Suasana ruang makan yang tadinya tenang mendadak berubah panas begitu Nyonya Nara melihat black card itu berpindah ke tangan Rea. Tatapannya berkilat penuh nafsu dan ambisi. Ia tahu, lewat kode kecil yang diberikan Nayla padanya, bahwa inilah momen penting yang tidak boleh ia lewatkan. Lagi pula, siapa yang tidak ingin menguasai black card itu? Kartu yang tidak memiliki batasan, simbol kekuasaan dan kebebasan untuk membeli apa saja, kapan saja. Dengan gerakan cepat dan tanpa rasa malu, Nyonya Nara bangkit dari kursinya. Gaunnya yang elegan berkibar tipis mengikuti langkah terburu-burunya. Ia langsung menghampiri Rea dan Tuan Morries, lalu dengan sekali renggut, kartu itu sudah berpindah dari genggaman Rea ke tangannya. “Sayang,” suara Nyonya Nara lembut penuh rayuan saat menatap Tuan Mor

