Ulang Tahun

2001 Words
Aku sepenuhnya yakin bahwa aku tidak bermimpi, juga tidak sedang melamun dan tengah berada dalam khayal. Apalagi berada dalam pengaruh alkohol maupun obat-obatan terlarang. Aku sepenuhnya sadar ketika kejadian tak masuk akal itu terjadi. Ketika luka di tanganku sembuh sendiri. Kembali menyatu seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Tubuhku gemetar ketika mengingat kembali kejadian itu. "Gris, kau kedinginan?" tanya Nenek. "Ah, tidak, Nek," bantahku. Aku lalu masuk ke kamarku. Merenungi kembali kejadian demi kejadian, merangkainya sebagai kronologi yang runtut dan rinci. Aku mengambil gadget dan membuka aplikasi catatan, kemudian menuliskan apa yang kuingat menggunakan pen. "Pertama, luka di lutut. Kedua, kursi besi. Ketiga, luka di telapak tangan," gumamku. "Hipotesis nol, semua ini tidak nyata dan cuma halusinasi-ku saja." Untuk membuktikan kebenaran hipotesisku, aku mengambil pisau milik ibu yang diletakkan di laci dapur. Diam-diam agar nenek tidak curiga. Aku masuk kembali ke kamar dan menatap pisau itu lekat-lekat. Ada keraguan, tapi hipotesis ini tetap harus dibuktikan. Aku membalik pisau itu, meletakkan gagang di bagian atas, sementara bagian tajamnya aku genggam erat-erat dengan kedua tanganku. Ujung saraf ku mendeteksi nyeri, merasuk hingga ulu hati. Darah mulai bercucuran dari telapak tanganku. Mengalir menuruni bagian lengan sampai ke siku, seperti berseluncur bebas. Setelah berdarah cukup banyak, aku menjatuhkan pisau itu sambil menahan nyeri yang menjadi-jadi. Kulit telapak tanganku terbelah cukup dalam. Sepeti keajaiban, luka-luka itu menyatu kembali. Melekat seperti baru tanpa meninggalkan bekas. Saat itu pula aku sadar bahwa sesuatu yang tidak biasa telah terjadi kepadaku. Tanpa diduga, tanpa disangka-sangka bak petir yang menyambar di siang hari. Aku yang belum seratus persen yakin akhirnya menusukkan pisau ke area lain; perut, paha, lengan, bahkan leher. Tusukan dalam yang bisa membuatku mati seketika. Akan tetapi luka tusuk sedalam itu pun menutup dengan sendirinya. Tanganku lalu bergetar, menjatuhkan pisau ke lantai lalu terduduk lemas. Semua ini bukan mimpi, tapi terasa tidak nyata. Terasa terlalu mengada-ada untuk jadi nyata. "Gila!" desisku. Aku menatap kaca yang ada di seberangku. Melihat pantulan seorang gadis berambut hitam pekat di sana. Kulitnya yang kuning langsat tampak memucat begitu pula mata cokelatnya yang tampak penuh ragu. Ia adalah aku dan segala pertanyaan tak terjawab yang tersimpan di benakku. *** Pilihan terbaik yang aku punya adalah bercerita pada ibu. Memendam semuanya sendiri terasa terlalu berat, aku tak punya kemampuan untuk itu. "Selamat pagi! Selamat ulang tahun, Gris!" ucap Ibu begitu aku keluar dari kamar. Wajahnya dihiasi senyum tulus yang membuat matanya sedikit menyipit dan mempertegas garis-garis halus di sekitar kelopaknya. "Terima kasih, Bu," kataku. Nenek lalu memberiku pelukan hangat. Tubuh rentahnya membelaiku penuh kasih sayang. "Selamat ulang tahun, Cucuku sayang. Semoga kau senantiasa bahagia meski hidup kita jauh dari sempurna," tutur Nenek. "Terima kasih. Tentu, Nek. Aku akan hidup bahagia selamanya bersama Ibu dan Nenek," jawabku riang. Ibu menyodorkan handuk bersih padaku. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, ulang tahun selalu jadi hari wajib untuk mandi dan membersihkan diri. "Ibu sudah menghangatkan air untukmu," kata Ibu. "Oh, ayolah, Bu! Mandi tak sepenting itu! Airnya bisa kita pakai untuk hal lain," tolakku. Ibu menggeleng, "Gris, ibu dan nenek sudah menabung air ini untukmu sejak bulan lalu. Mandilah dan jadi gadis tercantik di dunia hari ini." Aku tak punya kuasa untuk menolak. Dengan langkah malas aku menuju kamar mandi dan mendapati bak keramik kami dipenuhi air hangat yang asapnya sesekali menguap ke udara. Aku menanggalkan seluruh pakaianku kemudian masuk ke sana dan memejamkan mata. Menenggelamkan kaki, tangan, dan tubuhku. Menyisakan bagian leher ke atas. Hangat, rasanya hangat. Aku membasuh wajah dan rambutku. Sayup-sayup kudengar Nenek memutar lagu kesukaannya yang berjudul Love Story. Aku lupa siapa penyanyinya, tapi yang jelas lagu itu mengisahkan tentang romansa antara Romeo dan Juliet yang terhalang keegoisan orang tua. Kisah Romeo dan Juliet adalah satu dari sekian banyak kisah yang punah akibat arus pergerakan zaman. Buku-buku orisinil tentang Romeo dan Juliet kebanyakan sudah habis ditelan bencana dan perang sehingga tak banyak orang yang tau mengenai kisah cinta tragis mereka. Aku beruntung karena punya Nenek yang gemar bercerita. Nenek menyebutnya romantis, namun bagiku Romeo dan Juliet adalah simbol kebodohan. Aku tak mengerti mengapa mereka memilih mati. Padahal banyak jalan lain yang bisa mereka tempuh, misalnya kawin lari. Aku ikut bersenandung sambil menggosok sisa noda yang melekat di tubuhku dengan sikat hingga air tempatku berendam berubah warna jadi agak keruh. Setelah merasa cukup aku mengeringkan tubuh dan rambutku dengan handuk lalu masuk kamarku sendiri. Ibu sudah menungguku di kamar dengan pengering rambut dan sisir di tangannya. Aku duduk di depan meja rias hanya dengan handukku. Ibu lalu merawat helai demi helai rambutku seperti rambutnya sendiri. Senyumnya mengembang, tampak jelas di cermin rias. "Kau sudah besar, Gris. Waktu sangat cepat berlalu," katanya. Ibu terdengar senang sekaligus sedih. Bersemangat sekaligus biru. Setelah kering dan rapi, ibu mengikat rambutku jadi satu dengan pita berwarna merah. Ia tersenyum bangga dan berkata, "Cantik. Pakailah bajumu. Ibu sudah siapkan di atas kasur." Sebelum ibu benar-benar pergi dari kamar, aku berkata, "Bu, ada yang mau aku bicarakan saat makan malam nanti." "Tentu. Sekarang pakai bajumu dulu." "Baik, Bu." *** Aku memakai mantel merah tebal dan celana berwarna hitam. Rambutku yang terikat dilapisi topi rajut dan kaki serta tanganku dibalut sarung penghangat berwarna merah. Cukup untuk melawan dinginnya hari. Ibu membawaku ke pusat kota, tempat dimana apa saja yang dicari pasti ada. Kupikir kami hanya akan membeli apel dan langsung pulang. Siapa sangka ibu malah membawaku ke TravelLook, sebuah tempat wisata virtual yang tak pernah kehilangan popularitas sejak pertama kali diluncurkan. "Pilih, Gris. Kau mau liburan kemana," kata Ibu. "Bu, bukankah ini terlalu mahal?" tanyaku. Setahuku satu tiket TravelLook bernilai seharga 50 Earth. Jumlah uang yang cukup untuk makan keluarga kami sebulan. "Jangan khawatir, Gris! Ini ulang tahunmu yang ke-18! Harus istimewa!" seru Ibu meyakinkanku. Aku yang tak mau mengecewakan ibu pun mulai melihat daftar lokasi wisata yang ditunjukkan di layar. Ada satu tempat yang sangat ingin aku kunjungi. "Hutan sss! Aku mau ke Hutan sss, Bu." Ibu mengangguk. Aku menekan Hutan sss sebagai pilihan liburanku. Setelahnya aku diarahkan oleh seorang receptionist untuk masuk ke sebuah ruangan yang dijaga oleh seseorang berjas putih. Tampaknya seorang dokter. "Selamat pagi. Perkenalkan, aku Dokter Anne. Namamu Griselda Brave?" sapanya sambil memverifikasi identitasku. "Silakan duduk," katanya. Aku lalu duduk di kursi khusus yang disediakan. Lampu besar yang berada tepat di atas kepalaku entah mengapa membuatku gugup. Rasanya mual, seperti ada yang berterbangan di perutku. Aku terlalu bersemangat. Sementara itu ibu duduk di pojok ruangan. Menantiku dengan senyuman. Dokter Anne menyuntik lenganku dengan cairan berwarna keunguan kemudian menempelkan kabel di pelipisku. Ia juga memasangkan kabel berbentuk gelang di tangan dan kakiku. "Silakan masuk ke arena," ucapnya. Aku mengikutinya, masuk ke dalam area kotak yang bercahaya di tengah ruangan. Begitu aku masuk, cahayanya jadi makin terang. Kabel-kabel yang menempel di tubuhku pun melayang-layang. "Tutup matamu lalu buka dalam hitungan ketiga." Dokter Anne memberi instruksi. Aku memejamkan mataku. Dengan bantuan hitungan dari Dokter Anne, aku membuka mataku tepat pada hitungan ketiga. Ruangan serba putih di sekitarku lenyap. Digantikan dengan jajaran pepohonan yang menjulang tinggi menantang awan. Suara kicauan burung-burung yang sekarang hanya bisa dinikmati lewat video pun terdengar jelas di telingaku, seperti bersahutan. Jauh berbeda dengan keadaan nyata bumi saat ini. Meski hanya visualisasiku saja, aku merasa sangat senang. Rasanya ingin berlarian lalu berguling-guling di tanah berumput. Rasanya benar-benar hidup. Ini adalah dunia yang hanya bisa kami lihat di buku sejarah dan tak pernah kami temui lagi secara nyata. Aku merentangkan tangan lalu seekor kupu-kupu berwarna putih menempel di lengan mantelku. Ketika aku bergerak ingin menyentuhnya, ia terbang jauh dan menempel di pepohonan. Tanpa sadar aku berputar-putar. Terkagum-kagum dengan apa yang kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Hijau seluas mata memandang, aku tenang. Aku berjingkat ketika seekor jaguar mendekatiku dengan tatapannya yang tajam. Gigi dan taringnya begitu tajam, seolah siap menerkam. Rahangnya juga kuat, siap mengunyah ku jadi bagian-bagian lembut. Gerak-geriknya pelan dan menawan. Ia lalu menghilang di balik pohon camu-camu. Tak terlihat lagi sampai tiba-tiba semua pemandangan Hutan sss yang kusaksikan menghilang begitu saja, tergantikan dengan dinding putih bersih yang menandakan bahwa waktu perjalanan virtualku sudah habis. Dokter Anne melepas kabel-kabel dari tubuhku sambil berkata, "Kau mungkin akan pusing sebentar. Efek samping." Setelah Dokter Anne berkata demikian, kepalaku langsung terasa berat. Entah nyata atau efek sugesti. Akibatnya aku dan Ibu harus duduk di ruang tunggu sampai pusingku terusir dengan sendirinya. "Bagaimana? Menyenangkan?" tanya Ibu. Aku mengangguk, "Kecuali bagian pusingnya." Aku lalu bercerita pada Ibu tentang apa yang aku lihat di Hutan sss. Mulai dari kupu-kupu sampai pohon camu-camu. Ibu tersenyum sepanjang aku bercerita, seperti ikut merasakan juga. "Ibu senang kalau kau senang, Gris," ucap Ibu. Kami lalu menuju ke sebuah toko buah. Beda dari toko-toko lainnya, toko buah punya gayanya sendiri. Seperti punya nilai yang jauh lebih tinggi dari toko-toko lainnya. Didesain mewah, menunjukkan bahwa target pasar mereka adalah orang-orang kelas A. Buah-buahan dipajang di rak-rak kaca yang dilengkapi teknologi anti gravitasi sehingga buah yang dipajang di dalam sana tampak melayang-layang di udara. Aku terpanah melihat pisang, apel, nanas, bahkan kiwi di dalam sana sambil menelan ludah. Mereka tampak berkilauan, memanjakan mataku yang sudah terlalu lama melihat AlgaCan. Buah-buahan ini datang dari jauh. Tepatnya dari Departemen Hayati Dunia yang berada di Domain Arktik, lokasi pusat dan satu-satunya pengembangbiakan hayati di muka bumi. Dari yang kudengar di sekolah maupun di berita, ada sebuah laboratorium besar di sana. Laboratorium itu menyimpan tanah, air, udara, dan sinar yang pas untuk perkembangan flora dan fauna. Unsur-unsur itu dikumpulkan dari seluruh dunia, dari tempat-tempat yang tidak tercemar atau tingkat pencemarannya rendah lalu dimurnikan. Hewan dan tumbuhan di sana juga berasal dari sisa-sisa makhluk hidup yang masih bisa bertahan melawan bencana alam dan efek radiasi perang dunia keempat. Makhluk hidup yang lolos seleksi alam. Setelah dikembangkan dan dipanen di Departemen Hayati Dunia, buah-buahan ini didistribusikan menggunakan kapal atau pesawat. Berlaku juga untuk daging dan bahan alam lainnya. Akibat biaya pengembangan dan distribusinya yang mahal ini lah makanya barang-barang ini terbilang langka dan punya harga selangit. Harga satu buah apel saja bisa seratus kali lipat harga satu kaleng AlgaCan. "Aku mau beli satu buah apel," kata Ibu pada sang penjaga toko. Penjaga toko yang memakai setelan jas itu pun tersenyum pada ibu. Ia memasang sarung tangan kemudian membuka etalase kaca itu menggunakan kode rahasia. Ia mengambil sebuah apel berwarna merah, membawanya dengan hati-hati seolah-olah nyawanya ada di sana. Apel itu dibungkus menggunakan kotak kaca yang kemudian dihias pita dan dimasukkan ke sebuah tas plastik. Ibu lalu menukarkan uang sebesar 100 Earth dengan apel merah itu. Aku merasa senang sekaligus bersalah. Uang yang seharusnya bisa untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami berbulan-bulan habis hanya untuk membeli sebuah apel yang bahkan tak akan membuat kami merasa kenyang. Aku menggandeng lengan ibu. Kami menelusuri sejenak pusat kota. Sekadar melihat-lihat lalu lalang orang dan satu atau dua mobil super cepat yang ada di jalan raya. Langkah kami terhenti ketika tampak sekumpulan orang bergerombol di tengah jalan. Tampak deretan orang-orang berseragam baja serba putih dengan senapan di tangan dan helm yang menutupi wajah. Orang-orang dengan atribut seperti itu adalah bagian dari pasukan Penjaga Perdamaian Dunia. Mungkin kurang tepat disebut sebagai orang karena sebagian besar anggotanya adalah robot, hanya satu dua orang manusia yang ada di sana, biasanya berperan sebagai pemimpin. Anggota Penjaga Perdamaian Dunia itu juga membawa alat berwarna putih yang memancarkan sinar merah. Alat itu berbentuk lonjong dan sepertinya terbuat dari plastik yang bagian ujungnya dikombinasikan dengan kaca. Mereka mengarahkan alat itu ke orang-orang yang mengantre. Setelahnya sinar merah akan berubah warna menjadi hijau, dan orang yang diperiksa boleh pergi melanjutkan perjalanan. "Ada apa ini, Bu?" tanyaku. "Apa terjadi suatu kejahatan besar? Kenapa aku tidak melihatnya di berita?" Aku menatap kerumunan itu dengan rasa penasaran. Pasalnya Penjaga Perdamaian Dunia hanya turun tangan ketika ada kejahatan tingkat tinggi seperti percobaan genosida atau pembunuhan berantai yang tarafnya sudah sangat membahayakan masyarakat. Sementara kasus-kasus sepele seperti pencurian atau penipuan akan ditangani oleh kepolisian. Kali ini, sesuatu yang besar pasti sedang terjadi. Ibu tak menjawabku. Sebagai gantinya, langkahnya malah menyusut ke belakang sambil memegang erat tanganku yang tergantung bebas. Dapat kurasakan bola matanya bergetar, entah karena apa. Begitu pula tangan dinginnya. "Ayo pulang!" ujarnya, lalu menarik tanganku dengan tergesa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD