bc

Di Mata Mu, Aku Hanyalah Uang

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
dark
family
HE
age gap
goodgirl
mafia
gangster
heir/heiress
blue collar
drama
sweet
bxg
campus
city
office/work place
friends with benefits
widow/widower
like
intro-logo
Blurb

Pertolongan yang tulus membawa Bianca pada sebuah tawaran tak masuk akal yang bisa mengubah hidupnya selamanya.

chap-preview
Free preview
Pertolongan dan Tawaran Gila
Bianca Mariotti, gadis berusia 20 tahun itu baru saja melangkah keluar dari gimnasium. Setiap usai kuliah di jam-jam pagi, ia pasti menyempatkan diri ke tempat itu untuk mengasah kemampuan bela dirinya. Bukan tanpa alasan ia melakukan hal itu. Ada semangat besar yang selalu membakar diri Bianca setiap kali ia berada di dalam ruangan latihan itu. Dulu, ia pernah mengalami kejadian buruk dan mendapatkan perlakuan tidak senonoh dari seseorang. Sejak saat itu, ia bertekad bulat untuk berlatih bela diri, agar dirinya bisa melindungi diri sendiri dan tidak lagi menjadi korban yang lemah. "Hufftt..." Bianca mendesah pelan seraya menyeka sisa keringat yang membasahi dahinya. Ia berjalan santai menuju pulang, sembari menendang-nendang botol kosong bekas air mineral yang ada di tangannya di sepanjang jalan. Saat melihat tong sampah tak jauh di hadapannya, Bianca segera menendang botol itu dengan tenaga yang cukup pas. Whuusss! Benda plastik itu melayang di udara, lalu masuk dan jatuh tepat ke dalam mulut tong sampah. Bianca tersenyum kecil puas. Ia lalu menarik penutup jaketnya menutupi kepala, melindungi diri dari terik matahari, dan kembali melanjutkan langkah kakinya menuju tempat ia tinggal, sebuah rumah kost sederhana. * * "Tolong! Tolong aku!" Suara jeritan wanita memecah keheningan jalanan, langsung menyadarkan Bianca yang sedari tadi berjalan dengan pikirannya sendiri. Ia segera menghentikan langkahnya, mencari ke mana asal suara itu, dan tanpa ragu bergegas mendekat dengan niat tulus untuk menolong. "Tolong! Ada jambret! Tolong!" pekik wanita itu kembali, kali ini terdengar semakin panik dan ketakutan. Padahal di sana cukup banyak orang berlalu-lalang. Namun, tak ada satu pun yang berani melangkah maju untuk membantu. Mereka hanya diam menonton dari kejauhan, ragu dan takut terlibat, apalagi saat melihat penjahat itu membawa sebilah senjata tajam yang berkilau di tangannya. Kluntang!! Tiba-tiba, sebuah kaleng bekas melayang dan menghantam kepala sang penjambret dengan cukup keras. Pria berwajah sangar dan berkepala plontos itu sontak berbalik dengan wajah memerah karena marah. Ia memutar pandangannya ke sekeliling, mencari siapa orang kurang ajar yang berani melempari dirinya. Namun, sang pelaku hanya berdiri diam tak jauh dari situ. Bianca menatapnya dengan tatapan datar dan dingin, kedua tangannya mengepal santai di dalam saku celana, sama sekali tidak terlihat gentar sedikit pun. "Kembalikan tas itu padanya!" pinta Bianca dengan nada suara tenang namun penuh penekanan. Pria itu hanya tertawa mengejek mendengar perintah gadis di hadapannya. Ia sama sekali tidak menganggap Bianca ancaman. Sebagai peringatan, ia mengayunkan pisau itu ke udara, lalu mendekapkan ujung tajamnya ke leher wanita yang sudah ia tangkap sebagai sandera. Tindakan itu membuat orang-orang di sekitar berteriak ketakutan, apalagi wanita itu sendiri yang kini menangis histeris. "Kau cuma gadis kecil! Apa yang bisa kau lakukan kalau aku begini?!" tantang pria itu sambil semakin menekankan bilah pisau itu ke kulit leher korban. Bugh! Bugh! Tak! Ting! Tanpa aba-aba dan dengan kecepatan yang nyaris tak terlihat mata, Bianca melesat mendekat. Dalam sekejap, kakinya sudah menghantam pergelangan tangan dan kaki si penjahat secara bergantian. Pisau yang tadinya dipegang erat itu terlempar jauh ke udara, lalu jatuh berdentang ke aspal. Pria itu meringis kesakitan dan terhuyung mundur. Ia berusaha bangkit dan segera meraih kembali pisaunya yang tergeletak di tanah, namun belum sempat tangannya menyentuh benda itu, telapak kakinya sudah menginjak dan menahan tangan pria itu dengan sangat kuat. "Aarrghh! Sakit!" raung pria itu menahan nyeri yang luar biasa. "Pergi dari sini! Dan jangan pernah kau ulangi perbuatan kotor itu lagi di tempat mana pun!" bentak Bianca seraya semakin menekan kakinya ke punggung tangan pria itu. Merasa tidak terima dipermalukan oleh seorang gadis muda, pria itu berusaha melawan. Ia mencekal kaki Bianca dengan satu tangannya, berniat menjatuhkannya. Namun, Bianca dengan sigap memutar tubuhnya dan menghempaskan tangan kasar itu ke tanah dengan kekuatan penuh. Bugh! "b******k!" Pria itu terpental beberapa langkah ke belakang, tubuhnya terasa nyeri sekujur badan. Tanpa membuang waktu, Bianca mengambil pisau yang tergeletak itu, lalu mengarahkannya tajam ke arah si penjahat. Tatapannya berubah tajam dan mengintimidasi, membuat nyali pria itu ciut seketika. "Kubilang... PERGI!" bentak Bianca sekali lagi dengan suara menggelegar. Pria itu ketakutan setengah mati. Ia sadar lawannya bukan gadis biasa. Tanpa peduli lagi pada pisaunya yang kini ada di tangan Bianca, ia segera bangkit dan berlari terbirit-b***t meninggalkan tempat itu sejauh mungkin. Setelah sosok pria itu hilang di tikungan jalan, wanita yang menjadi korban akhirnya memberanikan diri mendekat ke arah Bianca. Raut wajahnya penuh rasa syukur dan haru. "Terima kasih, Nak... Terima kasih banyak. Aku benar-benar berhutang budi padamu," ucap wanita itu dengan nada bergetar. Bianca menggeleng pelan, lalu menyerahkan tas yang sudah ia ambil kembali tadi. Ekspresinya kembali datar dan biasa saja seolah baru saja melakukan hal sepele. "Tidak perlu. Aku hanya menolong sebagai sesama manusia," jawabnya singkat. "Aku harus pergi. Lain kali lebih berhati-hatilah di jalanan, Bibi." Tanpa menunggu balasan lagi, Bianca segera melanjutkan langkahnya dan berjalan menjauh, meninggalkan wanita itu yang masih terpaku memandang punggung gadis penyelamatnya. * * Bianca menjatuhkan tubuhnya lemas ke atas kasur tipis yang hanya beralaskan lantai dingin. Kelelahan seharian terasa menumpuk di setiap urat sarafnya. Sesampainya di rumah, ia hanya sempat membersihkan diri dan mandi, lalu langsung berbaring tanpa melakukan hal lain. Hari-hari berat seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari yang kerap ia lalui, tanpa pernah banyak mengeluh atau menuntut lebih. Di dalam hatinya, ia selalu yakin dan berharap bahwa suatu saat nanti, pasti akan ada hari yang lebih baik dan menyenangkan baginya—meski ia sendiri tak tahu kapan waktunya akan tiba. Dert... dert... dert... Suara dering ponsel memecah keheningan kamar. Bianca yang mata dan pikirannya sudah hampir terlelap, terpaksa kembali bangkit dengan berat hati. Ia meraba-raba mencari benda pipih itu, lalu menatap layarnya samar-samar. "Nomor asing..." gumamnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar karena tertutup rasa kantuk yang berat. Bianca sama sekali tidak berminat mengangkat telepon dari nomor yang tidak ia kenal. Tanpa pikir panjang, ia langsung mematikan perangkat itu, meletakkannya kembali ke samping, dan menarik selimut tipis menutupi tubuhnya. Tak lama kemudian, ia pun kembali terlelap dalam tidur yang lelap hingga pagi menjelang. Keesokan paginya, di lingkungan kampus... "Hai, Bianca!" sapa seorang gadis ramah yang berjalan menghampirinya. Itu Flora, sahabat baik sekaligus satu-satunya orang yang paling dekat dengan Bianca di sini. "Hai, Flo. Ayo, kita masuk!" sahut Bianca singkat sambil tersenyum tipis, lalu langsung mengajak Flora bergegas menuju ruang kelas. Di sepanjang jalan, Flora kembali membuka suara. "Eh, Bian... Apa kamu sudah selesai mengerjakan dokumen tugas yang harus dikumpulkan hari ini?" tanyanya, menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang selalu terasa teduh dan tulus. "Ah, astaga..." Bianca menghentikan langkahnya sejenak, lalu memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa pening. "Aku lupa sama sekali, Flo. Semalam aku kelelahan sekali, begitu sampai rumah aku langsung tidur dan bangun sekarang saja." Flora hanya tertawa kecil melihat kelakuan sahabatnya itu. Ia segera mengeluarkan berkas dari tasnya, lalu menyodorkannya ke hadapan Bianca. "Lihat nih, punya aku sudah jadi. Kamu tinggal menyalin dan mengubah sedikit susunan kata-katanya saja, biar isinya tidak terlihat persis sama. Buruan kerjakan di dalam," usul Flora dengan senyuman merekah yang selalu menenangkan hati. Bianca menerima berkas itu dengan rasa bersalah sekaligus rasa terima kasih yang mendalam. "Ya, makasih banyak ya, Flo. Kamu selalu saja menolongku," ucapnya pelan. "Sama-sama. Cepat kerjakan! Masih ada waktu dua puluh menit lagi sebelum dosen masuk, itu sudah lebih dari cukup kok," ujar Flora sambil mengingatkan, lalu melangkah masuk ke dalam kelas bersama Bianca. Bianca mengangguk setuju, ia pun segera duduk dan bergegas menyelesaikan tugasnya berkat bantuan sahabat baiknya itu. * * Waktu istirahat pun akhirnya tiba. Seperti kebiasaan mereka berdua setiap harinya, Bianca dan Flora berjalan menuju kantin kampus untuk makan siang sekadar mengisi perut yang mulai keroncongan. "Hai, Bianca! Lama tak jumpa, Cantik!" Suara berat itu terdengar begitu familiar di telinga Bianca maupun Flora. Keduanya serentak menoleh ke sumber suara. Di sana, berdiri Rangga—pria paling populer dan dikenal sebagai idola banyak mahasiswi di kampus ini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Rangga menyukai Bianca dan terus berusaha mendekatinya, meski selalu ditolak mentah-mentah oleh gadis itu. Bianca tahu betul siapa sosok Rangga sesungguhnya. Di balik ketampanannya, pria itu dikenal sebagai mahasiswa paling playboy, yang bergonta-ganti pacar seolah berganti baju. Baginya, Rangga sama sekali tidak menarik, bahkan hanya dianggap sebagai pengganggu belaka. Bianca sama sekali tidak mempedulikan kehadiran pria itu. Ia bersikap seolah Rangga tak ada di sana, dan tetap fokus mengaduk makanan di piringnya. Namun, saat Rangga mulai duduk sembarangan di sampingnya dengan senyum genit, kesabaran Bianca habis. "Mending kamu pergi saja dari sini," ucap Bianca dengan nada suara yang tenang dan rendah, namun terasa begitu dingin dan tajam, menusuk langsung ke ulu hati. Wajah Rangga seketika berubah masam. "Sombong sekali kamu, ya," gerutunya kesal, namun tak berani berbuat banyak saat melihat sorot mata Bianca yang tak bergeming. Bianca tak lagi menanggapi ucapan pria itu. Ia kembali menyantap makanannya dengan santai seolah tak ada hal penting yang terjadi, mengobrol ringan dengan Flora di sampingnya. Begitu piring mereka bersih, Bianca segera berdiri dan melangkah pergi dari kantin diikuti oleh Flora. Di belakangnya, Rangga mengepalkan tangannya kuat-kuat, menatap punggung Bianca yang menjauh dengan tatapan penuh amarah dan kebencian. "Awas saja kau, Bianca! Lihat saja nanti, aku akan pastikan kau yang akan memohon-mohon padaku!" geramnya pelan, penuh ancaman. Setelah menjauh cukup jauh dan memastikan Rangga tak lagi ada di dekat mereka, Flora pun mulai membuka suara dengan wajah cemas. "Bi... Apa kamu benar-benar tidak takut? Terus-terusan menolak dan menantang dia begitu... Aku jadi khawatir, lho. Aku takut nanti dia berbuat macam-macam padamu," ucap Flora gelisah, matanya menatap sahabatnya penuh kekhawatiran. Namun, Bianca hanya mengangkat bahu dengan santai, tak ada rasa takut sedikit pun di wajahnya. "Biarkan saja dia mau berbuat apa. Lagian, salah dia sendiri. Seharusnya sejak dulu dia sadar kalau aku sama sekali tidak tertarik padanya. Aku akui dia memang tampan, Flo... tapi kamu tahu sendiri kan, kelakuan dan sifat asli Rangga itu seperti apa? Aku tak sudi berurusan dengan pria seperti itu," jawab Bianca acuh tak acuh. Flora hanya mengangguk paham. "Ya, aku mengerti kok maksudmu. Memang sih, kamu benar." Tak lama kemudian, bel tanda masuk kembali berbunyi nyaring memecah suasana. Seluruh mahasiswa bergegas berlarian masuk ke ruang kelas masing-masing, mengikuti jadwal pelajaran hingga jam perkuliahan selesai dan waktu pulang pun tiba. * * "Hari ini kau mau mampir ke gimnasium?" tanya Flora seraya mengencangkan tali pengikat helm di kepalanya. "Tidak, hari ini aku mau ke toko buku saja," jawab Bianca singkat. Ia pun mengenakan helmnya lalu naik ke atas jok belakang motor milik sahabatnya itu. Mesin motor menderu pelan, mulai melaju membelah jalanan kota. "Ngomong-ngomong, gimana kabar tulisan-tulisanmu? Masih rutin menulis kan?" tanya Flora lagi di sela perjalanan. "Masih dong. Memang dari mana lagi aku dapat uang kalau bukan dari menulis?" jawab Bianca pelan, lalu menghela napas panjang. "Tapi belakangan ini pendapatanku mulai berkurang, Flo. Hasilnya hanya cukup untuk menutupi kebutuhan sebulan dengan pas-pasan. Beruntung sekali aku dapat beasiswa penuh dari kampus. Kalau tidak ada itu, entah bagaimana nasibku sekarang..." tambahnya seraya mengedikkan bahu lesu. Bianca memang seorang anak yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal dunia tepat saat ia baru saja akan menginjakkan kaki di bangku kuliah. Berkat kecerdasan dan ketekunannya, ia berhasil mendapatkan beasiswa, sehingga beban biaya pendidikan sedikit terangkat. Ia hanya mengandalkan dua sumber penghasilan: uang hasil menulis cerpen dan novel di aplikasi daring, serta bayaran yang ia dapatkan dari melatih beberapa murid bela diri. Semuanya ia lakukan sendiri, tanpa bantuan siapa pun. "Sudah, jangan sedih begitu. Tetap semangat ya, Bi," sahut Flora lembut, berusaha memberi kekuatan. "Tidak ada hal yang sulit selama kita mau berusaha. Ingat, aku selalu ada di pihakmu dan akan selalu mendukungmu," tambahnya meyakinkan. Tak lama kemudian, motor Flora berhenti tepat di depan toko buku terbesar dan terlengkap di kota itu. Bianca segera turun dan melepas helmnya, lalu menyerahkannya kepada Flora sambil mengucapkan terima kasih. "Kau mau kutunggu sebentar di sini?" tawar Flora. "Jangan, makasih banyak ya. Aku bisa pulang sendiri kok nanti," tolak Bianca halus. "Yakin? Tidak apa-apa kan?" "Iya, Flo. Aku yakin," jawab Bianca sambil mengangguk lalu tersenyum tipis. "Ya sudah, kalau begitu aku duluan ya!" Flora pun kembali melajukan motornya dan perlahan menghilang di tikungan jalan. Bianca berbalik melangkah masuk ke dalam toko buku dengan raut wajah yang dingin dan datar. Memang begitulah sifatnya. Di depan orang lain atau saat sendirian, ia akan terlihat kaku, dingin, dan sulit didekati. Hanya di depan Flora saja, satu-satunya sahabatnya itu, Bianca berani memperlihatkan senyum dan sisi lembutnya. Setelah mendapatkan buku yang dicarinya, Bianca segera membayar dan bergegas keluar dari toko itu. Ia memilih untuk berjalan kaki menuju tempat tinggalnya. Baginya, berjalan kaki lebih baik daripada harus membayar ongkos kendaraan umum yang lumayan menguras kantong. Lagipula, Bianca selalu berpikir bahwa berjalan kaki itu menyehatkan tubuh dan menghemat pengeluaran. Saat ia sedang asyik berjalan dan menatap lurus ke depan, tiba-tiba sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap berhenti tepat di sampingnya. Bianca sama sekali tidak menghiraukannya. Ia tetap berjalan santai seolah tak ada apa-apa. "Tunggu sebentar!" Suara seorang wanita memecah konsentrasinya, membuat langkah kaki Bianca terhenti, namun ia belum berniat menoleh. "Permisi, Nona! Tunggu sebentar, aku ingin bicara sesuatu padamu!" panggil wanita itu lagi dengan nada suara yang tegas namun sopan. Langkah kaki terdengar semakin mendekat ke arahnya. Akhirnya Bianca pun berbalik badan dan menatap wanita yang kini berdiri tepat di hadapannya. "Apakah Anda bicara pada saya?" tanya Bianca datar. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang lain di sekitar sana selain dirinya. "Ya, benar. Padamu," jawab wanita itu seraya mengangguk mantap dan mendekat selangkah lebih maju. Melihat wajah wanita itu dengan saksama, Bianca merasa tidak asing. Ia berusaha mengingat-ingat, dan seketika ingatannya kembali melayang ke kejadian beberapa hari lalu. Bianca yakin seratus persen. Wanita di depannya ini adalah wanita yang kemarin sore ia tolong saat dirampok penjambret di pinggir jalan. Bedanya sekarang, di belakang wanita itu berdiri seorang pria berbadan tegap dengan wajah datar dan dingin, menatap Bianca dengan pandangan tajam dan menyelidik. "Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya Bianca dingin. Matanya meneliti wanita itu dari atas hingga ke bawah. Dari pakaian, perhiasan yang melilit leher dan jari-jarinya, hingga mobil mewah yang terparkir tak jauh di situ—sebuah mobil Rolls Royce hitam legam yang harganya selangit—semuanya menunjukkan bahwa wanita ini adalah orang yang sangat kaya dan terpandang. "Apakah kau sedang bekerja atau sibuk saat ini?" tanya wanita itu kembali. "Tidak. Saya baru saja selesai kuliah dan sedang berjalan pulang," jawab Bianca singkat. Wanita itu tersenyum puas. "Bagus kalau begitu. Ada sesuatu yang ingin aku tawarkan padamu. Sesuatu yang pasti membuatmu tertarik, dan aku yakin kau takkan mungkin menolaknya," ucap wanita itu penuh percaya diri, seolah uang bisa membeli segalanya. "Apa itu?" tanya Bianca seraya menautkan kedua alisnya, merasa penasaran sekaligus curiga. "Jadilah simpanan suamiku!" Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut wanita itu tanpa rasa ragu atau malu sedikit pun. Mata Bianca seketika membulat sempurna. Ia begitu terkejut hingga tersedak ludahnya sendiri. "Uhuk... uhuk..." Bianca menepuk-nepuk dadanya pelan, berusaha mengembalikan napasnya yang tercekat. "Dua milyar rupiah untuk satu malam saja!" suara wanita itu kembali terdengar lantang, menyebutkan nominal uang yang sangat besar tepat di depan wajah Bianca. Hati Bianca bergemuruh kaget. Tiba-tiba saja wanita yang dulu ia tolong kini memanggilnya dan memberikan tawaran yang benar-benar di luar nalar dan akal sehat: menyuruhnya menjadi wanita simpanan suami orang, dan ditawari uang miliaran rupiah semudah itu. "Maaf, Nyonya. Saya tidak mau," tolak Bianca dengan tegas dan tenang. "Saya bahkan sama sekali tidak mengenal Anda dengan baik. Saya masih mahasiswa, masih kuliah, dan saya tidak sudi melakukan hal kotor seperti itu meski disuruh atau dibayar berapa pun." "Ayolah, Nona Cantik. Aku butuh bantuanmu ini sungguh-sungguh!" bujuk wanita itu lagi dengan nada memelas namun masih berwibawa. "Dua milyar hanya untuk satu malam saja. Kalau nanti kau merasa cocok atau... ketagihan, terserah padamu. Kau bisa minta berapa pun uangnya pada suamiku, dia sangat kaya dan tidak akan keberatan memberimu apa saja." Mata Bianca semakin membelalak lebar mendengar ucapan yang makin tidak masuk akal itu. Bagaimana bisa seorang istri dengan mudahnya menawarkan suami sendiri kepada gadis muda di jalanan? "Maafkan saya, Nyonya. Apakah Anda tidak waras? Menjual suami Anda sendiri pada gadis asing seperti saya? Itu tindakan yang sangat memalukan!" Bianca menatap tajam. "Sekali lagi saya katakan, saya tidak mau dan tidak tertarik." Bianca pun segera berbalik badan berniat pergi meninggalkan wanita berusia sekitar 45 tahun itu. "Tangkap dia, Leo!!" Perintah singkat itu meluncur keras dari mulut wanita itu. Bianca yang mendengarnya seketika tersentak kaget. Tanpa pikir panjang lagi, ia langsung berlari sekencang-kencangnya menjauh dari tempat itu. Pria bernama Leo yang berdiri di belakang majikannya itu pun segera bergerak sigap, berlari mengejar Bianca yang berusaha kabur. Sementara itu, sang Nyonya kembali masuk ke dalam mobil mewahnya, memerintahkan sopir untuk menyusuri jalanan perlahan mengikuti ke mana arah lari Leo dan Bianca.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
752.3K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.8M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
985.1K
bc

A Warrior's Second Chance

read
363.1K
bc

Not just, the Beta

read
350.0K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook