8. Ambil Pria Ini

1114 Words
SUAMI MENOLAK MEMBERIKU NAFKAH BATIN BAG 8 "Van, kamu yakin?" tanya Mbak Farah padaku. Aku mengangguk, aku datang ke kafe bersama Mbak Farah dan Bang Sinaga. Bang Sinaga suami kakak ku adalah seorang prajurit TNI, aku sengaja memintanya buat datang kesini, tak lupa ku bawa pengacaraku. Agar lebih jelas semuanya. Sementara Fauzan berada di stoller bayi, dia tertidur setelah diberi s**u, kubawa juga si Asih buat ikut membantu menjaga Fauzan. "Iya, Mbak. Aku udah gak tahan melihat perselingkuhan Mas Prabu dengan Marsya," kataku tersenyum getir pada Kakakku. "Apapun keputusan kamu, selama kamu yakin untuk melangkah dan bahagia. Mbak akan mendukungmu, Van," ucap Kakakku mengelus lenganku. "Iya, Mbak. Terima kasih," ucapku lagi. Aku menggerutu kesal pada Mas Prabu, mengesalkan dia suruh aku menunggunya seperti ini. Masih teringat perbuatannya di rumah yang merebut ponsel itu dariku. Dan berbagai photo-photo m***m dirinya dan selingkuhannya. Awalnya perasaanku begitu sakit dan terluka namun setelah berdamai dengan hati, aku sudah ikhlas terhadap segala keputusan yang kuambil. Setelah beberapa saat kami menunggu akhirnya dia sampai juga. Dia bersama Marsya dan terlihat mesra, hatiku bertambah sakit. Penghianatan yang dilakukannya secara terang-terangan dan dia tidak mau mengaku membuatku jengkel dan marah. Walaupun sulit namun aku akan berusaha menghapus Mas Prabu dalam diriku. "Vania!" Dia duduk dengan menelan salivanya begitu melihat sudah ramai yang datang. Begitupun Marsya yang tampak gusar. "Berani kamu datang selama ini. Kau pikir cuma dirimu dan selingkuhan mu yang harus ditunggu dan waktu kami disini tak berharga!" kataku jengah menunggunya beberapa saat, kulihat rahangnya mengeras dan matanya tajam melotot padaku. "Vania, mengapa harus ramai seperti ini yang datang. Apa yang kau mau sebenarnya." Mas Prabu melirik satu persatu orang disana. Aku memberinya sebuah map. Mas Prabu membukanya, dan dia membelalakkan matanya melihat itu. "Apa-apaan ini, Vania!" katanya marah padaku. Aku mengembalikan gawai Marsya. Wanita itu melihat dengan tatapan benci padaku. "Ini, aku kembalikan milikmu. Aku tidak mencuri dan aku hanya pinjam!" kataku dengan raut datar. "Wanita si*l aku sudah melaporkanmu ke polisi karena mencuri dan menganiaya aku!" Marsya tak terima. "Bagaimana, Mas. Kamu terkejut melihat itu!" tegas ku lagi, Mas Prabu dengan kesal mengoyak map tersebut. Kutarik sudut bibirku karena map itu adalah kopian berbagai photo dan chat sebagai bukti perselingkuhannya. "Untuk apa kau bawa orang-orang ini. Kau kira aku takut. Vania, apa yang kau mau?" kata Mas Prabu dengan sorot tajam. Aku mendengkus kesal padanya. Sudah ketahuan berselingkuh namun dia seakan tenang. "Berkas perceraian sudah ku urus, aku hanya ingin kau menandatangani persetujuan hitam diatas putih bahwa rumah akan menjadi milikku karena perselingkuhan yang kamu lakukan sesuai perjanjian kita diawal menikah." Mas Prabu tak terima dengan apa yang ku lontarkan. "Gila kamu Vania. Berani sekali kamu menuntut!" "Tentu, karena bukti sudah jelas dan kamu berselingkuh di belakangku!" ujarku sengit, "Photo itu rekayasa dan bukan aku yang berkirim pesan pada Marsya karena dia hanya mahasiswaku. Aku dan Marsya tidak ada hubungan apapun seperti yang kau tuduhkan. Vania, rumah itu milikku dan kau tak punya kuasa mengambilnya!" ujarnya lagi. Aku sudah muak sekarang. Menyesal aku mencintai Mas Prabu dan menikah dengannya. Kuhela napasku dalam-dalam. "Baiklah Mas, sudah ketahuan masih menyangkal dan bilang itu bukti palsu. Aku akan mengurus ini di pengadilan. Dan rumah beserta isinya jadi milikku karena bukti sudah kuat dan kita bahkan pergi ke notaris buat mengesahkannya. Aku akan melaporkan perbuatan kalian ke universitas, kau pelakor beserta laki-laki yang sudah meniduri mu akan ditindak. Mas kau akan dipecat karena mencoreng nama baik kampus dan Marsya akan dikelurkan dari sana!" kataku ketus pada mereka berdua. Kini Mas Prabu bungkam dan wajahnya pias. "Vania, ini tidak seperti yang kamu bayangkan." "Cukup kamu menipuku, aku muak dan lelah. Biarlah kita berpisah dan kamu keluar dari rumahku!" "Kau tak ada andil apapun Vania, aku yang membangunnya!" katanya bersikukuh. "Ya, tetapi perjanjian sudah dibuat dan kamu yang kalah karena tidak bisa menahan nafsumu sendiri," ujarku lagi. Mas Prabu diam dan tidak bisa berkata-kata. "Kamu juga Marsya dasar pelakor. Kamu gak malu merebut suami orang. Wanita rendah!" cebik ku pada Marsya yang dari tadi menantang ku. "Berdasarkan berbagai bukti dan surat surat yang sudah lengkap, rumah itu memang jatuh ke tangan Ibu Vania," ucap Pengacaraku. "Diam kamu!" Mas Prabu tak terima. "Kamu pikir diatas angin, Ha. Aku sudah laporkan kamu ke Polisi. Kamu kembalikan ponselku pun percuma karena kamu sekarang akan mendekam dalam tahanan!" Kali ini Marsya buka suara. Aku melengkungkan bibirku padanya. "Silahkan Pak," ujarku pada pengacaraku. "Kasus Perselingkuhan Perzinahan dalam Kitab Undang – undang Hukum Pidana (KUHP) diatur dalam pasal 284 KUHP, yang berbunyi : Dihukum penjara selama-lamanya 9 (sembilan) bulan, laki-laki yang beristeri berbuat zina sedang diketahuinya bahwa pasal 27 KUHPerdata berlaku padanya, dan perempuan yang bersuami berbuat zina. Kalian berdua bisa terjerat tindak pidana perzinahan." Ucap Pengacaraku, Mas Prabu terlihat gusar. "Mas belum lagi aku melaporkanmu akibat undang-undang ITE karena memamerkan photo mesra dan chat mesra, aku yakin polisi tak butuh waktu lama dan bisa memenjarakan mu, begitupun kau Marsya. Kalian berdua akan dijerat pasal berlapis." Kataku menunjuk wajah mereka satu persatu. Marsya terlihat pucat. "Aku gak mau dipenjara, Mas," adunya pada Mas Prabu. Aku tersenyum sinis melihat ketakutan diwajahnya. "Baiklah, Vania. Ambil saja rumah itu, tetapi kamu jangan melaporkanku dan Marsya ke Polisi. Jangan juga melaporkanku ke kampus karena aku tak siap kehilangan pekerjaanku." "Iya, aku juga tidak mau di keluarkan, Mama dan Papa bisa marah besar padaku!" Marsya terlihat takut. Aku mendesah kecil. "Seharusnya kau tahu konsekuensi berhubungan dengan suami orang. Apa tidak ada pria lain yang belum menikah!" "Bersiaplah Prabu, kemas semua pakaian mu dan keluar dari rumah adikku!" Mbak Farah menimpali setelah lama diam. "Tutup mulutmu, Mbak!" kata Mas Prabu sengit. "Heh, berani kamu sama istriku kau hadapi aku, segera tinggalkan rumah Vania atau kau berurusan denganku!" Bang Sinaga suami kakakku ikut membelaku. Matanya melotot pada Mas Prabu. Nyali Mas Prabu langsung menciut. "Oke, kita buat saja kesepakatan. Marsya akan menarik laporan polisi atas tindakan perampasan dan kekerasan yang dilakukan Vania. Sebagai imbalan jangan laporkan kami ke Polisi. Biarlah rumah itu aku ikhlaskan menjadi milik mu, Vania. Kita ambillah jalur damai," pinta Mas Prabu putus asa mencoba mengalah. Pengacaraku sebelumnya berkata lebih baik urusan penjara memang diselesaikan secara kekeluargaan karena disana juga ada mediasi. Kecuali pihak lawan ngotot menyerang. Aku berpikir, bahwa aku juga sudah dilaporkan oleh Marsya dengan delik perampasan dan penganiayaan, hukumannya juga mungkin lama. "Fine, asalkan tanah Bapakku beserta rumah mewah itu menjadi milikku. Aku juga ingin kita segera bercerai," tegas ku lagi. Ku sodorkan beberapa surat yang harus ditandatanganinya. Sekarang rumah mewah itu menjadi milikku. Mas Prabu harus keluar tanpa apapun. "Kau ambil pria ini dengan segala hutangnya. Kau nikmati hidup susah bersamanya seperti aku dulu!" ucapku pada Marsya. Ini belum selesai, Mas. Kamu juga akan menyesal mengkhianati ku. Ucapku dalam hati. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD