Meski Profesor Song menyuruh kami beristirahat lebih dulu, nyatanya aku tak bisa tidur. Laki-laki paruh baya bernama Elise itu mencuri perhatianku. Kerut-kerut halus di wajahnya tidak menyamarkan fakta bahwa wajahnya sama dengan laki-laki yang ada di liontin peninggalan ibu. Laki-laki itu membuatku menerka-nerka tentang siapa identitasnya yang sebenarnya. Aku jadi bertanya-tanya apakah ia punya kaitan dengan aku dan ibu. Pikiranku terus berputar di topik yang sama. Bahkan sampai matahari terbit dan jam latihan tiba, aku tak bisa berhenti memikirkannya. Profesor Song janji akan mengenalkan Elise secara menyeluruh setelah kami selesai latihan pagi ini. Laki-laki bernama Elise itu mengamati dari kejauhan ketika kami sedang berlari mengelilingi lapangan. Ia dan Profesor Song berbincang-bi

