Wonderland

2069 Words
Situasi ini adalah situasi yang cukup sulit dimengerti oleh akal. Setidaknya bagiku. Setelah dikejar-kejar, bahkan dipanah, dan diikat di kursi seperti sedang disiksa, kini mereka bertingkah ramah. Menyambut kami seperti menyambut anggota keluarga. Rasanya aneh. "Namaku Ruby Marionette Yoo. Kau bisa memanggilku Ruby," kata perempuan itu setelah melepaskan ikatan rantai di tangan dan kakiku. Ia tersenyum lebar sampai matanya yang sipit tertutup rapat. Ia adalah perempuan yang memanahku di antara gunung-gunung limbah tadi. Meskipun aku tidak mati karenanya, tapi aku merasa tindakannya yang tadi menunjukkan bahwa perempuan di depanku ini berbahaya. Namun sikapnya yang sekarang malah berkebalikan. Ia menimbulkan kesan bahwa ia tidak berbahaya. Sungguh dualitas yang membingungkan. Perempuan itu berkulit putih dengan mata sipit seperti kucing dan rambut panjang berarna hitam dengan gradasi biru di bagian bawahnya. Warna rambut yang amat mencolok dan menunjukkan karakternya yang berani tampil beda. Badannya tinggi dan atletis "Kalau aku Romy. Romy Mario Yoo," ucap laki-laki muda yang satunya. Laki-laki itu juga bermata sipit, batang hidungnya mancung, dan berambut hitam sebahu. Karakteristik khas di wajahnya adalah tahilalat di bawah mata kirinya. Bentuk tubuhnya juga atletis, lebih tinggi lagi dari si perempuan. Mungkin sekitar 6 kaki lebih. Aku hanya menganga seperti orang bodoh ketika mereka memperkenalkan diri. Menunjukkan bahwa situasi ini benar-benar membingungkanku. Aku tak tau siapa dan apa yang harus percaya. Aku bahkan belum tau Herakles itu apa. Aku melirik laki-laki yang mengaku bernama Asahi--atau siapalah namanya--, itu tampak tak terganggu dan ekspresi wajahnya sama sekali tak berubah. Lagi-lagi aku tak bisa menebak apa yang ada dalam pikirannya. "Pasti kau masih kaget dengan apa yang terjadi," kata Ruby, "Tak apa, aku dulu juga begitu. Mari kami antar ke kamar kalian masing-masing." Mereka berjalan mendahului, keluar ruangan yang besar, remang-remang, dan dingin ini. Begitu kami keluar, rasanya seperti masuk ke dunia lain yang tak pernah aku kenal sebelum ini. Mungkin begini perasaan Alice ketika masuk ke Wonderland. Kami berada di sebuah gedung besar yang terdiri dari beberapa lantai, mungkin sekarang aku berada di lantai ketiga. Lantainya terbuat dari besi mahal yang berlubang-lubang kecil sehingga kami bisa mengintip orang yang ada di bawah. Namun yang membuatku takjub dan menganga lebar adalah penampakan air terjun yang mengalir dari atap sampai ke lantai paling dasar. Ada kolam besar di sana. Warna airnya jernih, seperti air bersih. Udara juga terasa lebih segar. Benar-benar seperti Wonderland untukku sendiri. Akan masuk akal kalau ini cuma halusinasiku saja, hanya saja tidak. Semua ini nyata. "Iya, itu air bersih," kata Ruby, seolah bisa membaca pikiranku. "Dulu kami juga bertanya-tanya begitu ketika baru di sini," sahut Romy. Kami sampai di sebuah persimpangan, kanan dan kiri. Romy dan Ruby berhenti di tengah-tengah, kami mengikuti. "Kau, mari ikut aku," kata Romy pada Asahi. "Griselda, silakan ikuti Ruby." Romy dan Asahi--atau Arthur--berbelok ke sebelah kiri, sementara aku dan Ruby berbelok ke sebelah kanan. Di ujung belokan itu buntu, ada sebuah ruangan besar yang tertutup pintu hitam. Ruby membuka pintu itu dengan sidik jarinya, lalu memintaku masuk, "Keluarlah ketika sudah selesai." Aku mematung karena tak mengerti apa maksudnya. Ruby mendorongku masuk kemudian menutup pintunya. Ia bahkan tak mengijinkan aku bertanya. Ruangan itu tidak begitu besar, tapi ada sebuah tabung transparan seukuran tubuh manusia dewasa yang entah buat apa. Kemudian ada perapian juga di bagian sebelah kanannya. Aku maju beberapa langkah untuk melihat-lihat, tapi langkahku berhenti karena tiba-tiba lampu berwarna merah menyorot ke arahku dari bawah sampai ke atas, seperti laser. Setelahnya lampu ruangan berubah warna jadi hijau. "Selamat datang, Herakles 100799, Griselda Brave, 18 tahun, Domain Hindia! Silakan untuk melepaskan pakaian dan membuangnya di perapian." Karena aku kaget, suara tanpa wujud itu mengulang perkataannya hingga tiga kali. Aku menoleh ke sekitar, memastikan tidak ada kamera pengintai atau lain sebagainya. Setelah memastikan semuanya aman, aku melucuti pakaianku sendiri hingga benar-benar tak memakai apa-apa. Bahkan ikat rambut yang ada di kepalaku. Kemudian aku mendekat ke arah perapian sambil memeluk pakaianku. Aku adalah orang yang cukup terikat dengan barang-barang yang aku miliki. Untuk membakar pakaianku saja rasanya berat. Aku menatap jumpsuit-ku dengan iba, seolah merasa bersalah karena harus membuangnya setelah memakainya kesana kemari. Namun suara itu mengulang berkali-kali perkataannya. Ia tak akan diam sebelum kulakukan apa perintahnya. Aku melemparkan pakaianku ke perapian. Menanggalkan rasa bersalah karena bagaimanapun, kehidupan harus tetap berjalan. Aku harus belajar jadi kuat, tak bisa berhenti hanya karena merasa kasihan. Percikan api membakarnya dengan cepat, menyebar dari satu bagian ke bagian lain. Geraknya meliuk-liuk seperti sedang menari. "Terima kasih sudah mengikuti instruksi dengan baik. Selanjutnya, silakan masuk ke dalam kapsul untuk proses desinfeksi." Kapsul yang ia maksud mungkin adalah kapsul transparan yang ada di depanku ini. Meski tak tau apa yang akan terjadi, nyatanya aku melangkah maju untuk masuk ke dalam sana tanpa ragu lagi. Aku telah melalui banyak hal. Bahkan hampir mati beberapa kali. Sepercik keraguan tak bisa menakutiku lagi. Pintu terbuka otomatis. Aku masuk ke tabung yang tak punya banyak ruang gerak itu. "Silakan tutup mata dan silangkan tangan di depan dada." Suara itu memberi instruksi lagi. Aku menurutinya. Beberapa detik kemudian sesuatu menyemprot dari berbagai arah, seperti air tapi juga seperti udara. Menghantam tubuhku yang mungil ini. Ia menyemprot ke seluruh tubuhku tanpa ada yang terlewat. Rasanya dingin menyegarkan. Setelahnya, tubuhku disemprot lagi dengan sesuatu yang wangi sekali. Teksturnya lebih kental dan lebih licin dibanding semprotan sebelumnya. Kemudian tubuhku disemprot lagi dengan cairan-cairan lain hingga tiga kali banyaknya. Aku mengintip lewat celah-celah mataku, ada bulir-bulir bulir air menempel di tubuhku. Sesaat setelahnya, tekanan di dalam kapsul berubah hingga sisa-sisa air yang ada di tubuhku tertarik keluar dan menghilang. Tubuhku kering bahkan tanpa perlu dilap menggunakan kain. Tiba-tiba dinding yang ada di belakang kapsul terbuka. Naik ke atas secara otomatis dan memberiku akses ke dalam ruangan lain yang semuanya serba putih bersih. "Silakan gunakan pakaian yang disediakan." Instruksi itu muncul lagi. Tepat di tengah ruangan ada sebuah meja yang juga berwarna putih. Selembar pakaian berwarna hitam ada di sana serta sepasang sepatu hitam di sampingnya. Aku meraih pakaian itu dengan tanganku. Seperti sebuah jumpsuit namun ukurannya sangat besar. Mungkin lima kali ukuran tubuhku. Aku memakai jumpsuit yang terlalu besar itu. Ajaibnya, pakaian itu menyusut mengikuti bentuk tubuhku. Terasa benar-benar pas seperti menjelma jadi kulit kedua. Aku menyentuh pakaian yang melekat di tubuhku itu. Terasa halus tapi juga kuat. Terasa lentur tapi juga tegas. Nyaman dan fleksibel. Aku juga memasang sepatu di kedua kakiku. Rasanya nyaman. Terlalu nyaman. Bahkan kakiku bisa menekuk dan sepatu itu mengikuti, saking lenturnya. "Terima kasih sudah mengikuti proses desinfeksi dengan benar. Silakan keluar dan beristirahat dengan tenang. Sekali lagi, selamat datang, Herakles 100799!" Pintu yang ada di sisi berlainan dari tempatku masuk tadi akhirnya terbuka. Aku keluar dari sana. Ada Ruby yang ternyata sudah ada di sana. Juga Romy dan Asahi alias Arthur. "Kau memakan waktu cukup lama," kata Ruby. Aku hanya meringis. Mungkin karena aku terlalu penasaran dan bergerak lambat, makanya aku selesai dalam waktu yang cukup lama. Kami kemudian melanjutkan perjalanan. Berbelok berkali-kali, bahkan naik tangga dua kali. Tak begitu lama, kami sampai di sebuah lorong dengan bilik-bilik di sepanjang jalannya. Pada pintu bilik nomor satu, tertulis nama Ruby di sana. Pada bilik nomor dua, ada nama Romy. Sementara bilik-bilik lainnya masih kosong. Romy mengantarkan Asahi ke bilik ketiga. Sementara Ruby mengantarku ke bilik keempat. "Pindai sidik jari dan retinamu di sini." Ruby menunjukkan alat pemindai yang tertempel di dinding samping pintu. Aku mendekatkan mataku ke alat pemindai itu, kemudian menempelkan kedua tanganku dengan posisi kesepuluh jari yang merenggang. "Selamat datang, Herakles 100799. Teridentifikasi sebagai Griselda Brave, 18 tahun, Domain Hindia." Alat itu mengeluarkan suara. Setelahnya pintu terbuka otomatis. Memberiku akses untuk masuk ke ruangan yang amat besar dengan kasur serta kamar mandi pribadi di dalamnya. Amat mewah sampai aku merasa sedang berada di dunia lain. "Selamat beristirahat!" ujar Ruby. Aku menahannya. "Tunggu! Banyak yang ingin aku tanyakan!" "Nanti saja. Istirahat dulu. Nanti ketika makan malam, Profesor sendiri yang akan menjelaskannya," kata Ruby, "Ah, iya! Kalau mau keluar, tempelkan saja tanganmu di sini." Ruby menunjuk mesin pemindai yang ada di sebelah pintu. Lalu memindai tangannya sendiri dan keluar dari ruangan ini. Aku ditinggal sendiri. Ada sebuah jendela besar di bagian pojok ruangan, mengarah keluar dan ditutup tirai berwarna abu-abu. Di luar jendela itu, tampak pemandangan hijau yang membuatku terkagum-kagum. Sebuah pohon besar di tengah, dikelilingi oleh tanaman-tanaman kecil di sekitarnya, disertai bunga yang beraneka warnanya. Seperti melihat satu halaman dari sebuah materi sejarah. Gambaran dunia jaman dulu, sebelum perang dunia ketiga dan bencana melanda. Mataku tak bisa lepas dari sana. Terpikat dengan keasrian yang tak pernah aku lihat secara langsung sebelumnya. Pemandangan ini mengingatkanku pada Hutan sss yang aku lihat di TravelLook waktu itu bersama ibu. Hadiah ulang tahun terakhirku. Aku berulang kali mengucek mataku, tak percaya pemandangan seperti ini masih ada di dunia ini. Dalam ruangan pula. Bagaimana bisa? Ketika orang-orang di luar sana harus berebut oksigen, di dalam sini ada produksi oksigen besar-besaran dari pepohonan dan tanaman lainnya. Sungguh menakjubkan. Alangkah bagusnya kalau pemandangan ini bisa dinikmati bersama nenek dan ibu. *** Kini aku paham betapa mengerikannya kesenjangan sosial. Perbedaan antara si miskin dan si kaya ternyata sebegini mengerikannya. Aku yang terbiasa tidur di kasur yang dingin dan keras kini merasakan tidur di kasur yang sangat empuk. Kasur yang bahkan kalau dipakai bergerak sedikit langsung mengikuti bentuk tubuh. Aku yang biasa menahan dinginnya cuaca, kini tidak merasa kepanasan maupun kedinginan. Suhu pas, kelembaban juga pas. Uang bisa membuat perbedaan sebegini besarnya. Bahkan makanan yang tersaji di meja ini berhasil membuat rahangku hampir terjatuh. Buah-buahan, kue-kuean, bahkan daging. Semua yang hanya pernah kulihat di toko premium, tanpa pernah bisa aku beli karena harganya selangit. Aku bahkan menepuk-nepuk wajahku sendiri. Semua ini rasanya terlalu indah untuk jadi nyata. Aku akan percaya kalau orang berkata bahwa ini mimpi. Aku bahkan mulai mempertanyakan diri sendiri, apa mungkin ini semua hanya halusinas? Efek terlalu lama berada di gurun pasir dan dehidrasi. Namun semua ini sama sekali bukan mimpi. Aku masih cukup waras untuk membedakan kenyataan dan mimpi. "Makanlah!" ujar Ruby. "Iya, jangan malu-malu!" sahut Romy. Aku melirik ke arah Asahi, ia makan dengan tenang tanpa terkagum sepertiku. Ia sama sekali tak mengijinkan aku untuk menebak apa isi kepalanya itu. Ruby dan Romy juga makan dengan lahap. Begitu menakjubkan karena meskipun tubuh Ruby mungil dan langsing, nyatanya porsi makannya amat besar. "Setelah makan, kita akan bertemu Profesor. Kalian akan dapat jawaban dari segala pertanyaan," ucap Romy. Jawaban, itulah yang aku butuhkan saat ini. Mungkin Profesor yang mereka maksud akan tau dimana ibu dan nenekku. Aku akhirnya mengambil daging yang ada paling dekat denganku. Memotongnya dengan pisau menjadi potongan kecil seperti yang aku lihat di film-film. Lalu merasakannya sesendok penuh. Rasa hangatnya memenuhi mulutku. Lembut, enak, dan gurih. Rasa yang tak pernah aku dapatkan dari AlgaCan. Rasa yang bisa membuatku terbang sampai ke langit-langit seperti kehilangan gravitasi. Mungkin inilah sebabnya kenapa nenek bilang bahwa orang jaman dulu hidup untuk makan, karena kalau makanannya seperti ini pun, aku akan hidup untuk makan. Bukan makan untuk hidup. Setelah makan daging, aku makan sayur berwarna hijau yang ada di piring. Sama, mengambilnya sesendok penuh dan mengunyahnya. Tekstur asing namun menakjubkan itu seperti meledak-ledak di mulutku bagai kembang api di langit malam. Ruby dan Romy berhenti makan sejenak sambil memperhatikanku. Mereka lalu tertawa. "Pelan-pelan, Gris! Tak akan ada yang merebutnya darimu!" ujar Romy sambil menggelengkan kepalanya. "Kau mengingatkanku pada diriku sendiri ketika baru sampai di sini," sahut Ruby. Aku juga makan satu yang ada di sana. Buahnya berwarna merah, tapi aku tak tau apa namanya. "Ini apa?" tanyaku. "Strawberry. Enak, cobalah," jawab Ruby. "Bagian yang berwarna hijau, jangan dimakan," kata Ruby menambahkan. Ia menunjuk bagian daun yang melekat di bagian atas buah itu. Aku akhirnya mencabut daun itu dan memakan bagian yang berwarna merah saja. Rasanya asam, tapi juga manis di saat yang bersamaan. "Oh! Enak sekali!" seruku, saking terharunya. Tiba-tiba laki-laki tua yang tadi menginterogasi kami tentang Elise muncul. Laki-laki yang sudah tak terlihat sedari tadi. Romy dan Ruby menyapanya. "Selamat malam, Profesor!" Profesor? Padahal penampilannya jauh dari kata Profesor. Penampilannya acak-acakan, lebih mirip seoeang penjahat dari pada seorang profesor. "Setelah makan, bawa mereka ke ruang diskusi." "Baik, Profesor!" Orang yang dipanggil profesor itu akhirnya pergi meninggalkan kami berempat. Seiring waktu, akhirnya kami selesai makan. Ruby dan Romy mengajak kami untuk bergegas. Namun mataku tak bisa lepas dari apel yang ada di antara tumpukan buah lainnya. Apel itu ... mengingatkanku pada nenek dan ibu. Sepertinya menyadari, Ruby meletakkan apel itu di tanganku. "Bawa saja, Gris!" ucapnya sambil tersenyum. Detik itu, aku merasa nenek dan ibu ada bersamaku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD