Rea yang saat itu masih memegang kemudi mobilnya hanya bisa melirik sekilas keempat pelayan yang duduk dengan wajah pucat pasi. Pikirannya kacau, rasa sesal menusuk hatinya. Ia tahu, tak seharusnya tadi ia memberi kode pada para pelayan untuk memberikan kesaksian palsu di depan sang ayah. “Maafkan aku,” suara Rea bergetar lirih, “seharusnya aku tidak memelototi kalian dengan penuh ancaman agar kalian memberi isyarat untuk mendukungku dengan kesaksian palsu. Itu salahku.” Keempat pelayan itu serempak menggeleng. Salah seorang yang duduk di samping Rea memberanikan diri berkata, “Tidak Nona, jangan minta maaf pada kami. Justru kamilah yang seharusnya minta maaf. Karena selama ini kami hanya diam, berpura-pura tak melihat saat Anda dipukul, saat Anda difitnah oleh Nyonya Nara dan Nona Nayla

