Bab 11.

1104 Words
Ardito melepas pagutan bibirnya. Pria itu menarik kepala ke belakang. Dua tangannya masih merengkuh pinggang sang istri. Sembari menatap istrinya, pria itu tersenyum. “Aku akan mandi dulu.” “Hmmm ….” Milea tersenyum. “Aku akan menunggumu di bawah." “Baiklah.” Ardito melepas pinggang sang istri. Sekali lagi tersenyum sebelum memutar tubuh kemudian berjalan menjauh. Milea menghembus napas panjang. Ia masih memperhatikan beberapa saat Ardito yang berjalan menuju kamar mandi di dalam ruang tidur mereka sambil melepas kancing kemejanya. Teringat masalah yang sedang memenuhi kepalanya, Milea memutar langkah kemudian berjalan cepat keluar dari dalam kamar. Ardito baru pulang. Melihat perilaku pria itu padanya, Milea yakin Ardito belum mengetahui apapun tentang Aurora. Wanita itu bergegas menuju tangga. Mumpung Ardito sedang mandi, dia akan bicara dengan Kai. Ardito memiliki dua ponsel. Satu dengan nomor yang diketahui banyak orang. Nomor yang memang digunakan untuk urusan pekerjaan, sementara satu nomor hanya dipakai untuk komunikasi dengan orang terdekat. Menurut Ardito, hanya ada beberapa nomor yang tersimpan di ponsel khususnya tersebut. Hanya orang tua, dirinya, Kai, serta beberapa kerabat dekatnya. Milea yakin Aurora tidak memiliki nomor ponsel khusus tersebut. Jadi, Milea tidak merasa khawatir pada benda penghubung yang selalu dipegang oleh Ardito sendiri. Yang dia khawatirkan adalah ponsel yang biasanya dibawa oleh Kai. “Nena, apa kamu melihat Kai?” tanya Milea saat melihat salah satu asisten rumah berjalan melewati ujung bawah tangga. Dua anak tangga lagi akhirnya Milea tiba di lantai satu. “Ada di dapur, Bu. Sedang membuat kopi.” “Oh ….” Milea mengangguk. Wanita itu kemudian memutar langkah ke kanan lalu berjalan dengan langkah cepat ke arah dapur berada. Membuat sang asisten rumah sempat memutar kepala, menatapnya dengan kening mengernyit. Milea mempercepat ayunan kakinya. Ia tidak sabar ingin segera menemui Kai. Dengan tidak sabar wanita itu langsung mendorong pintu setelah tiba di tempat tujuannya. Suara pintu yang terbuka membuat seseorang yang sedang berdiri di depan mesin kopi dengan ponsel menempel telinga kiri itu langsung menoleh. Kai menatap perempuan yang kini mengayun kakinya. “Aku ada urusan. Nanti aku hubungi lagi.” Kai mengakhiri sambungan teleponnya. Pria itu menurunkan ponsel lalu memasukkan ke dalam saku jas bagian dalam. Kai mengalihkan fokus pada mesin kopi di depannya yang beberapa detik setelahnya, berhenti bergerak. Tetes terakhir cairan berwarna hitam itu terjatuh ke dalam mug. Kai mengambil mug berisi nyaris penuh oleh cairan hitam pekat. Pria itu memutar tubuh. Berdiri menunggu Milea yang jelas sedang menghampiri dirinya. “Mana ponsel suamiku?” tanya Milea langsung. Dia ingin memeriksa ponsel itu. Khawatir ada pesan dari Aurora. Dia harus menghapusnya dan memblokir nomor Aurora. “Siapa sebenarnya yang menghubungi pak Ardito?” Sepasang mata Milea mengerjap. Wanita itu menelan susah payah salivanya. “Apa … apa … apa dia … sudah menghubungi suamiku?” Milea merasakan jantungnya berdegup lebih keras dan lebih cepat. Begitu melihat kepala Kai mengangguk, Milea merasa benda pemompa darahnya itu nyaris meledak seketika. Wanita itu goyah. Ia hampir saja limbung. Beruntung Milea masih bisa memaksa kedua kakinya untuk tetap berdiri tegak. “Apa yang sebenarnya terjadi, Nyonya? Siapa dia?” “Ardito … suamiku … dia–” “Saya menolak panggilan itu.” Kai memperhatikan wajah pucat perempuan di depannya. Jelas ada yang salah, batin Kai. Jawaban cepat Kai membuat Milea menghembus napas lega. Wanita itu kembali mengangkat kepala. Menatap Kai dengan sorot mata penuh rasa terima kasih. “Mana … mana ponselnya? Apa … apa kamu sudah memblokir nomornya?” “Anda bilang akan menceritakannya pada saya. Saya harus tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum memutuskan akan berpihak pada anda atau tidak.” “Kai ….” Suara Milea terdengar memohon. Kai menggelengkan kepala. “Pak Ardito mempercayai saya. Anda memang istrinya, tapi, anda orang baru. Saya harus mengutamakan kepentingan atasan saya.” “Kai ….” Milea menoleh ke belakang. Khawatir pintu di belakangnya sana terbuka, dan Ardito muncul. Degup jantungnya semakin kencang. Rasa takut itu muncul semakin besar. Milea meluruskan kembali pandangan matanya. “Siapa dia?” kejar Kai seraya menatap lebih lekat sang nyonya. Ekspresi wajah pria itu tampak serius, membuat Milea sadar jika dia tidak bisa bermain-main dengan Kai. Milea mengepal dua telapak tangannya. Napasnya memburu. Aroma kopi tercium, membuat syaraf-syaraf yang semula tegang perlahan mengendur. Milea menghirup aroma yang menguar dari permukaan mug di tangan Kai lebih dalam lagi. Berharap aroma itu bisa sedikit menenangkan rasa kalutnya. Sementara Kai masih menunggu sambil menatap perempuan di depannya lurus. “Saya menunggu jawaban anda, Nyonya,” ujar Kai setelah beberapa saat terlewat dan sang nyonya masih belum memberikan jawabannya. Membuat rasa penasarannya terus menggeliat. Bola mata Milea bergerak, hanya untuk dikunci oleh tatapan Kai. ‘Aku sudah pernah bilang. Kalau aku … aku bukan–” Rasanya kini begitu berat untuk melanjutkan kalimat tersebut. Sampai dua minggu lalu, ia masih dengan entengnya mengakui jika dirinya bukan Aurora. Saat itu dia masih berharap bisa kembali ke Jakarta dan kembali menjadi Milea. Namun sekarang, setelah kedekatannya dengan Ardito, Milea merasa berat jika harus meninggalkan pria tersebut. Saat ini, Milea ingin sekali egois, hidup sebagai Aurora. Dengan semua priviledge yang sahabatnya itu miliki hingga bisa mendapatkan pria seperti Ardito. Kai mengernyit menatap Milea. Pria itu menunggu Mila melanjutkan kalimatnya. “Anda bukan apa? Katakan yang jelas, Nyonya.” Milea meremas-remas semakin kuat dua telapak tangannya. Setiap bagian rumah dilengkapi dengan AC, termasuk dapur. Akan tetapi, saat ini Milea merasa kegerahan. Ia merasakan keringat bergulir turun di punggungnya. “Nyonya.” “Aku … aku.” Milea kesulitan menyampaikan kenyataan tentang dirinya. Kali ini sungguh ia merasa berat. Kai meletakkan mug ke atas meja mesin kopi. Pria itu menatap semakin penasaran sang nyonya. “Nyonya … jangan membuat masalah dengan suami anda. Saya mengingatkan anda.” Kai merasa akan ada masalah besar. Melihat dari gelagat istri atasannya, pria itu mulai cemas. “Nyonya. Katakan pada saya … siapa yang ingin menghubungi pak Ardito?” Kai mulai geregetan lantaran sang nyonya masih bertahan merapatkan sepasang bibirnya. Tidak segera menjawab pertanyaan darinya sementara ia semakin tidak sabar. “Kai … aku … aku bukan–” “Bukan apa? Katakan yang sejelas-jelasnya.” Kai refleks meraih kedua bahu perempuan di depannya, lalu menggoyangnya. Meminta wanita itu untuk segera menyelesaikan kalimatnya. Saat itu, keduanya tidak menyadari pintu dapur yang terbuka perlahan. “Aku … aku bukan … Au-ro-ra.” Milea menatap Kai dengan sorot mata sedih, sementara Kai terdiam. Kai menatap lekat manik hitam yang tertuju padanya. "Bukan?" "Bu-kan." Aurora menjawab. "Jadi, apa dia yang menghubungi?" tanya Kai yang tanpa sadar meremas bahu Milea. Pria itu menekan katupan rahangnya. Seseorang yang baru saja membuka pintu itu berdiri menatap lurus dua orang di depannya. Ekspresi wajahnya mengeras.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD