Putus!

1051 Words
“Vit, maafkan aku.” Gathan menarik napas. Menatap Cairo sekilas yang menyajikan sarapan. Lelaki itu mengedikkan bahu. “Aku mau kita putus.” “Apa?! Kamu memutuskan aku? Di sambungan telepon? Penghinaan macam apa ini, Gathan? Atau ... Kamu hanya nge-prank aku?” Entah berapa menit, Gathan tidak menjawab. Dia tidak ingin Vita beranggapan macam-macam. Apalagi berpikir kalau salah satu penyebab Gathan minta putus adalah Gaby. “Vit, aku serius,” jawab Gathan. “Rasanya tidak adil kalau kamu hanya mencintai aku saja.” Vita seketika membeku, “Ini ... seperti mimpi. Apa kamu benar-benar ingin putus? Apa salahku, Gathan? Aku hidup sesuai dengan apa yang kamu mau. Dengan apa yang kamu butuhkan.” Dalam waktu singkat, Vita terisak. Gathan tidak tega mendengarnya, tapi apa boleh buat? Beberapa menit mereka saling tidak bicara, Vita menarik napas. “Dengar, Gathan, aku tidak membicarakan ini dengan mama dan papaku dulu. Anggap saja, kamu sedang dalam keadaan emosional. Kita bicara lagi dalam beberapa hari ke depan.” “Tapi, Vit,” Gathan menyanggah prasangka Vita itu. “Aku tidak mau dengar lagi kata putus dari kamu.” Sambungan telepon itu diputus sepihak, tanpa pamit dari Vita. Gathan terus terang saja kaget mendengar nada putus. Padahal, mulutnya sudah terbuka, ingin membela diri. Cairo memahami apa yang dialami oleh sahabatnya ini. “Sarapan dulu saja, isi tenagamu dulu, baru kamu telepon Vita lagi. Bicara dengan wanita memerlukan tenaga,” tambahnya acuh tak acuh, Gathan menggeleng, “Sepertinya aku tidak akan menelepon dia lagi,” jawabnya. Tatapannya kosong ke piring yang ada di depannya. “Energiku habis.” Tampaknya apa pun yang disajikan oleh Cairo lezat. Termasuk sarapan kali ini. Tapi, Gathan tidak nafsu makan. “Siapa yang sebenarnya gue cintai, Kai?” tanya Gathan, menatap Cairo dengan serius. “Aku tidak bisa melupakan bayangannya. Bayangan ketika malam itu. Sepuluh tahun terpisah, aku pikir, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Tapi, Tuhan berkata lain.” Cairo berhenti mengunyah, lalu menatap Gathan, “Itu pertanyaan bodoh, tetapi tidak bisa dijawab sembarangan.” Gathan manggut-manggut, apa yang dikatakan Cairo benar adanya. Selama ini, Gathan salah memberi harapan untuk Vita. Sementara seluruh hatinya masih ada nama perempuan lain. “Apa aku salah kalau mencintai orang lain?” tanya Gathan lirih, wajahnya memelas, tidak mau salah. “Tidak. Tapi, kau juga jangan memberikan harapan kepada orang lain. Bahkan, kau terima bertunangan dengannya.” “Itu, kan keinginan orang tuaku. Lagi pula, pertunangan itu diadakan dadakan. Mana aku tahu, ayah dan ibu tiba-tiba sudah menyewa restoran dan katering,” timpal Gathan. Cairo mengerutkan keningnya, “Jadi, semua itu ....” “Ya, tanpa sepengetahuanku.” “Dan sekarang ayah dan ibumu mau mengadakan pernikahan—“ “—tanpa persetujuanku juga, para orang tua sudah menentukan tanggal, kami tinggal memilih akan di mana diadakan resepsinya.” “Astaga .... wajar saja kalau kau banyak protes! Aku pikir kau berhak memilih siapa yang akan jadi pendampingmu,” perkataan Cairo seperti pecutan semangat untuk Gathan. “Jadi kau setuju, kan, kalau jodoh tidak bisa dipaksakan?” Cairo berpikir sedikit, “Setuju saja,” jawabnya. Tanpa berpikir kalau Gathan akan bertindak terlalu jauh. *** Gathan tidak membereskan masalahnya dengan Vita, menemui Gaby lebih penting untuknya. Dari apartemen Cairo, Gathan meluncur ke rumah Gaby. “Ada di rumah?” tanya Gathan di sambungan telepon, saat sudah sampai di depan rumah Gaby. “Ya,” jawabnya sambil menguap, untuk apa Gathan menelepon siang-siang begini? “Aku ada di depan rumah.” “Jangan bercanda,” jawab Gaby malas-malasan, rasanya masih mengantuk. Kalau karena kencan kemarin, Gaby tidak terlalu mempermasalahkan akibatnya dia kurang tidur. “Siapa yang bercanda?” jawab Gathan membunyikan klakson. Sekarang Gaby sadar dan yakin seratus persen kalau lelaki itu ada di depan rumahnya. Dia buru-buru lari ke luar rumah. Keburu mamanya nanti melihat mobil Gathan. Bisa gawat, siapa saja bisa diprospek jadi mantu. Dan benar saja, mamanya sudah mengintip dari jendela, begitu Gaby datang dari arah dalam rumah, Dian langsung bertanya, “Siapa itu, Gab?” “Orang nyasar,” jawab Gaby asal tida memedulikan mamanya. Tetap berjalan keluar dari rumahnya. Gaby langsung mengetuk jendela mobil Gathan. Lelaki itu tersenyum, mana tahu ancamannya berhasil membuat Gaby keluar dari rumahnya. Gathan membuka jendela mobilnya, “Masuk!” “Apa? Kamu punya kata-kata lain selain masuk?” “Oke. Naiklah,” wajah Gathan terlihat berseri. “Aku ganti baju dulu,” ujar Gaby. “Tidak perlu,” cegah Gathan, dia suka Gaby apa adanya. Dengan baju rumahannya, Gaby terlihat imut. “Naik saja, kita hanya keliling saja, ada yang ingin aku bicarakan kepadamu.” Gaby terpaku mendengar penjelasan Gathan, apa yang mau dia bicarakan? Apakah ini semua tentang kampus? Dari pada penasaran setengah mati, Gaby naik saja mobil Gathan. “Kamu udah makan siang?” tanya Gathab sekadar basa basi. “Udah, kamu belum makan?” Gathan mengangguk pelan, sekarang perutnya keroncongan. Rasanya hampir kehabisan napas dan energi. Mengapa sulit sekali untuk bicara hal yang serius dengan Gaby? “Di depan ada restoran yang lumayan enak,” kata Gabu sambil menunjuk ke arah depan. “Kamu harus makan dulu. Kalau pingsan aku juga yang repot.” Gathan tersenyum penuh, mengapa di dunia ini hanya ada satu wanita yang seperti Gaby. Sampai mereka di tempat makan yang Gaby maksud. “Mau ngomong apa?” tanya Gaby dengan pelan, setelah mereka pesan makanan. “Ayah meminta aku menikah dengan seseorang,” kata Gathan membuka obrolan. “Itu bagus, kan?” Mata Gaby membesar, antara percaya dan tidak percaya. Lalu kejadian itu nyatanya hilang dari benak Gathan. Sudahlah, Gaby berkata dalam hati. Tetiba ada rasa kecewa. “Tapi, aku tidak mencintainya,” sanggah Gathan menatap Gaby dengan kesedihan. Keing Gaby mengerut, rasanya tidak bisa menebak apa arti ekspresi Gathan itu. “Apa salahnya? Toh, cinta akan datang seiring berjalannya waktu,” ujar Gaby, acuh, dia sengaja membuat wajahnya sedatar mungkin. Beberapa lama kemudian seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka. Gaby melahap bihun gorengnya, menutupi rasa kecewa. “Kamu pikir, kamu bisa hidup dengan seorang asing? Dan kamu tidak mencintainya sama sekali? Pernikahan kami akan menjadi pernikahan bisnis dan politik. Tidak ada perasaan di dalamnya.” “Lama kelamaan kamu akan terbiasa dan menicintai perempuan tersebut,” timpal Gaby—yang berpikir, Gathan benar-benar mencintai gadis itu. Lagi pula, Gaby tidak berani berharap, karena dirinya yang tidak pantas dicintai Gathan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD