7. Rahasia Dibalik Gawai

1074 Words
MENOLAK NAFKAH BATIN 7 Mataku membola membaca pesan dari Mas Prabu, dia berpikir aku takut dipolisikan. Pesan darinya membuktikan dia yang takut karena barang bukti sudah ada padaku. "Nia, aku tahu kau sedang dalam masalah." Auriga menghentikan lamunanku. Aku tertunduk, sebelum kesini berjumpa dia berkali-kali aku mencoba membuka gawainya Marsya namun selalu gagal. Kuhela napasku, tak ada salahnya aku minta bantuan Auriga. Temanku satu ini pintar dalam segala hal dan juga unik. "Riga, aku butuh bantuanmu, aku ingin kunci ponsel ini terbuka. Bisakah kau membuka kunci nya karena dia terkunci menggunakan pola tertentu, sudah kucoba dan gagal!" seruku panik, ini satu-satunya bukti Mas Prabu dan Marsya berselingkuh. "Sepertinya penting, Nia?" Dia mengerutkan dahi. "Iya sangat penting, hidupku dipertaruhkan disini!" seruku padanya. Riga mengambil gawai itu, dia mengotak-atik nya Gagal dan gagal. "Sebentar, Akan membutuhkan beberapa saat," ujar Auriga mengambil laptop nya didalam tas ransel yang dibawanya. Aku sama sekali tak paham apa yang dilakukannya, namun aku menurut saja. Beberapa saat Riga bekerja. Kunci pola itu berhasil dibukanya, diberikannya padaku. "Segera ganti dengan pola baru. Kalau tidak akan terkunci lagi," ujarnya padaku. Bergegas aku mengganti apa yang disuruh Auriga. Dengan tangan bergetar kubuka Chat nya dan terpampang lah kemesraan mereka berdua. Tidak hanya itu photo-photo mesra suamiku dan Marsya terlihat romantis namun memuakkan bagiku. Belum lagi video mereka tengah bersama, berlibur bersama. Mereka layaknya berpacaran. Tidak ada video m***m namun video kemesraan mereka membuatku jengkel setengah mati. Video Marsya bersama suamiku sedang menikmati sore di balkon hotel membuat dadaku sesak, pasti mereka sudah berkali-kali memadu kasih secara haram. Aku juga marah dengan perbuatan suamiku yang sudah keterlaluan seperti ini. Ini lebih dari cukup kalau mereka berselingkuh, Marsya mencium suamiku, suamiku memeluknya saat berenang bersama. Berbagai photo itu sudah jadi bukti kuat mereka ada affair di belakangku. "Nia, apa yang terjadi?" tanya Riga bingung melihat diriku tergugu. Rasanya hatiku sakit. Sangat sakit, wanita mana yang tak sakit hati melihat kemesraan suaminya dengan selingkuhan. Sudut mataku berair, kuhapus kasar. Aku merasa malu ketahuan lemah dan menangis didepan Riga. Pria itu lembut memberiku tissue untuk mengelap sudut mataku yang mengeluarkan embun. "Maaf, Riga," kataku bingung. "Masalah Pak Prabu pasti," kulihat dia mendesah, "Apakah kamu tahu sesuatu, Mas Prabu dekat dengan mahasiswanya?" tanya ku penasaran. "Entahlah, cuma gosip sesama mahasiswa beredar kalau dia pernah jalan dengan mahasiswanya. Desas desus sampai juga ke telinga Dosen cuma ya itu hanya hembusan angin," kata Riga sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. "Ponsel siapa, Nia?" "Ponsel selingkuhan suamiku. Terima kasih Riga. Jika butuh bantuan, aku akan menemui mu." "Nia, sabar ya. Ujian kehidupan bisa datang kapan saja, kapanpun kamu butuh maka aku akan membantu. Jangan lupa hadir disesi wawancara," katanya padaku, aku mengangguk. Aku akan kuliah lagi seperti cita-citaku. Aku tak ingin dikekang Mas Prabu seperti selama ini. Ternyata dia punya wanita lain di belakangku dan membuat aku di rumah saja dan tidak tahu perbuatannya. ** "Astaga, Nia." Mbak Farah shock melihat beberapa photo dan chat di gawai Marsya. Aku sedang memberi Asi pada Fauzan. Dia dengan lahap meminum ASI pada botol dot yang sudah ku pompa. Inilah alasan ku memberinya ASI didot karena aku pasti akan punya kesibukan lain dan tak bisa sepenuhnya mengurus putraku. Mbak Farah tinggal di toko bersama Asih. Sementara aku sepertinya tak bisa 24 jam bersama Fauzan. Karena banyak yang harus ku urus. Beruntung Mbak Farah mau menjaga Fauzan dibantu Asih karena dia melihat aku memiliki banyak masalah. "Segera ambil tindakan, Vania!" Perintah Kakakku, aku mengangguk. "Sudah pasti Mbak. Karena aku punya bukti. Aku membutuhkan bantuan Mbak dan Bang Sinaga," ujarku pada Mbak Farah. "Bang Hendra Kamu kok suka panggil suami Mbak Sinaga, ntar dikira r*ynh*rd Sinaga lagi," kata Mbak Farah protes. Dalam keadaan seperti ini Mbak Farah masih bisa bergurau. "Kan emang dia bermarga Sinaga dan orang batak." "Iya walaupun garang dan sangar suami mbak berhati lembut, Vania. Gak kayak si Prabu," cibir Mbak Farah. Aku kembali mendesah, mungkin aku salah pilih suami. Karena Mas Prabu itu sosok romantis awalnya. Namun setelah dua tahun bersama tak sangka dia seperti ini. "Nia, secepatnya sebelum dia bertindak jauh. Kamu pasti dilaporkan ke Polisi karena gawai itu kamu rampas dari selingkuhannya." Mbak Farah memberi saran. "Iya, dia juga sudah mengancam. Aku akan segera selesaikan masalah ini, Mbak. Aku akan ambil hak ku berupa rumah dan segera urus perceraian karena diawal menikah aku sudah punya perjanjian tidak mau dimadu apalagi diselingkuhi." "Aku tak mau kamu masuk penjara, Nia. Urus lah cepat masalah ini," pinta Mbak Farah. Aku tersenyum getir memikirkan rencana ke depan yang mesti kuambil. Walau hatiku sakit namun mungkin ini jalan terbaik. Penghianat selamanya akan menjadi penghianat. Dari bukti itu bisa ku simpulkan mereka sudah lama bersama. ** Berkali- kali Mas Prabu menghubungiku minta aku selesaikan masalah dengannya karena aku sudah punya bukti menyangkut reputasinya. "Vania, bersiaplah penjara akan jadi tempatmu!" Suara Mas Prabu menggema di ujung panggilan. "Mas, mengapa kamu terlihat tegang. Santai lah. Aku hanya pinjam ponselnya buat melihat bukti dan tak sangka kamu dan dia sudah sejauh ini." "Kamu sudah menyakiti Marsya, Vania." "Dimana aku menyakiti dia. Bukankah selama ini kalian berdua yang menyakiti aku." "Tunggulah polisi datang menjemputmu." Ku kirim beberapa photo ke gawai suamiku. Aku yakin dia pasti tak terima. "Vania, segera hapus semua bukti itu!" Perintahnya marah. "Kalau aku tak mau bagaimana. Dasar b*jing*n kamu Mas. Setega ini kamu selingkuhi aku demi dia. Aku baru melahirkan tetapi sikapmu sudah begitu jauh. Tidakkah kau memikirkan Fauzan!" "Nia mari selesaikan ini baik-baik. Jangan sampai berbagai photo dan chat itu menyebar, reputasi ku dipertaruhkan sebagai dosen." "Kamu pikir reputasi ku sebagai istri tidak dipertaruhkan. Bukan cuma dirimu yang punya reputasi tetapi aku juga." "Nia, kalau kamu gak mau menuruti ku maka kamu akan masuk penjara." "Baik, kita masuk bertiga bagaimana? Kulaporkan kamu dan Marsya dengan tuduhan perselingkuhan. Karena ada pasal apabila suami atau istri berselingkuh dan punya bukti bila salah satu melapor tindakan tak bermoral itu maka si tukang selingkuh bersama selingkuhannya bisa masuk penjara. Aku memiliki bayi jadi aku ada hak menangguhkan penahanan ku jika kalian laporkan aku dalam tuduhan pencurian. Sementara dirimu Mas. Karier mu terancam dan Marsya kekasihmu pun sama. Ingat Mas hutangmu masih berjalan setahun lagi di Bank. Bagaimana bila kamu dipecat dan tak bisa bayar hutang!" seruku tertawa sinis. "Cukup, Vania. Jangan bermain-main. Apa yang kau mau?" Mas Prabu tampak gusar. "Baiklah, aku ingin kamu dan wanita selingkuhan mu selesaikan masalah ini, aku akan kirim pesan apa yang harus kalian lakukan untukku!" kataku mematikan sambungan telepon. Aku tak akan mundur lagi. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD