Nenek sedang mendengarkan lagu berjudul Euphoria yang dinyanyikan oleh Jeon Jungkook, seorang penyanyi yang super terkenal ketika nenek muda. Dia berasal dari Korea Selatan, sebuah negara yang kini tergabung dalam Domain Pasifik 2.
Nenek memang tidak bisa lepas dari nostalgia masa mudanya. Dia selalu memutar lagu-lagu lama, membuat aku sebagai cucunya yang terlahir dalam era berbeda hapal tiap liriknya.
"Take my hands now, you are the cause of my euphoria ...." Aku ikut bersenandung sambil menuruni tangga lalu berputar di depan nenek dan merentangkan tangan seolah sedang menari. Nenek tertawa senang.
Aku langsung duduk di meja makan kami yang berbentuk kotak. Nenek sebagai anggota keluarga paling tua, duduk di ujung meja makan sementara aku dan ibu masing-masing duduk di sebelah kanan dan kirinya.
Ibu membawa nampan dengan makanan yang baru saja dipanaskan di microwave. Bau daging nan gurih semerbak memenuhi ruangan.
"Teriyaki?" tebakku.
Ibu mengangguk, "Seratus!"
Ibu lalu meletakkan nampan di meja. Ada tiga buah piring dan tiga buah kaleng berisi alga olahan di sana. Orang menyebut alga sebagai penyelamat eksistensi umat manusia, seperti tokoh protagonis pada cerita pahlawan super yang sering kudengar ketika aku masih kecil.
Puluhan tahun yang lalu--bersamaan dengan perang dunia keempat--bencana terjadi dimana-mana. Nenek bahkan bercerita bahwa kampung halamannya di Pulau Jawa hanyut total karena tsunami. Katanya Nenek terapung-apung sambil berpegangan pada sebuah pohon yang tumbang selama berhari-hari sebelum tim evakuasi datang menyelamatkan.
Bencana yang terjadi di sana-sini itu pula yang membuat bumi kehilangan sembilan puluh lima persen sumber daya alam hayati. Hewan dan tumbuhan nyaris punah. Ditambah lagi dengan kondisi bumi yang sama sekali tidak bersahabat. Air yang mengering dan dicemari limbah juga membuat biota alam mati. Hanya Alga yang bertahan dan masih bisa dikonsumsi.
Itulah mengapa kini semua orang bertahan hidup dengan alga halus dalam kemasan kaleng yang disebut sebagai AlgaCan. Alga-alga ini diberi perisa kimia, menyerupai rasa masakan di masa lalu. Misalnya, ayam panggang, sushi, kimchi, atau sapi lada hitam. AlgaCan tersedia dalam berbagai rasa. Bahkan mulai lima tahun lalu AlgaCan juga memproduksi varian baru, dimana Alga dibentuk menyerupai buah-buahan dan diberi perisa kimia rasa buah.
Sebenarnya tidak semua hewan dan tumbuhan punah. Tersisa beberapa ekor hewan dan beberapa tumbuhan dari berbagai spesies yang masih bisa bertahan setelah melalui bencana. Beberapa spesies yang tersisa itu dibudidayakan oleh Departemen Pertanian Dunia yang bermarkas di Domain Arktik.
Hasil dari budidaya itu juga dijual secara bebas sebenarnya. Hanya saja harganya yang selangit membuat aksesnya terbatas hanya untuk orang-orang dari kelas A. Orang dari kelas C dan B seperti kami harus bertahan dengan AlgaCan nyaris seumur hidup.
"Bu, kapan ibu akan berhenti mendengar lagu ini? Rasanya sudah puluhan kali hanya untuk pekan ini," kata Ibu pada Nenek.
"Sampai aku mati," jawab Nenek diselingi tawa yang membuat matanya menyipit.
Ibu menggeleng-geleng.
"Mendengar lagu-lagu lama membuatku kembali teringat memori masa-masa muda," kata Nenek. "Kalau kau Gris, apa kau punya lagu favorit?"
"Mmh ... tidak juga, tapi aku cukup suka dengan lagu-lagu yang nenek putar."
"Kalau idola? Kau punya idola?" tanya Nenek.
Aku menggeleng.
"Gris, jangan melewatkan masa mudamu! Selagi masih muda, kau harus punya idola yang bisa membuatmu bahagia hanya dengan melihatnya. Saat kau sudah dewasa nanti, kau akan sibuk dengan kehidupan dan tak punya waktu lagi untuk melakukan itu," papar Nenek panjang lebar.
Aku menjejalkan alga ke mulutku sambil mengangguk-angguk.
"Benar, Gris. Lakukan apa saja yang membuatmu senang," tambah Ibu. "Ngomong-ngomong, lima hari lagi kau berulang tahun, apa ada yang kau inginkan?"
Aku menggeleng. Aku paham betul bahwa keuangan kami sedang tidak begitu baik. Bertahan hidup sehati-hari saja sudah cukup sulit.
"Aku tidak mau apa-apa, Bu. AlgaCan rasa kue ulang tahun saja sudah lebih dari cukup."
"Oh, Gris! Jangan pikirkan uangnya! Ibu punya simpanan!" ujar Ibu, seolah bisa membaca pikiranku.
"Benarkah?"
Ibu mengangguk, "Ibu akan sedih kalau kau tidak mendapat hadiah yang layak untuk ulang tahunmu yang ke delapan belas."
"Benar, delapan belas tahun adalah usia yang sakral. Tak boleh dilewatkan," kata Nenek, mendukung Ibu.
"Kalau begitu ... boleh aku dapat apel untuk ulang tahunku?" tanyaku.
Ibu mengangguk lalu berseru, "Oke! Apel untuk ulang tahunmu, Ibu setuju!"
***
Ada satu hal yang mengganggu pikiranku sejak tadi malam. Membuatku tidak tidur nyenyak di malam hari dan tidak cukup fokus di siang hari. Bahkan materi sel dan genetika yang dibawakan oleh Mister Reeves pun terasa membosankan.
Mataku teralihkan pada area lututku. Jumpsuit-ku yang masih diwarnai noda darah karena belum dicuci itu adalah bukti bahwa aku memang benar-benar jatuh dan terluka kemarin. Fenomena hilangnya luka dari lututku benar-benar membuatku bingung dan penasaran. Terasa seperti nyata, tapi juga terasa tidak mungkin seperti mimpi.
"Apa mungkin aku tidak terluka kemarin? Apa aku hanya jatuh dan tanpa sengaja terkena noda darah yang memang sudah ada di tanah?" desahku pada diri sendiri.
Konsentrasi-ku kembali utuh ketika Mister Reeves memanggil namaku, "Griselda Brave?"
"Hadir, Mister." Aku mengangkat tangan tinggi-tinggi.
Mister Reeves berjalan mendekatiku. Mata robotnya yang berwarna biru seolah memindaiku dari atas ke bawah lalu kembali lagi ke atas.
"Tolong jelaskan kembali apa yang saya jelaskan," ucap Mister Reeves.
Mataku melirik ke sepenjuru ruangan yang menatap ke arahku. Bibirku beku, begitu pula dengan otakku. Tak sedikitpun mengingat apa yang Mister Reeves paparkan sedari tadi.
"Bagus, kau tampaknya tidak mendengarkan apa-apa hari ini," ucap Mister Reeves. "Silakan keluar dan bantu petugas kebersihan di aula."
Aku tersenyum getir lalu menundukkan kepala. Rasanya cukup memalukan diusir dari kelas. Dengan langkah penuh penyesalan, aku keluar dari kelas.
Aula terletak di lantai sepuluh, bagian tengah sekolah. Aku naik menggunakan elevator karena kelasku berada di lantai satu. Tak lupa mengenakan sabuk pengaman yang menempel di dinding elevator. Butuh satu detik untuk sampai di lantai sepuluh. Setelah itu aku langsung menuju area aula. Tentunya setelah melalui alat pemindai identitas.
"Permisi, saya Griselda Brave dari kelas 3 A sains, apa kira-kira ada yang bisa saya bantu?" tanyaku pada Miss Jay, ketua dari robot pembersih yang ada di sana.
"Dihukum?"
Aku mengangguk.
"Mister Reeves?"
Aku mengangguk sekali lagi.
Miss Jay tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya, kemudian menunjuk tumpukan kursi tidak terpakai yang ada di pojok aula.
"Tolong pindahkan kursi-kursi itu ke basement," katanya. Setelah mengatakan itu, Miss Jay sendiri menuju basement untuk membersihkan debu yang disedot masuk ke dalam tubuhnya.
Mendengar perintahnya saja membuatku nyaris pingsan. Disuruh memindahkan kursi dari lantai sepuluh ke basement bahkan terlalu melelahkan hanya dengan dibayangkan.
Ada lima belas buah kursi besi. Masing-masing kursi bisa dilipat menjadi dua kemudian memiliki pengait untuk dikaitkan dengan kursi lain, memudahkan untuk dibawa.
Aku mencoba mengangkat salah satu kursi. Tak begitu buruk ternyata. Kursi besi itu bisa dibilang seringan kapas. Maka dari itu aku melipat semua kursi dan mengaitkannya jadi satu. Mengangkatnya dalam satu hembusan napas dan membawanya keluar aula.
Begitu sampai di elevator, aku meletakkan kursi menempel di dinding kanan elevator dan memakaikan sabuk pengaman pada diriku sendiri. Ketika elevator sampai di area basement, aku kembali mengangkat kursi-kursi besi itu, dan membawanya ke gudang.
Miss Jay yang ternyata juga ada di gudang melihatku dengan matanya yang lebar. Tampak terkejut seperti melihat sesuatu yang tidak beres.
Aku meletakkan kursi di gudang lalu bertanya pada robot itu, "Ada apa, Miss? Apakah ada lagi yang perlu kukerjakan?"
"Tidak ... bukan begitu. Hanya saja ... apa kau membawa semua kursi dalam sekali jalan?" tanya Miss Jay.
"Tentu. Semuanya seringan kapas," jawabku bangga.
"Bagaimana mungkin?" Miss Jay tak percaya. Aku juga jadi bingung dengan perkataannya.
Miss Jay lalu menyeret salah satu kursi besi yang baru saja kubawa, meletakkan kursi dalam posisi terbalik, lalu menunjuk salah satu pojok kursi.
"Lihat tulisan ini," ucap Miss Jay.
Aku lalu menatap lekat-lekat apa yang ia tunjuk. Sebuah tulisan yang dicetak timbul di besi.
"Satu kursi ini memiliki berat lima kilogram. Kau membawa sebanyak lima belas kursi yang berarti tujuh puluh lima kilogram. Bagaimana mungkin? Dengan tubuhmu yang kecil begitu?" lanjut Miss Jay.
Setelah mendengarkan penjelasannya, aku mencoba mencari penjelasan paling masuk akal untuk diriku sendiri maupun Miss Jay. Namun akalku seperti hilang ditelan bumi. Bagaimana mungkin tujuh puluh lima kilogram terasa seringan kapas di tanganku? Tidak masuk akal.
***
Aku mengamati kedua tanganku. Kata Nenek, tanganku adalah tangan paling mungil yang pernah ia lihat. Lebih mungil dari tangan ibu ataupun milik Nenek sendiri. Rasanya agak tak masuk akal tangan semungil ini mengangkat tujuh puluh lima kilogram tanpa kesulitan.
Aku juga bukan tipe manusia yang gemar berolahraga dan melatih tubuh. Lagipula olahraga semacam itu hanya tersedia untuk orang-orang kelas A. Keluarga kami terlalu tidak mampu untuk membayar fasilitas semewah itu.
Aku jadi teringat kembali mengenai luka di lututku yang menghilang tanpa jejak bagai kisah mengenai peradaban Atlantis yang juga hilang ditelan bumi. Instingku sebagai manusia mulai menghubung-hubungkan hilangnya luka itu dengan kekuatanku yang tak masuk akal.
"Apa jangan-jangan aku berubah jadi pahlawan super?" gumamku.
Ketika aku kecil dulu, Nenek seringkali bercerita tentang dongeng pahlawan super. Cerita tentang Superman, Spiderman, sampai Iron Men. Ketiganya adalah manusia sebelum berubah jadi pahlawan super. Apakah ada kemungkinan aku juga?
"Sadarlah, Gris! Itu semua fiksi!" ucapku, menyadarkan diri sendiri.
Eksistensi pahlawan super hanyalah bagian dari dongeng dan rekaan belaka. Belum ada bukti nyata yang bisa disaksikan dengan mata kepala. Lagipula kalaupun ada pahlawan super, kenapa harus aku yang terpilih? Banyak orang-orang yang lebih kompeten di luar sana untuk jadi pahlawan super. Aku hanya remaja tak berdaya, terpilihnya aku jadi pahlawan super adalah sesuatu yang tidak masuk akal.
"Ya, Miss Jay pasti salah. Tidak mungkin kursi seringan itu punya berat lima kilogram."
"Griselda Brave?" panggil penjaga perpustakaan, memecah lamunanku.
"I-iya, Madam?" aku menatap orang yang berdiri di hadapanku. Kami dipisahkan oleh meja setinggi d**a namun tatapan kesalnya berhasil sampai ke diriku.
"Apa yang kau pikirkan? Aku sudah memanggilmu tiga kali tapi kau baru menjawab?" tanyanya dengan nada agak kesal.
Aku hanya tersenyum sungkan. Tidak mengutarakan pikiranku karena siapa juga yang akan percaya. Setelahnya penjaga perpustakaan itu menyerahkan kembali gadget milikku kepadaku.
"Aku sudah masukkan buku yang kau mau. Jangka pinjamnya satu pekan. Denda bila terlambat mengembalikan," ucapnya.
"Baik, terima kasih."
Aku langsung keluar dari antrean dan mengecek dua buku elektronik yang dipinjamkan padaku. Satu buku untuk k****a sendiri dan satu lagi untuk Nenek. Ia memang sudah berpesan sebelum aku berangkat sekolah tadi pagi, agar aku meminjamkan buku untuk ia baca.
Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pundakku. Tangan milik Stacey. Senyum di wajahku seketika hilang, digantikan oleh rasa takut.
Ya, meski ibu dan nenekku tidak tau, nyatanya aku adalah seorang pecundang. Dirundung terus-menerus, bahkan harus mengorbankan uang jajanku untuk membayar 'uang keamanan' setiap minggunya hanya agar bisa bernapas dengan nyaman di sekolah.
"B-b-bukankah aku sudah bayar kemarin?" ucapku terbata.
"Oh, tentu! Santai saja, Gris! Aku cuma mau bilang, selamat ulang tahun," katanya. Jelas ucapan itu bukanlah sesuatu yang tulus. Hanya ejekan yang digunakan untuk mengolok-olokku. "Apa yang akan kau makan di hari ulang tahunmu? Ah ... AlgaCan rasa kue ulang tahun? Hahaha."
Aku tak bisa menyembunyikan ketidaksenangan di wajahku. Stacey yang bisa membacanya lalu melepaskan rangkulan di pundakku.
"Ah, dasar tidak menyenangkan! Apa itu karena kau tidak punya Ayah? Makanya kau membosankan? Hahaha."
Ia lalu pergi bersama teman-temannya. Meninggalkanku yang merasa kesal setengah mati.
Aku keluar perpustakaan dengan keadaan marah. Salah satu hal yang paling kubenci di dunia ini adalah fakta bahwa aku tidak punya Ayah. Kata Ibu, ia meninggal ketika aku masih bayi. Itulah mengapa aku membencinya. Aku benci karena ia harus meninggal begitu cepat dan membuatku jadi bahan lelucon.
Aku berjalan cepat, tanpa sengaja menabrak bahu orang-orang yang berjalan berlawanan. Mataku basah, dipenuhi air. Rasanya sesak meski aku mencoba melupakan perkataan Stacey.
Brak! Aku menabrak seseorang bertubuh besar sampai tubuhku terpelanting ke depan. Tubuhku bertumpu pada telapak tanganku yang bergesekan dengan trotoar.
"Hei, pakai matamu untuk berjalan!" ujarnya marah.
Aku menundukkan kepala, bahkan tak bisa meminta maaf dengan benar.
Telapak tanganku yang menyentuh trotoar berdarah, terasa perih menusuk-nusuk. Aku berdiri dengan air mata yang sudah membanjiri pipi kemudian memutuskan untuk mampir di toilet publik, sekadar menenangkan diri.
Aku menatap penampilanku yang kacau di cermin. Kemudian menghapus air mata yang membuat pipiku tampak sedikit bengkak dan mengambil botol minum dari tasku untuk membasuh luka. Aku menyiram lukaku dengan air sampai darahnya menghilang. Namun secepat kilat, aku melihat luka di tanganku menutup dengan sendirinya seperti tanah liat yang saling direkatkan. Tak meninggalkan bekas, kembali baru seperti semula.