The Marriage of Figaro

2015 Words
Aku terbangun begitu suara bel sekolah berbunyi. Tanda kelas dimulai. Posisi matahari sudah cukup tinggi. Celaka, aku harusnya bangun lebih awal untuk melarikan diri. Untungnya ruangan ini adalah ruangan lama yang nyaris tak dipakai lagi. Alat-alat kebersihan yang ada di ruangan ini juga merupakan alat-alat lama yang hanya dipakai sebagai alternatif kalau alat utama rusak. Aku mengintip lewat jendela, memastikan tidak ada orang di area sekitar. Selanjutnya, aku mengambil tas dan melarikan diri dari ruangan itu secepat kilat. Aku melewati titik buta yang tak dijangkau kamera perekam dan memanjat pagar tinggi yang terbuat dari jaring-jaring besi itu. Aku melompat. Namun kali ini posturku tepat sehingga tak ada lagi tulang yang patah. Tepat ketika aku berhasil melarikan diri dari sekolah, salju turun seperti berkah. Aku berhenti sejenak, menengadahkan tangan untuk merasakan dinginnya salju. Aku kemudian menuju pusat kota, tempat paling berbahaya saat ini. Iya, karena Penjaga Perdamaian Dunia berpatroli di sana. Akan tetapi, aku melihat sisi lain dari keadaan ini. Pusat kota yang ramai mungkin bisa menguntungkanku. Keramaian bisa membuat keberadaan ku samar. Orang-orang di pusat kota sibuk bersembunyi di balik atap-atap bangunan hanya untuk menghindari salju. Mungkin karena salju turun terlalu banyak setiap tahunnya, makanya orang jadi benci begini. Belum lagi efek licin nan dingin yang ditimbulkan salju. Namun nenek pernah bilang kalau salju itu anugerah. Katanya salju menjaga keseimbangan dunia. Kalau tidak ada salju, bumi akan terlalu panas untuk dihuni. Dan untuk kasusku kali ini, salju menghilangkan jejakku. Jumpsuit putihku menyatu berkamuflase di antara salju. Aku jadi teringat salah satu lagu yang selalu nenek putar ketika salju turun. Lagu klasik dari ratusan tahun yang lalu. Judulnya The Marriage of Figaro, ciptaan Wolfgang Amadeus Mozart, seorang genius musik yang lahir pada tahun 1756. Nenek sendiri tak paham soal musik klasik. Hanya saja menurutnya tempo The Marriage of Figaro terasa bersemangat dan menyenangkan. Menurutnya pula, seharusnya begitu pula perasaan manusia ketika salju turun. Harus merasa semangat dan senang. Karena pada dasarnya salju adalah anugerah dari pencipta alam semesta. Fenomena alam yang menunjukkan bahwa bumi masih berfungsi dengan semestinya. Aku memutuskan untuk ikut berteduh di atap salah satu toko. Sengaja, berusaha membaur dengan lainnya agar tidak terlalu mencolok. Ingatanku tentang nenek menguat ketika aku melihat Videotron yang menunjukkan iklan penjualan tiket untuk Opera The Marriage of Figaro yang baru-baru ini digarap ulang. Nenek memang pernah bilang padaku bahwa The Marriage of Figaro adalah opera. Namun Opera ini dilarang karena ceritanya yang terlalu eksplisit dan seduktif, tidak sesuai dengan nilai-nilai masyarakat kala itu. Sekarang dunia sudah jadi tempat yang berbeda. Apa yang dulu tidak pantas sekarang jadi biasa saja. Begitu pula The Marriage of Figaro yang jadi salah satu Opera terpopuler saat ini. Salah satu hal yang membuat The Marriage of Figaro populer adalah pemain-pemain yang berperan di dalamnya. Tokoh utama laki-lakinya diperankan oleh Harvey Jarvis, idola dan penyanyi masa kini yang pesonanya menyentuh seluruh usia. Bahkan nenek saja suka pada Harvey Jarvis. Selain suaranya merdu, ia juga terkenal karena sifatnya yang ramah dan periang. Ia membawa kebahagiaan untuk siapa saja yang melihatnya sampai-sampai dijuluki sebagai Joy of The World. Memang sebesar itu kesuksesan Harvey Jarvis. Rasa-rasanya tidak ada satupun orang di dunia ini yang tidak mengenalnya. Aku tak mengidolakannya. Aku iri padanya. Usia kami sama namun punya nasib yang begitu berbeda. Ia terlahir di keluarga kaya raya yang begitu berpengaruh. Orang tuanya adalah salah satu anggota Dewan Dunia yang posisinya berada langsung di bawah Presiden Dew. Karena pengaruh keluarganya yang kuat, Harvey Jarvis juga dengan mudah meraih mimpinya jadi penyanyi. Tapi bukan cuma kaya, keluarga Harvey Jarvis adalah salah satu contoh keluarga teladan yang sering tampil di televisi. Mereka menunjukkan bagaimana keluarga harmonis yang sesungguhnya. Harvey Jarvis juga dibekali fitur fisik yang luar biasa. Ia punya wajah tampan dengan proporsi tubuh yang luar biasa. Benar-benar seperti gambaran pangeran yang cuma ada dalam dongeng. Semua hal yang ia miliki mendukungnya berada dalam posisi saat ini. Posisi puncak. Posisi yang bahkan tak pernah kuimpikan sama sekali. Senyumnya di layar videotron membuatku bertanya-tanya, apakah ia pernah merasakan kesulitan serupa seperti yang kurasakan saat ini? Rasanya tidak mungkin. Tanpa sadar salju sudah berhenti. Orang-orang mulai keluar dari persembunyian masing-masing, aku mengikuti. Nyatanya berusaha membaur adalah hal yang sulit untuk dilakukan. Tasku yang besarnya tidak main-main tampaknya sangat mencolok. Membuatku takut ketahuan. Tapi di saat-saat begini tak banyak yang bisa kulakukan selain berusaha percaya diri dan berani, karena hanya ada diriku sendiri yang bisa diandalkan. Aku menghindari tiap sudut yang dijaga oleh Penjaga Perdamaian Dunia. Sebagai gantinya, aku melewati g**g-g**g kecil yang tak ramai dikunjungi orang lain. Para pasukan Penjaga Perdamaian Dunia itu membawa alat pemindai berbentuk pistol yang didekatkan pada orang-orang lewat. Persis seperti alat yang kulihat hari itu bersama ibu. Alat yang berbunyi pada orang-orang tertentu. Entah alat apa sebenarnya, namun yang kutahu, itu adalah sesuatu yang harus kuhindari. Tujuanku adalah pelabuhan kapal. Untuk menuju Domain Pasifik 1 maka aku harus menyeberangi lautan. Ada dua alat transportasi yang bisa membantuku menuju Domain Pasifik 1, pesawat dan kapal. Pilihan pesawat otomatis hilang dari daftarku. Pasalnya, harga tiket pesawat amat mahal. Pengawasannya juga jauh lebih ketat. Maka pilihan satu-satunya yang aku punya adalah kapal. Namun berbeda dari puluhan tahun yang lalu, saat ini tak ada kapal yang mengangkut manusia. Kapal hanya difungsikan untuk mengangkut barang-barang. Benda mati yang tidak bernyawa dengan nahkoda robot. Hal ini terjadi karena tingkat keasaman air laut dan ombak yang ganas. Meski sudah didesain dengan teknologi tahan asam, nyatanya menurut penelitian, tetap berbahaya bagi manusia untuk bertransportasi menggunakan kapal. Salah satu efek yang k****a adalah timbulnya kanker akibat mutasi genetik, juga keguguran instan pada ibu hamil. Meski tau bahayanya, aku tetap harus naik kapal. Aku tak punya pilihan. Lagi pula tubuhku juga sudah berubah jadi aneh. Tubuhku jauh berbeda dari orang normal. Mungkin saja efek bahaya seperti ini tidak mempan untukku. Siapa tau? Rencananya, aku akan menyelinap masuk ke dalam salah satu kapal pengangkut AlgaCan. Domain kami memang domain penghasil AlgaCan. Sekolahku bahkan mengadakan studi tahunan ke lokasi produksi AlgaCan. Dari studi itu pula aku tau bahwa AlgaCan didistribusikan ke seluruh dunia menggunakan kapal. Dikirim melalui pelabuhan utama satu minggu sekali di malam Sabtu, yang berarti malam ini. Jarak pusat kota dengan pelabuhan utama adalah sekitar 2 jam menggunakan kereta. Sayangnya aku memilih untuk tidak naik kereta. Demi keamanan, akan lebih baik kalau aku tidak muncul di lokasi-lokasi yang membutuhkan identitas seperti kereta api. Aku takut orang-orang anggota Penjaga Perdamaian Dunia akan mengetahui keberadaanku. Aku harus berjalan kaki. Tak ada pilihan lain yang lebih baik dari pada ini. Mungkin akan butuh waktu lama dan tenaga yang lebih besar, tapi tak apa, semua ini kulakukan demi bisa bertemu kembali dengan nenek dan ibu. Sudah kubilang, aku akan melakukan segalanya. Mengorbankan semua yang aku punya, kalau perlu. *** Setelah berjalan kaki empat jam non-stop, akhirnya aku sampai di pelabuhan. Matahari sudah hampir tenggelam. Aku belum masuk ke dalam karena masih mencari cara bagaimana masuk tanpa terdeteksi mesin pemindai identitas. Mungkin sulit, tapi pasti ada caranya. Aku masuk ke dalam sebuah toko sepatu yang berada tepat di seberang pelabuhan. Pura-pura melihat barang akan tetapi mataku melirik pelabuhan itu beberapa kali. Kemudian aku teringat tentang studiku ke AlgaCan 3 bulan lalu. Aku ingat kalau pegawai AlgaCan punya kartu identitas khusus sebagai akses cepat untuk masuk ke lokasi-lokasi kerja AlgaCan. Karena alat pemindai identitas yang mendeteksi seluruh tubuh memakan waktu lebih lama dibandingkan kartu. Maka aku hanya perlu mencuri kartu dari salah satu pegawai untuk masuk ke dalam pelabuhan dan kapal. Satu pertanyaan mendapat solusi, muncul pertanyaan baru lagi. Bagaimana aku bisa mencuri kartu identitas tersebut? Maka aku memutuskan untuk berjalan sampai ke bagian belakang pelabuhan. Tempat barang-barang masuk. Mobil pengangkut barang biasanya akan berhenti tepat di pintu masuk bagian belakang pelabuhan untuk menjalani pemeriksaan singkat. Itulah celah yang bisa kugunakan untuk ikut masuk ke dalam pelabuhan. Jantungku berdetak kencang ketika mobil pengangkut barang datang bertubi-tubi. Aku memutuskan untuk mengamati sejenak. Dari pengamatanku, satu mobil dibawa oleh satu pekerja di bagian depan yang berperan sebagai sopir dan satu pekerja lagi di bagian belakang. Bagian depan dan bagian belakang mobil terpisah sehingga menguntungkan posisiku. Aku hanya perlu masuk ke bagian belakang, kemudian mengambil alih. Matahari makin menyusut dari singgasananya, digantikan oleh rembulan yang mengambang di atas sana. Ini adalah saat yang paling tepat, ketika cahaya tak begitu terang, tapi juga tidak gelap gulita. Begitu satu lagi mobil pengangkut barang tiba dan berhenti di depan pintu, aku bersiap-siap. Sejauh pengamatanku, pola pemeriksaannya sama. Pertama, sopir serta pekerja yang ada di bagian belakang akan menghentikan mobil dan turun dari kendaraan untuk pemeriksaan identitas. Pintu mobil di bagian belakang akan dibiarkan terbuka sambil diperiksa apakah terdapat barang-barang berbahaya yang dilarang untuk masuk bandara. Setelah dinyatakan aman, sopir dan pekerja akan kembali masuk ke tempat semula lalu meneruskan perjalanan. Aksiku harus dijalankan secepat mungkin. Tepat ketika pemeriksaan barang selesai dan sopir serta pekerjanya baru hendak naik kembali ke mobil. Waktunya harus tepat, gerakku juga harus cepat. Satu hal penting lainnya yang perlu kulakukan adalah mengidentifikasi apakah pekerja di bagian belakang adalah robot atau manusia. Sebagian besar pekerja di AlgaCan adalah robot, tapi tak memungkinkan juga yang ada di mobil itu adalah manusia. Pasalnya dua entitas ini jelas perlu penanganan berbeda. Kalau manusia, aku hanya perlu memukulnya sampai pingsan. Sementara robot biasanya punya tombol di bagian belakang lehernya yang terhubung langsung dengan chip listrik sumber energi mereka. Aku hanya perlu menekan tombolnya. Saat yang kutunggu akhirnya tiba. Begitu pemeriksaan barang usai, aku langsung bergegas naik ke bagian belakang mobil dan bersembunyi di antara tumpukan peti kemas AlgaCan yang disusun rapi. Aku bahkan menahan suara napasku, berusaha setenang mungkin tidak bersuara dan tidak terlihat. Kemudian aku merasa seseorang masuk ke dalam bagian belakang mobil dan menutup pintu rapat-rapat. Bagian belakang punggungnya tak kelihatan karena ditutupi pakaian khusus pekerja AlgaCan. Namun dari postur duduknya yang terlalu tegak memberikan kesan bahwa ia adalah robot. Selagi ia sibuk dengan pekerjaannya, aku bangkit dan menarik tudung yang menutupi kepalanya dari belakang. Robot itu tersadar akibat gerakanku yang buru-buru. Sebelum ia berteriak, segera aku memencet tombol yang terletak di bagian belakang lehernya. Robot itu mendadak mengubah posisi dari berdiri tegak jadi membungkuk. Setelahnya diam, tak bergerak sama sekali karena dayanya kuputus. "Maaf," lirihku. Aku lalu melucuti pakaiannya dengan susah payah. Dalam keadaan mati begini, tubuh robot susah digerakkan. Aku memakai pakaian yang kudapat darinya di tubuhku. Juga memakai masker penutup wajah berwarna hitam yang memang bagian dari seragamnya. Tak lupa, aku menyeret robot itu, menyembunyikannya di antara peti kemas. Aku kerasa bersalah. Robot yang tak tau apa-apa itu harus jadi korbannya karena kepentinganku sendiri. Tapi aku juga tak punya pilihan lain. Aku harap ia mengerti. Tak lupa, aku juga merebut kartu pekerja yang digantung di lehernya. Memasangnya di leherku sendiri. Kemudian aku terduduk lemas di lantai. Napasku terengah-engah karena gerak cepat yang baru saja kulakukan. Tak lama kemudian aku merasa mobil berhenti. Aku segera berdiri tegak dan membuka pintu bagian belakang. Tugas dari pekerja AlgaCan yang duduk di bagian belakang mobil adalah mengangkut peti kemas ke dalam kapal. Aku akan mengangkut semua peti ini terlebih dahulu, baru mencari kapal yang menuju ke Domain Pasifik 1 kemudian. Setidaknya ini caraku membalas budi pada robot yang telah kulucuti dan kuistirahatkan secara paksa itu. Aku menempelkan kartu identitas di mesin pemindai, pintu kapal lalu terbuka. Segera aku memindahkan peti-peti berisi AlgaCan itu secepatnya. Tugas itu akhirnya selesai dalam waktu tiga puluh menit. Setelahnya aku membawa tasku secara diam-diam beserta dengan robot yang baru saja kulucuti tadi. Aku meletakkan robot itu di dalam salah satu kapal, tersembunyi di antara peti kemas. Hanya begini caraku agar tidak segera ketahuan. Aku kemudian berkeliling dari ujung ke ujung. Mencari-cari kapal yang menuju Domain Pasifik 1. Pencarianku berhenti di kapal yang berada paling ujung. Terdapat sebuah tulisan besar di sana yang menunjukkan bahwa destinasi kapal adalah Domain Pasifik 1. Aku menyelinap ke dalam kapal, membaur bersama pegawai lainnya sambil membawa tasku. Untungnya keadaan cukup sepi. Aku memutuskan untuk bersembunyi di bagian paling bawah kapal. Tempat mesin-mesin beroperasi. Keadaannya amat panas di tempat ini, tapi aku harus bertahan, setidaknya sampai kapal berangkat dan tidak ada pekerja yang berlalu lalang lagi. "Kau pasti berhasil, Gris. Kau pasti berhasil," desahku, menghilangkan rasa takut dalam benakku. Semoga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD