Ardito mencium lembut bibir istrinya, sebelum mendorong pelan tubuh Milea yang dianggap sebagai Aurora itu hingga berbaring ke atas ranjang empuk kamar mereka. Setelah menunggu lebih dari satu minggu, akhirnya dia bisa menikmati malam pertama bersama sang istri. Malam pertama yang tertunda cukup lama.
Tidak mengapa karena ia tidak ingin memaksa Auroranya.
Tanpa melepas penyatuan bibir mereka, jari-jari tangan Ardito mulai bergerak–mencari benda bulat kecil yang menyatukan dua sisi kain yang membungkus tubuh sang istri, kemudian mulai melepasnya dari lubang pengait.
Satu per satu kancing-kancing piyama yang dipakai oleh Milea terlepas. Pria itu dengan lihai melepas piyama lalu melemparnya begitu saja. Sementara bibirnya masih terus bergerak, menikmati setiap inci bibir seksi sang istri.
Seperti seseorang yang sudah ahli, Ardito melucuti sisa kain yang menempel di tubuh molek istrinya. Gerakan bibir dan tangan pria itu berhasil membuat Milea melayang. Lenguhan lolos dari bibir sang gadis yang baru pertama kali merasakan kenikmatan dunia yang satu itu.
Membuat Ardito semakin bersemangat.
Malam itu, Ardito membuat Milea menjerit berkali-kali. Bukan jerit kesakitan, namun sebaliknya. Keduanya menikmati penyatuan tubuh serta rasa yang muncul perlahan setelah pernikahan.
Pria itu mengakhiri petualangan pertama mereka dengan kecupan mesra di kening, pipi, puncak hidung, lalu berakhir di bibir sang istri, sebelum akhirnya melepas penyatuan dan berguling ke samping sang istri. Peluh yang membasahi tubuh keduanya, menjadi saksi betapa dahsyat malam pertama mereka.
Napas dua orang yang kini berbaring berdampingan menatap langit-langit kamar itu masih memburu. Terlihat dari gerak d**a polos mereka yang beberapa kali lebih cepat dari gerak normal.
Dua jam berlalu penuh kenikmatan yang ingin segera Ardito ulang kembali. Pria itu bergerak miring. Tersenyum menatap perempuan yang sedang sibuk mengembalikan ritme napasnya. Sementara kening wanita itu masih setengah basah oleh keringat.
Tangan kanan Ardito bergerak, mengusap peluh di kening sang istri. Kedua sudut bibirnya terangkat begitu kepala Milea menoleh dan tatapan mereka langsung terpaut.
“Malam ini luar biasa,” ujarnya lirih. “Bagaimana menurutmu? Apa kamu puas dengan permainanku?”
Kedua pipi Milea langsung memerah. Sepasang mata wanita itu mengedip–berusaha memutus pautan mata mereka. Akan tetapi, Ardito justru menarik pinggang Milea hingga wanita yang semula berbaling terlentang itu kini miring menghadap ke arahnya. Tak berhenti sampai di situ, Ardito kembali menarik tubuh istrinya hingga tak ada lagi jarak di antara mereka berdua.
Tubuh mereka melekat, menimbulkan gelenjar rasa yang membangkitkan hasrat yang baru saja turun.
Milea menelan saliva susah payah. Merapatkan kedua pahanya, berharap rasa itu tak muncul. Akan tetapi, dirinya yang memang belum pernah merasakan sentuhan seintim malam ini, tak mampu menahan dobrakan rasa yang menggebu. Yang meminta untuk segera diluapkan, serta dipuaskan.
Tanpa sadar tubuh Milea menggeliat, membuat gairah yang perlahan muncul dalam diri Ardito semakin membesar. Pria itu menatap sang istri lebih lekat sebelum menyatukan bibir mereka. Dia tidak bisa lebih lama menahan gelora hasrat di dalam diri yang dengan cepat meledak-ledak. Setiap jengkal tubuh sang istri terlalu nikmat untuk diabaikan.
Akhirnya, setelah dua jam memadu kasih, dua orang pengantin baru itu melanjutkan kembali pendakian menuju puncak kenikmatan dunia. Keduanya melenguh nikmat dalam setiap gerak tubuh yang membuat rasa menggelegar itu tak tertahankan.
Milea tidak sadar, dia perlahan menyerah pada pria yang seharusnya menjadi milik sahabatnya.
****
Malam-malam dahsyat itu terus berulang. Hari demi hari, rasa itu semakin tumbuh subur. Baik dalam diri Ardito, maupun Milea. Hubungan keduanya semakin intim. Bukan hanya saat di atas ranjang mereka akrab, hari-hari mereka pun semakin mesra.
“Aku pergi dulu,” pamit Ardito saat hendak berangkat bekerja. Seperti biasa, Setelah hubungan mereka membalik--Milea mengantarkan pria itu sampai ke teras rumah.
Milea mengangguk sambil tersenyum. “Hati-hati di jalan,” ujarnya seraya membalas tatapan Ardito. Wanita itu menerima pelukan sang suami dengan senyum mengembang.
“Aku akan merindukanmu,” ucap Ardito sebelum mengecup puncak kepala sang istri. Ardito mengurai pelukannya. Inginnya terus memeluk tubuh sang istri, namun pekerjaan tidak bisa diabaikan. Banyak orang menggantungkan pendapatan dari bekerja di perusahaan yang ia pimpin.
Ardito menatap sang istri dengan sebelah alis terangkat saat sang istri masih diam.
Milea berdehem. Paham arti tatapan Ardito, Milea kemudian mengatakan, “Aku juga akan merindukanmu. Cepatlah selesaikan pekerjaanmu dan kembali padaku.”
Kalimat itu sanggup membuat Ardito tergelak senang. Dadanya menghangat. Akhirnya cinta yang tumbuh dalam hatinya sedikit demi sedikit terbalaskan. Meskipun dia belum tahu sebesar apa rasa cinta di hati istrinya saat ini, namun Ardito tetap merasa senang. Pria itu menurunkan kepala untuk bisa mengecup cepat bibir merah sang istri.
“Sayangnya hari ini kamu harus bersabar, Sayang. Aku akan pulang terlambat.”
Milea cemberut, namun beberapa detik kemudian wanita itu tersenyum. “Baiklah, aku akan bersabar menunggumu pulang.”
Ardito mengusap rambut panjang Milea yang pagi ini digerai. “Aku pergi sekarang.”
Milea tersenyum sembari mengangguk. Sebelah tangan yang saling menggenggam akhirnya terlepas. Milea menatap Ardito. Sepasang bola matanya mengikuti pergerakan sang suami yang kini sudah berbalik, kemudian mengayun kaki meninggalkannya.
Wanita itu menarik pelan namun panjang napasnya. Senyum mengembang, mempercantik wajah yang memang sudah cantik sedari dilahirkan ke dunia. Kecantikan alami tanpa tersentuh pisau bedah.
Bola mata Milea bergerak ke kanan ketika mendengar suara deheman. Sepasang mata wanita itu terbuka lebih lebar.
“Apa maksud senyummu itu?” tanya Milea melihat sekilas senyum miring Kai yang berjalan melewatinya. Penasaran, Milea sampai mengikuti Kai. “Kai, apa maksud senyummu itu?” ulang Milea.
Kai menghentikan ayunan kakinya. Pria itu tersenyum hingga sepasang matanya mengecil. Kai menoleh ke belakang. “Saya rasa sekarang anda sudah tidak ingin kembali ke Jakarta lagi.”
Ucapan Kai membuat Milea terdiam dengan sepasang mata mengerjap beberapa kali.
“Akhirnya anda menikmati pernikahan kalian. Selamat, Nyonya.” Setelah mengatakan kalimat itu, Kai melanjutkan ayunan kakinya. Sementara Milea menelan saliva.
“Sudah dibilang jangan memanggilku nyonya. Aku bukan nyonya mu. Kamu memanggil Ardito Pak, kenapa memanggilku nyonya.” Milea menghentak napasnya. Sadar Kai tidak mendengar kalimat panjangnya.
Milea masih berdiri di tempatnya. Menatap ke arah mobil sedan hitam di depan teras rumah. Kai masuk ke dalam mobil melalui pintu penumpang bagian depan.
Kaca pintu penumpang belakang bergerak turun. Bola mata Milea bergeser. Wanita itu tersenyum seraya melambaikan tangan kanan. Mobil mulai bergerak perlahan meninggalkan halaman rumah yang cukup luas.
Langkah kaki Milea bergerak ke kiri, sementara kedua mata wanita itu masih mengikuti pergerakan mobil yang membawa pergi sang suami. Tangan kanan wanita itu sudah kembali ke sisi tubuh. Tarikan napas dalam wanita itu lakukan. Kalimat yang Kai ucapkan berputar di dalam kepalanya.
Kai benar. Sekarang dia tidak berpikir kembali ke Jakarta. Sekali lagi Milea memasukkan sebanyak mungkin oksigen untuk mengembangkan paru-paru yang mengempis dengan cepat. Apa sekarang dia sudah menerima perannya sebagai istri Ardito? Yang berarti dia harus memakai identitas Aurora untuk selamanya.
"Ara,” gumam Milea. Panggilan itu yang akan terus terdengar di telinganya. Bahkan saat Ardito mencapai puncak kenikmatan, nama itu yang Ardito sebut.
Milea meremas-remas telapak tangannya. Apa dia siap dengan semua itu? Menjadi pengganti untuk sahabatnya sendiri. Hidup sebagai bayang-bayang Aurora untuk selamanya.
“Nyonya … dari tadi ponsel anda berbunyi. Ada telepon dari nomor Indonesia.”
Milea berbalik. Wanita itu menerima ponsel dari tangan seorang asisten rumah. Milea segera memeriksa sederet angka yang tertampil pada layar ponselnya. Bukan, ponsel itu bukan ponsel lamanya. Ardito memberikannya iphone keluaran terbaru. Namun, Milea masih memakai nomor lamanya pada salah satu SIM card.
Sayang untuk membuang nomor lama dengan banyak kontak di dalamnya. Toh uang bukan masalah. Mengaktifkan layanan roaming internasional bukan hal sulit.
Begitu melihat memang benar nomor yang sedang berusaha terhubung dengannya adalah nomor Indonesia, Milea cepat-cepat menekan tombol terima lalu membawa benda mahal itu ke telinga kiri.
“Halo.”
“Milea.”
Sepasang mata Milea seketika membesar. “Ar–” panggilan Milea menggantung ketika menyadari ada orang lain di dekatnya. Milea kemudian segera bergerak menjauh dari sang asisten rumah. Dia tidak ingin wanita itu mendengar percakapannya.
Setelah tiba di sisi kiri teras, Milea sempat menoleh dan tidak lagi menemukan sang asisten rumah. Rupanya asisten rumah itu sadar diri hingga menjauh, kembali masuk ke dalam rumah.
“Ara.” Milea kembali fokus pada orang yang kini tersambung dengannya.
“Ya, ini aku Milea.” Di tempatnya, Aurora mendesah. “Aku sudah mencari tahu siapa itu Ardito. Kurasa kamu benar. Dia pria yang layak menjadi pendampingku. Kurasa hidupku akan semakin terjamin bersamanya.”
Milea terdiam dengan jantung berdegup kencang.
“Milea … aku sudah memberimu waktu satu bulan. Kamu menikmati hidup sebagai diriku. Sekarang waktunya mengembalikan semua padaku. Aku akan ke Singapura. Peranmu sudah selesai, Milea. Sekarang aku akan mengambil milikku. Ar-di-to.”