Aku terduduk di balkon toko, disinilah aku sekarang, besok rencananya aku akan pulang ke rumah dan mengusir Mas Prabu dari sana.
"Vania," Kakak ku memanggil.
"Iya, Mbak."
"Nih, anak kamu udah tidur. Mbak letak di ayunan ya," ucap Mbak Farah, aku mengangguk.
"Vania, kamu sudah siap?"
"Maksud Mbak?"
"Kamu sudah nabuh gendrang perang dengan Prabu. Mbak yakin pria tukang selingkuh kayak dia itu gak punya akhlak walaupun pendidikannya tinggi. Kamu harus hati-hati."
"Iya, Mbak. Aku mau pastikan dulu dia dan Marsya mencabut gugatan pidana pencurian itu. Sesuai perjanjian bila dia cabut maka aku tak akan melaporkannya ke kampus, padahal aku ingin memiskinkan Mas Prabu biar dipecat sekalian."
"Bila tidak dilaporkan, Prabu akan terus berbuat zina dan semena-mena." Mbak Farah berdiri di sisiku, dia menatap lekat diriku yang melihat lurus dari atas balkon.
"Kata Riga, Mas Prabu dicurigai menggelapkan uang mahasiswa dan beasiswa. Mereka masih mencari bukti keterlibatan Mas Prabu."
"Kamu jadi kuliah lagi?" tanya Mbak Farah, ku hembuskan napasku. Dari dulu aku bercita-cita bekerja dan tidak di rumah, namun karena perintah Mas Prabu yang menyuruhku jadi Ibu rumah tangga untuk mengurusnya dan Fauzan akupun menurut. Sekarang aku sudah sendiri karena sebentar lagi perceraian akan dikabulkan. Tak ada larangan lagi dari dia dan aku bisa melanjutkan sekolahku lagi.
"Iya, Mbak. Aku ingin bekerja lagi. Aku ingin mandiri, biar laki-laki tak lagi meremehkan ku. Aku juga akan membalas perlakuan Mas Prabu yang menganggap aku sampah seperti ini."
"Ya sudah, Mbak mendukungmu. Apapun asal kamu bahagia dan yang terbaik buat kamu."
"Mbak aku butuh bantuan Bang Sinaga." Mbak Farah tampak heran.
**
Aku masuk kedalam rumahku, aku tak sendiri. Asih ikut bersamaku disertai Mbok Jum. Pembantu Kakak ku itu akan bekerja sekarang di rumahku. Aku memang memerlukan pembantu untuk mengurus rumah dan Fauzan karena aku sudah memutuskan untuk sibuk kembali seperti dulu dan menjadi wanita karier. Aku masih muda dan tak akan ku sia-siakan seumur hidupku untuk pasrah pada keadaan. Aku minta tolong juga pada dua orang prajurit teman Bang Sinaga di Batalyon nya. Karena aku tak tahu dan bisa saja Mas Prabu kalap menyerang ku.
Ceklek … Kubuka pintu rumah. Aku, Asih dan Mbok Jum masuk kerumah. Asih mendorong stoller Fauzan.
"Vania." Mas Prabu terkejut melihat kedatanganku. Kulirik dirinya sudah rapi mau ke kampus.
"Kamu belum keluar dari rumahku. Keluar sekarang juga. Ini rumahku dan kamu tidak ada hak berdiri di tanah Bapakku!" kataku sinis padanya. Mas Prabu mengeram kesal padaku.
"Vania, aku tak bisa secepat itu keluar dari sini. Bagaimanapun aku juga ada andil membangunnya dan tidak seperti kamu yang ongkang-ongkang kaki seenak jidat dan dapat rumah!"
"Kau sadar. Kau lah yang membuat dirimu terusir dari sini. Kau harus bersyukur aku tak melaporkanmu dan memiskinkan mu. Jika kau dipecat kau pasti jadi gembel dan Marsya belum tentu mau denganmu," ujarku tersenyum miring kearahnya sambil melipat kedua tanganku.
"Wanita si*l berani kamu padaku, Ha!" Mas Prabu tak terima dia berusaha menakuti ku. Ku tantang dirinya dengan sorot ku.
"Sadarlah, Mas. Bukankah perjanjian sudah ditandatangani dan kau kalah sekarang."
"Tetapi kita belum ketuk palu dan resmi bercerai. Akupun belum dapat surat perceraian apalagi akta cerai jadi kau tunggu dulu sampai hubungan kita putus barulah kau bisa mengusirku!"
"Apa kau semiskin itu, hingga jadi pengemis seperti ini. Apa kau tak punya uang lagi untuk menyewa tempat tinggal mu. Oh, aku lupa uangmu sudah kau berikan pada pelac*rmu!" seruku ketus padanya.
"Diam kamu, tak sangka aku mulutmu berbisa seperti ini. Marsya lebih segalanya dibanding kamu. Aku memang lebih cinta dia dari kamu. Kamu tidak ada apa-apa dibanding dia. Aku bahkan jijik padamu dan sekujur tubuhmu yang kotor itu!" katanya menatap aku sengit. Napasku memburu dikatai seperti itu. Aku sudah perawatan semenjak melahirkan untuk menarik perhatiannya. Apalagi toko ku ramai pengunjung dan aku bisa membeli apapun yang aku mau termasuk mobil yang kupakai kemana-mana. Namun dia tetap tak mau melihatku apalagi memberi aku nafkah batin sesuai kebutuhanku.
"Tutup mulutmu, kamu belum tahu siapa aku, aku jauh lebih berharga dari wanita itu yang kau puja. Tubuhku kau katai kotor namun kau tak sadar diri. Kau yang telah berselingkuh dengan wanita kotor itu. Kalian berdua sama-sama kotor!" ucapku sengit, Mas Prabu tak terima pada ucapanku. Dia hendak menamp*rku namun Mbok Jum berteriak.
"Jangan, Pak!" serta merta dua orang prajurit masuk kedalam. Mereka memakai pakaian loreng sudah berdiri di pintu masuk.
"Ada masalah, Bu?" tanya salah satu dari mereka dengan garang. Mas Prabu terkejut karena ada orang lain diluar sana.
"Kau bawa anggota kesini, Vania. Dasar pengecut kamu!" katanya kesal mengambil tangannya dan tak jadi dilayangkan padaku.
"Pengecut katamu, kau yang pengecut, Mas. Kau hanya berani pada perempuan. Kau hanya mencintai dirimu sendiri. Lihat anakmu yang sudah ku lahirkan. Tidakkah kau berpikir menjadi ayah yang baik dan apa katanya bila dia besar dan tahu kelakuan b***t Bapaknya!"
Mas Prabu diam namun matanya nyalang menatapku. Tatapan benci itu dihadirkan untuk melihatku, jika dulu diawal kami menikah dia akan tersenyum manis padaku dan mengucapkan kata romantis sebelum kami memiliki anak. Sekarang semua sudah terbalik.
"Tidak perlu banyak omong, Mas. Cepat susun seluruh pakaianmu. Aku sudah muak sekali," kataku melangkah, namun Mas Prabu masih diam disana. Aku sudah bosan, segera aku masuk ke dalam kamar dan mengambil pakaiannya dan kumasukkan kedalam koper. Mas Prabu mendatangiku.
"Vania, berani sekali kamu!"
"Tentu, aku sangat muak padamu. Melihatmu di rumah ini akan mengingatkanku pada perbuatanmu dengan Marsya yang sedang bergumul mesra. Harusnya hukum islam ditegakkan saja. Kamu dan Marsya cocok nya dirajam sampai mati!"
"Vania, dasar istri gak berguna kamu." Mas Prabu hendak menghentikan ku. Namun prajurit sudah siaga disana, Nyali Mas Prabu menciut.
"Kalian berdua jangan ikut campur dengan urusanku dan wanita ini." Aku terus sibuk mengambil seluruh pakaiannya dan kumasukkan kedalam koper besar itu.
"Kami disuruh Bang Sinaga melindungi dia. Bagaimana pun dia seorang Ibu dan wanita lemah yang harus dilindungi."
"Pergi kalian dari rumahku dan jangan ikut campur atau kulaporkan kalian ke atasan kalian!" ancam Mas Prabu. Aku melempar tas Mas Prabu begitu saja. Dia tersentak kaget.
"Berani kamu main lapor. Aku bisa lebih melaporkan mu karena merusak citra bangsa dengan berzina. Kamu beneran akan jadi gembel karena kamu bisa dipecat."
"Vania, kamu!"
"Sudah jangan banyak omong. Semua pakaian kamu sudah kumasukkan kedalam dan kamu pergi dari hadapanku!" usir ku pada Mas Prabu. Namun dia masih nyalang menatapku. Dia masih diam seperti patung.
"Oh, kamu masih tak mau pergi juga. Bapak yang terhormat tolong saya. Angkat laki-laki ini dari sini!" sentakku padanya. Mas Prabu dengan tatapan bencinya bergerak mengangkat kopernya. Dia mendengkus padaku lalu dia keluar begitu saja. Kudengar langkah kaki nya dan dia merasa keberatan meninggalkan rumah yang dibangunnya dengan susah payah. Deru mesin mobilnya terdengar dan Mas Prabu sudah pergi meninggalkan rumahku.
Bagus, disini bukan tempatmu, Mas. Dan di hatiku pun tidak ada tempatmu.
Gawaiku bergetar, aku menerima panggilan dari Mbak Farah.
"Assalamualaikum, Ada apa Mbak?"
"Ada yang datang ke toko. Kamu bisa kesini, penting Vania."
"Tapi aku ada urusan setelah ini. Aku mau ke kampus buat wawancaraku."
"Tetapi dia itu …"
Bersambung
TBC.