Aku tertidur pulas setelah menangis berjam-jam. Terbangun pukul 8 malam dengan sakit kepala dan hidung yang tersumbat.
Meski orang bilang bahwa orang-orang yang hidup di era ini adalah orang-orang paling menyedihkan dalam sejarah umat manusia, nyatanya aku belum pernah merasa semenyedihkan hari ini. Tak berdaya dan tak tau harus melakukan apa membuatku sedih. Bahkan ketika aku dirundung oleh Stacey dan teman-temannya, rasanya tidak pernah seburuk ini.
Aku bukannya tak mau berbuat apa-apa. Hanya saja nenek pernah bilang kalau aku harus berpikir jernih dalam setiap situasi. Maka dari itu aku selalu tidur ketika emosiku sedang memuncak, agar aku tak membuat keputusan yang salah dan malah merugikanku di kemudian hari lalu menyesalinya.
Setelah kesadaranku kembali sepenuhnya, aku memutuskan untuk mengambil tas yang kutinggalkan di ruang bawah tanah tempatku bersembunyi semalam. Tak banyak yang tersisa di dalam tas itu. Hanya pakaian, setengah botol air, dan satu kaleng AlgaCan pemberian ibu.
Tak banyak yang kutau tentang ibu dan nenek. Namun aku berasumsi bahwa ibu dan nenek dibawa oleh Pasukan Penjaga Perdamaian Dunia, entah kemana dan apa alasannya. Maka dari itu aku juga berasumsi bahwa hidupku juga jauh dari kata aman. Aku harus bersembunyi.
Rasanya tidak memungkinkan kalau aku harus bersembunyi di ruang bawah tanah terus-menerus. Pasukan Perdamaian Dunia itu mungkin saja kembali, dan cepat atau lambat mereka akan menemukan ruangan rahasia itu. Terlalu berisiko untukku.
Langkah pertama yang harus kulakukan adalah pergi dari rumah ini sesegera mungkin. Mengamankan diriku sendiri, baru mencari jalan keluar untuk menemukan nenek dan ibu.
Aku mengambil semua persediaan AlgaCan yang disimpan ibu di kabin dapur serta membawa air dengan botol paling besar yang kami punya di rumah, dan memasukkannya ke dalam tas.
Tak lupa, aku mengambil uang tabungan ibu yang disimpan di bawah kasurnya. Ada sekitar 50 Earth, jumlah yang cukup banyak untuk bertahan hidup beberapa bulan. Aku juga membawa pisau yang biasanya dipakai ibu untuk membuka kaleng AlgaCan, untuk perlindungan.
Tas itu kini terasa jauh lebih berat. Aku mengangkatnya dengan kedua tanganku. Satu tangan menjinjing bagian atasnya, yang satunya lagi memegang bagian bawah. Gerakanku berhenti ketika aku merasakan sesuatu yang keras di bagian bawah tas. Aku membalik tas tersebut, menemukan sebuah kantong kecil yang letaknya cukup tersembunyi, bahkan berkesempatan besar untuk tidak kuketahui.
Kantong itu tak memiliki lubang. Lubangnya tampak dijahit menggunakan tangan sehingga tertutup rapat. Aku mengambil pisau, lalu menghancurkan jahitan itu.
Sebuah kalung terjatuh. Kalung yang terbuat dari perak itu dihiasi oleh sebuah liontin besar berbentuk oval. Model kalung dengan bingkai di bagian dalamnya yang bisa ditemui di kelas sejarah mode. Tren sekitar abad ke-19 yang sudah tak bisa ditemui lagi saat ini.
Aku membuka liontin itu sehingga terbelah menjadi dua bagian. Terdapat sebuah layar berwarna abu-abu di satu sisi liontin dengan tombol kecil di bagian atasnya. Kemudian di sisi lain terdapat sebuah foto yang menunjukkan ibu, aku ketika masih bayi, dan seorang laki-laki berkemeja putih.
Ibu dan laki-laki itu tampak tersenyum sambil merengkuh keranjang berisi aku di tengah-tengah. Tampak seperti sebuah keluarga.
"Mungkinkah ... Ayah?" gumamku.
Sejak kecil aku tak punya ayah, teman-teman satu sekolahku dulu bahkan sering mengataiku anak haram yang tidak diinginkan oleh ayahnya. Tanpa mau tau bahwa ayahku meninggal, bukannya pergi meninggalkan keluarga kami karena tidak bertanggung jawab. Namun apapun alasannya, aku tetap benci ayah.
Aku juga tak pernah melihat ayahku sebelumnya. Kata ibu, semua foto ayah rusak karena suhu dingin dan perawatan yang buruk. Kemungkinannya lima puluh persen, laki-laki di foto ini bisa jadi ayahku, bisa jadi bukan.
Aku mengalihkan perhatian kepada layar berwarna abu-abu yang dilengkapi tombol mungil di bagian atasnya. Aku menekan tombol itu, berharap layarnya menyala. Namun layar itu tak kunjung menyala, yang terjadi malah terdengar suara piano, memainkan lagu Fur Elise karangan Beethoven yang aku pelajari di kelas musik.
Lagu itu dimainkan dalam tempo adagio sehingga terasa sedih dan pilu di telinga. Seolah memahami keadaanku yang rumit. Usai bagian chorus pertama, lagu itu berhenti.
"Gris, ini ibu."
Suara ibu tiba-tiba muncul. Mataku melebar dan hatiku melunak seketika.
"Gris, ketika kau menerima pesan ini, berarti ibu sudah tidak ada di sisimu. Tapi tenanglah, ibu yakin ada masa bagi kita untuk bertemu lagi, Gris," kata Ibu.
Mataku berair. Membayangkan ibu yang jauh dariku membuat hatiku biru. Entah apa yang Pasukan Penjaga Dunia lakukan kepadanya.
"Gris, pergilah ke tempat Altair dan Vega berasal. Ibu sayang padamu."
Suara ibu menghilang begitu saja seperti tak pernah ada. Aku memencet tombol yang sebelumnya, berharap suara ibu muncul lagi dari sana. Nihil, suara ibu tak pernah kembali.
Air mataku mengalir lagi. Kesedihan di benakku memuncak. Namun aku tak punya waktu untuk ini.
Aku memutuskan bangkit, mengambil gadget-ku yang tergeletak di atas meja. Aku merasa pernah mendengar tentang Altair dan Vega, tapi lupa dimana. Aku mengetuk Altair dan Vega, mencarinya di database gadget-ku. Sebuah halaman pada materi astronomi memuat mengenai Altair dan Vega.
Tertulis bahwa Altair dan Vega adalah dua bintang dari rasi bintang Lyra. Membentuk segitiga musim panas bersama Deneb.
Seketika aku teringat bahwa nenek pernah menceritakan padaku mengenai dongeng Altair dan Vega. Dulu, sudah lama sekali sampai aku tak ingat jelas bagaimana ceritanya. Satu-satunya hal yang kuingat adalah garis besarnya, bahwa mereka hanya bisa bertemu satu tahun sekali, tepatnya pada tanggal 7 Juli.
Sekarang masih bulan Januari, waktu yang tidak tepat untuk menemukan Altair dan Vega. Lagi pula, dimana?
"Tempat Altair dan Vega berasal? Langit?" gumamku.
Rasanya tidak masuk akal kalau ibu menyuruhku terbang ke langit. Meski perjalanan ruang angkasa memungkinkan, ibu tau kalau aku terlalu miskin untuk itu.
"Tanabata?" kataku setelah mengingat sesuatu, "Mungkin bukan asal bintangnya, tapi asal dongengnya. Kalau begitu ... Pasifik 1?"
Belum selesai aku mengelaborasi ideku, tiba-tiba terdengar suara mobil di luar sana. Aku mengintip lewat jendela, mendapati sekumpulan Pasukan Penjaga Perdamaian dengan mobil-mobil besarnya. Mereka mengepung rumahku. Salah satu tetangga pasti melaporkan keberadaan ku. Celaka.
Aku mengalungkan liontin di leherku, kemudian menyambar tas yang sedari tadi kupersiapkan sambil membawa pisau di tangan kiriku. Tak ada jalan keluar, aku terperangkap. Otakku buntu.
Aku teringat pintu kecil yang ada di ruang bawah tanah. Pintu tanpa kenop yang tak bisa dibuka sebelumnya.
Aku turun ke ruang bawah tanah, perlahan-lahan agar tak menimbulkan suara yang membuat orang-orang itu curiga. Aku menutup pintu akses ruang bawah tanah lalu mematikan lampu, sengaja agar mereka tidak terlalu cepat mengetahui keberadaanku.
Aku berjalan merayap di dinding. Sampai ke depan pintu kecil yang ada di pojok ruangan.
Aku menyalakan senter kecil dari gadget-ku. Berusaha mencari celah pintu agar bisa kucongkel dengan pisau sampai terbuka. Namun tak ada celah sama sekali.
Aku menempelkan kedua tanganku, berniat mendorongnya manual. Tiba-tiba pintu itu menyala dengan lampu warna merah. Pintu terbuka begitu saja. Sedetik kemudian aku sadar bahwa kunci dari pintu itu ternyata adalah jejak telapak tanganku. Aku cukup terkejut namun juga bersyukur sedalam-dalamnya.
Ada lorong gelap di balik pintu itu. Lorong yang tampak amat panjang tanpa ujung. Entah apa yang ada di sana. Tampak menyeramkan namun aku tak punya pilihan lain. Suara hentakan langkah kaki dari atas sana jelas merupakan ancaman yang lebih nyata.
Aku memasukkan tasku terlebih dahulu kemudian merangkak untuk melewati pintu kecil itu. Setelah aku lewat dan berhasil masuk ke lorong itu, pintu otomatis tertutup dan menyala merah sekali lagi sebelum kembali gelap.
Satu-satunya sumber cahaya yang aku punya adalah lampu kecil dari gadget-ku.
"Ibu, Nenek, aku akan menyelamatkan kalian."
***
Tanabata adalah sebuah festival kuno yang dulu dilaksanakan secara rutin di sebuah negara bernama Jepang. Festival ini dilakukan pada hari ke-7 bulan ke-7.
Festival Tanabata berhubungan erat dengan legenda tentang bintang Altair dan Vega. Meski aku tak ingat bagaimana alur cerita legenda itu, tapi aku ingat bahwa nenek bilang legenda ini populer di area Asia Timur seperti Jepang, Tiongkok, Korea, dan sekitarnya. Yang kalau diimplementasikan ke masa sekarang, maka berubah menjadi Domain Pasifik 1. Meski tak begitu yakin, Domain Pasifik 1 akhirnya kutetapkan jadi tujuanku.
Entah sudah berapa jam aku berjalan di lorong gelap ini. Gadget-ku juga sudah hampir mati karena dayanya habis. Butuh cahaya matahari untuk mengisi, tapi sayangnya di sini terlalu gelap.
Bukan cuma gelap, tapi juga sepi. Cuma ada suara langkah kakiku. Bahkan saking sepinya, aku bisa mendengar detak jantungku sendiri.
Kakiku sudah nyeri. Aku memutuskan untuk istirahat sejenak sambil meneguk air dari botol yang kubawa. Sengaja cuma kuminum sedikit meski tenggorokanku terasa amat kering. Aku harus hemat karena entah kapan aku bisa mendapat air bersih lagi.
Perutku juga lapar, butuh diisi. Aku mengambil AlgaCan dari tasku secara acak. Membuka kalengnya dengan pisau yang sedari tadi kugenggam. Aku lalu memakannya. Terasa dingin dan tidak enak.
Aku jadi ingat bagaimana ibu selalu menghangatkan AlgaCan kami menggunakan microwave tiap mau makan. Repot-repot meski lelah sehabis pulang kerja. Sambil tersenyum lebar tanpa pernah mengeluh sekalipun.
Dulu momen-momen seperti itu terasa biasa saja. Tapi sekarang aku sadar bahwa maknanya tak terkira.
Mataku mendadak berair. Rasanya nyeri mengingat sesuatu yang mendadak direnggut dari kehidupanku. Dengan cepat aku mengusap air mataku. Ini adalah saat-saat yang tidak tepat untuk merasa rapuh.
Aku buru-buru menghabiskan makananku. Sampahnya aku bungkus dengan plastik lalu kumasukkan kembali ke dalam tas. Aku tak mau merusak lingkungan, juga tak mau meninggalkan jejak sama sekali.
Setelah berjalan lagi sekitar setengah kilometer, aku akhirnya melihat setitik cahaya berwarna merah dari atap lorong. Sebuah pintu kecil yang sama seperti pintu di ruang bawah tanah. Menyinari sebuah tangga yang ada di bawahnya. Aku akhirnya menemukan jalan keluar.
Aku memanjat tangga yang terbuat dari besi itu. Setelah sampai di atas, aku menempelkan tanganku pada pintu. Cahaya merahnya menyala makin terang, lalu pintu terbuka, memberikan aku akses keluar.
Aku mengintip perlahan-lahan ke bagian luar, gelap nan sepi. Aku lalu melemparkan tasku ke atas, kemudian mengeluarkan diriku sendiri. Lorong itu rupanya menghubungkan antara rumahku dan jalan dekat pusat kota. Pintu tertutup otomatis begitu aku keluar.
Jalan sepi ini tak asing lagi bagiku. Ini adalah jalan samping sekolah yang bebas dari kamera perekam. Tempat Stacey dan teman-temannya merundungku.
Aku tidak tau kenapa rumah kami punya akses lorong seperti ini. Aku bahkan tak tau kapan lorong itu dibangun. Namun kalau melihat apa yang terjadi saat ini, aku yakin ibu telah merencanakan semuanya sejak awal. Ibu pasti tau sesuatu. Aku yakin itu.
Aku merasa kakiku tak kuat lagi berjalan. Lagi pula jumpsuit sekolahku tampak terlalu mencolok untuk digunakan di malam hari begini. Aku butuh istirahat.
Satu-satunya tempat yang mungkin jadi tempat istirahatku adalah sekolah. Beruntungnya, sekolahku punya satu titik buta yang tak memiliki kamera perekam. Yaitu pada bagian bangunan lama paling belakang tempat alat-alat kebersihan diletakkan. Biasanya para siswa yang membolos dari kelas akan melarikan diri ke ruang itu. Aku hanya butuh menyelinap.
Aku memutuskan untuk melemparkan tasku ke dalam pagar terlebih dahulu. Setelahnya baru aku memanjat pagar dengan sebisaku. Bagian paling sulit adalah turun ke bawah setelah berada di atas.
Aku memberanikan diri melompat dari pagar setinggi enam belas kaki itu. Krek! Aku bisa mendengar suara patah dari area pergelangan tanganku tepat ketika aku mendarat. Rasa nyeri menjalar cepat. Memberi sinyal pada otak bahwa aku sedang butuh pertolongan. Tulangku patah.
Aku meringis, menahan sakit yang sampai membuat mataku basah itu. Pergelangan tangan kananku sama sekali tak bisa digerakkan. Ia kaku, berada dalam posisi ekstensi tanpa mau dikembalikan ke posisi normal lagi.
Namun beberapa waktu kemudian--tepatnya satu menit--rasa nyeri berangsur-angsur menghilang. Puncaknya, nyeri itu lenyap seperti tidak pernah ada dan pergelangan tanganku mendapatkan kembali fungsi normalnya. Bukan cuma luka tusuk, ternyata tubuhku juga bisa sembuh sendiri dari kejadian seperti ini.
Aku langsung bangkit dan menyelinap masuk ke ruang penyimpanan alat kebersihan. Ruangan itu gelap gulita. Namun aku tak bisa melakukan apa-apa selain berjalan dengan hati-hati. Gadget-ku juga sudah mati, butuh cahaya matahari untuk bisa berfungsi lagi.
Aku meraba sekitar. Mencari tempat kosong untuk diduduki.
Satu-satunya cahaya yang menyinari ruangan adalah cahaya rembulan yang masuk melewati jendela. Tak begitu terang, tapi cukup untuk membuatku merasa aman.
Seketika aku merasa melankolis. Dadaku sesak, aku ingin menangis mengingat ibu dan nenek yang tidak ada di sisiku.
Potongan-potongan kejadian muncul di kepalaku. Mulai dari hilangnya ibu dan nenek secara tiba-tiba setelah inspeksi rumah oleh Penjaga Perdamaian Dunia sampai tubuhku yang mendadak bisa sembuh sendiri setelah terluka dan kekuatan fisik di atas rata-rata. Aku mulai merasa bahwa semua ini berhubungan.
Mungkin perubahan pada tubuhku ada hubungannya dengan hilangnya nenek dan ibu. Mungkin.