Gendis tersenyum kecil dan masuk kembali ke kamar mengambil handuk dan segera mandi. Dana juga Eyang Uti hanya terdiam dan menghela napas.
"Ayo Yang Uti kita ke bawah" Ajak Dana
Eyang Uti menurut dan berjalan menuruni tangga dengan di papah Dana
.
Hirup pikuk malam penutupan pengenalan lingkungan kampus semakin ramai. Terdengar teriakan beberapa mahasiswa yang ikut bernyayi bersama penyanyi yang dihadirkan malam ini.
Atmosfer bahagia memenuhi gelanggang mahasiswa malam ini. Pendar lampu sorot juga ikut memeriahkan suasana.
"Ndis, mau kemana lu?" tanya Arif, teman sekelompok Gendis yang duduk menjaga tas dan barang lainnya
"Mau balik" jawab Gendis singkat dan segera pergi
Arif juga temannya yang lain saling pandang dan mengendikkan bahunya.
"Eh belum selesai nih acara" teriakan Arif tidak dihiraukan Gendis yang sudah setengah berlari menuju aula depan gelanggang
Langkah Gendis semakin cepat saat melihat adiknya, Dana sedang berbincang dengan Rio.
"Ayo balik" ucap Gendis menarik lengan Dana
"Eh bentaran, gue janjian mabar nih" cegah Dana namun tidaka di gubris Gendis yang terus menariknya
"Udah, sana pulang aja Dan. Ntar gue kontak lu dari Saras aja" ujar Rio
"Oke Bang gue tunggu ye"
Rio melihat Dana yang terus di tarik lengannya sampai diparkiran.
Jika mengingat beberapa saat yang lalu ia jadi tersenyum. Mulanya ia sudah menyiapkan mental akan dimarahi orang tua mahasiswa. Namun, ternyata adiknya yang menggunakan nama orang tuanya
"Lah mana emak?" tanya Gendis
"Di rumah lah"
"Trus tadi katanya emak bapak dateng?"
Dana meringis dan menggaruk kepalanya
"Udah ayo balik. Gue di beri mandat menjemput tuan putri"
"Halah, bentaran Dan. Lagian belum acara puncak ini" kilah Gendis
"Pulang Ndis. Lu kalau kagak balik bareng Dana, Emak kunciin lu ntar biar tidur di teras" terdengar suara emak dari audio yang dinyalakan Dana
"Dih ngancem lu" dumel Gendis
Rio hanya mengawasi interaksi mereka berdua. Ada rasa kurang senang di sana.
Berdehem cukup keras hingga perdebatan mereka berhenti sebentar.
"Kamu pulang aja Sar, acaranya tinggal hiburan aja. Kamu bisa pulang" ucap Rio
"Nah kan, yuk balik katanya mau bantuin gue kan" ujar Dana setengah memanas-manasi
"Halah, gue ogah ya nolong elu. Ya udah tunggu gue ambil tas bentar" ucap Gendis yang segera berlalu
Rio melihat kepergian Gendis berjalan masuk kembali ke gelanggang. Dana yang melihat hal seru di depannya semakin ingin mengusili Rio.
"Kenapa Bang nglihatinnya kayak gitu"
Rio menoleh dan menatap Dana sengit
"Eits, santai bro" ucap Dana dengan senyum usil
"Ada hubungan apa sama Saras?" tanya Rio sengit
"Ha? Saras? Gendis kali, eh bener ya nama aslinya Saras"
"Nama Gendis itu juga namanya?"
"Ya lah, cuman orang terdekat aja sih yang manggil dia Gendis" ucap Dana bangga
Rio berdehem sekali
Baru saja ia akan berbicara, salah satu panitia lain menghampiri mereka.
"Yo besok jadi kan lu ikut kelompok kita?"
"Ha? Oh kompetisi itu. Oke" jawab Rio
"Wah bagus, gue info ke yang lain kalau gitu" ucapnya sebelum pergi
Dana yang mencuri dengar langsung mendekati Rio begitu temannya pergi
"Bang nama akunmu apa? Boleh tuh kapan-kapan mabar" ucap Dana
Rio hanya mendengus pelan
"Besok mau kompetisi, nanti deh"
Dana yang akan menimpali, mendengar suara Gendis bernada kecut
"Ayo balik"
....
Gendis makan beberapa kue yang di bawa Eyang Kakung dan Utinya dalam diam. Terkadamg ada satu dua sepupunya yang mengajaknya mengobrol bersama dan di tanggapi sekedarnya oleh Gendis.
"Mbak suruh Emak ke dapur tuh" ucap Dana yang baru datang dengan segelas wedang ronde
Harus jahe menyeruak indera penciuman Gendis.
"Ngapain?" tanya Gendis
Dana hanya mengendikkan bahunya dan melanjutkan menyeruput air jahe hangat.
Gendis pun beranjak pergi. Dana malah mengajak sepupu laki-lakinya bermain Playstation
"Yuk main Gal"
Gendis masuk ke dapur yang sudah ribut dengan beberapa Tante juga Bibinya yang berasal dari Sumatera. Logat Padang juga Batak terdengar
Tawa riuh juga obrolan seru
"Mak" panggil Gendis
"Eh elu sini, nih wedang ronde elu. Kasih ke depan sana" ucap Emak menunjuk senampan wedang ronde yang terlihat asap tipis mengepul di atas gelas
"Oke Mak" jawab Gendis yang segera mengambil nampan dengan pelan
"Hati-hati Ngger" pesan Eyang Uti
"Nggih Eyang" jawab Gendis yang berkonsentrasi membawa nampan berisi wedang ronde
Meninggalkn dapur, Gendis sampai di ruang keluarga. Terlihat adiknya juga beberapa sepupu laki-laki tengah asyik bermain permainan.
"Nih wedang rondenya, jangan lupa di minum" ucap Gendis memecah suasana riuh
"Wah, wedang ronde buatan Eyang" celetuk Galih
Senampan wedang ronde habis di serbu
"Lah gue gak ada Mbak?" tanya Dana yang menghampiri nampan di deoan Gendis yang asyik menikmati bagiannya
"Elu udah kan tadi. Gak usah maruk" jawab Gendis
"Dih!?" dumel Dana yang kembali duduk dam bermain
Di belakang rumah ada Bapak serta Om dan Paman serta Eyang Kakung Gendis. mereka asyik bermain catur juga memancing di tambak ikan berukuran sedang di sana.
Suasana menjelang sore begitu hangat yang kekeluargaan. Gendis mengamati keluarganya yang datang. Meski berbeda suku juga logat namun, mereka saling menyayangi.
Setiap kunjungan tiga bulan sekali seperti ini pasti mereka akan membawakan oleh-oleh dan tentu saja yang saku.
"Mbak, katanya Galih mau pindah ke kampus elu tuh" celetuk Dana
"Seriusan Lih? Bukannya udah mau skripsi ya elu?" heran Gendis
"Udah wisuda kali Ndis, dapet beasiswa dari kampus elu buat nerusin di sana" jawab Galih yang sekarang duduk di dekat Gendis
"Wah keren dong, emang pinter nih sepupu gue" puji Gendis
"Mbak Gendis mah masih mahasiswa baru nih, jauh lah" ledek Dana
"Hilih tunggu aja sih. Elu juga tuh mau ujian kenaikan kan. Belajar katanya mau sekolah di Magelang" ucap Gendis tidak mau kalah
"Tenang Mbak. Adikmu inj bakal jadi jenderal" ucap Dana penuh keyakinan sambil menepuk d**a kirinya
"Nah sama nih, Rendi juga mau sekolah kedinasan juga" ujar Rana, sepupu perempuan Gendis, kakak Rendi
"Ah~ Mbak Rana nih"
"Lah kenapa? Bisa jadi kan kalian bisa masuk barengan. Seumuran ini" ucap Rana
"Emang iya Mbak Ran? Keren dong. Semangat dong Ren. Banyak yang doain ini" ujar Gendis
"Tenang Ren, ntar latihan bareng aja. Gue sering tuh latihan sama temen gue di Solo" ucap Dana
Obrolan mereka semakin seru. Gendis juga sudah asyik bergosip dengan Rana yang notabene sudah bekerja dan akan segera menikah
"Eh gimana jadu mahasiswa baru?" tanya Rana
"Asem manis mbak, malesin. Seniornya" jawab Gendis malas
"Halah biasa tuh. Trus daoet gebetan gak?" tanya Rana jahil
"Ada tuh mbak. Gila masak gebetannya Presiden Mahasiswa" celetuk Dana yang mencuri dengar
"Wah iya Ndis?" tanya Rana penasaran
"Dih!? Gak usah di percaya, mulutnya Dana kok di percaya" jawab Gendis
"Lah trus kemarin yang sok cemburu waktu gue jemput elu siapa mbak?" usil Dana
"Gak usah ember deh Dek"
"Siapa sih Dan?" sambung Galih
"Ntar lu juga tau, pas masuk kampus sering-sering ke fakultasnya Mbak Gendis buar tau" jawab Dana
"Emang sefakultas?" timpal Rana
"Enggak kok Mbak, beda" jawab Gendis
"Nah kan Mbak Gendis tau" ejek Dana
Gendis hanya manyun mendengar ledekan dari sepupunya.
"Udah lah, bahas yang lain aja" ucap Gendis
Tak lama terdengar sorakan 'Cieee malu' riuh hingga orang di dapur juga teras belakang masuk untuk melihat.
Senja yang kemerahan di ufuk barat menambah kehangatan sore itu. Penuh canda juga tawa.
.
.
.
Holaaa
Jangan lupa Tap Love dan Follow akunku
Bedankt :)