Bab 8. Pria Pencemburu

1240 Words
Hidup Milea yang sedang menyamar sebagai Auora–anak seorang pengusaha kaya itu seketika berubah 180 derajat. Dari seorang anak single parent miskin yang untuk kuliah saja bergantung pada bea siswa, kini menjadi seorang istri komisaris perusahan besar. Tinggal di Singapura. Di sebuah rumah super mewah yang lokasinya tidak jauh dari pantai. Tidak seperti yang ditakutkan oleh Milea, Ardito memperlakukannya dengan baik. Malam pertama mereka tidur satu ranjang, Milea bangun di pagi hari dalam pelukan Ardito. Milea pikir Ardito akan memaksakan keinginan sebagai seorang suami, namun nyatanya tidak. Malam berikutnya, Milea membuat alasan sedang datang bulan hingga ia selamat selama 10 hari setelahnya. Yang Ardito lakukan hanya memeluk saat tidur. Pria itu juga tidak memaksa pergi berbulan madu ketika Milea memilih berada di rumah. Ardito menyiapkan semua kebutuhan Milea. Dari pakaian-pakaian branded, sepatu, perhiasan, jam tangan, make up. Semua kebutuhan perempuan Ardito siapkan. Bukan yang berkualitas biasa, namun premium. Perlakukan Ardito perlahan membuat rasa takut Milea berkurang. Dari awal wanita itu berusaha menjaga jarak, dan tidak berbicara jika tidak ditanya sampai akhirnya Milea berani membuka obrolan ketika mereka berada di ruang makan. “Tidak lembur?” tanya Milea sambil menarik punggung kursi kemudian melangkah ke depan lalu menurunkan pant*tnya. Ardito tersenyum tipis. Dalam hati senang mendapati perubahan istrinya. Tangan pria itu memutar pelan cangkir di atas meja, sementara sepasang mata tajamnya masih belum beralih dari wajah cantik sang istri. “Tidak. Aku ingin bersamamu lebih lama.” Ardito kembali tersenyum tipis ketika melihat kedua pipi istrinya memerah, lalu bola mata wanita itu bergerak–berusaha lepas darinya. “Apa datang bulanmu sudah selesai, Ara? Aku hitung sudah 10 hari.” ‘Uhuk! Uhuk!’ Milea langsung tersedak ludahnya sendiri. Mampus, batin Milea khawatir. Kebohongannya pasti akan terbongkar. Mungkin dia masih bisa membohongi Ardito beberapa hari lagi, tapi, tidak mungkin bisa sampai datang bulan yang sebenarnya selesai. Milea menepuk-nepuk dadanya. Wanita itu menatap Ardito ketika pria tersebut menuang air putih ke dalam gelas, kemudian meletakkan gelas di depan Milea. “Minum dulu,” kata Ardito seraya membalas tatapan sang istri. Milea mengambil gelas kemudian meneguk isinya dua kali. Wanita itu mengembalikan gelas ke atas meja. Milea diam dengan tatapan ke dalam gelas. Suasana menjadi hening ketika dua orang yang duduk berdekatan tersebut sama-sam terdiam. Bahkan suara tarikan napas mereka tidak terdengar. Hanya suara lemah pergerakan jarum jam yang terdengar, sedikit memecah keheningan yang tercipta. Nyaris satu menit yang terasa begitu lama bagi Milea yang sedang memikirkan cara untuk menjawab pertanyaan Ardito. Hingga akhirnya suara Ardito terdengar lebih dulu. “Aku harap, ini terakhir kalinya kamu berbohong pada suamimu sendiri, Ara.” Milea langsung mengangkat kepala, kemudian menoleh ke arah Ardito yang duduk di kepala meja. Wanita itu menelan saliva susah payah. Apa yang Ardito katakan? Apa dia tahu kalau 10 hari ini dia hanya berbohong? Lagi, Milea menelan ludah dengan susah payah. Melihat tatapan tajam Ardito, buru-buru Milea memutus pandangan mata mereka, lalu memilih menatap ke arah pojokan lain. Memperhatikan meja panjang yang di atasnya menggantung gelas-gelas kaca bertangkai. “Aku tahu kamu tidak sedang datang bulan.” Bola mata Milea bergerak. “Aku tahu kamu masih takut padaku. Jadi, aku membiarkanmu membohongiku.” Ardito menarik pelan, namun panjang napasnya. “Apa sekarang kamu masih takut padaku? Apa wajahku ini menyeramkan bagimu? Aku berusaha untuk memberimu waktu, tapi, jangan terlalu lama, Ara. Aku ingin kita punya keturunan.” MIlea benar-benar merasa kesulitan hanya untuk menelan salivanya sendiri. Rasanya cairan itu berubah menjadi gumpalan yang keras dan berduri. “Aku harap sekarang kamu sudah bisa menerimaku. Sebagai suamimu.” Ardito mengerutkan sepasang bibirnya. “Aku harap, malam ini–” “Maaf, saya sedang datang bulan.” D*da Milea bergerak perlahan ke atas lalu tertahan hingga beberapa detik. Wanita itu menggulir bola. Memberanikan diri membalas tatapan tajam Ardito. “Iya, benar. Kemarin saya berbohong. Saya minta maaf.” Milea mengakui kebohongannya. “Tapi yang sekarang, saya tidak berbohong. Saya sedang datang bulan,” lanjutnya, membuat sepasang alis Ardito bergerak. “Kali ini saya tidak sedang berbohong. Saya bersungguh-sungguh.” “Kalau begitu, biarkan aku memastikannya sendiri.” “A-a-apa?” Milea tidak bisa menahan bola mata untuk tidak membesar, mendengar apa yang baru saja Ardito sampaikan. Memeriksanya sendiri? Milea tidak habis pikir. “Itu nanti. Sekarang, ayo makan dulu. Aku sudah lapar,” ujar Ardito seraya mengangkat piring kosong di depannya lalu mengulurkan ke depan Milea. Milea menatap Ardito beberapa detik, sebelum akhirnya mengambil piring kosong yang menggantung di depannya, kemudian mulai mengisinya. Sementara Ardito menarik punggung ke belakang. Pria itu memperhatikan Milea yang sedang mengisi piringnya. Tarikan napas pelan namun cukup panjang Ardito lakukan. Bola mata pria itu tidak beralih satu detikpun dari perempuan cantik yang kini menoleh ke arahnya. Menurunkan pandangan begitu tatapan mereka bertemu. “Silahkan.” Milea meletakkan piring yang sudah tak lagi kosong ke depan Ardito. Ardito menarik punggung yang semula menyandar, ke depan. “Terima kasih.” Ardito menarik mendekat piring, lalu mulai menyendok. Milea mengangguk. Setelah selesai mengambilkan Ardito, Milea kemudian mengisi piringnya sendiri. Dua orang itu lalu sibuk dengan isi piring mereka masing-masing. Menikmati makan malam tanpa bersuara. Membiarkan suasana dikuasai hening yang sesekali pecah saat denting alat makan terdengar. Lima belas menit Milea dan Ardito fokus dengan makan malam mereka sampai kemudian piring mereka kosong. Milea mendorong menjauh piring ke samping, lalu mengambil gelas berisi air putih. Wanita itu meneguk dua kali, sebelum menurunkan gelas kembali ke atas meja. “Aku punya hadiah untukmu.” Milea menoleh, menatap bertanya Ardito. Ardito mengeluarkan ponsel dari balik jas berwarna abu tua yang masih membalut tubuh tegapnya. Untuk beberapa detik pria itu tampak sibuk dengan ponsel, sebelum benda penghubung di tangan pria itu menempel ke telinga kiri, lalu suara bariton rendahnya terdengar. “Kai, bawa barang yang aku minta ke ruang makan.” Ardito tersenyum menatap sang istri yang juga sedang menatapnya. “Aku harap kamu menyukai hadiah dariku,” kata Ardito seraya menurunkan ponsel, dan memasukkan benda tersebut kembali ke balik jas. “Tidak perlu memberi saya hadiah lagi. Saya sudah punya semua yang saya perlukan.” “Bisakah bicara non formal? Kita suami istri, Sayang.” Milea berdehem sembari menyapukan pandangan mata ke arah lain. Ke arah pintu masuk yang terbuka, lalu muncul seorang pria yang Milea kenal. Pria itu melangkah ke dalam ruangan. Bola mata Milea bergerak hingga tatapan mereka bertemu. Detik berikutnya, Milea segera mengalihkan pandangan matanya. “Permisi, Pak.” Kai menghampiri Ardito yang masih duduk di salah satu kursi meja makan. Ardito menoleh. Pria itu menerima paper bag kecil yang dibawa oleh Kai. Kai menurunkan kepala sedikit seraya berkata. “Saya permisi.” Melihat anggukan Ardito, Kai memutar kepala ke samping. “Mari, Nyonya.” Ardito kembali menggerakkan kepala turun sebagai tanda hormat kepada Milea, sebelum berbalik kemudian berjalan menjauh. Milea tanpa sadar mengikuti pergerakan Kai dengan sepasang matanya. Kepala wanita itu berputar ke arah pintu. “Kamu tidak sedang mengagumi asisten pribadiku itu, kan, Ara?” tanya Ardito, membuat Milea terkejut. Milea mengembalikan perhatian pada pria yang masih menganggap dirinya adalah Aurora. “Dia hanya seorang pekerja, Ara. Kamu sudah mendapatkan bosnya. Jangan sia-siakan apa yang sudah kamu dapatkan. Aku tidak suka melihatmu menatapnya seperti itu.” Milea menundukkan kepala. Dia tidak memiliki niat apapun saat tak sengaja memperhatikan Kai. Dia hanya ... merasa banyak berhutang pada pria itu. Selama keberadaannya di rumah Ardito, Kai sudah banyak membantunya. Milea refleks mengangkat kepala ketika merasakan sesuatu melingkar di lehernya. "Ini hadiah untukmu. Kali ini aku memaafkanmu. Jangan mengulangnya. Aku pria pencemburu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD