Pertemuan Kembali dengan Sang Mantan
"Aduh... aku pasti telat nih," gerutu Natasha sambil berjalan terburu-buru menuju tempat kerjanya.
Pagi itu udara terasa sangat sejuk dan indah. Di sepanjang jalan, terdengar riuh kicauan burung yang bertengger di dahan pohon. Aroma embun bercampur kabut pagi menembus hidung siapa saja yang melintas, menciptakan suasana damai sebelum kesibukan dimulai.
"Selamat pagi, Pak Anton!" sapa Natasha ramah kepada satpam yang berjaga di depan pintu masuk perusahaan.
"Lho... mentang-mentang sudah jadi karyawan tetap, sekarang berani ya datang terlambat?" sahut Pak Anton sambil tersenyum, nada bicaranya terdengar menyindir namun penuh canda.
"Iya nih, Pak. Tadi aku sempat mampir ke rumah sakit untuk menjenguk Bapak dulu," jawab Natasha sambil nyengir kecil.
Setelah berbincang sebentar, wanita itu bergegas masuk ke lobi dan menuju lift. Namun, nasib sepertinya sedang tidak berpihak padanya. Karena berjalan terlalu tergesa, ia bertabrakan dengan seseorang. Kopi yang dibawanya tumpah seketika dan membasahi kemeja kerjanya hingga basah kuyup.
"Hei, kamu jalan tidak pakai mata ya?!" seru Natasha kesal. Namun, saat ia mendongak dan melihat wajah orang yang ditabraknya, kata-katanya seakan tercekat di tenggorokan. "Kamu..."
"Natasha..." panggil pria itu lirih. Mata mereka saling bertatapan, dan seketika rasanya dunia ini hanya milik berdua.
Begitu juga dengan Natasha. Ia tidak mampu mengalihkan pandangannya. Di hadapannya berdiri sosok yang selama ini selalu ia rindukan, mantan kekasih yang tak pernah bisa ia lupakan sepenuhnya dari ingatannya.
Plak!
Sebuah tepukan pelan di bahu membuat Natasha tersentak dan sadar dari lamunan panjangnya. Ia mendengus kesal sambil menatap pria di hadapannya.
"Apa-apaan ini, mukul-mukul! Lihat nih, bajuku jadi kotor semua karena kamu!"
"Kamu sendiri yang jalan seperti dikejar setan! Salah sendiri, sih," jawab Daniel — nama pria itu — dengan nada santai meski matanya tak lepas dari wajah Natasha.
"Aku sedang buru-buru. Minggir, jangan halangi jalanku!" ketus Natasha.
Perebutan terjadi di depan pintu lift. Keduanya sama-sama ingin masuk duluan, saling mendorong dan berebut posisi.
"Aku yang lebih dulu menekan tombolnya, Natasha," ucap Daniel tak mau kalah.
Natasha tetap bersikeras dan tidak mau mengalah. Suasana menjadi konyol hingga suara teguran Pak Anton terdengar dari kejauhan, membuat mereka berdua menghentikan aksinya.
"Bagaimana kalau kalian masuk berdua saja? Lift ini kan kosong, tidak ada orang lain yang akan naik," saran Pak Anton dengan nada geli.
Natasha dan Daniel serentak merapikan pakaian mereka yang sedikit berantakan akibat saling dorong tadi. Akhirnya, mereka masuk ke dalam lift bersama-sama.
Di dalam ruang sempit itu, Daniel diam-diam menatap wanita di sampingnya. Natasha tak banyak berubah, pikirnya. Rasa rindu yang selama ini ia pendam kembali menyeruak, namun ia sadar, kisah cinta mereka harus berakhir dulu karena sebuah alasan yang memaksanya berpisah.
"Kamu ngapain ada di sini?" tanya Daniel untuk memecah keheningan, meski suaranya terdengar berat.
"Ya kerja lah, cari uang buat hidup," jawab Natasha singkat. Ia melirik sekilas ke arah Daniel, sementara jantungnya berdegup kencang tak karuan.
Mendengar jawaban itu, hati Daniel terasa lega sekaligus bingung. Ada rasa bahagia melihat wanita itu lagi, namun kenangan pahit masa lalu kembali berputar di kepalanya.
"Masih masa percobaan, kan?" tanya Daniel sekali lagi.
"Enggak. Mulai hari ini, aku resmi jadi karyawan tetap di Perusahaan Sterling," jawab Natasha dengan nada bangga.
Daniel tertegun. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa karyawan berprestasi yang akan ia berikan penghargaan hari ini adalah wanita yang pernah sangat dicintainya. Wanita itulah yang berhasil memenangkan proyek besar dari Perusahaan Raymond, kemenangan yang sangat dinanti-nanti perusahaan.
"Baiklah... kalau begitu, jangan harap kita akan bertemu lagi ya, mantanku," ucap Natasha singkat saat pintu lift terbuka, lalu ia melangkah pergi dengan penuh percaya diri. Banyak rekan kerja yang menyambutnya dengan hangat sepanjang jalan menuju meja kerjanya.
"Akhirnya sang Dewa Data bergabung resmi bersama kita semua!" seru Bela, rekan kerja Natasha yang paling akrab. Natasha memang dikenal sangat cekatan dan andal dalam mengolah segala bentuk data perusahaan.
"Iya, akhirnya perjuanganku selama ini tidak sia-sia," jawab Natasha dengan wajah berseri.
Ia pun duduk kembali di depan komputernya, melanjutkan pekerjaan yang belum selesai kemarin sore. Tak lama kemudian, Bela mendekat dan berbisik pelan.
"Kabarnya, nanti kamu bakal dapat penghargaan langsung dari Direktur Utama lho," kata Bela dengan mata berbinar antusias.
Natasha berhenti mengetik dan menatap temannya itu. "Penghargaan? Berapa kira-kira bonusnya?" tanyanya penasaran, membayangkan angka yang besar.
"Aku dengar sih sekitar 50 juta rupiah," jawab Bela.
Wajah Natasha seketika bersinar penuh kebahagiaan. Namun, pembicaraan mereka terhenti saat suara langkah kaki terdengar menggema di lorong menuju ruang administrasi dan desain. Natasha menoleh dan melihat sosok yang sangat dikenalnya berjalan di barisan depan bersama para petinggi perusahaan.
Ia langsung bangkit dan menghampiri Daniel, membuat rekan-rekannya menatap heran.
"Kamu ngapain ikut-ikutan ke sini?" tanya Natasha berbisik, berusaha tidak terlalu terdengar orang lain. "Kan ini rombongan para direksi, apa kamu mau jadi mengikuti aku lagi di sini?"
Belum sempat Daniel menjawab, seluruh karyawan di ruangan itu serentak memberi salam hormat. "Selamat pagi, Pak Daniel!" ucap mereka bersahutan sambil sedikit membungkukkan badan.
Natasha tertegun kaku. "Ka... kamu CEO di sini?" tanyanya berusaha memastikan, matanya membelalak tak percaya.
Daniel hanya mengangguk pelan, lalu melangkah ke tengah ruangan untuk memberikan sambutan.
"Terima kasih untuk semuanya yang telah bekerja keras dalam proyek penawaran kerjasama dengan Grup Raymond. Perusahaan akan membagikan bonus untuk kalian semua, dan khusus untuk Nona Natasha, yang telah berhasil memenangkan kerjasama besar ini..." Daniel berhenti sejenak, menatap Natasha lekat-lekat, "...perusahaan memberikan penghargaan berupa uang tunai sebesar 100 juta rupiah."
Tepuk tangan riuh bergema memenuhi ruangan. Natasha tersenyum lebar, hatinya penuh rasa syukur dan bangga. Ia mendekat ke arah Daniel dan mengucapkan terima kasih berkali-kali.
"Terima kasih banyak atas apresiasi ini, Pak. Semoga ke depannya perusahaan kita semakin sukses dan maju!" ucapnya dengan semangat.
Setelah acara selesai, Daniel memanggil Natasha untuk masuk ke ruang kerjanya. Natasha mengikuti dari belakang dengan perasaan campur aduk. Begitu masuk, Daniel menutup pintu dan memutar kuncinya.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa dikunci?" tanya Natasha waspada, langsung menyilangkan tangan di depan d**a. "Jangan-jangan kamu mau berbuat hal yang aneh-aneh ya?"
Daniel mendengus pelan lalu duduk di kursi kerjanya yang besar dan nyaman. "Cuma menutup pintu supaya tidak ada yang mengganggu kita. Duduklah," jawabnya datar. Ia lalu mengambil selembar berkas dari laci meja dan menyodorkannya pada Natasha. "Baca ini."
Natasha membuka berkas itu dan matanya terbelalak kaget. Itu adalah surat pengunduran dirinya sendiri.
"Apa maksud semua ini, Daniel?" tanyanya dengan suara yang mulai meninggi.
"Tanda tangani surat itu, dan aku akan menjamin kehidupanmu jauh lebih baik," jawab Daniel tenang, namun justru membuat Natasha semakin salah paham.
"Kamu takut kalau ada yang tahu hubungan kita dulu? Kamu malu pernah menjalin kasih sama aku, ya?" tanya Natasha dengan nada getir.
Daniel langsung berdiri tegak, wajahnya tampak gelisah. "Bukan begitu maksudku, Natasha..." ucapnya lirih, berdiri tepat di hadapan wanita itu yang matanya sudah mulai berkaca-kaca.
"Lalu apa salahku? Kenapa aku harus pergi dari sini? Kamu tidak tahu betapa beratnya perjuanganku supaya bisa diterima dan jadi karyawan tetap di sini! Kamu sama sekali tidak tahu, Daniel!" Suara Natasha bergetar, air matanya mulai menetes.
"Aku cuma ingin melindungimu, Natasha. Tempat ini belum aman buatmu," jawab Daniel pelan, tangannya berusaha menyentuh bahu wanita itu.
Natasha hanya tersenyum sinis. Alasan itu... alasan yang sama persis dengan yang diucapkan Daniel empat tahun lalu saat memutuskannya dulu. Padahal saat itu, tak lama setelah berpisah, Natasha melihat Daniel sedang berjalan berdua dan tertawa bahagia bersama wanita lain.
"Bisa tidak alasan itu diganti? Alasan yang sama persis seperti empat tahun lalu, saat kamu memilih pergi dan bersenang-senang dengan wanita lain..." kata Natasha tajam.
Hati Daniel terasa kembali tertusuk luka lama yang baru saja sedikit sembuh. "Natasha..." panggilnya lembut, berusaha menggenggam bahu itu lebih erat, namun tangan itu segera disingkirkan Natasha.
"Kenapa dari dulu kamu selalu tega melakukan ini, Daniel? Padahal aku sudah memaafkanmu dan berusaha berpikir semuanya baik-baik saja. Tapi kenapa kamu harus mengulangi rasa sakit itu lagi? Selalu saja mendorongku menjauh dari sisimu?" isak Natasha, air matanya sudah tak terbendung lagi.
"Aku juga tidak ingin begini, Natasha. Tapi aku bingung harus berbuat apa. Tolong, cobalah mengerti posisiku," mohon Daniel dengan nada putus asa.
Natasha mengusap kasar air matanya dengan punggung tangan, lalu berbalik badan dan bergegas keluar dari ruangan itu. Ia tak sanggup berlama-lama berada di sana, di dekat pria yang sangat dicintainya namun selalu menyakiti hatinya.
Di sisi lain, di balik dinding koridor, seseorang diam-diam mengintip kejadian tadi. Pria itu segera merogoh saku dan menekan nomor telepon tertentu.
"Halo, Tuan... Sepertinya wanita itu kembali lagi ke sisi Daniel. Tapi sepertinya mereka masih saling salah paham," lapornya dengan nada puas.
"Awasi terus pergerakan mereka berdua, dan laporkan semua padaku," perintah suara dari seberang telepon.
"Siap, Tuan. Aku rasa Daniel masih punya perasaan besar pada gadis itu. Sepertinya kita harus memakai cara yang sama seperti empat tahun silam lagi ya?"
"Jika itu satu-satunya cara, lakukan saja. Bagaimanapun juga, kelemahan terbesar Daniel hanyalah wanita itu."