Kedok yang mulai terbongkar

1051 Words
Nayla menatap tajam ke arah Rea yang saat itu tengah berbincang hangat dengan Tuan Vauline. Senyum Tuan Vauline mengembang lebar, sorot matanya lembut saat menatap Rea. Bagi orang lain, pemandangan itu biasa saja, tapi bagi Nayla, rasanya seperti belati yang menusuk dadanya. "Kenapa harus dia lagi?" geram Nayla dalam hati. Matanya kembali menyapu dress abu-abu yang dikenakan Rea. Bahu dress itu masih terikat rapi, seolah tak pernah digunting. Padahal ia sudah memastikan benang itu hanya tinggal sehelai tipis. “Apa-apaan ini?” gumam Nayla pelan, napasnya memburu. Ia menajamkan pandangan pada tali dress Rea. “Seharusnya dress itu sudah putus. Kenapa belum juga?” Tak jauh dari situ, Nyonya Nara mendekat, menyamarkan kegelisahannya dengan senyum palsu. Ia membungkuk sedikit lalu berbisik pada anaknya. “Kenapa dressnya belum putus juga, Nayla? Bukankah kau sudah memastikan?” “Aku juga tidak tahu, Ma,” bisik Nayla panik. “Seharusnya sekarang dia sudah jadi bahan tertawaan semua orang.” Rea, yang sedari tadi menyadari tatapan penuh frustrasi dari keduanya, hanya tersenyum tipis. Senyum itu bukan senyum polos seperti dulu, melainkan senyum yang penuh arti. Ia menikmati wajah kecewa dua wanita licik itu, wajah yang dulu, di kehidupannya yang pertama, justru membuatnya menangis. Tak beberapa lama, langkah tegap terdengar memasuki ruang tamu. Dreck Vauline muncul dengan aura dinginnya yang khas. Semua tamu yang hadir sontak menoleh, menyambut kemunculan sang pewaris keluarga Vauline itu. “Selamat datang,” ucap Dreck datar, tatapannya menyapu ruangan sebelum akhirnya berhenti pada Rea. Biasanya, momen seperti ini membuat Rea berlari tergopoh mendekatinya, menyapa dengan senyum penuh cinta. Begitu dulu, di kehidupan yang lama. Tapi kini, Rea hanya berdiri tenang, ekspresinya datar. Alis Dreck sedikit terangkat. Ia menunggu, tapi Rea tetap tidak bergerak. "Tumben dia tidak berlari menghampiriku?" batin Dreck, matanya menyipit. Ada rasa heran, bahkan sedikit terusik. Rea menatap balik, kali ini dengan sorot tajam penuh kebencian. Tatapan itu menusuk, membuat Dreck tersentak. Selama belasan tahun mengenal Rea, ia tidak pernah sekalipun melihat sorot mata itu. Biasanya, Rea menatapnya lembut, penuh kasih. Tapi kali ini, tatapannya seperti pedang yang siap menebas. "Apa yang terjadi padanya?" pikir Dreck, masih terperangah. Senyum tipis muncul di bibir Rea. "Apa yang kau cari, Dreck? Rea si bodoh yang selalu menunggumu dengan cinta? Maaf… Rea yang bodoh itu sudah meninggal, dan kaulah penyebabnya." Perhatian Rea tiba-tiba teralih oleh sosok lain. Loui, Kakak Dreck, masuk dengan kursi rodanya. Tidak banyak yang menyambut kehadirannya. Mereka semua hanya melirik sekilas, lalu kembali berbincang. Bahkan Tuan Morries, ayah Rea, tampak tidak peduli. Namun kali ini berbeda. “Hallo, Tuan Loui,” sapa Rea dengan suara lembut, hangat. Loui terkejut. Tangannya yang menggenggam roda kursinya bergetar kecil. Belasan tahun ia mengenal Rea, tak pernah sekalipun gadis itu menoleh, apalagi menyapa. Sejak dulu, semua perhatian Rea hanya tertuju pada Dreck. “H-Hai, Rea,” jawab Loui gugup. Senyumnya muncul, meski canggung. Tuan Vauline, yang memperhatikan interaksi singkat itu, mengangguk samar. Ada sesuatu yang berubah dalam diri Rea, sesuatu yang membuatnya semakin menarik perhatian. “Baiklah, semua,” suara Tuan Vauline menggema, “makan malam sudah siap. Mari kita pindah ke ruang makan.” *** Ruang makan keluarga Vauline sangat megah, meja panjang berlapis kain putih, dengan lilin-lilin yang menyala temaram. Hidangan mewah tersaji, mulai dari steak daging premium hingga sup krim yang harum. Semua orang menikmati santapan, tetapi Nayla nyaris tak bisa menelan makanannya. Matanya terus-terusan menatap bahu dress Rea. Rasanya seperti ditertawakan oleh gaun itu. Hampir dua puluh menit berlalu, makan malam pun selesai. Semua orang berpindah ke ruang keluarga untuk melanjutkan obrolan ringan. Namun Rea meminta izin sebentar. “Maaf, aku akan ke toilet.” Nayla yang masih dipenuhi rasa penasaran segera bangkit, menyusul langkah Rea. Lorong menuju toilet sepi, hanya ada cahaya lampu redup yang memantul di dinding marmer. Nayla mempercepat langkah, lalu menarik pergelangan tangan Rea dengan kasar. “Kau!” serunya. Rea berhenti, menoleh, menatap adik tirinya itu dengan dingin. “Apa yang kau lakukan, Nayla?” Tanpa menjawab, Nayla langsung meraih bahu Rea, memeriksa dress abu-abu itu dengan panik. Jemarinya gemetar saat menemukan sesuatu yang membuat matanya membelalak. Sebuah bros kecil berbentuk kupu-kupu, tersemat rapi menahan jahitan dress yang seharusnya sudah putus. “Kau… sejak kapan kau memasang bros ini?!” teriak Nayla, wajahnya memerah karena marah. Rea tersenyum tipis. “Memangnya kenapa? Apa kau berharap dress ini akan putus?” suaranya lembut tapi menusuk. “Tidak! Aku—aku tidak tahu maksudmu!” Nayla tergagap, mencoba menyembunyikan paniknya. Rea terkekeh pelan. “Jangan berpura-pura, Nayla. Aku tahu kaulah yang menyabotase dress ini. Kau dan ibumu memang tak pernah berubah… wanita licik.” Ucapan Rea membuat darah Nayla mendidih. Dengan mata melotot, ia berusaha menyerang Rea, menarik paksa bros itu. Tapi Rea bergerak sigap, menepis tangannya. Benturan kecil membuat Nayla terhuyung. Ia terengah, lalu menatap Rea dengan tatapan penuh benci "Sejak kapan gadis bodoh ini memiliki keberanian untuk melawanku, biasanya dulu dia hanya akan menangis pasra jika aku mengganggunya." Pikir Nayla, tak kehabisan ide untuk menjatuhkan nama baik Rea tiba-tiba senyum Nayla melebar, licik. Tanpa peringatan, Nayla mengacak-acak rambutnya sendiri, lalu menampar pipinya berkali-kali. Rea terpaku, keningnya berkerut bingung. “Apa yang kau—” Teriakan Nayla memecah keheningan. “Mama! Papa! Tolongggg! Rea menyerangku!” Suara itu menggema di lorong, cukup keras untuk terdengar sampai ruang keluarga. Langkah kaki tergesa-gesa terdengar. Tuan Morries, Nyonya Nar dan semua orang segera menuju sumber suara. Loui pun ikut mendorong kursi rodanya dengan terburu-buru. Rea berdiri membeku, sementara Nayla jatuh terduduk di lantai, rambut kusut, pipi merah, air mata mengalir deras. Ia tampak seperti korban penganiayaan. “Papa… Rea memukulku…” tangis Nayla, memeluk pinggang Tuan Morries begitu pria itu tiba. Semua tatapan kini terarah pada Rea—tatapan curiga, tajam, penuh tuduhan. Rea menarik napas panjang, lalu menatap semua orang dengan sorot mata dingin. “Aku tidak menyentuhnya.” Namun, di balik tatapan itu, ia sudah tahu—malam ini adalah awal dari permainan kotor yang lebih besar. Entah bagaimana Rea akan membela dirinya sekarang, apakan kejadiannya akan seperti dimasa lalu, dimana semua orang akan mempercayai tipu muslihat dari Nayla dan tidak ada satupun yang akan mendengar penjelasan dari Rea. Dalam diam Rea teringat kenangan dimasa lalu, dimana Ayahnya dan semua orang lebih mempercayai Nayla daripada dirinya "Tidak, Aku tidak mungkin akan terjebak lagi kan?" pikir Rea dengan putus asa melihat semua orang menatapnya penuh curiga. Bersambung!...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD