Proyek Herakles

2043 Words
"Panggil saja aku Profesor Song. Tak perlu basa-basi lagi, akan mulai aku jelaskan tentang Herakles," ucap laki-laki berambut abu-abu itu begitu kami masuk ke dalam ruang diskusi. Ruang diskusi itu tak begitu luas. Ada meja bundar di bagian tengah, dikelilingi oleh kursi-kursi. Profesor Song berdiri tak jauh dari kursi itu dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya yang robek-robek menampakkan sebagian kulitnya. Persis seperti gambaran mafia di film-film. "Herakles adalah nama manusia setengah dewa keturunan Zeus, sang raja dari semua dewa, dan seorang manusia bernama Alkmene. Nama aslinya Alkides dan dikenal juga sebagai Herkules. Dia mengubah namanya jadi Alkides menjadi Herakles yang berarti kejayaan Hera untuk menghilangkan kebencian dari Hera yang merupakan istri sah Zeus," kata Profesor Song. Aku mengernyit. Cukup terkejut karena gambaran besarnya sama seperti kata-kata Asahi alias Arthur. Aku baru sadar seberapa cerdasnya orang itu. Atau mungkin aku yang terlalu bodoh untuk paham mengenai hal seperti ini. "Herakles adalah lambang kekuatan, kecerdikan, dan keberanian. Disebut juga sebagai pahlawan yang menjadikan dunia aman bagi manusia. Itulah mengapa delapan belas tahun lalu, didirikan sebuah proyek bernama Proyek Herakles," papar Profesor Song. Profesor Song menyalakan sebuah video pada layar 8D sehingga tampak seperti nyata bersama kami. Tampak sebuah laboratorium besar dengan bayi-bayi yang ada dalam ruang inkubasi. "Proyek Herakles didirikan dengan tujuan untuk menciptakan dunia dan manusia yang jauh lebih baik. Merupakan proyek rekayasa genetik yang menggunakan sekitar 1000 pasang sel s****a dan sel telur dari 1000 pasangan dari seluruh dunia. Sel s****a dan sel telur ini digabungkan lalu diberi intervensi berupa rekayasa genetik sehingga proses regenerasi luka lebih cepat dan punya kapasitas fisik yang lebih besar dibandingkan manusia normal," lanjutnya. Kini aku paham kenapa lukaku bisa sembuh sendiri secepat itu. Aku juga mengerti kenapa tubuhku jadi lebih kuat dibandingkan dulu. "Proyek ini diinisiasi atas keinginan Presiden Judy untuk menekan angka kesakitan dan kematian pada manusia. Namun setahun setelah proyek ini berjalan, Presiden Judy meninggal dunia dan digantikan oleh Presiden Dew yang menjabat sampai sekarang. Presiden Dew menilai bahwa proyek ini melanggar batas-batas manusia dan memerintahkan pemusnahan besar-besaran. Dari 1000 pasang sel s****a dan sel telur, ada sekitar 300 yang berhasil sampai dilahirkan. Presiden Dew memerintahkan pasukan Penjaga Perdamaian Dunia untuk memusnahkan bayi-bayi yang berhasil, juga semua anggota keluarga dan siapapun yang terlibat dalam proyek ini. Sebanyak kurang lebih 25 bayi bisa diselamatkan. Namun yang tersisa sekarang hanya 10 orang. Kalian adalah salah satunya. Ada yang mau ditanyakan?" papar Profesor Song. Aku mulai memahami arti semua ini. Setidaknya gambaran besarnya. Kalau memang aku adalah bagian dari proyek yang harus dihancurkan, maka semua yang terjadi padaku masuk akal. "Tapi mengapa setelah sekian lama mereka baru mencari kami?" tanyaku. "Karena bayi-bayi yang terselamatkan akhirnya disuntikkan jam biologis yang menahan agar kekuatan kalian tidak terdeteksi. Namun jam biologis itu punya waktu, makanya sekarang kalian baru bisa merasakan perubahan pada diri kalian. Para Penjaga Perdamaian Dunia tak pernah berhenti mencari kalian, hanya saja kalian yang baru terdeteksi di peredaran." Kemudian layar 8D itu menunjukkan pasukan Penjaga Perdamaian Dunia dan alat berbentuk tembak yang mereka bawa untuk mendeteksi orang-orang. Alat yang berubah merah ketika memeriksaku. "Alat ini adalah alat yang digunakan untuk mendeteksi Herakles. Cara kerjanya dengan deteksi genetik. Ketika efek jam biologis habis, akhirnya kekuatan kalian muncul. Tidak bersamaan tapi dalam waktu yang hampir sama. Dalam waktu satu pekan, akhirnya 5 orang tertangkap dan dibunuh saat itu juga. Hanya tersisa 5 orang Herakles di dunia ini, termasuk kalian." Penjelasan Profesor Song jelas membuka mata dan pikiranku. Menyadarkan betapa dekatnya aku dengan kematian hanya karena kekuatan yang aku miliki. "Menurut ceritanya, Herakles memiliki tugas yang disebut sebagai Dua Belas Tugas Herakles. Setelah semua yang terjadi, Herakles kini punya tugas khusus. Bukan sekadar jadi manusia yang lebih dari manusia lainnya," ucap Profesor Song. Profesor Song melemparkan liontin dan kompas ke atas meja. Sepertinya milikku dan Asahi. Seketika aku baru ingat kalau aku memang belum melihatnya setelah memasuki tempat ini. "Tiap Herakles yang selamat diberi alat pelacak khusus dengan transmisi tanah yang tidak bisa terdeteksi oleh pemerintah. Itulah mengapa alat ini hanya bisa aktif ketika kalian sudah memasuki domain ini. Alat ini akan melacak keberadaan sesama Herakles kalau diaktifkan. Apa ada lagi yang perlu aku jelaskan? Aku sudah lelah," ucapnya agak jutek. Namun aku tak peduli meski Profesor Song lelah. Aku punya pertanyaan yang tak bisa aku tunda. "Lalu ... apakah kau tau kira-kira dimana keluargaku?" Ia tertawa kemudian mendelik ke arahku, tampak kesal. "s**l, harusnya aku biarkan saja kau dimusnahkan waktu itu. Buat apa intervensi genetik kalau berpikir tentang hal ini saja kau tidak bisa? Menurutmu setelah semua yang terjadi, kemanakah keluargamu pergi?" Meski tidak kontak fisik, rasanya aku seperti ditampar. Kata-katanya yang tajam dan kasar itu persis seperti orang-orang jahat yang ada di film. Namun itu juga menyadarkanku, bahwa sudah jelas jawabannya nenek dan ibu serang berada di tangan yang salah. "Tanyakan sesuatu yang lain!" ujarnya. "Tugas, tugas apa yang dimaksud?" Asahi alias Arthur akhirnya buka mulut. "Pertanyaan bagus, tapi mulutku sudah terlalu lelah untuk bicara. Akan kuberitahu ketika anggota kelima sudah tiba. Seharusnya tak lama lagi. Sekian, kita akhiri diskusi malam ini." Profesor Song pergi meninggalkan ruang diskusi begitu saja. Sementara aku masih terduduk diam di kursi yang kududuki. Pikiran soal ibu dan nenek memenuhi seluruh ruang otakku. Ruby memegang tanganku. Ia menatapku iba. "Profesor Song memang agak kasar, tapi dia orang yang baik sebenarnya," ucap Ruby menghiburku. Aku hanya mengangguk. Memang benar, sedikit banyak perkataan Profesor Song yang kasar cukup menggangguku. Namun aku berusaha untuk tak memasukkannya ke dalam hati. Sakit hati hanya akan membuang-buang waktu. "Baiklah, setelah dapat penjelasan besarnya, kami akan mengajak kalian tur!" ujar Ruby bersemangat. Romy merespon dengan anggukan. *** "Ini adalah air terjun yang jadi sumber semua air bersih di tempat ini. Selain itu tenaganya juga dimanfaatkan untuk listrik," kata Ruby. Air terjun yang sedari awal menarik perhatianku itu ternyata memang sehebat itu. "Tunggu ... bagaimana bisa menciptakan semua ini?" tanyaku. "Profesor Song adalah ilmuwan. Dia juga pernah bekerja di Departemen Ilmu Pengetahuan Alam yang jadi pusat penelitian untuk budidaya kekayaan hayati." "Bukannya budidaya keanekaragaman hayati dilakukan di Departemen Pertanian?" tanyaku. "Departemen Pertanian itu seperti pelaksananya, tapi otaknya ada di Departemen Ilmu Pengetahuan Alam." Menarik. Ternyata apa yang aku pelajari di sekolah bukanlah segalanya. Ruby dan Romy kemudian membawa kami ke tempat dengan pohon besar dan tanaman-tanaman hijau di sekitarnya. Tempat yang tampak dari kamarku. "Ini adalah pusat dari tempat ini. Profesor Song menyebutnya sebagai poros kehidupan," kata Romy. "Wah ... aku tak pernah menyangka akan melihat yang begini dengan mata kepalaku sendiri," kataku kagum. Ruby tertawa. "Sama, aku juga." Bicara soal Ruby, ia benar-benar terlihat seorsng berbeda dari yang kutemui pertama kali. Ia tidak terlihat menyeramkan seperti ketika mengejar dan menusukku dengan anak panahnya waktu itu. Ia tampak ramah dan terlihat cukup normal seperti remaja seusiaku. "Sebenarnya masih banyak tempat lagi yang belum kami tunjukkan. Ada beberapa peternakan, perkebunan, akuarium ikan, dan tempat hewan liar. Mungkin lain waktu, sudah terlalu malam sekarang. Saatnya kalian beristirahat karena besok sepertinya akan jadi yang panjang," kata Ruby. Akhirnya kami bergegas kembali ke kamar masing-masing. Sebelum aku masuk ke kamarku, Ruby tiba-tiba menepuk bahuku. "Hei, maaf karena aku mengejar dan memanahmu waktu itu. Namun kalau tidak begitu, kau dan anak itu akan kabur begitu saja." Aku mengangguk. "Tentu, aku akan memaafkanmu." *** Fur Elise adalah yang pertama kali aku dengar setelah bangun tidur. Tidak, ralat, bahkan sebelum aku bangun, bunyi terompet yang memainkan lagu Fur Elise dari Beethoven itu sudah memaksa masuk ke telingaku. "s**l," desahku kesal. Suara terompet itu memenuhi ruangan sampai rasanya telingaku mau meledak. Segera aku keluar dari kamarku, melarikan diri. Ruby, Romy, dan Arthur juga sedang berdiri di depan kamarnya masing-masing sambil memegang pembatas besi. Tampak setengah tersadar dengan mata dan wajah yang bengkak serta rambut yang berantakan. "Dasar manusia kejam! Dia selalu saja membangunkan kita sepagi ini! s****n!" ujar Ruby, bahkan memaki. Ruby dan Romy kemudian berjalan mendahului. Aku dan Arthur mengikuti. Mereka masuk ke dalam sebuah ruangan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Ruangan itu terbuka otomatis dengan pintu yang membuka ke atas. Bagian dalam ruangan itu penuh dengan s*****a. Berbagai macam s*****a mulai dari pistol, panah, berbagai macam pedang yang aku tak tau namanya, bahkan bumerang dan masih banyak lagi. "Pilih satu yang kalian mau," kata Ruby santai. Ruby mengambil panah dan anak panahnya, seolah itu memang sudah jadi miliknya sejak lama. Romy mengambil pedang dengan gagang berbentuk naga. Aku melirik ke arah Arthur, ia tanpa ragu mengambil pistol. Sementara aku kebingungan sendiri. Tak ada s*****a yang aku kuasai. Arthur lalu menyodorkan alat kejut listrik padaku. "Hah?" Ia tak menjawab, hanya menyodorkannya satu kali lagi. Setelah diterima, ia malah pergi mengikuti Romy dan Ruby. Ya, benar juga. Meski aku tak bisa menggunakan s*****a lainnya, setidaknya aku bisa menyetrum orang lain untuk pertahanan diri. Tinggal pencet tombolnya saja. Aku memasukkan alat itu ke dalam sakuku dalam keadaan mati. Setelahnya aku berlari mengikuti yang lainnya. Ternyata kami menuju ke bagian paling atas bangunan ini. Sebuah lapangan lepas landas untuk helikopter. Ada dua helikopter di sana. Tampak Profesor Song sudah berdiri di depan helikopter itu sambil melipat tangannya di depan d**a. "Cepat!" pekiknya. Aku dan Arthur mengikuti Romy serta Ruby yang berlari lalu masuk ke dalam helikopter. Ruby membantuku memasang sabuk pengaman dan juga alat peredam bising untuk melindungi telinga, lewat alat itu juga kami bisa mendengar satu sama lain. "Itu pilot kita, Gris! Namanya Dokter Heller, asisten Profesor Song," kata Ruby. Laki-laki yang disebut sebagai Dokter Heller itu mengangkat tangannya sebagai tanda bahwa ia menyapa dan menyambut kami. Setelah semua orang masuk dan siap di tempatnya masing-masing, Profesor Song masuk dan duduk di kursi samping pilot. "Tak bisakah kau sedikit manusiawi, Prof?" ucap Ruby sebagai bentuk protes karena dipaksa bangun terlalu pagi. Matahari bahkan belum terbit sepenuhnya. "Tak bisakah kau menutup mulutmu?" sahut Profesor Song kasar, sepertinya kasar memang sudah jadi kebiasaannya. Aku tak perlu terlalu terkejut. Helikopter kemudian berangkat, terbang menjauhi tanah. Membawa kami entah kemana. "Tidurlah, Anak-anak! Perjalanan kita hari ini akan cukup panjang," kata Dokter Heller. Semua orang menurutinya, kecuali aku yang terpikat oleh indahnya langit saat ini. Aku bisa melihat matahari yang mulai menyembulkan sinarnya malu-malu, jauh di sana. Berpadu dengan langit biru tanpa awan. Meski langit tak sebiru yang aku pelajari di materi sejarah, tapi aku merasa langit kami tak kalah cantik dengan langit yang dilihat orang-orang jaman dulu. Langit juga punya pesonanya sendiri. Nenek selalu bilang bahwa apa yang bernilai tak akan berubah meskipun tampilan luarnya berubah. Sama seperti langit. Nilainya juga tak berubah meski penampilannya sedikit lain. Ini adalah pertama kalinya aku naik helikopter. Pertama kalinya aku terbang, jadi semua terasa menakjubkan. Bahkan bangunan-bangunan yang tampak kecil dari atas sini berhasil menarik perhatianku. Mereka tampak seperti miniatur. Beberapa menit kemudian mataku terasa berat. Kantuk menguasai, membawaku bertamasya sebentar ke alam mimpi. *** "Bangun, s****n! Aku membawa kalian bukan hanya untuk tidur!" Profesor Song berteriak sampai membuatku kaget dan terbangun otomatis. Begitu aku membuka mata, ternyata kami sudah mendarat di tanah. Tepatnya di tengah-tengah sebuah kota terbengkalai yang tak ada penghuninya lagi. Domain Pasifik 2 memang terkenal sebagai domain paling mati karena populasinya sedikit. Banyak kota-kota yang rusak dan ditinggalkan oleh penghuni aslinya. "Cari titik merah sesuai dengan yang ada di alat pelacak kalian! Bawa dia apapun kondisinya! Mengerti?" jelas Profesor Song. "Mengerti!" Semua orang bergegas keluar dari helikopter kecuali Dokter Heller. "Mari kita berpencar!" ujar Romy. Akhirnya kami berpencar. Menurut keterangan Ruby, kami akan mencari anggota kelima Herakles yang sudah ada di domain ini. Lokasinya sudah terdeteksi. Kami hanya tinggal mencari dan membawanya ke markas, dengan apapun caranya. Aku berkeliling, mengitari kota mati ini. Sama sekali tak berniat mencari siapalah itu. Lagi pula aku tak bisa bela diri seperti Ruby dan Romy. Orang itu hanya akan lari setelah melihatku. Tepat di depanku ada Namsan Tower, salah satu bangunan ikonik yang pernah nenek ceritakan. Katanya, di tempat ini ada lokasi untuk menyimpan gembok yang biasanya berisi nama dan harapan pasangan-pasangan kekasih untuk mendoakan hubungan mereka. Sayangnya, perang dunia ketiga membuat tempat ini hancur. Namsan Tower yang kata nenek gagah itu juga sudah sangat miring bangunannya dengan kerusakan di sana-sini. "Ketemu!" Suara Romy terdengar dari alat komunikasi kami. Aku bergegas kembali ke tempat helikopter tadi. Romy juga baru tiba, ia menggendong seseorang di punggungnya. Orang itu tak sadarkan diri, lalu digeletakkan di tanah untuk sementara. Wajahnya tampak familiar, begitu pula penampakannya. "Harvey Jarvis?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD