" suara Bunda membuatku terlonjak kaget. Bunda sudah berdiri di ambang pintu sambil membawa nampan camilan. "Eh, Bunda. Kayak gitu gimana, bun?" tanyaku kikuk. "Temen datang kok ganggu, sih. Justru kamu seneng, dong. Mereka care sama kamu." "Iya, tan. Denger tuh, Din," pojok Salsa. Aku melotot pada Salsa. "Iya, bun. Nda minta maaf." "Lho, kok sama Bunda? Sama Vina sama Salsa, dong." "Iya. Vin, sal, maaf ya?" Kulihat mereka saling berpandangan dengan senyum menjengkelkan. "Santai aja, Din." "Ya udah, lanjut gih. Bunda ke dapur dulu," lalu Bunda pergi dari kamarku. Ku intip sedikit memastikan Bunda sudah berbelok, segera kututup pintu kamar, kali ini kukunci. Aku menghela napas berat. "Ya udah, deh. Kalian boleh ngomong apapun di sini. Aku mau belajar." Segera kuambil buku kimia yang belum sempat k****a. Iya lah tidak sempat, daritadi susah fokus. Setelah kutunggu-tunggu sambil membaca beberapa penggal kalimat, mereka diam saja. "Kenapa diam? Katanya mau ngegosip," sindirku karena mereka tidak mengatakan apapun, tak seperti yang dibilang mereka. "Sebenarnya kita kesini mau bahas soal perjodohan itu, Din. Bukan cuma gabut," ucap Vina mengundang perhatianku dari buku kimia di genggamanku. Aku duduk menghadap mereka. Jalan cerah membayang di pikiranku. "Oh ya? Trus kalian udah dapet solusi biar gak ada yang sakit hati?" "Kan kesini mau 'bantu' mikir, bukan ngasih tahu," ucap Salsa menekankan kata bantu membuat pundakku kembali merosot. Hilang deh jalan cerahnya. "Huh, bilang dong. Jangan melambungkan harapan bila pada akhirnya dijatuhkan kembali." "Trus sekarang gimana?" tanya Vina. "Gak tahu, deh. Aku juga udah bingung mau gimana." Aku memijat keningku lelah. Entahlah, aku tak tahu harus bagaimana. Biar waktu saja yang menjawab. Semoga apapun nanti, tidak ada yang menyesal, terutama aku. *** Hai, kalian sampai di bab terakhir bagian free. Sebagai informasi, cerita ini masih mengalami perbaikan dari segi alur maupun penulisan berdasarkan kritikan para readers. Jadi saya sarankan bacanya kalau note di bawah blurb cerita ini mengatakan kalau ceritanya selesai direvisi. Oke?? Kenapa gak sebelum PTR? Saya jarang periksa love cerita yang udah end, pas tau kemarin harus udah PTR. Datangnya kritikan juga belum lama. Gak akan terlalu beda kok, cuma dirapihin lagi dan agak diperjelas yang katanya belum terjawab di cerita ini. Info : cerita ini sudah dibaca 220 ribu kali di w*****d sejak 2017, selesai 2020. Beberapa bulan setelah itu ditawarin pindah ke Dreame. Makanya saya berani terima tawaran dan publish di sini. Selama itu gak ada yang protes jalan cerita atau ending, makanya saya kira ini semua cukup, tapi kayaknya menurut yang sudah baca di sini tidak sama sekali. Ingat, saya terbuka dengan kritikan dan saran, tapi tolong gunakan padanan kata yang sopan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD