“Ardito. Pria itu milikku.”
Milea menarik napas panjang. Tangannya meremas benda canggih yang baru saja menjadi perantara terhubungnya dirinya dengan sang sahabat. Aurora. Sahabat yang sudah membuatnya terdampar di negara orang dan menjadi istri orang yang tak dikenalnya.
Lalu, setelah ia putus asa kemudian menerima takdirnya menikah dengan Ardito, dan setelah benih rasa suka itu mulai tumbuh–Aurora muncul, berniat untuk mengambil kebahagiaan yang belum ada seujung kuku ia nikmati.
Apa yang harus Milea lakukan sekarang? Apa dia harus menyerah kembali dan membiarkan Aurora mengambil kebahagiaannya? Setelah yang Aurora lakukan padanya? Apakah orang miskin seperti dirinya memang tidak layak merasakan kebahagiaan? Atau karena dia adalah anak seorang pelakor?
Orang-orang melabeli ibunya pelakor, tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dan ketika ibunya berusaha membela diri jika dirinya adalah korban, orang-orang itu tetap tidak mau percaya.
Mereka hanya mau mempercayai pendapat mereka saja. Lalu ibunya diam. Menerima apapun tuduhan mereka. Menerima cacian dan kebencian mereka.
Apa sekarang dia juga harus mengikuti kepasrahan ibunya?
Tidak. Milea menolak kalah kali ini. Aurora sudah mengkhianati dirinya sedemikian rupa. Dan sekarang wanita itu seenaknya saja ingin menghancurkan kebahagiaannya. Tidak. Milea tidak rela.
Bagaimana jika Aurora menghubungi Ardito langsung?
Pertanyaan itu membuat sepasang mata Milea terbuka lebih lebar. Milea meremas ponselnya sebelum kemudian mengangkatnya. Menyalakan layar benda tersebut, lalu jarinya bergerak menggulirnya. Dengan d*da berdebar kencang, Milea mencari nama kontak seseorang, kemudian segera menekan tombol panggil.
Detik berikutnya, benda penghubung tersebut sudah melekat di telinga kanan Milea. Menunggu orang yang dihubungi menerima panggilannya, Milea memasukkan sebanyak mungkin oksigen untuk mengembangkan paru-parunya.
Milea hampir menurunkan ponselnya lantaran orang yang dihubungi tak juga menjawab panggilannya, ketika akhirnya suara itu terdengar.
“Halo.”
“Apa kamu sedang bersama suamiku?” tanya Milea. Ia tak langsung mendengar. Ada selang lebih dari tiga detik sampai kemudian dia mendengar suara itu kembali.
“Satu menit yang lalu iya. Saya rasa anda tidak sedang ingin menghubungi pak Ardito saat ini. Ada yang bisa saya bantu?” Seperti paham apa yang sedang terjadi, Kai bertanya pada Milea di ujung kalimat.
Milea pun langsung menjawab dengan jujur. “Iya, aku butuh bantuanmu, Kai.” Milea memutar kepala, memastikan tidak akan ada telinga lain yang mendengar percakapannya dengan Kai. “Kai … tolong jangan terima panggilan dari siapapun dengan nomor Indonesia.”
Di tempatnya–di luar ruang meeting, Kai mengernyit. “Apa seseorang di Indonesia akan menghubungi Bapak?” tebak pria tersebut. Dia tentu paham maksud istri atasannya adalah untuk tidak menerima panggilan dari nomor Indonesia yang masuk ke ponsel sang suami. Bukan ke ponselnya.
Karena memang ia yang membawa ponsel milik Ardito. Dia yang menyaring siapa saja yang bisa bicara dengan sang atasan.
“Bisa kita bicara nanti saja? Untuk saat ini, aku hanya memintamu untuk tidak menerima panggilan itu. Aku akan menjelaskan padamu nanti.” Setelah menyelesaikan kalimat tersebut, Milea buru-buru menurunkan ponsel lalu mengakhiri sambungan telepon.
Degup jantungnya begitu cepat dan keras hingga rasanya dia bisa mendengar suara ‘Dug! Dug! Dug!’ itu dengan sangat jelas. Napasnya memburu. Milea memutar langkah lalu mengayunnya. Wanita itu berjalan masuk ke dalam rumah.
****
Sementara itu, Kai kembali ke ruang meeting. Pria itu duduk kembali di kursinya, di sebelah sang komisaris yang duduk di ujung meja. Ia sedang menemani Ardito meeting dengan para direksi perusahaan.
Sebagai seorang komisaris, Ardito memang tidak terlibat langsung dalam operasional sehari-hari perusahaan. Ia bertugas untuk mengawasi dan memberikan nasehat pada direksi.
Ya, itulah tugas utama seorang komisaris perusahaan. Dan Ardito melakukannya. Melakukan tugas itu atas perintah seseorang dibalik layar yang menjadikan namanya sebagai seorang komisaris.
Tidak banyak orang yang tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi dibalik layar. Dan karena sadar jika setiap saat perannya bisa digantikan oleh orang lain, Ardito membangun bisnisnya sendiri ditemani oleh tangan kanannya. Pria yang satu tahun lebih muda darinya itu merupakan lulusan S2 terbaik bisnis management serta teknik industri di sebuah universitas terkenal di Amerika.
Tidak banyak juga yang tahu peran sebenarnya pria bernama lengkap Kai Dallen Abraham dalam kehidupan Ardito. Yang orang lihat dan ketahui–termasuk Milea adalah jika Kai merupakan orang kepercayaan Ardito.
“Ada masalah?” tanya Ardito setelah memiringkan tubuh ke arah Kai.
“Tidak, Pak. Hanya telepon biasa,” ujar Kai menjawab.
Ardito menggerakkan kepala turun naik sebelum mengembalikan perhatian pada salah satu anggota direksi yang sedang berbicara. Pun dengan Kai yang langsung fokus. Dua orang itu tak lagi bicara. Fokus mendengarkan, dan baru bicara ketika diperlukan. Sampai kemudian meeting selesai dan mereka keluar dari dalam ruang meeting.
“Sepertinya kita harus ke kantor,” ujar Kai, membuat Ardito menoleh.
“Sekarang?”
Kai mengangguk. “Beberapa order baru saja masuk. Kita harus memperhitungkan dan membahas dengan produksi.”
“Oh, oke.” Ardito langsung menyetujui. “Kita akan ke kantor sekarang.” Pria itu mengayun kaki lebih lebar. Ardito menoleh ketika ujung matanya melihat pergerakan Kai. Sepasang alis pria itu bergerak, mengerut.
Kai menarik keluar ponsel yang bergetar di dalam kantong bagian dalam jasnya.
“Siapa?” tanya Ardito melihat ponsel miliknya lah yang sedang bergetar. Menandakan ada seseorang yang sedang berusaha untuk terhubung dengannya.
“Hanya orang salah sambung,” jawab Kai sebelum memasukkan kembali ponsel ke dalam jas, setelah menolak panggilan tersebut. Kai tersenyum kecil ketika Ardito menatapnya dengan kening mengernyit.
“Mari, Pak.” Kai mempercepat ayunan kakinya, membuat Ardito mengikuti pria tersebut. Melupakan rasa penasaran, memikirkan orderan yang harus segera mereka urus.
****
Setelah menerima telepon dari Aurora, Milea tidak bisa tenang. Wanita itu mengurung diri di dalam kamar. Tidak keluar sekalipun.
Di dalam kamar itu Milea berpikir keras. Memikirkan kemungkinan apa yang bisa terjadi mengingat sifat Aurora. Sahabatnya itu adalah seseorang yang tidak bisa menerima kata tidak.
Semua yang diinginkan harus didapat. Milea sangat paham dengan sifat buruk Aurora yang satu tersebut. Selama berteman dengan Aurora, Milea banyak mengalah karena menyadari posisinya. Dia banyak dibantu oleh Aurora.
Wanita yang sedang duduk di tepi ranjang itu menggigit kuku jarinya. Keningnya berlipat entah sudah berapa lama. Ia tidak merasa lapar, ataupun haus. Suara pesan masuk membuat wanita itu terkejut. Buru-buru Milea mengambil benda penghubungnya yang tergeletak tak jauh darinya.
Sepasang mata Milea mengedip. Dari pop up pesan yang terlihat, dia tahu siapa yang mengirim pesan. Aurora. D*da Milea bergerak turun naik dengan cepat. Wanita itu menelan ludah sebelum jarinya bergerak menekan satu pesan yang baru saja masuk tersebut.
[Beraninya kamu memblokir nomorku, Milea]
Milea membaca pesan tersebut. Kalimatnya bernada penuh ancaman. Ya, memang benar. Ia memblokir nomor yang Aurora gunakan untuk menghubungi dirinya. Dan yang Milea lakukan adalah kembali memblokir nomor baru yang dipakai oleh Aurora.
Sementara di tempatnya, Aurora tertawa saat berusaha menghubungi nomor Milea dan tidak bisa. “Kamu tidak akan bisa menghindar dariku, Milea. Kamu tahu, semua yang aku inginkan, pasti bisa kudapatkan. Tidak masalah kamu memblokir nomorku, bahkan Ardito tidak menerima panggilan dariku.”
Suara panggilan untuk penerbangan menuju Singapura terdengar. Aurora beranjak dari tempat duduknya. Wanita itu memakai kaca mata hitamnya, kemudian berjalan sambil menarik gagang koper.
“Sampai ketemu di Singapura, Milea. Ardito,” gumamnya sebelum tersenyum.