Bersembunyi

2032 Words
Nenek bilang, orang jaman dulu hidup untuk makan. Sebaliknya, orang-orang yang ada di masa kini makan untuk bertahan hidup. Menurut Nenek, AlgaCan adalah makanan paling menjijikkan yang pernah ia makan. Bahkan tidak cocok disebut sebagai makanan karena teksturnya yang aneh. Meski demikian Nenek selalu mengajarkan untuk bersyukur. Katanya, Tuhan suka orang-orang yang bersyukur dan selalu merasa cukup. Lagi pula kami memang tak punya banyak pilihan. Akan tetapi Nenek tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya begitu aku dan Ibu membawa sebuah apel ketika pulang ke rumah. Matanya berbinar-binar, dipenuhi rasa haru karena sudah lama tidak melihat makanan yang sesungguhnya. "Terakhir kali aku melihat makanan sungguhan seperti ini ketika perang masih berlangsung, waktu itu aku sedang hamil. Mengandung ibumu," tutur Nenek. Aku tersenyum. Seumur hidup, ini kali pertamaku melihat makanan sungguhan. Makanan yang tidak terbuat dari alga dan diberi perisa, makanan nyata yang tumbuh dan dibesarkan oleh alam. Akan tetapi perhatianku teralihkan. Alih-alih fokus pada satu buah apel itu, aku malah fokus pada Ibu. Sejak pulang dari pusat kota tadi, ibu jadi aneh. Ralat, bahkan selagi masih di sana, ibu juga aneh. Tepatnya semenjak melihat gerombolan Penjaga Perdamaian Dunia. Entah apa yang ibu pikirkan, tapi ia tampak terbebani dan gelisah, seolah sedang memikirkan sesuatu dan tak ingin aku tau. "Bu, ibu baik-baik saja?" tanyaku. "Tentu." Ibu berusaha tersenyum namun aku bisa merasakan gugup dari senyumnya. Ibu menyalakan lilin virtual di gadget-nya, lalu meletakkannya di samping apel. "Buat permohonan dan tiup lilinnya, Gris," kata Ibu. Aku mengangguk, memutuskan untuk melupakan sejenak keanehan ibu. Aku menangkupkan tangan dan menundukkan kepala. Harapanku tidak banyak. Aku hanya ingin kami bertiga bahagia, bisa tidur dengan nyaman, dan tidak sampai kelaparan. Setelahnya aku meniup lilin. Ibu kemudian memotong apel jadi enam bagian dan menyerahkan semuanya padaku. "Makanlah," kata Ibu. "Tidak, Bu. Kita harus makan ini bersama," tolakku. Aku memberikan dua potong pada Ibu dan dua potong lagi pada Nenek. Nenek mengelus rambutku dan berkata, "Bagaimana kau bisa tumbuh menjadi anak sebaik ini, Gris?" "Berkat Nenek," ucapku. Nenek mencubit pipiku gemas. Ibu yang tampak gelisah turut membuatku gusar. Alhasil aku menyalakan televisi, berusaha mengalihkan perhatian. Layar televisi menampilkan bintik-bintik hitam putih, tanda bahwa sinyal sedang tak begitu baik. Maklum saja, televisi kami adalah televisi yang diproduksi nyaris lima puluh tahun lalu, bahkan ketika perang dunia belum dimulai. Bertahan sampai saat ini saja bisa disebut sebagai sebuah keajaiban. Televisi generasi sekarang sudah jauh lebih canggih. Bahkan yang baru-baru ini dikembangkan, audiens dibuat bisa menyentuh orang-orang yang ada dalam televisi. Virtual tentunya, tidak secara nyata. Aku mengotak-atik remote control. Mencari saluran yang masih dapat ditangkap dengan baik. Akhirnya kami berlabuh di sebuah acara berita sore. "Penjaga Perdamaian Dunia melakukan operasi razia mulai hari ini, 5 Juni 2082. Operasi razia ini dilakukan menyeluruh atas perintah istana kepresidenan untuk alasan keamanan. Diperkirakan muncul kelompok radikal dan terorisme baru yang mengancam kemaslahatan umat manusia sehingga langkah ini perlu dilakukan." Aku mengangguk-angguk. Rasa penasaranku akhirnya terjawab. "Ah ... rupanya karena itu mereka memeriksa orang-orang di pusat kota, Bu," kataku. Bukannya tenang, Ibu malah tampak semakin panik. Bibirnya memucat, keningnya berkeringat. Ibu tampak ketakutan dan tak bisa mengendalikan emosinya. "Bu? Apakah terjadi sesuatu?" tanyaku. "Tidak apa-apa, Gris. Ibu hanya kelelahan. Biarkan ibu istirahat." Ibu pergi ke kamarnya. Meninggalkan aku dan sejuta tanda tanya beserta pengakuanku yang belum sempat terucap oleh kata. *** Tepat tengah malam aku dibangunkan. Ibu menepuk-nepuk bahuku dengan keras. Aku mengintip keluar, hujan salju sedang turun dengan deras sehingga aku pikir ibu ingin menyuruhku membersihkan salju di halaman depan rumah agar tidak licin dan membahayakan. Pasalnya beberapa bulan lalu Nenek pernah terpeleset karena salju tidak sempat dibersihkan. Akan tetapi ketika aku mengambil sekop yang biasa dipakai untuk membersihkan salju, Ibu malah berteriak, "Apa yang sedang kau lakukan, Gris?" Teriakan Ibu cukup keras sampai membuat rasa kantukku hilang. Seingatku, Ibu tidak pernah berteriak seperti itu. Air muka ibu lagi-lagi tampak gelisah. Dengan langkah tergesa-gesa, ia membuka lemari bajuku dan memasukkan beberapa helai baju ke dalam sebuah tas besar yang ia ambil dari kamarnya sendiri. "Bu, ada apa?" tanyaku panik. Ibu tak menjawabku. Ia turut memasukkan beberapa kaleng AlgaCan, sebotol air, dan sebuah pisau tajam ke dalam tas. "Bu, tolong jawab aku!" ujarku. "Ini bukan saat yang tepat untuk bertanya, Gris!" bentak Ibu. Aku sama sekali tak memahami Ibu. Matanya yang terlihat takut berulang kali melihat ke arah pintu, seolah sesuatu akan muncul dari sana. Aku mengintip lewat celah-celah jendela, baru menyadari bahwa pasukan Penjaga Perdamaian Dunia mondar-mandir di depan rumah kami dengan mebawa s*****a. Seragam besi mereka yang putih bersih seolah menyatu dengan salju, sementara langkahnya terasa congkak dan mengintimidasi. Mungkin ini alasan ibu bertindak segelisah itu. "Bu, untuk apa ibu melakukan semua ini? Mereka hanya melakukan pemeriksaan sebentar, tidak ada yang perlu kita takutkan!" kataku. Ibu tak menjawabku. Tangannya menggenggam tanganku erat kemudian menarik tubuhku sampai aku hilang keseimbangan dan terjatuh. "Cepat bangkit! Kita tak punya waktu banyak, Gris!" Ibu menarikku kembali begitu aku berdiri. Membawaku masuk ke dalam kamarnya yang sepi. Ibu mendekat ke arah lemari, kemudian berbaring di lantai dan memasukkan tangannya di antara celah-celah lantai dan dasar lemari. Lengannya bergerak seolah sedang memencet sesuatu di dalam sana. Tak lama lemari ibu bergeser. Aku terperangah karena belum pernah tau hal ini sebelumnya. Ibu membuka karpet alas lemari. Ada sebuah pintu kecil yang digembok manual di sana. Pintu yang tak pernah aku ketahui ada. "Bu, apa ini?" tanyaku bingung. Ibu membuka pintu itu dengan kunci yang diambil dari lacinya. Ibu menyalakan senter dan mengarahkan ke sana, tampak sebuah ruangan bawah tanah yang dilengkapi tangga untuk akses masuknya Setelah pintu itu terbuka, ibu menyerahkan tas besar yang tadi ia isi dengan barang-barang beserta senter kepadaku. "Gris, bersembunyilah di sini sampai keadaan aman. Jangan buka pintu ini kepada siapapun! Jangan bergerak dan jangan bersuara! Ibu akan mengeluarkanmu ketika semuanya aman!" papar Ibu. Pemaparan ibu membuatku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Aku takut. "Tidak, Bu! Aku tidak mau! Aku tidak mau kalau tidak ada ibu dan nenek!" "Gris! Dengarkan ibu sekali ini saja!" seru Ibu. "Ibu janji akan baik-baik saja. Jadi mohon dengarkan ibu!" Dengan mata yang mulai basah, aku menuruti ibu. Aku menuruni tangga besi dengan hati-hati selagi tangan kananku memegang senter dan tangan kiri memegang tas erat-erat. Aku menoleh sekali lagi, mengamati wajah ibu yang tampak dari bawah sini. Matanya yang kecokelatan menatapku sedih. Wajah ibu perlahan-lahan menghilang di balik pintu yang ditutup perlahan-lahan. Aku sendiri, terdiam di pojok ruangan. Tak bisa melihat apa-apa karena gelap gulita. Aku mengarahkan senter ke seluruh penjuru ruangan, mencari-cari saklar lampu. Begitu menemukan saklar, aku berjalan sambil menempel dinding, takut menabrak sesuatu. Aku memencet saklar, menyalakan lampu neon yang tergantung di atap ruangan. Tak ada ventilasi sama sekali. Hanya ada sebuah pintu kecil tanpa gagang yang tertutup rapat. Beberapa menit kemudian aku mendengar suara tumpul seperti langkah kaki dari arah atap. Diiringi lampu neon yang berkedip dan bergoyang ke kanan kiri karena getaran dari atas sana. Akan tetapi tak ada hal lain yang bisa kudengar. Nuansa ngeri mengalir di udara sekitarku. Suasana penuh ketakutan menggerogotiku dari dalam. Menimbulkan kecemasan tak berujung. "Bu, Nek, apa kalian baik-baik saja?" gumamku. *** Aku terbangun karena rasa perih di perutku. Sekujur tubuhku nyeri karena posisi tidur yang sama sekali tidak nyaman. Aku tertidur di lantai, beralaskan selimut tipis yang ibu bekalkan, berbantalkan lengan sampai kini mati rasa. Aku tak tau keadaan di luar sana. Bahkan waktu pun aku tak tau. Bisa saja siang, bisa juga malam. Aku meneguk air dari botol untuk membasahi tenggorokanku, setelahnya aku menaiki tangga, berusaha mengintip dari celah-celah pintu tapi tak bisa karena tertutup karpet dari luar. Aku menempelkan telingaku sedekat mungkin. Tak ada suara apa-apa. Keadaan tampaknya aman, tapi kenapa ibu tak kunjung mengeluarkanku? Tok-tok-tok! Aku mengetuk pelan pintu, akses satu-satunya ke ruangan ini. Lalu menempelkan lagi daun telingaku ke pintu. Masih tak ada suara apa-apa dari atas sana. Aku mengetuk sekali lagi, lebih keras dan lebih bertenaga. Tok-tok-tok! Masih belum ada respon apa-apa dari atas sana. Aku jadi teringat mengenai pelajaran sejarah teknologi yang diajarkan beberapa pekan lalu. Tertulis bahwa dulu, sebelum perang dan bencana besar, orang-orang dalam jarak jauh terhubung melalui suatu teknologi berupa telepon seluler. Bentuknya tidak jauh berbeda dengan tablet masa kini, hanya saja bisa dipakai untuk bicara dengan orang lain tanpa saling menatap. Bisa digunakan untuk bersosialisasi pula secara dengan orang-orang jauh di belahan dunia lain lewat sesuatu bernama internet. Sayangnya teknologi itu harus hilang digerus perkembangan zaman. Sinyal yang digunakan agar orang-orang bisa saling terhubung harus dirambatkan melalui atmosfer yang tidak memungkinkan lagi untuk digunakan di zaman sekarang. Atmosfer yang menipis dan tersisa 1 persen dibandingkan bentuk aslinya tidak lagi bisa menghantarkan sinyal sesuatu kebutuhan manusia. Mengharuskan persinyalan yang tidak penting dipotong. Akibatnya kini persinyalan hanya dipakai dalam komponen vital seperti televisi, radio, agenda pendidikan, dan pemerintahan. Ya, perang dunia dan bencana besar memang mengubah kehidupan umat manusia. Tak begitu buruk untuk aku yang memang terlahir di era ini tapi tentu rasanya berbeda untuk orang-orang yang lahir sebelum perang dan bencana terjadi. Aku membayangkan betapa menyenangkannya kalau teknologi semacam itu masih ada. Setidaknya saat ini aku bisa menghubungi ibu, menanyakan apa keadaan sudah aman. Atau akses berita, mencaritahu apa yang terjadi sebenarnya. Aku memutuskan untuk mengisi perutku. Meski dalam kondisi mendesak, nutrisi tetap harus diperhatikan. Aku membuka satu kaleng AlgaCan rasa pisang dengan pisau yang ibu bawakan. Kemudian menyedot serat-serat AlgaCan itu ke dalam mulutku sampai habis tak bersisa. Setelahnya aku minum air yang sisa seperempat botol. Terlalu sedikit. Tak akan cukup untuk bertahan satu hari ini. Maka dari itu aku menyadari bahwa aku butuh keluar dari tempat ini kalau tak mau mati dehidrasi. Dengan tekad yang bulat, aku kembali memanjat tangga, mengetuk pintu sekali lagi. Siapa tau ibu baru dengar di luar sana namun lagi-lagi tak ada jawaban. "Aku bahkan belum bercerita pada ibu tentang perubahan aneh yang kualami," gumamku. Kata-kata yang terucap seperti orang mabuk dari mulutku itu kemudian menyadarkanku. "Benar juga! Aku punya kekuatan!" Aku kemudian menempelkan kedua tanganku di pintu sambil memejamkan mata penuh keyakinan. Mempercayai diri sendiri bahwa aku bisa membuka pintu yang digembok dari luar ini semudah mengangkat kursi-kursi besi. Aku memberi tekanan pada pintu itu. Mendorong sekuat tenaga sampai urat-urat di leherku menonjol tegang. Seperti keajaiban, pintu terbuka. Lemari milik ibu yang ada di atasnya terguling begitu saja. Hal pertama yang aku lakukan setelah berhasil keluar dari ruang bawah tanah itu adalah mencari ibu dan nenek. "Bu!" pekikku sambil berlari ke arah dapur dan ruang tamu. Hatiku mencelos begitu aku melihat keadaan rumah yang kacau balau. Barang-barang berserakan di lantai, kaca-kaca pecah, bahkan beberapa pintu lemari dibuka paksa. Selain itu, aku tak melihat siapapun. Bahkan setelah berlari ke kamarku dan kamar nenek, aku juga tak menemukan apa-apa selain keadaan yang kacau balau. Barang-barang tampak porak-poranda dimana-mana seperti sengaja dihancurkan. Aku keluar rumah, tak mendapati petunjuk apapun. Salju di luar rumah bahkan putih bersih, tanpa ada bekas langkah kaki manusia. Juga tidak ada tanda-tanda keberadaan nenek dan ibu. Air mataku mulai jatuh. Masih ingin mencoba berpikiran positif namun kenyataan berkata sebaliknya. Dengan mata yang basah, aku melangkahkan kaki keluar rumah sekali lagi. Kali ini menuju rumah-rumah tetangga yang ada di kanan kiri. Aku mulai dari rumah Nyonya Smith yang tinggal tepat di depan rumahku. Satu-satunya tetangga yang berinteraksi dengan kami karena kelas sosial yang sama. Aku memencet bel yang terletak di pintu rumahnya. Harap-harap cemas, berharap Nyonya Smith punya kabar baik untukku. Tak lama kemudian dia membuka pintu, begitu kecil hingga semut pun mungkin tidak bisa masuk. "Ada apa?" tanyanya dengan suara yang bergetar. Matanya berulang kali menatap ke bawah, terasa seperti sedang menghindari kontak mata denganku. "Apa kau tau dimana ibu dan nenekku?" tanyaku. "Tidak! Aku tidak tau!" ujarnya cepat. "Pergilah! Jangan dekati rumahku! Pergi!" Aku terkejut karena Nyonya Smith mengusirku sebegitu kasarnya. Padahal Nyonya Smith adalah tetangga yang baik biasanya. Ibu dan Nyonya Smith bahkan sempat berbincang beberapa kali. Ibu juga bilang bahwa Nyonya Smith adalah orang yang ramah. Nada bicaranya kali ini diiringi ketakutan. Seolah ia sedang melihat monster atau tragedi mengerikan. Aku tak mengerti. Langkahku menyusut, bergerak mundur. Lalu menatap rumah-rumah lain yang tertutup rapat. Beberapa dari mereka mengintip dari balik jendela dengan mata yang penasaran namun juga tampak seperti mengusirku secara tidak langsung. Mereka tampak berharap aku menjauh. Saat itu juga aku sadar, sesuatu yang buruk telah terjadi pada ibu dan nenekku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD