Memori

1554 Words

Lagi-lagi aku terbangun di klinik. Kepalaku pusing dan terpasang selang infus di tanganku. Membuatku berpikir, apa mungkin aku produk gagal makanya lemah? Aroma desinfektan rasanya sudah biasa di hidungku. Aku sudah muak karena terlalu sering menciumnya. Aku pingsan setelah memegang tangan Arthur dan dapat pengelihatan aneh lagi. Aku yakin, itu adalah memori. Mungkin memori Arthur. Atau mungkin memori orang lain yang secara acak masuk begitu saja ke kepalaku. Aku tak tau harus bertanya pada siapa tentang masalah ini. Rasanya tak akan ada yang memahaminya kecuali aku sendiri. Ralat, bahkan aku sendiri tidak paham apa yang sebenarnya terjadi. "Lagi-lagi aku di sini," desahku. "Apa yang terjadi, Gris? Apa kau melihat sesuatu seperti memori lagi?" tanya Dokter Heller. "Iya. Tapi aku masi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD