Pertarungan di Gunung Limbah

2036 Words
Asahi, nama yang terdengar cukup oriental. Menjelaskan mengapa wajahnya terlihat seperti memiliki genetik orang Asia di dalamnya. Meski tidak banyak dan mungkin terdengar sepele, setidaknya aku tau satu hal tentangnya. Aku jadi merasa bersalah karena membohonginya tentang namaku. Aku mengaku bernama Xiera. Sudah kubilang, aku tak mau percaya pada siapa-siapa. Lebih baik begini, aku menipunya. Nama Xiera sendiri kucomot dari nama salah satu guruku di sekolah. Salah satu guruku yang merupakan manusia. Ia mengajar mata pelajaran biologi. Nama lengkapnya Xiera McCoy. Keturunan dari Thomas McCoy, seorang penemu media kultur sel yang cukup terkenal di bidangnya. Ia adalah orang yang baik. Bahkan pernah meminjamkan jas laboratoriumnya padaku yang waktu itu harus melakukan kegiatan praktikum. Jas laboratorium milikku disembunyikan Stacey dan teman-temannya waktu itu, hanya karena aku terlambat memberinya uang beberapa hari. Meski terlihat sepele, tapi kebaikannya terpatri di benakku sejak lama. Semenjak dibantu olehnya, aku jadi percaya kalau masih ada orang baik di muka bumi ini.Nama Xiera aku pilih karena aku juga ingin jadi orang baik yang tidak melupakan identitasku sendiri. Aku yakin perjalananku untuk bertemu nenek dan ibu bukanlah perjalanan mulus yang menyenangkan. Aku yakin akan ada banyak rintangan yang coba menghadang. Meski sulit dan berdarah-darah, setidaknya aku akan coba menjadi orang baik di situasi apapun agar akhirnya tidak menyesal. Iya, aku tau menipu orang lain juga bukanlah hal yang baik. Tapi hal itu akan kubenarkan karena menyangkut keamananku sendiri. Karena untuk jadi orang baik, aku perlu selamat dan aman terlebih dahulu. Aku dan laki-laki itu--masih kaku untuk memanggil namanya--masih terjebak di gurun pasir tak berujung ini. Persediaan air kami hampir habis. Oleh karena itu, aku coba menahan hausku sedari tadi. Tiba-tiba sebuah bau yang amat busuk menarik perhatianku. Bukan cuma aku, laki-laki yang mengaku bernama Asahi itu juga sampai menghentikan langkahnya dan mencerna baik-baik bau apakah itu kira-kira. "Bau apa ini?" tanyaku. "Entahlah," jawabnya. Kami lalu melanjutkan perjalanan. Namun semakin kami berjalan, bau itu semakin kuat. Bau sekali sampai rasanya aku yang belum makan mau memuntahkan seluruh isi perutku yang mungkin tak seberapa. Baunya bahkan lebih buruk dari pada bau air laut. Tercium bahkan meskipun kami menggunakan helm pasukan Penjaga Perdamaian Dunia yang nyaris tertutup rapat di segala sisinya dan cuma punya sedikit lubang untuk bernapas. Lalu tampak oasis di ujung sana. Aku kira itu bagian dari fatamorgana lainnya, tapi oasis itu tampak makin jelas ketika kami mendekat. "Oasis?" gumamku. "Mungkin." Seperti dapat keberuntungan dari langit, aku mempercepat langkahku tidak sabar, kalau benar ada oasis, maka setidaknya kami bisa memeriksa apakah air yang ada di dalamnya bisa diminum. Secepat kilat, aku sampai di oasis yang kami lihat itu. Namun bukannya oasis dengan air bersih, yang kami lihat adalah genangan besar air berwarna hijau yang sesekali bergelembung mendidih. Genangan air hijau itu bukan satu-satunya. Ada beberapa genangan serupa yang tampak seperti ladang ranjau bagi perjalanan kami. Terdapat tumpukan plastik-plastik beraneka warna yang membentuk gunung-gunung raksasa di sekitar genangan-genangan itu. Dari sana lah bau busuk yang kami cium sedari tadi berasal. "Apa ini? Bagaimana bisa ada sesuatu seperti ini di muka bumi?" gumamku tak percaya. "Limbah," kata Asahi, "Ulah manusia." Meski aku tak bisa melihat wajahnya, aku yakin ia bicara dengan ekspresi datar. Seperti orang yang tak terganggu sama sekali dengan kekacauan semacam ini. Melihat semua ini dengan mata kepalaku sendiri jelas membuatku sadar betapa berbahayanya manusia. Mereka bisa melakukan sesuatu, tapi tak bisa bertanggung jawab mengenai konsekuensi yang ditimbulkan. Sungguh mengerikan dan menyedihkan. Plastik adalah sesuatu yang butuh waktu sangat lama untuk terurai. Bahkan mungkin ada plastik dari seratus tahun lalu pada gunung-gunung sampah ini. Mungkin ada juga yang setua nenekku, atau setua neneknya nenekku. Warisan yang diwariskan namun tak ada yang mau menerima secara sukarela. Plastik juga menjadi salah satu komponen yang berperan pada pencemaran bumi yang harus kami rasakan saat ini. Sebagian kepunahan spesies pun juga diakibatkan oleh plastik. Namun meski tau bahayanya, manusia tak bisa lepas dari peranan plastik. Bahkan sampai sekarang. Apalagi karena bahan-bahan alam tak tersedia secara bebas sekarang. Jumlahnya terbatas dan harganya mahal karena dikembangkan secara khusus. Sehingga bahan baku paling populer untuk membuat barang-barang adalah logam dan plastik sekarang. Kami berjalan menyusuri pegunungan limbah itu. Berhati-hati di setiap langkah kaki karena salah langkah sedikit bisa membuat kami masuk ke dalam genangan air limbah. Menurut pengamatanku, genangan air berwarna hijau itu adalah zat yang ditimbulkan oleh limbah-limbah di sekitarnya. Sifatnya mungkin korosif, yang berarti kami bisa mati kalau tak sengaja masuk ke dalamnya. Mungkin dalam hitungan menit, atau mungkin juga dalam hitungan detik. Entah sebesar apa sebenarnya pegunungan limbah ini. Hanya saja aku merasa jalan kami tak berakhir sedari tadi. Rasanya seperti sedang berjalan di dalam terowongan panjang yang tak berujung. Laki-laki di depanku ini tiba-tiba menghentikan langkahnya. Sedetik kemudian ia menoleh ke udara. "Ada apa?" tanyaku setengah berbisik. Ia meletakkan jari telunjuk di depan helmnya. Kode yang memintaku untuk berhenti bicara. Setelah aku diam, aku bisa mendengar suara suatu benda yang berputar-putar. Tepatnya suara baling-baling helikopter yang beradu dengan udara. Kami berdua saling bertatapan, bertukar informasi dalam diam. "Sembunyi!" ujarnya. Ia berlari menuju salah satu gunung limbah, aku mengikutinya. Aku berusaha sekuat tenaga demi bergerak cepat menggunakan seragam baja yang amat berat ini. Kami akhirnya bersembunyi di antara tumpukan sampah itu. Berharap tak ada yang melihat dari atas. Sesaat kemudian helikopter itu melintas. Pergi begitu saja. Aku menghela napas panjang. Ketakutan kami hanya ketakutan tak berdasar saja ternyata. "Syukurlah," desahku lega. Kami kembali ke jalan utama yang dipenuhi genangan air itu. Tanpa diduga-duga, helikopter itu kembali. Sontak kami kaget, kemudian berusaha berlari. Helikopter itu turun sementara kami belum berhasil bersembunyi. "Celaka!" ujarku. "Tangkap!" Laki-laki itu melemparkan pistol kepadaku. Hap! Aku menangkapnya. "Sejak kapan kau punya ini? Kukira kita tak punya s*****a! Jangan bilang kau tidak memberikannya padaku karena tidak percaya?" seruku. "Apakah penting untuk ditanyakan sekarang?" sahutnya. Tampaknya memang tidak penting. Karena dari helikopter itu, keluar tiga orang dengan persenjataan masing-masing di tangan mereka. Ada dua orang laki-laki, yang satu masih muda, membawa pedang di tangannya. Laki-laki yang satu lagi tampak berusia sekitar setengah abad dan memegang pistol. Satunya lagi perempuan muda, membawa anak panah dan pelontarnya. Perempuan muda itu mengejarku. Otomatis aku berlari ketakutansembari berusaha mencari tau bagaimana cara kerja pistol di tanganku ini. Setelah mengetahuinya, aku menembakkan peluru ke arah perempuan itu. Namun perempuan itu menangkis semua peluru yang kutembakkan secara ceroboh itu dengan gerakan tangan serta anak panahnya. Ia tampak seperti seseorang yang keluar dari cerita pahlawan. Bagian wajah dari hidung sampai ke dagu ditutupi oleh kain berwarna hitam, sementara matanya tampak tajam, berbentuk seperti mata kucing yang meruncing ke atas. Laki-laki bernama Asahi itu juga sedang dikejar oleh si laki-laki muda yang turun dari helikopter. Sementara laki-laki yang lebih tua hanya diam, menunggu di dekat helikopter seperti seorang bos besar. Asahi atau siapalah itu, aku tak peduli. Satu-satunya yang harus kupedulikan hanyalah nyawaku sendiri. Detak jantungku mengeras, beradu seperti sebuah lagu yang mengiringinya film laga. Sampai pada suatu titik, peluru di pistolku habis. Celaka, aku tak punya apa-apa lagi selain pertahanan diri. Aku berlari menuju gunung-gunung limbah, melompati genangan-genangan hijau yang memuakkan itu sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memeriksa. Setelah tau bahwa amunisi milikku habis, barulah perempuan itu menyerang dengan panahnya. Berulang kali ia melontarkan anak panah ke arahku, tapi untungnya tidak kena karena aku refleks menghindarinya. Hingga ... Hap! Satu anak panah menusuk, menembus pakaian bajaku, bahkan sampai ke punggungku. Seketika aku memuntahkan darah dari mulutku. Ruang dan waktu kemudian rasanya tercampur aduk jadi satu. Tak ada lagi yang bisa kudengar selain deru napasku. Tak ada lagi yang bisa kulihat selain perempuan yang memanahku itu. Kemudian semuanya terasa ringan. Napasku, juga tubuhku. Rasanya melayang, lalu tak ada lagi yang aku ingat selain perasaan kosong. Mungkin ini yang orang lain sebut sebagai ... hilang. *** Aku terbangun karena sebuah cahaya yang amat terang memaksa masuk ke dalam kelopak mataku. Sebuah lampu besar sedang diarahkan ke wajahku sampai mataku perih. Aku mengernyit menutup mataku kemudian menggerakkan tubuhku ke kanan kiri. Aku sedang ada dalam posisi terduduk di atas kursi. Kakiku diikat di kedua kaki kursi bagian depan, sementara tanganku diikat di bagian belakang. Aku bahkan tak bisa bergerak meski aku mau. Ikatan dari rantai itu cukup kuat sementara tenagaku sendiri sudah habis karena tidak makan dan tidak minum selama beberapa waktu. Asahi ada di sebelah kiriku. Dengan posisi yang sama sepertiku. Ia juga terikat dan sedang mengernyitkan keningnya untuk menghalangi cahaya yang masuk ke matanya. Dup! Lampu itu dimatikan. Seketika mataku berkunang-kunang. Rasanya ada sisa-sisa cahaya yang berputar-putar dan menciptakan warna jingga di kelopak mataku dengan pola yang acak dan membuatku pusing. Ketika kunang-kunang di mataku hilang, aku mulai bisa melihat dengan jelas. Tiga orang sedang berdiri di hadapanku. Seketika aku ingat tentang apa yang terjadi. Aku ingat masalah helikopter, kejar-kejaran, dan anak panah yang menghantam punggungku Namun nyatanya aku tak lagi merasakan nyeri di tubuhku. Aku juga baru sadar bahwa seragam bajaku dilucuti. Tertinggal jumpsuit putihku yang bagian perutnya berlubang bekas anak panah. "Apa mau kalian?" pekikku. Mereka hanya tertawa meremehkan. Tak menganggapku serius meski aku sudah berteriak sekuat tenaga. "Lepaskan!" pekikku sekali lagi. Laki-laki berambut abu-abu yang sedang duduk sambil menyilangkan kaki kirinya itu menggaruk telinga santai. "Ah, diamlah! Berisik!" Mereka bertiga sudah sama-sama tidak memakai kain penutup di area hidung dan mulut lagi. Meski remang-remang, aku bisa melihat bahwa mereka sedang tertawa lebar melihat kami. "Bekerja untuk siapa kau?" tanya laki-laki tua yang ada di tengah. Aku menatap Asahi. Ia hanya menatap lurus dan datar, aku tak tau apa yang ada di pikirannya. Ia juga tampak tak berniat menjawab. "Aku tidak bekerja untuk siapapun!" pekikku. "Oh, benarkah? Kalau begitu ... kau!" ujarnya pada Asahi. "Bekerja untuk siapa kau?" lanjutnya. Asahi hanya diam. Menatap laki-laki itu dengan dingin. Sungguh pemandangan yang amat mengerikan. "Ah ... dasar anak-anak sekarang! Sama sekali tak punya tata krama!" keluh laki-laki tua itu. "Ambilkan datanya!" Laki-laki itu memerintah laki-laki lain yang lebih muda. Sesaat kemudian si laki-laki muda menyodorkan gadget. "Griselda Brave?" panggilnya. Jantungku berhenti berdetak begitu namaku disebutkan. "Itu, kan, namamu?" lanjutnya. Tunggu ... dari mana ia tau? "Jawab!" bentaknya. "I-i-iya, benar." Aku menoleh ke Asahi. Terbongkar sudah kebohonganku perihal nama. Sejak awal nama Xiera memang terlalu megah buatku. "Dan kau ... Arthur Caesar Fles?" katanya pada Asahi. Aku menoleh kaget. Ia mengangguk dengan santai. Rupanya bukan cuma aku yang menipunya, ia juga menipuku. Percuma aku merasa bersalah. Inilah bukti nyata bahwa tak ada sedikitpun kepercayaan di antara kami. "Bagus! Kalian adalah orang yang benar," ucapnya. "Pikirkanlah, untuk siapa kalian bekerja. Akan kuberikan waktu untuk memikirkannya. Sampai jumpa!" "Hah?" Belum sempat aku mencerna apa maksudnya, laki-laki itu dan dua orang lainnya keluar dari ruangan. Bahkan meski aku memekik agar mereka tetap tinggal, mereka tetap pergi sesuai keinginan. Kemudian pintu besi ditutup rapat dari luar. Aku melihat ke arah Asahi lewat cahaya remang-remang. Wajahnya tetap tenang hingga aku tak bisa menebak apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan. "Kau menipuku tentang namamu ternyata?" kataku. "Berkacalah," sahutnya singkat. Aku memang tak berhak untuk kesal karena aku juga menipunya. Intinya, situasi kami sama. Aku tak percaya padanya, ia tak percaya padaku. "Baiklah, kita impas," balasku. Aku kemudian tersadar bahwa ini bukan saatnya berdebat. Aku harus memikirkan apa sebenarnya jawaban yang orang-orang asing itu inginkan. Tapi apa yang harus aku jawab ketika aku sendiri tidak bekerja untuk siapa-siapa. "Apa kau mengerti maksud pertanyaan orang itu?" tanyaku. "Mengerti," jawabnya singkat. "Apa?" "Elise. Kita bekerja untuk Elise." "Elise? Elise siapa?" "Fur Elise. Bukankah lagu itu yang ada di kompas dan kalungmu?" Aku seketika teringat Fur Elise milik Beethoven yang terputar tiap kali tombolnya ditekan. Mungkinkah itu jawabannya? "Kalau kau tau, kenapa tidak menjawab tadi?" tanyaku. Tapi ia diam. Tak mau menjawab lagi. Ketiga orang itu kembali setelah sekitar tiga puluh menit meninggalkan kami berdua di ruangan remang-remang itu. "Bagaimana? Sudah tau jawabannya?" Aku melirik ke arah Asahi atau siapalah itu, meminta ia bicara dengan tatapan mataku. Tapi ia hanya diam saja. "Biar kutanya satu kali lagi, kalian bekerja untuk siapa? Kalau kalian tidak bisa menjawab, akan kuberi waktu lagi untuk berpikir." Tanpa pikir panjang lagi, aku menjawabnya. "Elise!" seruku. Aku bahkan tak berpikir lagi apa konsekuensi yang bisa terjadi kira-kira setelah ini. Laki-laki tua itu tertawa terbahak. "Bagus! Bagus sekali! Lepaskan ikatannya!" Ikatan kami dilepaskan. Aku bahkan bingung apa maksud dari semua ini. Namun laki-laki tua itu tersenyum lebar. "Selamat datang di Herakles!" ucapnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD