Membersihkan kandang sapi adalah pekerjaan yang melelahkan. Meski tampaknya santai, nyatanya aku kelelahan.
Aku langsung tertidur pulas setelah mandi. Baru bangun pukul 10 malam. Bahkan aku melewatkan makan malam. Ketika aku keluar dari kamar, Ruby dan Romy baru hendak masuk kamarnya masing-masing.
"Baru bangun?" tanya Ruby. Aku mengangguk.
"Kerja bagus!" ujar Romy sambil menepuk bahuku. Ia memujiku karena kerja kerasku membersihkan kandang sapi.
"Masih ada Arthur dan orang yang satunya di bawah. Makanlah," kata Ruby.
Aku mengangguk lalu menuju ke tempat makan. Sesuai kata Ruby, ada Arthur dan Harvey di sana. Arthur sedang makan buah pir, sementara Harvey sedang melahap daging.
Begitu melihatku, Harvey langsung berdiri.
"Kau yang membantuku semalam, kan?" tanyanya. Matanya yang berwarna abu-abu tampak berbinar.
Aku mengangguk lalu duduk tepat di seberangnya.
"Terima kasih!" serunya.
"Bukan masalah. Silakan lanjutkan makanmu," kataku.
Aku hendak makan. Akan tetapi makan di depan selebriti yang biasanya hanya aku lihat di televisi atau di iklan-iklan pusat kota sungguh terasa berbeda. Aku jadi gugup dan tidak enak sendiri.
"Boleh aku tau siapa namamu?" tanya Harvey.
"Gris," jawabku, agak canggung.
"Perkenalkan, aku Harvey Jarvis." Harvey mengulurkan tangannya. Aku menyambut uluran tangannya.
"Sebuah kehormatan bagiku bisa kenal selebriti sepertimu," ucapku untuk mencairkan suasana.
"Ah ... kau tau aku?" tanyanya.
Aku mengangguk.
"Tentu. Memangnya ada manusia di dunia ini yang tidak tau Harvey Jarvis?" sahutku.
"Arthur tidak tau aku," kata Harvey sambil menunjuk Arthur.
"Tak mengherankan," balasku.
Aku lalu mengambil kentang rebus yang ada di atas piring. Meski tidak hangat lagi, tapi rasanya tetap lezat. Teksturnya cukup aneh tapi cukup cocok buat lidahku.
"Ah, Profesor Song sudah menjelaskan tentang tempat ini?" tanyaku.
Harvey mengangguk. "Ini tempat yang luar biasa, hanya saja profesor itu sedikit ... galak."
Aku tertawa. Akhirnya ada juga orang yang paham perasaanku dengan baik.
Harvey tiba-tiba menawarkan. "Hei, mau jadi temanku?"
Pertanyaan ini terasa familiar. Pertanyaan yang sama dengan apa yang kutanyakan pada Arthur tadi siang. Aku melirik Arthur, ia tampak tak peduli. Maka ini adalah waktu yang paling tepat untuk menyindirnya.
"Wah, kebetulan sekali! Tadi siang aku juga meminta seseorang untuk jadi temanku, tapi dia tidak mau. Sebagai gantinya, aku akan jadi temanmu!"
Dengan begitu, akhirnya aku menjalin pertemananan pertamaku. Pertama kalinya untuk seumur hidup.
***
Keputusan paling buruk adalah keputusan yang disesali setelah dibuat. Aku lah pembuat keputusan yang buruk itu. Aku menyesal setelah menjalin pertemanan dengan Harvey. Bukan salah Harvey sama sekali, tapi salahku sendiri.
Aku mendadak teringat betapa kerasnya kehidupan yang harus aku jalani. Sejenak aku lupa bahwa misiku datang kemari bukan untuk bermain-main, tapi untuk menyelamatkan nenek dan ibuku yang entah ada dimana.
Menjalin pertemanan seperti ini mungkin tak akan menguntungkan sama sekali. Arthur benar, harusnya aku menolak tawaran Harvey sama seperti Arthur yang menolak tawaran pertemanan dariku. Nyatanya kami hanyalah orang asing yang bertemu karena suatu garis takdir. Karena proyek bodoh bernama Herakles ini. Kami pasti punya tujuan masing-masing, tak ada gunanya peduli satu sama lain.
Karena bagian paling menyakitkan dari pertemanan adalah pengkhianatan. Sialnya dalam situasi ini, pengkhianatan hanya berjarak satu jengkal dari kami. Orang-orang itu bisa mengkhianatiku, aku juga bisa mengkhianati mereka bila perlu.
Sudah tau akhir buruk akan terjadi, tak seharusnya aku memberi kesempatan untuk membentuk ikatan dengan orang lain.
Aku menenggelamkan kepalaku ke dalam bak mandi yang penuh berisi air itu. Seperti sedang membersihkan dosa-dosa dan kebodohan yang melekat pada tubuh dan pikiranku.
Lagi-lagi kau membuat kesalahan, Gris!
Aku berendam di bak mandi sampai kulit di jari-jariku mengkerut kedinginan. Setelahnya, aku memakai handuk dan membuka tirai yang menutupi jendela lebar-lebar.
Matahari tampaknya baru mau terbit. Meski tidak terhubung secara langsung dengan dunia luar, setidaknya aku bisa melihat cahaya matahari mulai menembus lewat atap transparan, menyinari pohon besar itu.
Alangkah indahnya kalau aku bisa melihat pemandangan ajaib seperti ini bersama nenek dan ibu. Aku lalu menggenggam liontin yang tergantung di leherku. Iya, aku memang memutuskan untuk memakainya agar aku tak lupa akan tujuanku, tak merasa sendirian pula.
Aku jadi menerka-nerka, apa rasanya jadi pohon besar yang ada di tengah itu. Ia kokoh, berdiri sendiri dengan akarnya yang mencengkram kuat ke tanah. Tak ada lagi pohon yang sepertinya. Ia hidup, tak bergantung pada siapapun, tak bergantung pada apapun.
Bukan cuma kuat untuk dirinya sendiri, ia juga jadi pelindung untuk tanaman-tanaman kecil di sekitarnya. Jadi pelindung ketika panas terlalu terik, sukarela jadi tempat bernaung.
Meski pohon besar itu tak bisa bicara, aku yakin ia punya perasaan. Karena bagaimanapun pohon itu adalah makhluk hidup. Sama seperti aku dan manusia lainnya. Tidak bisa bicara bukan berarti tidak berarti apa-apa. Bahkan mungkin sesuatu yang diam punya nilai yang jauh lebih berharga dibandingkan manusia yang terus berbicara.
Bukti nyatanya adalah pohon meskipun diam tapi sebenarnya sumber kehidupan bagi dunia ini. Kepunahan banyak spesies awalnya dimulai dengan kepunahan banyak spesies pohon. Lama-kelamaan hewan-hewan juga punah, hanya beberapa saja yang masih bisa diselamatkan dan disimpan sebagai kekayaan internasional yang cuma bisa diakses dan dikembangkan oleh pemerintah.
Sebegitu vitalnya lah peranan pohon bagi kehidupan. Sedangkan manusia, meski katanya jadi makhluk paling sempurna, nyatanya hanya bisa membuat kerusakan dimana-mana. Menciptakan perang, pencemaran lingkungan, bahkan membunuh satu sama lain. Memancing kemarahan alam semesta dan mewariskan hukuman pada generasi berikutnya.
Keserakahan lah yang jadi dasar nasib buruk manusia ini. Makanya aku tidak mau jadi serakah. Aku sadar bahwa ketika kita mendapatkan sesuatu, maka harus merelakan sesuatu juga. Kalau aku ingin mendapatkan kembali nenek dan ibuku, aku tau banyak yang harus kurelakan. Setidaknya aku harus rela untuk tidak berteman dan membuat ikatan-ikatan yang tidak perlu.
Lagi pula tak ada yang baru buatku. Selama aku hidup, aku tak pernah punya teman sebelumnya. Terlahir sebagai kelas B membuatku terpisah dari orang-orang lainnya. Tidak ada kelas A yang mau jadi temanku, kelas C juga sama.
Untuk sementara, mungkin aku terlena. Merasa bahwa tak ada kesenjangan sosial yang aku terima di sini. Semua orang baik padaku hingga aku lupa bahwa kami mungkin berasal dari kelas berbeda. Mungkin saja mereka pada akhirnya akan menjauhiku ketika tau aku berasal dari kelas B.
Terutama Harvey, seorang bintang papan atas. Mengenalnya saja aku tidak layak. Apalagi berusaha menjadi temannya. Aku tidak boleh bertindak seserakah itu. Keserakahan hanya akan menghancurkan diriku sendiri.
Alarm terkutuk itu berbunyi lagi. Bahkan lebih awal dari hari-hari sebelumnya. Aku yang tidak tidur sama sekali tidak merasa sekesal hari-hari sebelumnya. Mungkin karena aku tidak perlu susah payah bangun. Lagi pula mataku sama sekali tidak mengantuk. Berendam di dalam air membuatku segar. Kadar kesadaranku penuh.
Aku bergegas memakai baju dan sepatuku lalu jadi orang yang pertama keluar dari kamar. Setelahnya, Ruby dan Romy ikut keluar dalam waktu yang hampir bersamaan. Disusul oleh Arthur. Seperti biasa, rambut dan penampilan mereka berantakan.
"Tunggu, Gris. Kenapa kau sudah rapi sepagi ini? Curang!" ujar Ruby.
Aku tertawa. "Aku tak bisa tidur semalaman. Mungkin karena terlalu banyak tidur sebelumnya."
Ruby mengikat rambut panjangnya jadi satu sambil mengumpulkan keping-keping kesadaran. Setelahnya, ia berkata. "Ayo! Sekarang waktunya kita berlatuh!"
"Berlatih?"
"Iya, berlatih. Kita dikumpulkan di tempat ini bukannya mau bermain, kan?" sahut Romy.
"Tapi Harvey belum bangun," ucapku lalu menunjuk kamarnya yang tertutup rapat.
"Ah, merepotkan sekali! Bagaimana bisa dia tidur dengan suara terompet yang sebesar itu? Apa dia tuli?" Ruby tampak kesal.
"Ruby, kenapa kau kesal sekali dengan Harvey sih?" tanya Romy. Ia sendiri juga tidak memahami saudari kembarnya itu.
"Siapa juga yang kesal?" Ruby mengelak, "Pokoknya ayo kita berangkat sekarang! Tak akan ada gunanya menunggu orang seperti dia!"
Ruby memimpin jalan. Kami hanya mengikuti. Karakternya yang berani, cepat tanggap, dan auranya yang kharismatik membuat Ruby secara tidak resmi berperan sebagai ketua di antara kami. Tanpa sadar, kami mengikuti keputusannya secara alami. Bisa dibilang, ia memang terlahir sebagai seorang pemimpin.
Kami berhenti di sebuah lapangan besar. Lebih mirip stadion olahraga namun skalanya lebih kecil. Ada track untuk berlari, juga ada beberapa ruang-ruang kecil yang dilapisi kaca, entah buat apa.
Atapnya dibuat transparan sehingga cahaya matahari bisa masuk.
Profesor Song sudah menunggu di sana dengan kacamata hitamnya. Padahal matahari saja belum terbit sempurna, jadi kenapa sudah pakai kacamata hitam?
Kami berbaris jadi satu barisan horizontal, tepat di depan Profesor Song. Ruby di bagian paling kiri, sementara Arthur ada di bagian paling kanan. Aku dan Romy berada di tengah.
Profesor Song melorotkan kacamatanya sampai ke hidung lalu mengamati kami satu per satu. Ia tampak tak senang. Wajahnya berubah marah.
"Kenapa cuma berempat? Kemana Harvey?" tanyanya.
"Lapor, Prof! Harvey belum bangun," jawab Romy.
"Baik, kalau begitu, sekarang kalian semua lari! Putari lapangan ini! Jangan berhenti sampai Harvey sampai kemari! Paham?"
"Tapi, Prof--" Ruby berusaha menyela.
"Paham?" Profesor Song berteriak marah, memotong perkataan Ruby sebelum berhasil dikatakan.
Akhirnya kami berlari, memutari lapangan yang luasnya bukan main itu. Mengikuti track yang memang khusus dipakai buat berlari.
Aku cukup kesal sebenarnya. Disuruh lari-lari sepagi ini tanpa berhenti adalah tindakan yang kurang manusiawi. Akan tetapi orang yang tampak paling kesal atas insiden ini adalah Ruby.
Mata Ruby memancarkan kebencian. Rahangnya juga mengeras seolah diciptakan untuk bisa merobek siapa saja yang macam-macam dengannya. Karena marah, ia berlari sangat kencang. Mendahului kami yang tertinggal di belakang.
Satu putaran saja rasanya sudah cukup untuk membunuhku. Napasku sudah terengah-engah, hampir saja terjatuh ke lantai karena kakiku ikut melemas. Namun Romy berusaha menyadarkan dan menguatkanku.
"Jangan jatuh!" serunya, "Kalau kau jatuh, Profesor Song akan makin marah."
Aku menguatkan diriku. Tak ingin menambah-nambah masalah lagi bagi yang lain.
Harvey baru sampai ke tempat latihan setelah kami menyelesaikan putaran kedelapan. Rasanya aku ingin muntah. Bahkan aku sudah bisa merasakan darah di tenggorokanku.
Aku terduduk lemas di jalur lari. Meski rasanya sudah mau mati, nyatanya aku tak berhak marah pada Harvey. Karena pada dasarnya ini juga kesalahan kami. Kami bahkan tidak berusaha membangunkannya. Tidak mencoba walaupun sekali.
"Telingamu tuli?" pekik Profesor Song.
Harvey tertunduk takut. Mentalnya pasti terguncang karena dibentak sedemikian kasar.
"Apa kau tak dengar alarm berbunyi puluhan kali?" Profesor Song tampak amat marah. Wajahnya memerah dan urat-urat di bagian lehernya tampak jelas.
Meskipun Harvey bersalah karena tidak bangun tepat waktu, aku merasa kasihan kepadanya. Setelah melewati hari yang berat, ia harus melewati hari berat lainnya.
Posisi kami sama. Sama-sama berjuang untuk beradaptasi di tempat asing nan liar ini. Makanya sedikit banyak aku bisa merasakan penderitaannya. Hanya saja aku memutuskan untuk tak mencoba ikut campur kali ini. Aku tak mau terlibat lebih jauh lagi dan malah menyusahkan diri sendiri.
"Berapa kali kalian berlari?" tanya Profesor Song.
"Delapan kali, Prof," jawab Romy.
"Sekarang kau! Lari kelilingi lapangan ini delapan kali! Jangan berhenti atau aku akan menambahkan hukuman untukmu!" ujar Profesor Song pada Harvey.
Segera, Harvey berlari mengelilingi lapangan sementara kami duduk di pinggir lapangan dan melihatnya berjuang sendirian. Melihat orang lain berlari sekuat tenaga sambil terengah-engah begini membuatku ikut sesak napas. Rasanya seperti aku sendiri yang berlari di posisi Harvey.
Tampaknya rangkaian drama yang terjadi pagi ini belum berakhir begitu saja. Ruby yang memang agak keras kepala itu pergi menentang keputusan Profesor Song yang menghukum kami karena meninggalkan Harvey.
"Kenapa kami harus ikut menderita hanya karena kesalahan satu orang? Itu salahnya karena tidak bisa bangun! Kenapa kau harus menghukum kami?" tanya Ruby.
Namun Profesor Song bertingkah seperti tidak mendengarkannya. Ia tak peduli.
"Jawab aku, Profesor Song!" Ruby tak menyerah. Menunjukkan bahwa tekadnya yang amat kuat bisa menembus apa saja. Bahkan dinding tebal sekalipun mungkin akan runtuh karena tekadnya yang sekuat baja.
"Tunggu Harvey selesai!" balas Profesor Song, tak kalah kuat.
Ruby menghentakkan kakinya marah. Lalu memilih duduk bersama kami. Mulutnya komat-kamit mengucap sumpah serapah. Sebegitu kesalnya dengan Profesor Song.
"s****n! b*****h tua bangka!" ujarnya marah.
"Ruby, jangan begitu!" tegur Romy.
Ruby akhirnya diam. Matanya yang seperti mata kucing itu menyala-nyala memancarkan dendam yang amat dalam.
Harvey akhirnya berhasil menyelesaikan putaran terakhirnya. Ia langsung tergeletak lemah di lantai. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat.
"Berkumpul!" Profesor Song memberikan perintah.
Kami membentuk barisan horizontal lagi. Harvey yang masih terengah-engah ikut berdiri di sampingku. Ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak terjatuh ke tanah karena kakinya yang bergetar.
"Ruby menanyakan mengapa aku menghukum kalian semua hanya karena Harvey tidak hadir tepat waktu. Ada yang bisa menjawab?"
Senyap. Aku tak tau alasannya. Para anggota Herakles yang lain juga ikut diam. Mungkin bingung.
"Kalau tidak ada yang menjawab, kalian akan di sini semalaman!" ancam Profesor Song.
Setelah Profesor Song bertanya demikian, Arthur mengangkat tangannya.
"Silakan jawab!"
"Karena kerja sama kami buruk. Berdasarkan ceritanya, Herakles punya tugas khusus selain itu hanya tersisa 5 Herakles saat ini, yang membuktikan bahwa pihak lawan adalah sesuatu yang amat kuat. Lima adalah angka yang sedikit, tanpa kerja sama berarti nol," papar Arthur.
"Benar. Kerja sama. Sebelum kalian melakukan tugas dan lain sebagainya, kalian harus belajar kerja sama! Anggap teman yang berdiri di samping kalian sebagai diri kalian sendiri! Jangan egois! Jangan mementingkan diri sendiri! Mengerti?"