Milea hanya bisa mengumpat sang teman yang ternyata sedang melakukan hal terlarang bersama sang kekasih–Elias. Ponsel sudah tak lagi melekat di telinga, dan panggilan sudah tak lagi tersambung. Milea sudah mematikan sambungan tersebut.
Wanita itu berkali-kali menghentak keras napasnya. Apa lagi yang harus ia lakukan sekarang? Siapa yang bisa ia mintai pertolongan, selain dua orang yang masih bergumul di atas ranjang itu?
Milea memukul-mukulkan pelan ponsel di tangan kanan ke telapak tangan kirinya, sementara isi di dalam kepala wanita itu sedang bekerja keras. Haruskah dia menghubungi Zayn? Milea mendesah. Hubungannya dengan Zayn sudah putus satu tahun lalu. Apa yang akan Zayn pikirkan jika ia tiba-tiba menghubungi pria tersebut?
Milea resah. Saat ini waktu yang tepat untuk berusaha pergi karena Ardito sedang tidak ada di rumah. Milea tidak tahu bagaimana cara melarikan diri jika pria itu sudah kembali nanti. Jadi, tidak ada pilihan lain. Lupakan prasangka Zayn saat ia menghubungi pria itu. Sekarang dia harus berdoa supaya pria itu bersedia membantunya.
Beruntung ia tidak memblokir nomor Zayn. Dia tidak pernah membenci pria itu. Hubungannya kandas bukan karena Zayn berkhianat. Bukan karena tidak ada cinta lagi. Hubungan itu harus berakhir karena status yang berbeda.
Orang tua mana yang akan membiarkan putra kesayangannya berhubungan dengan anak pelakor. Ya, itu adalah cap yang melekat di dirinya. Anak pelakor.
Milea merasa perlu untuk memenuhi paru-parunya dengan stok oksigen sebanyak mungkin, sebelum memberanikan diri menggulir layar ponsel kemudian menekan nomor kontak Zayn.
Milea memutar langkah lalu mengayunnya. Tidak seperti ketika ia menghubungi Aurora, kali ini Milea berjalan mondar mandir sambil menunggu orang yang dihubungi menjawab. Berkali-kali wanita itu bahkan harus menarik napas panjang, seolah sedang berusaha untuk menenangkan hatinya.
Ayunan kaki wanita itu baru berhenti ketika suara yang sudah sangat lama tidak pernah menyapa gendang telinganya itu terdengar.
“Milea?” Suara Zayn terdengar dengan nada terkejut.
“I-iya. Ini aku.” Mile terbata. Rasanya sudah begitu lama dia merindukan suara itu. Akan tetapi, Milea tahu rasa rindu itu tidak seharusnya ia pelihara.
“Hei, apa kabar? Aku dengar usahamu dan Ara berkembang pesat.”
“Oh … itu? Um … alhamdulillah, lumayan. Um … kalau kamu butuh WO, kamu bisa kontak aku.”
“Hmm … begitu, ya?” Lalu Zayn terdiam beberapa saat. Membuat ruang hening tercipta sejauh dua negara berbeda Jakarta dan Singapura. Sampai kemudian Milea bersuara terlebih dahulu.
“Zayn,” panggil Milea dengan suara yang sanggup menggetarkan hati pria yang mendengarnya.
Di tempatnya berada, Zayn terdiam merasakan sesuatu di dalam d*da. Rasa sakit, luka yang masih belum mengering bahkan setelah satu tahun terlewat. Zayn mencintai Milea dengan tulus.
Sayangnya semua masa indah selama tiga tahun bersama itu, Milea akhiri begitu saja. Zayn tidak pernah benar-benar tahu kenapa Milea mengakhiri hubungan mereka, padahal ia merasa semua baik-baik saja. Hubungannya dengan Milea berjalan lancar tanpa kendala.
Milea memberikan dampak positif di hidupnya. Lalu wanita itu membuatnya hancur terpuruk. Anehnya, dia tidak bisa membenci Milea. Yang dia tahu, setelah putus dengannya, Milea belum pernah berhubungan dengan pria lain. Hal itu membuat Zayn menolak selentingan dari teman-temannya jika bisa jadi Milea berselingkuh darinya.
Dan karena itu, Zayn sama sekali tidak pernah memblokir nomor Milea. Berharap hari seperti hari ini akan datang.
Lalu ketika tiba-tiba melihat nama kontak Milea di layar ponsel yang menyala, Zayn tidak bisa tidak merasa senang. Dia senang sekali. Akhirnya keinginannya terwujud.
“Boleh aku minta bantuanmu?”
Zayn mengedip. Baru saja dia melamun, mengenang masa lalunya saat bersama Milea. “Apa yang bisa aku bantu? Kamu sekarang dimana? Ayo kita ketemu,” ajak Zayn. Bunga-bunga di dalam hatinya mengembang. Memikirkan kesempatan bertemu lagi dengan Milea.
“Um, aku sekarang sedang di Singapura.”
“Singapura? Kamu ada proyek di sana?” tany Zayn sedikit terkejut mengetahui dimana saat ini Milea berada.
“Bukan. Aku … um aku–”
“Zayn, ada Ina di bawah. Ayo, Turun!”
‘Tok! Tok! Tok!'
Milea menghentikan kalimatnya. Dia mendengar suara itu. Milea menelan saliva susah payah. Ina. Siapa Ina? Yang pasti itu nama perempuan, dan bukan nama adik Zayn. Milea menarik napas dalam-dalam.
“Zayn!”
“Iya, Ma. Sebentar.” Zayn menutup speaker ponsel saat menyahut sang mama. Meskipun begitu, Milea yang masih tersambung dengan pria itu masih bisa mendengar suaranya meskipun tidak keras.
“Milea ….”
“It’s okay, Zayn. Lupakan saja. Maaf sudah mengganggu. Aku–”
“Tunggu, Milea. Katakan saja apa yang kamu butuhkan dariku. Kalau aku bisa bantu, aku pasti bantu. Aku senang kamu menghubungiku saat kamu kesulitan. Katakan saja apa yang–”
“Zayn! Kamu sedang apa di dalam? Kenapa pintunya di kunci?” Suara mama Zayn kembali terdengar.
“Zayn, sebaiknya kamu keluar dulu. Nanti mamamu marah. Aku tutup. Maaf mengganggumu.”
“Milea … Mila!” Di tempatnya, Zayn menghentak keras napasnya. Milea sudah memutus sambungan mereka. Zayn menurunkan ponsel dengan kesal.
Pria itu kemudian bergegas mengayun langkah ke arah pintu kamarnya. Kesal pada sang mama, namun saat pria itu membuka pintu, Zayn hanya bisa menatap datar mamanya, lalu berjalan melewati wanita tersebut.
Sementara Milea dengan perasaan kecewa memupus harapan meminta bantuan pada Zayn. Milea mengayun kaki ke arah ranjang, lalu menghempas p****t ke tepi ranjang. Putus sudah harapannya. Apa lagi yang harus ia lakukan sekarang?
‘Tok! Tok!’
Suara ketukan membuat Milea menegakkan punggung yang semula melengkung ke depan. Wanita itu memutar kepala ke arah daun pintu yang masih tertutup.
“Nyonya.”
Sepasang mata Milea langsung mengerjap. Dia mengenali suara itu. Apa … Ardito tidak jadi pergi? Mendadak Milea merinding. Apa sekarang dia harus tidur satu ranjang dengan pria itu? Milea menelan susah payah salivanya.
“Nyonya, silahkan keluar. Saya menunggu anda di sini.”
Milea masih menatap daun pintu yang tertutup itu. Masih belum bergerak dari posisinya duduk di tepi ranjang. Tarikan dan hembusan napas wanita itu semakin cepat ketika melihat pergerakan gagang pintu. Sekali lagi Milea menelan saliva.
“Saya akan buka dengan kunci cadangan, jika dalam hitungan tiga anda belum keluar.”
Sepasang mata Milea langsung membesar. Orang itu memang gila. Dasar pemaksa. Hobinya hanya mengancam, batin kesal Milea sambil beranjak berdiri.
“Saya hitung dari tiga. Tiga … dua–”
“Iya … iya! Aku juga perlu jalan.” Milea benar-benar kesal setengah mati. Wanita itu melangkah lebih cepat. Tiba di depan pintu, Milea segera memutar kunci lalu menarik gagang pintu. Milea mendongak menatap kesal pria yang berdiri di depannya.
Milea menghentak keras napasnya. “Ada apa? Bukannya kamu pergi dengan … Pak Ardito?” Milea menarik napasnya. Rasanya aneh sekali memanggil pria itu. Pria asing yang tiba-tiba berstatus sebagai suaminya.
“Ini … untuk anda.”
Milea menurunkan pandangan mata. Menatap buket bunga di depannya. Wanita itu terdiam dengan sepasang kelopak mata bergerak turun naik.
“Pak Ardito sudah berangkat. Saya datang untuk mengajak anda menikmati malam di kota ini.”