Rea berdiri di depan cermin besar kamarnya. Ia memandangi wajahnya yang sudah dipoles tipis dengan riasan natural. Alisnya tertata rapi, pipinya hanya diberi sedikit blush yang memberi kesan segar, dan bibirnya berkilau lembut dengan lip gloss berwarna nude. Tidak ada yang berlebihan, namun cukup untuk menampilkan kecantikan anggun yang selama ini selalu ia sembunyikan.
Dengan tenang, ia menyisir rambut hitam panjangnya, lalu menggulung sebagian ke belakang, menyematkannya dengan jepit perak mungil. Sisa rambut dibiarkan jatuh menutupi bahu, menambahkan kesan menawan sekaligus elegan. Setelah puas dengan penampilan rambutnya, Rea menoleh ke arah ranjang, di mana dress abu-abu pemberian Nayla tergeletak rapi.
Ia mengambil dress itu perlahan, mengangkatnya tinggi-tinggi, matanya langsung menangkap bagian bahu yang sudah digunting. Benang tipis yang tersisa tampak rapuh, seakan siap putus kapan saja.
Rea tersenyum tipis. "Seperti yang kuduga… permainan kalian sama persis dengan masa lalu." gumamnya lirih. Dengan penuh ketenangan, ia mengenakan dress itu. Gaun abu-abu tersebut membalut tubuh rampingnya, menonjolkan siluet yang anggun. Meski tahu bahu dress bisa terlepas kapan saja, Rea tetap mengenakannya dan melangkah mantap.
Setelah memastikan segalanya siap, ia keluar dari kamar. Tumit sepatunya mengetuk lantai kayu saat ia menuruni anak tangga menuju ruang keluarga.
Di bawah, ia melihat keluarganya sudah berkumpul. Tuan Morries berdiri gagah dengan setelan jas sederhana tapi rapi. Nyonya Nara tampak anggun dengan gaun biru klasik yang menonjolkan kesan keibuan elegan. Sementara Nayla berdiri di samping, gaun merah marunnya ketat membalut tubuh, menampilkan kesan seksi yang jelas ia siapkan untuk menarik perhatian Dreck.
Saat melihat Rea melangkah anggun dengan dress abu-abu itu, Nyonya Nara dan Nayla saling pandang, bibir mereka melengkung puas. Mereka hampir tak bisa menyembunyikan senyum kemenangan.
"Pas sekali dia memakai dress jebakan itu," batin Nayla.
"Ayo," ucap Tuan Morries ketika Rea tiba di ruang keluarga. Mereka berempat pun keluar rumah menuju parkiran, di mana dua mobil mewah sudah menunggu dengan sopir yang bersiaga.
Sesuai pengaturan, Tuan Morries dan Nyonya Nara naik ke mobil pertama, sementara Nayla dan Rea berada di mobil kedua.
***
Sepanjang perjalanan, Nayla tak bisa menahan diri untuk terus melirik ke arah Rea. Matanya terpaku pada bahu dress abu-abu itu. Benang tipis yang mengikatnya tampak semakin longgar. Dalam bayangannya, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana tali itu akan terlepas begitu Rea melakukan sedikit gerakan.
“Betapa malunya dia saat itu terjadi,” pikir Nayla, tawa kecil lolos dari bibirnya.
Rea, yang duduk di samping, menangkap ekspresi penuh kemenangan adik tirinya itu. Senyum tipis terukir di wajahnya. Namun bukan senyum polos, melainkan senyum yang menyimpan rahasia.
“Kau benar-benar yakin aku akan jatuh ke jebakan yang sama, Nayla?” batinnya sambil menatap pemandangan malam di luar jendela mobil.
Tak lama, mobil pun berhenti di depan gerbang megah kediaman keluarga Vauline. Lampu-lampu kristal besar menggantung dari langit-langit luar, memantulkan cahaya yang membuat seluruh halaman terlihat berkilau bak istana. Puluhan pelayan tampak keluar-masuk dari pintu utama.
Nayla segera turun begitu pintu mobil dibuka sopir. Gaun merahnya berkibar anggun, seolah ingin memamerkan keindahan dirinya. Ia berlari kecil menghampiri Nyonya Nara yang baru keluar dari mobil pertama.
“Ma! Sebentar lagi dress Rea akan putus!” bisiknya penuh semangat, matanya berbinar seperti anak kecil yang menunggu kembang api meledak. “Aku lihat talinya sudah hampir lepas. Pasti akan terjadi di dalam sana!”
Nyonya Nara buru-buru menatap sekeliling, memastikan tidak ada yang mendengar. Ia lalu menepuk lengan Nayla pelan. “Sudah, jangan terlalu senang dulu. Kau bisa membuat orang curiga kalau terlihat berlebihan.” Suaranya penuh peringatan, meski di sudut bibirnya jelas tersungging senyum puas.
Nayla mengangguk, meski matanya tak bisa menyembunyikan rasa puas.
Tuan Morries berjalan lebih dulu memasuki kediaman Vauline. Sikapnya penuh wibawa, seakan kunjungan malam ini adalah urusan bisnis besar. Nyonya Nara dan Nayla mengekor di belakang, keduanya tampak sangat percaya diri.
Di belakang mereka, Rea berjalan terakhir. Langkahnya pelan, anggun, dan penuh kepercayaan diri. Cahaya lampu kristal dari dalam gedung jatuh di wajahnya, memantulkan kecantikan alami yang semakin menawan dalam balutan dress abu-abu sederhana itu.
Setiap mata pelayan yang lewat sempat melirik ke arahnya, beberapa bahkan berbisik memuji pesona kalem Rea.
Nayla yang menyadari hal itu semakin geram. Ia menggenggam erat tas kecilnya, sambil menunggu detik-detik memalukan yang ia yakini akan segera tiba.
Namun Rea, di balik tatapannya yang tenang, sudah menyiapkan langkah untuk membalikkan keadaan.
Begitu pintu besar berukir emas ruang keluarga Vauline terbuka, aroma harum bunga mawar dan alunan musik klasik menyambut mereka yang datang. Kristal-kristal lampu gantung berkilauan di langit-langit tinggi, memberi kesan mewah sekaligus angkuh.
Tuan Morries berjalan gagah di depan, disambut oleh salah satu pelayan keluarga Vauline yang membungkuk penuh hormat. “Selamat datang, Tuan Morries, Nyonya Nara, Nona Nayla, dan… Nona Rea,” ucapnya sopan.
Rea melangkah masuk terakhir, gerakannya anggun, matanya menyapu ruangan luas itu. Di dalam, para pelayan sudah bersiap menyambut mereka. Sekilas tatapan mata-mata para pelayan itu berpindah pada Rea mereka menilai, mengagumi, bahkan ada yang berbisik-bisik merasa terpesona melihat Rea.
Nayla, yang berjalan di sisi Nyonya Nara, menahan senyum liciknya. Ia melirik ke bahu Rea, memperhatikan benang yang semakin menipis. “Sedikit lagi…” batinnya penuh gairah kemenangan. Ia sudah membayangkan bagaimana gaun abu-abu itu akan melorot, mempermalukan Rea di depan keluarga Vauline dan seluruh tamu undangan.
Namun Rea tetap berjalan tenang, seolah tak menyadari ancaman itu. Senyum tipis masih mengembang di wajahnya. Sesekali ia mengangguk sopan menyapa para pelayan yang menatapnya.
bersambung!...