SUAMI MENOLAK MEMBERIKU NAFKAH BATIN BAG 10
"Biarkan dia menunggu, Mbak. Aku sibuk mau wawancara," kata ku tegas saat diberitahu Mbak Farah siapa yang berada di toko. Dari mana dia tahu aku kerja di toko, semoga hanya kerja dan dia tak tahu kalau aku pemilik toko itu. Aku dan Mbak Farah sama-sama mulai dari nol, modal kami sama ketika membangun toko online itu hingga berkembang besar. Keuntungan pun tidak ada masalah. Hingga kami membuka toko nyata disamping online.
"Ih, kalau dia buat keributan gimana. Udah kamu kesini sebentar aja," tolak Mbak Farah,
"Mbak kan tangguh, usir kek atau apa. Laporkan sama security biar dia kabur," kataku melengkungkan bibirku.
"Aih, dasar Vania, ya udah lah."
"Makasih Mbak. Wawancara ini penting dan aku harus datang. Udah ya Mbak," ucapku pada Mbak Farah.
Aku bergegas berganti pakaian dan memoles diri di depan cermin, Mbok jum membawa s**u untukku agar ASI ku lancar.
"Mbok titip Fauzan ya. Saya gak lama kok. ASI sudah ada bila dia haus tinggal kasi."
"Iya, Bu," kata Mbok Jum.
"Asih," panggilku. Pengasuh anakku datang.
"Hubungi saya kalau ada apa-apa. Tolong jaga anak saya ya dengan baik," ucapku pada Asih.
"Iya, Bu," katanya, aku pun pergi setelah mencium anakku. Aku sebenarnya ingin membawa Fauzan ke toko saja biar disana dijaga Asih dan Mbak Farah. Fauzan tidak rewel namun kata Mbak Farah ada seseorang di toko dan bila kubawa anakku kesana maka waktuku akan tersita dengan adu mulut dengan tamu disana.
**
Aku memasuki kawasan kampus, penampilanku sudah rapi karena aku ada wawancara buat kuliah S2 lagi di kampus ini. Aku bahagia karena aku tidak lagi terkekang oleh Mas Prabu si pengkhianat. Kuhubungi Auriga memberitahu kalau aku sudah ada di kampus, pria itu menyuruhku langsung ke gedung pasca sarjana fakultas FMIPA.
Aku melangkah dengan percaya diri. Akan ku buktikan pada Mas Prabu bahwa aku bukan sampah yang menjijikkan sampai dia merasa hina untuk menyentuhku. Sesungguhnya dialah yang hina karena melakukan perbuatan yang sangat nista.
Ketika aku sudah memasuki kawasan kampus yang terkenal itu, aku sempat berpikir untuk melaporkan perbuatan b***t Mas Prabu biar dia dipecat dari tempat bergengsi ini. Namun aku harus sabar dulu karena laporan polisi Marsya baru saja dicabut. Yang penting rumah sudah kudapatkan.
Ketika aku berjalan, kulihat Mas Prabu sedang berjalan dengan rekan seprofesinya, seorang dosen wanita. Aku mencibir kesal rupanya beginilah dirinya di kampus. Suka tebar pesona sana sini. Dia suruh aku di rumah mengurus anak dan rumah namun dia sendiri kecentilan dengan banyak wanita disini. Ketika aku sudah dekat berjalan untuk melewatinya, matanya membola melihat diriku di kampus. Aku tetap tenang seolah tidak peduli dengan dirinya dan apa yang mau dikerjakannya.
Agaknya dia penasaran apa yang mau kulakukan disini. Dia membalik badan dan permisi pada rekan nya untuk suatu urusan. Namun dia mengejarku untuk diintrogasi.
"Vania!" panggilnya namun aku tak peduli. Aku tetap berjalan hingga dia kesal dan di sentakkannya tanganku.
"Hey!" katanya marah. Aku berhenti dan menatap tajam dirinya yang sudah memberhentikan langkahku.
"Maaf ada apa ya?" tanyaku seolah tak mengenalnya.
"Ngapain kamu disini. Kamu mau ngasih bukti hubunganku dengan Marsya. Bukankah kita sudah sepakat kamu gak akan melaporkan aku ke kampus!" sentaknya secara langsung. Aku tersenyum masam menanggapinya.
"Segitu takut dirimu jadi gembel. Kalau aku lapor kamu bakal dipecat ya. Kasihan, bukan urusanmu juga kan aku mau kesini!" kataku ketus padanya.
"Nggak usah sok, Vania. Kamu juga masuk penjara kalau kau laporkan aku."
"Aku gak takut sama sekali, tetapi kamu yang takut kalau kehilangan pekerjaan mu sebagai dosen gatel yang meniduri mahasiswanya."
"Tutup mulutmu!" Dia melotot padaku.
"Lagian, sudah ada hitam diatas putih kalau aku gak bakal ngelaporin kamu dan selingkuhan kamu setelah kalian tarik laporan polisi yang menuduhku mencuri. Aku juga tidak ingkar janji sepertimu, yang sudah setuju rumah mewah jadi milikku namun masih betah tinggal disana," jelas ku padanya.
"Lantas ngapain kamu kesini, mau me-mata-mata-i aku, pulang sana disini bukan tempatmu. Aku yakin kamu kere tanpa aku, kamu pengangguran dan hanya bisa menyusahkan Farah kakak mu saja!" ujarnya menyeringai jahat padaku. Aku menarik sudut bibirku mendengar ucap nya.
"Emang aku kurang kerjaan, dan ini bukan universitas Bapakmu. Yang kere itu kamu bukan aku. Kamu hanya dosen yang memprihatinkan, tidak punya pekerjaan lain bila kamu dipecat. Ngasih duit pas pasan sama aku aja sombong. Asal kamu tahu aku disini adalah dosen dan aku seorang pengusaha!" cibirku padanya. Dia tertawa mengejek.
"Jangan terlalu halu nanti kamu gila dan masuk RSJ, sungguh kasihan," cela nya padaku,
"Oh, terserah saja ya. Aku sibuk gak ada waktu meladeni orang gak waras dan tukang selingkuh seperti kamu!" tegas ku lagi, aku berlalu dari hadapan Mas Prabu dengan wajah masam. Aku yakin dia sangat penasaran dengan kedatanganku dan dia akan mencari tahu.
Akupun berlalu untuk memasuki ruangan wawancara. Disana sudah ada Auriga yang menungguku.
"Vania, kamu yakin kan mau kuliah lagi?" tanya nya dengan raut yang aneh.
"Ya ialah, kamu janji juga kan mau jadiin aku asisten dosen kamu." Dia menghela napas nya dan mengangguk.
"Terima kasih Riga. Aku akan belajar keras agar gak malu-malu-in kamu."
"Iya, yasudah masuk sana dan kamu harus lulus serta jadi dosen yang kompeten dan baik," katanya memberiku semangat. Aku mengangguk dan memasuki ruang wawancara. Semua sudah diatur Auriga, mulai dari berkas pendaftaran dan lain-lain. Biaya kuliah tinggal aku transfer saja. Semua beres dan aku bisa menjadi mahasiswa S2 dan akan menjadi dosen seperti impianku.
**
"Mbak, Farah. Pengganggu itu sudah pulang kan?" tanyaku lewat telepon saat aku sudah selesai di kampus dan berniat pulang.
"Sudah lah, dia marah-marah dan katanya mau kerumah kamu."
"Terus, Mbak?" Aku panik seketika.
"Handphone kamu gak aktif, Mbak gak bisa hubungi kamu dan toko lagi ramai. Kamu juga udah beberapa hari gak mantau. Mbak sibuk sendiri."
"Iya, Mbak maaf, namanya aku mau melangkah maju dengan masa depan aku. Setelah cerai aku harus lebih mandiri lagi, Mbak."
"Iya, Mbak ngerti cepat pulang."
"Ok, Mbak." Aku bergegas pulang ke rumah, takut terjadi sesuatu juga.
Sampai di rumah, setelah kuparkirkan mobilku. Aku bergegas masuk dan benar saja dua orang tamu tak diundang sudah datang.
"Dari mana saja kamu, Ha!" bentaknya padaku ketika aku baru sampai. Kulihat Asih sedang menggendong putraku. Aku berlalu ke dapur dan membersihkan diri, tak ku hiraukan mereka berdua. Setelah berganti pakaian. Aku mengambil Fauzan untuk ku gendong.
"Dasar kamu menantu gak tahu diri. Ibu datang bukan disuguhi sesuatu malah melengos pergi," ketusnya padaku, aku tersenyum kecut menanggapi mereka berdua. Yang datang ke toko Ibu dan Sila. Dia mertua dan adik iparku, namun entah tahu dari mana dia alamat toko ku.
"Dari mana Ibu tahu alamat toko?" tanyaku dengan wajah datar.
"Prabu cerita kalau kamu kerja di toko, dia udah dua bulan gak ngasih Ibu duit. Katanya dia bayar hutang dan kasih kamu. Kamu kok tamak sekali sih, kamu kan sudah kerja dan biarkan Prabu berbakti dengan memberikan Ibu uang juga. Diakan anak Ibu. ingat Vania, anak laki-laki milik Ibunya." Ibu memandang aku dengan sengit, seolah keuangan Mas Prabu aku yang mengatur padahal anaknya itu memberi uangnya pada selingkuhannya disamping membayar hutang.
"Tanyakanlah pada anakmu itu, Bu. Dan dia bukan suamiku lagi. Anakmu dan aku sudah bercerai karena dia selingkuh dengan mahasiswanya sendiri!" kataku padanya, Ibu terlihat gusar dan tak percaya.
"Oh, dia suruh kalian datang ke toko pasti dia takut kalau ketahuan selingkuh di rumah!" cela ku pada Ibu Mas Prabu.
"Vania, kamu ngomong apasih." Ibu bernada keras tak terima dengan berita yang ku sampaikan.
"Apa kurang jelas, Bu. Anakmu dan aku sebentar lagi ketuk palu perceraian dan sesuai perjanjian rumah ini milikku," kataku kearahnya.
"Omong kosong kamu, Vania. Aku tak percaya."
"Baiklah akan kutunjukkan buktinya!" Aku menunjukkan berkas kopian bukti kepemilikan rumah ini dan bukti Mas Prabu yang selingkuh. Semuanya kutunjukkan melalui kopian yang sekarang ditangan Ibu Mas Prabu dan Sila adik iparku itu. Melihat bukti-bukti itu Ibu Mas Prabu yang akan menjadi mantan Ibu mertuaku itu memegang kepalanya.
"Nggak mungkin. Sila kepala Ibu sakit." Dia terkulai lemas dan jatuh pingsan. Kami semua disana menjadi panik.
"Bagaimana ini, Mbok Jum?" tanyaku bingung.
"Hubungi Pak Prabu atau gimana Bu. Si Mbok juga bingung?" katanya.
Bersambung
TBC.