Bab 12. Pembuktian Kata Cinta

1081 Words
Ardito berdiri terpaku di tempatnya. Dia terlalu merindukan istrinya sampai-sampai mandi hanya beberapa menit saja. Mandi paling cepat yang pernah ia lakukan. Tidak lebih dari lima menit. Ia ingin segera bersama dengan sang istri. Setelah selesai mandi dan memakai piyama, ia bergegas turun. Begitu tidak sabar untuk bisa segera melihat istrinya, ia sampai melompati setiap satu anak tangga saat turun ke lantai satu. Dia tahu dimana istrinya menunggu. Ruang makan. Maka, dengan senyum tertahan, pria itu berjalan dengan langkah lebar dan cepat. Namun, begitu membuka pintu yang menghubungkan ruang makan serta dapur bersih, ia justru mendapati sesuatu yang membuat dadanya sesak, serta amarahnya seketika meluap. Di depan sana. Di depan mata kepalanya, sang istri dan orang kepercayaannya berdiri berhadapan dengan jarak yang begitu dekat. Tidak hanya itu, dia juga melihat dua tangan orang kepercayaannya itu memegang kedua lengan atas istrinya. Pria itu menatap tajam istrinya. Sungguh, pemandangan itu membuatnya meledak. “Apa yang kalian berdua lakukan?” Milea dan Kai yang sedang bertatapan dengan sorot mata berbeda itu dengan cepat menoleh ke arah suara berasal. Milea terbelalak. Dengan cepat ia memutar langkah hingga kedua tangan Kai terlepas. “Kamu … kamu sudah selesai?” tanya Milea terbata. Milea menelan saliva susah payah melihat kulit wajah Ardito yang kini menatapnya itu memerah. Ardito … marah. “Kamu … beraninya kamu–” Ardito menggeram. Milea merinding. Tatapan Ardito begitu tajam. Apa Ardito mendengar pembicaraannya dengan Kai? Mendengar pengakuannya pada Kai? Tangan wanita itu bergetar hingga Milea segera meremasnya kuat-kuat. Bulu kuduk Milea semakin meremang tatkala melihat Ardito mulai melangkah ke arahnya. Habislah sudah, batin Milea melihat amarah yang begitu jelas tergambar di wajah suaminya. Milea sudah benar-benar pasrah. Dalam benaknya, ia membayangkan tangan Ardito yang terkepal itu sebentar lagi akan menghantamnya. Dia sungguh pasrah. Berpikir Ardito mendengar pengakuannya pada Kai dan sekarang pria itu akan menghajarnya. Maka, begitu ayunan kaki Ardito sebentar lagi mencapai tempatnya berdiri, Milea memejamkan kelopak mata. Bersiap menerima hantaman tangan Ardito. ‘Bugh!’ Suara itu terdengar keras dan begitu dekat. Namun, Milea tidak merasakan apapun. ‘Bugh!’ Lagi, untuk kedua kalinya suara itu terdengar dan Milea masih tidak merasakan apapun. “Beraninya kamu! Dia istriku, Sialan!” Milea membuka kedua matanya. Kepala wanita itu bergerak memutar. Sepasang matanya terbelalak melihat kepalan tangan Ardito terayun, lalu menghantam keras wajah Kai. Membuat tubuh Kai terhuyung ke samping. “Beraninya kamu menggoda istriku!” “Jangan!” Refleks Milea berteriak saat melihat Ardito kembali mengangkat kepalan tangan kanannya. Suara teriakan Milea membuat kepalan tangan Ardito mengambang di udara. Pria itu menoleh ke arah sang istri. Kepalan tangannya bergetar. Semakin marah berpikir sang istri membela Kai. Sementara Kai menegakkan posisi berdiri sambil mengusap sudut bibir yang berdarah. Dia tidak melawan atasannya. Membiarkan pria itu memukulnya tiga kali. Kai menahan ringisan merasakan perih. Bola matanya bergerak ke arah Milea tak lebih dari satu detik, sebelum kemudian beralih pada sang atasan. “Kamu membelanya?” Milea menggeleng. “Kalian berselingkuh di belakangku?” Bola mata Milea membesar. Satu kesadaran masuk ke dalam kepalanya. Ardito marah bukan karena mendengar pengakuannya pada Kai. Pria itu marah karena salah paham. Mengira dirinya dan Kai memiliki hubungan khusus. Mengkhianatinya. “Tidak.” Kepala Milea menggeleng keras. “Tidak katamu? Lalu, kenapa kamu menahanku? Aku belum puas menghajarnya. Dia sudah berani menggodamu.” “Tidak. Dia tidak menggodaku. Kami tidak berselingkuh. Kamu salah paham, Sayang.” Bola mata Ardito mengecil, mendengar sang istri memanggilnya sayang. Panggilan yang tidak biasa. Ia nyaris luluh, sebelum kembali mengingat apa yang dilihatnya. “Jangan berbohong padaku. Mungkin aku akan langsung percaya jika tidak melihat dengan mata kepalaku sendiri.” “Aku tidak berbohong.” Milea kembali menggeleng. “Aku berani bersumpah … kami tidak berselingkuh. Aku … aku … aku mencintaimu.” Bukan hanya Ardito yang terkejut mendengar apa yang Milea katakan dengan suara sedikit bergetar. Pun dengan Kai yang langsung menatap wanita itu dengan sepasang alis berkerut. Milea menelan saliva sembari meremas telapak tangannya. Untuk pertama kalinya dia mengucapkan kata tersebut. “Katakan sekali lagi.” “Aku … aku mencintaimu.” Alis Ardito terangkat. Pria itu menatap lekat sepasang mata istrinya. Detik terlewat, Ardito menatap semakin dalam, tampak berusaha mencari kebohongan dalam sorot mata sang istri. Sedikit saja dia melihat kebohongan di dalam mata istrinya, dia tidak akan pernah memaafkan. Dia benci pengkhianatan. Dia benci dibohongi. Milea tidak bergeming, membalas tatapan sang suami tanpa sedikitpun menggeser tatapannya. Keduanya bertahan dengan tatapan mereka sampai kemudian satu kalimat terucap dari mulut Ardito. “Kalau begitu, buktikan padaku. Buktikan di depan Kai kalau kamu benar mencintaiku.” “A-a-apa?” gugup Milea. Wanita itu mengedip hingga pautan mata keduanya terputus. Milea sempat menggeser pandangan ke belakang tubuh Ardito. Melihat Kai yang berdiri di sana dengan tatapan yang tidak bisa ia ketahui artinya. “Buktikan, Ara. Buktikan kalau kamu mencintaiku.” tantang Ardito yang masih ragu pada perkataan istrinya. Apa yang dilihatnya tadi masih menghantuinya, dan dia tidak menghilangkan pemandangan itu begitu saja. Dia butuh pembuktian atas pernyataan cinta istrinya. Milea sekali lagi menelan saliva. Bola matanya bergerak-gerak. Jantungnya berdebar kencang. Membuktikan pernyataan cintanya di depan Kai? Apa yang harus ia lakukan? “Aku tidak akan percaya jika kamu tidak membuktikan sekarang juga di depan Kai.” Milea kembali menggeser pandangan meskipun tak lebih dari sekejap mata, sebelum kemudian wanita itu menarik langkah ke depan. Mendekati sang suami yang berdiri dengan sepasang mata menatapnya tajam. Ardito tak melepas sedetikpun tatapannya dari perempuan yang kini berhenti berjalan di depannya. Berdiri tak lebih dari dua jengkal tangan darinya. Ia menunggu. Menunggu pembuktian kata cinta perempuan tersebut. Sementara di belakang Ardito, Kai menatap keduanya. Ia pun menunggu apa yang akan terjadi. Itu yang diinginkan oleh Ardito. Lalu, dia melihat perempuan yang ia pikir bernama Aurora itu kembali menarik langkah ke depan, mengikis jarak yang tersisa dengan sang suami. Milea berjinjit, melingkarkan dua tangan ke leher Ardito kemudian menyatukan bibir mereka. Milea berhenti sejenak. Berpikir apa yang ia lakukan sudah cukup membuktikan perkataannya. Namun, yang terjadi tidak begitu bagi Ardito. Dia merasa apa yang istrinya lakukan tidaklah cukup membuktikan cintanya. Pria itu menuntut lebih. Tatapannya mengatakan hal tersebut, hingga akhirnya Milea menggerakkan sepasang bibirnya. Kai mengalihkan pandangan matanya. Pria itu masih berdiri di tempatnya. Hanya bisa mengumpat dalam hati karena dipaksa melihat apa yang terjadi. Pria itu menarik napas dalam-dalam seraya menekan katupan rahangnya. Ini bukan pertama kalinya Kai melihat sepasang pria dan wanita berciuman, akan tetapi kali ini ia tidak tahan melihatnya. Ada apa dengan dirinya? Kenapa dia tidak bisa melihat dua orang itu berciuman di depan matanya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD