Pertumpahan Darah

1935 Words
Untuk menghibur Ruby yang masih gondok, Romy mengajaknya ke area perkebunan. Aku sebagai anak baru yang ingin tau segalanya tentang tempat ini memutuskan untuk ikut. Letak perkebunan tak cukup jauh dari peternakan sapi. Perkebunan terbagi jadi enam area yang ditanami varietas tanaman yang berbeda. Dua area ditanami tanaman dengan tubuh pendek seperti stroberi, melon, wortel, dan kentang. Dua area lagi ditanami tanaman-tanaman kokoh yang memakan banyak tempat seperti apel, buah persik, lemon, dan jeruk. Dua area terakhir ditanami tumbuhan yang hidup merambat seperti anggur, semangka, dan markisa. Kami duduk di bawah pohon apel. Teduh sekali. Angin semilir berhembus membelai rambut dan kulitku. Gemerisik dedaunan yang saling bergesekan menggelitik telingaku. Rasanya menenangkan. Sejenak aku lupa mengenai masalah yang menimpa kehidupanku. Romy terbaring bebas di tanah, sementara Ruby memanjat pohon dan duduk di dahannya yang kuat. Ia tampak masih marah, tapi sudah lebih mending dari pada sebelumnya. "Pernah dengar tentang surga?" tanya Romy. "Pernah, tapi aku bukan orang yang begitu religius. Aku cenderung tidak percaya Tuhan malah," jawabku. "Apa menurutmu surga akan terlihat seperti ini?" ucap Romy. "Mungkin. Memangnya kenapa?" "Aku berharap, ketika aku mati, aku akan berakhir di tempat seperti ini," sahut Romy. "Kau ... kenapa tidak percaya Tuhan?" "Karena kalau Tuhan itu ada, Dia seharusnya tidak membiarkan manusia hidup menderita dan sengsara begini," kataku. "Aku dulu juga berpikir begitu. Tapi sekarang aku berpikir bahwa mungkin semua kesengsaraan yang harus kita alami adalah bagian dari ujian semata. Sama seperti pelangi yang terbit setelah badai, aku yakin akan ada bahagia setelah semua kesengsaraan," papar Romy. "Mungkin saja. Alangkah indahnya kalau memang demikian," kataku singkat. Aku memejamkan mata. Merasakan setiap elemen yang ada di sekitarku dengan semua panca indera yang aku punya. Romy laku berdiri, rambutnya yang panjang sebahu bergoyang-goyang kena angin. Dengan tubuhnya yang tinggi itu, ia memetik buah apel berwarna merah yang bergelantungan paling rendah. "Mau?" Romy menawarkan. "Tentu," sahutku. Romy melemparkan apel kepadaku. Aku menerimanya. "Terima kasih," tuturku. Romy memetik satu apel lagi untuk dirinya sendiri. Ia lalu duduk kembali di sampingku sembari makan apel yang baru saja dipetiknya. Sementara aku hanya menatap apel itu, belum berniat memakannya. Apel punya tempat khusus dalam hatiku. Meskipun cuma buah, apel adalah makanan pertama yang aku makan selain olahan alga. Aku masih ingat benar bagaimana aku beserta nenek dan ibu makan apel bersama-sama. Satu buah apel berhasil membawaku kembali ke masa lalu. "Kenapa tidak dimakan? Tidak suka?" tanya Romy. "Bukan, aku hanya sedang mengingat masa lalu," ucapku. "Indah atau buruk?" tanya Romy lagi. "Sesuatu di antaranya," balasku lalu tertawa. Romy ikut tertawa. "Baik, aku tidak akan bertanya. Aku sendiri juga sering mengingat masa laluku, tapi tidak pernah menceritakannya pada orang lain. Hanya Ruby yang tau semuanya." Masa lalu memang hal yang sulit dibicarakan. Apalagi untuk kami yang baru saja saling kenal. Masih sama-sama saling berhati-hati dan menjaga jarak meski mencoba dekat. Menceritakan masa lalu seringkali berarti membuka luka lama. Untukku pribadi, menceritakan masa lalu membuatku rindu. Rindu pada nenek dan ibu. Sebagian besar masa laluku terdiri dari mereka. Sebagian besar memoriku diisi oleh sosok mereka, karena aku besar dan tumbuh bersama mereka. Nenek dan ibu ada hampir di setiap potongan kenangan yang aku punya. Mulai dari hari pertama masuk sekolah sampai ulang tahunku setiap tahunnya. Semua aku lalui bersama nenek dan ibuku. Maka dari itu, menceritakan masa laluku hanya akan menambah ruang rindu dan menjadikannya tidak terkendali. Hap! Ruby melompat dan turun dari pohon dengan posisi sempurna. Seolah itu hal mudah dan biasa buatnya. Suasana hatinya tampak sudah membaik meski tidak sepenuhnya. Tampak dari ekspresi wajahnya yang tidak sekaku tadi. "Ayo kembali ke kamar!" ajaknya, "Besok akan ada latihan lagi. Lebih baik memanfaatkan waktu untuk beristirahat." Benar, dibanding duduk di sini dan mengulik-ulik masa lalu, akan lebih baik kalau aku beristirahat. Menyambut hari baru yang mungkin saja memberi titik terang tentang keberadaan nenek dan ibu. *** Badanku sakit semua setelah dipakai berlari-lari mengelilingi lapangan tadi. Karenanya, aku bahkan tak nafsu untuk turun dan makan malam di bawah. Aku memilih berbaring di kasurku saja. Tak banyak yang bisa aku lakukan, dari tadi aku cuma menatap pohon besar yang tampak dari jendela kamar itu. Sengaja, tirai kamarku memang kubuka. Sesekali aku memikirkan tentang jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang berenang di kepalaku. Semakin lama berada di tempat ini, semakin banyak pula pertanyaanku. Aku ingin tau siapa itu Elise dan kenapa kami bekerja untuknya. Aku juga ingin tau apa tugas kami sebagai Herakles sesungguhnya. Aku ingin tau apa yang sebenarnya sedang kami lawan. Aku ingin tau kenapa tempat ini begitu indah sedangkan di luar sana orang-orang dibiarkan kelaparan. Dan yang paling ingin aku tau adalah bagaimana keadaan ibu dan nenekku sekarang. Hanya saja tak ada yang bisa menjawab pertanyaanku. Mungkin Profesor Song bisa menjawabnya, mungkin juga tidak. Kalau boleh jujur, tinggal di sini sedikit membuatku terbuai. Semua orang baik padaku, kecuali Profesor Song. Aku merasa punya teman meski seharusnya tidak boleh merasa begitu. Mereka membuatku merasa seperti manusia. Aku jadi teringat bagaimana Stacey dan teman-temannya selalu menargetkan aku jadi bahan perundungan. Mereka menguras semua uang yang aku punya dan bertindak seenaknya. Pernah suatu waktu aku lupa memberinya uang seperti biasa. Alhasil aku ditonjok sampai hidungku memar dan berdarah. Begitu sampai di rumah, ibu dan nenekku kaget setengah mati. Hanya saja aku menutup-nutupi apa yang terjadi. Aku bilang bahwa memar di hidungku timbul karena kecerobohanku sendiri. Aku berbohong bahwa aku kehilangan keseimbangan dan menabrak tiang. Tentu saja nenek dan ibu tak semudah itu percaya, tapi aku meyakinkan mereka berkali-kali. Iya, aku memang takut. Karena nyatanya hukum selalu tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Membuat masalah lebih jauh lagi dengan Stacey dan teman-temannya yang terlahir di kelas A itu hanya akan membuat keluargaku dilanda kesulitan. Orang tua dari Stacey dan teman-temannya adalah orang-orang yang berpengaruh besar di domainku. Ada yang berprofesi sebagai pejabat, pengusaha, bahkan penegak hukum. Mereka punya pekerjaan nyata. Sedangkan ibuku hanyalah seorang buruh yang harus bekerja keras sampai tangannya kasar hanya demi makanan. Hidup kami yang mungkin tak ada nilainya di hadapan orang lain hanya akan makin menderita kalau coba-coba melawan mereka. Maka aku memilih diam. Hidup dalam kesunyian selama bertahun-tahun. Tanpa teman, tanpa rekan. Diperlakukan dengan amat baik begini oleh orang asing membuat pintu hatiku terketuk. Padahal bisa saja kebaikan itu direnggut tiba-tiba. Diam-diam aku berharap, berharap bahwa kebaikan mereka akan bertahan selamanya. Tidak hanya sementara saja. Bisakah? *** Profesor Song memerintahkan kami untuk makan terlebih dahulu sebelum memulai latihan. Akhirnya kami berkumpul di meja makan, duduk melingkar. Aku duduk di sebelah kanan Ruby, berhadapan dengan Arthur. Romy ada di sebelah kiri Ruby. Sementara Harvey berada tepat di depan Ruby. Ada percik-percik kebencian yang tampak jelas di mata Ruby ketika ia melihat Harvey. Entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi Ruby memang tampak tidak suka dengan Harvey sejak pertama kali laki-laki itu masuk ke markas ini. Firasatku tidak enak. Aku merasa bahwa Ruby dan Harvey tidak boleh dibiarkan duduk berhadapan begitu. Aku merasa perang dunia keempat bisa saja terjadi kalau mereka dibiarkan berinteraksi. Namun aku berharap itu hanya firasat bodohku saja. Sayangnya, firasat bodohku itu benar-benar terjadi. Ruby dan Harvey sama-sama menginginkan sepotong keju yang ada di atas piring. Keju itu tinggal satu-satunya. "Maaf, tapi aku lebih dulu," kata Harvey. Ruby menatap Harvey dengan nyalang. Rasa-rasanya akan terjadi pertumpahan darah sekarang juga. "Lepaskan!" ujar Ruby. Harvey mengerutkan dahinya. Ia tampak tak suka dibentak pagi-pagi begini hanya karena masalah keju. "Ruby! Kendalikan emosimu!" ujar Romy, mengingatkan saudari kembarnya itu. "Lepaskan!" pekik Ruby sekali lagi, memerintahkan Harvey untuk melepaskan keju yang ia pegang. "Kenapa kau harus seagresif ini hanya masalah keju? Lagi pula aku dulu yang mengambilnya!" Harvey tak mau kalah. Bau-bau peperangan semakin mendekat. Ruby bangkit kemudian membalik meja makan dengan kedua tangannya. Brak! Semua makanan terjatuh berserakan di lantai, piring-piring terpecah belah. Ruang makan berubah jadi medan perang seketika. Romy menahan Ruby agar perempuan itu tidak makin menjadi-jadi. Sementara Harvey tampak kebingungan kenapa kejadian seperti ini harus terjadi. "s**l! Tidak bisakah kalian makan dengan tenang?" Profesor Song datang dengan air muka yang murka. "Dia merebut keju yang akan kumakan, Prof!" Ruby buka suara. "Tidak, Prof! Aku mengambilnya lebih dulu!" Harvey membantah. Detik itu juga wajah Profesor Song memerah. Sebuah pertanda yang tidak baik, aku tau bahwa kami tak akan selamat hari ini. *** Bukannya latihan, kami lagi-lagi harus menjalani hukuman hanya karena sepotong keju yang direbutkan oleh Ruby dan Harvey. Hukumannya adalah membuat keju bersama-sama. "Selamat datang di Peternakan Herakles." Seorang perempuan muda menyambut kami. Rambutnya pirang dan diikat jadi satu ke belakang. Ia memakai jumpsuit hitam, tak jauh berbeda dengan apa yang kami pakai. "Perkenalkan, aku Dokter Gabby, senang bertemu dengan kalian." Ia memperkenalkan diri. "Hari ini kalian akan membuat keju. Mulai dari proses pemerahan s**u sapi sampai ke proses pencetakan. Kalian akan melakukannya bersama-sama sebagai sebuah tim. Untuk itu, kalian akan dibagi jadi dua tim. Satu tim berisi dua orang, satunya lagi berisi tiga orang. Tim yang berisi dua orang akan memerah s**u sapi di sini. Sisanya akan mengolah s**u sapi yang sudah didapatkan di bagian produksi," paparnya. "Mmh ... kalau begitu kalian berdua silakan memerah s**u sapi." Dokter Gabby menunjuk aku dan Arthur. Aku mengangguk menerima keputusannya. Tampaknya aku memang tak bisa jauh-jauh dari kandang sapi. Takdirku terus-menerus terikat di sini. Hanya saja kombinasinya sedikit membuatku khawatir. Ruby dan Harvey ada di satu tim. Mereka mungkin akan berkelahi lagi nanti kalau ada kesempatan. "Kau tau cara memerah sapi?" tanyaku pada Arthur. "Tidak." Untungnya Dokter Gabby tidak lepas kendali begitu saja. Ia mengajarkan cara memerah s**u sapi kepada kami. Tentu saja pengalaman baru ini terasa aneh bagiku. Memegang area privat dari sapi membuatku merasa berdosa dan bersalah kepada sapi-sapi ini. Entah apa yang mereka rasakan sebenarnya. Mereka mungkin mengutuk kami yang memanfaatkannya. "Apa menurutmu mereka marah?" tanyaku. "Siapa?" Arthur bertanya tanpa melihat ke arahku. Ia tak berhenti memerah s**u sapi. "Sapi-sapi ini. Mereka dimanfaatkan, padahal kita tidak pernah bertanya apakah mereka mau dimanfaatkan," kataku. "Teorimu aneh," sanggah Arthur. "Aneh apanya?" "Mana ada sapi yang bisa berpikir dan menentukan apakah mereka mau dimanfaatkan?" Aku tertawa. Sanggahan Arthur sangat masuk akal tapi aku tak sepenuhnya sependapat. Sapi-sapi itu mungkin tidak bisa berpikir sempurna seperti manusia, namun sapi adalah makhluk hidup yang aku percayai juga punya rasa. Sapi mungkin merasa marah tapi tidak bisa mengungkapkannya. Sapi mungkjn kesal tapi tidak tau caranya bicara. Sapi punya perasaan seperti manusia. "Oh, iya, hari itu ... kau membobol pintu masuk dengan gadget-mu," ucapku mengingat kembali malam dimana kami membantu Harvey. "Kau tampaknya sangat berpengalaman. Apa kau memang tertarik dengan bidang teknologi begitu?" Arthur mengangguk singkat. Padahal ia bisa saja mengucapkan iya atau apalah. Tapi nyatanya yang ia pilih hanya mengangguk. Suaranya mahal. "Keren!" pujiku. Lalu kami tak berbicara lagi. Tugasku dan Arthur akhirnya berakhir tepat tengah hari. Kami berhasil mengumpulkan dua ember penuh s**u sapi. Setelahnya kami mengantarkan s**u segar itu ke tempat produksi keju yang letaknya tidak begitu jauh, tepat di sebelah kanan peternakan. Begitu s**u segarnya sampai, Dokter Gabby mulai menjelaskan mengenai prosedur pembuatan keju. Mereka bertiga--Ruby, Romy, dan Harvey--akhirnya mulai membuat keju atas pengawasan Dokter Gabby. Aku dan Arthur diperbolehkan untuk kembali ke kamar masing-masing dan beristirahat sebentar. Katanya kami akan dipanggil kalau proses pembuatan keju sudah selesai. Tapi aku memutuskan untuk tidak kembali ke kamar. Aku malah berbelok ke perkebunan dan mendudukkan diri di bawah pohon apel seperti kemarin. Secara mengejutkan, Arthur ikut duduk bersamaku. "Tunggu ... apa kau mengikuti aku?" tanyaku curiga. "Apa untungnya?" sahutnya dingin. Aku mendengus. Meski sudah sering diperlakukan begitu, nyatanya aku selalu kesal tiap kali Arthur bicara dengan nada dingin nan datarnya itu. "Hei, apa kau percaya akhir bahagia?" tanyaku. Arthur terdiam. Tak bersuara, tidak juga memberi gestur seperti biasa. Tampaknya ia juga tidak tau. Tampaknya ia sama sepertiku, masih mencari-cari apakah akhir bahagia itu ada.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD