Apa? Gaby tidak percaya, dia terus mendesak Gathan agar menarik semua ucapannya.
“Bagaimana nanti kalau saya tidak kompeten dalam menjalankan tugas? Tolong, tarik ucapan Anda.”
“Itu urusan saya.” Gathan menjawab singkat, dia membalik badan lalu meninggalkan ruangan itu.
Gaby mengingat-ingat siapa Gathan ini? Pelan-pelan tanpa pamitan, Gaby meninggalkan ruangan rektor.
Dia tinggi, kulitnya putih, dan ... tampan! Jelas saja, selama ada di universitas ini sudah berapa ratus mahasiswa yang Gaby kenal. Hampir semuanya satu tipe dengan Gathan.
Rasanya dia juga pernah mendengar panggilan Kakku itu.
Kalau tadi Gaby mengomel sepanjang perjalanan ke ruang rektor. Sekarang Gaby malah banyak melamun.
Kakku ... Kakku ...
Norak banget, si! Gaby bersungut sendiri, dan mengomel sendiri.
“Bu Gaby! Saya mau bimbingan,” ujar salah seorang mahasiswa yang melihat Gaby.
“I—iya, saya ke ... ruangan saya aja,” Gaby menjawab kikuk. Baru kali ini dia terlihat kikuk.
“Ibu sakit?” tanya si mahasiswa itu. “Mukanya pucat. Tapi, kita udah janjian mau bimbingan, kan?”
Gaby menggeleng, “Masuk ke ruangan.”
Suaranya datar, tidak biasanya Bu Gaby seperti ini, pikir si mahasiswa perempuan itu. Biasanya, Gaby penuh senyuman dan bersemangat.
Gaby masih melamun, memikirkan kejadian tadi di ruang Pak Soen. Pandangan matanya kosong.
“Bu?” panggil si mahasiswa itu. Kelihatan Gaby hanya membolak balik proposal tugas skripsi saja tanpa membacanya. “Ibu kesambet?”
Gaby tersentak. “Ya?”
“Gimana hasil proposalnya?”
Gaby membolak balik panik tak karuan. Bagaimana ini? Kejadian itu melumpuhkan pikirannya. Persis seperti sepuluh tahun lalu.
“Ini—yang sudah pernah kamu kirim ke email saya, kan?” tanya Gaby sekedar mengkonfirmasi.
“Iya, Bu,” jawab si mahasiswa tersebut.
Gaby mengingat-ingat semua yang sudah pernah dia baca via surel. Hingga akhirnya, dia mengingat semua masukan yang sudah dibalas lewat surel pula.
“Oke, jadi saya pikir ini sudah cukup. Kamu bisa menonjolkan di pikiran utama. Jadi, kamu bisa lanjut untuk skripsinya. Mulai bab satu, minggu depan bisa?” Suara Gaby begitu antusias dan ceria.
“Bisa, Bu. Bu Gaby sudah kasih gambaran yang cukup. Jadi, saya nggak bingung lagi.”
“Kalau begitu, hubungi saya kalau sudah siap.” Gabu mengembalikan proposal yang sidah dibacanya tadi.
“Terima kasih, Bu. Saya permisi.”
“Silakan,” Gaby tersenyum ramah ke mahasiswa itu. Setelah semuanya selesai, Gaby pulang. Seperti biasa, dia tidak punya kendaraan pribadi.
Wanita itu melirik jam tangannya, pukul lima sore.
Sejauh mata memandang dari gerbang universitas, jalanan protokol, macet mengular di mana-mana.
Mau bagaimana lagi? Ini yang harus Gaby hadapi setiap hari. Kemacetan dan juga masalah internal keluarganya. Ponsel yang ada dalam tasnya bergetar.
Ada pesan singkat yang masuk.
“Gab, pulsa listrik habis. Jangan lupa belikan beras juga.”
Gaby menghela napas. Dia melihat bangunan universitas tempat dia bekerja selama enam tahun ini. Gedungnya begitu megah, besar, fasilitasnya lengkap. Uang semesteran yang hanya mampu dibayar oleh orang kalangan atas. Tapi, mengapa nasib Gaby jauh sekali dari ‘sejahtera’.
Rata-rata mahasiswa yang berkuliah di sini, minimal punya motor seharga dua puluh jutaan.
Gaby? Boro-boro motor, gaji selama satu bulan rasanya habis untuk kebutuhan rumah tangga.
Bisa menabung itu hal yang Gaby syukuri sampai sekarang.
Angin perubahan musim berhembus. Rambut Gaby yang panjang, hitam dan lebat seperti beterbangan.
Entahlah, Gaby memang sudah tiga puluhan, sebagai perempuan dewasa, ada saja yang menyukainya dosen, dekan, staf universitas bahkan mahasiswa. Namun, tidak ada satu pun yang menarik perhatian Gaby. Bagi dia semua lelaki sama saja!
Dan, Gaby tidak ingin terjebak dengan seorang lelaki lagi. Tak sedikit pun!
“Apalagi, dia berotak kotor! Semua lelaki yang ada di pikirannya cuma onderdil wanita aja!” dumel Gaby sendiri memikirkan kejadian di ruangan rektor, tidak ada habisnya.
Baik, Gaby terima tawaran Gathan sebagai asisten, kalau begitu, jangan sampai nanti dia terjebak di situasi berduaan dengan Gathan. Itu tekadnya dalam hati.
Dan, kejadian tadi, anggap saja angin yang berhembus. Gaby akan melupakannya, tapi entah mengapa, otaknya terus memutar kejadian tadi.
“Ih, stop, stop!” pekiknya sambil memukul pelan kepalanya. “Kenapa tidak bisa melupakan kejadian itu? Lagi pula, apa itu Kakku?” Memang Gaby pernah mendengarnya. Tapi rasanya itu sudah lama sekali.
Bunyi klakson mobil mengagetkan Gaby. Wanita itu melonjak, kaget setengah mati.
“Siapa, si? Berani-beraninya bunyiin klakson?”
Si pengemudi menurunkan kaca kendaraannya. “Masuk!”
“Ish, udah nggak sopan, suruh-suruh orang masuk? Masuk apaan?” tanya Gaby menantang, bertolak pinggang. “Keluar lo, sini! Biar gue hajar! Pasti kamu mahasiswa baru yang belagu!”
Rasanya orang kaya di dunia ini perlu ada kelas budi pekerti dikit, kritik Gaby dalam hati. Suka nggak sopan!
Si pengemudi itu keluar dari mobil, lalu membuka kaca mata hitam yang dia pakai.
Gaby memicingkan mata, “Gathan?”
Gathan melambaikan tangan. “Aku antar pulang. Masuk,” suruhnya.
“Makasih, aku bisa pulang sendiri!” Gaby lalu berjalan melintasi mobil Gathan.
Lelaki itu tersenyum penuh dengan ide gila. Tangannya lantas meraih tangan Gaby.
“Lepas, atau aku teriak,” ujar Gaby.
“Silakan, kalo ada satpam yang samperin kamu itu tandanya mereka berani melawan.”
Gaby tak gentar. Dia berteriak sekeras mungkin, telinga Gathan sakit mendengarnya.
Astaga perempuan ini! keluh Gathan.
“Kamu tidak berubah dari dulu,” perkataan Gathan membuat mata Gaby membesar.
“Silakan masuk, aku antar sampai rumah.”
Gaby terdiam dengan perkataan Gathan barusan.
Dalam hati seperti bertaruh, ikut saja ke dalam mobilnya, mungkin Gaby akan dapat sesuatu mengenai Gathan. Siapa pria ini sebenarnya?
Gaby terdiam sejenak ketika sudah di dalam mobil.
“Pasang sabuk pengamanmu. Kalau tidak kita bisa semalaman ada di sini.”
Gaby tersentak seperti bangun dari mimpi buruk. Tangannya dengan cepat meraih sabuk pengaman. Namun, karena dia terburu-buru menariknya, sabuk itu macet, dan sulit sekali ditarik.
Gathan tersenyum melihat kelakuan Gaby.
Tangannya terulur, membantu Gaby memakai sabuk pengaman itu.
“Tarik dan sentak sedikit.” Gathan sambil mempraktekkan dan memberi tahu kepada Gaby. Kamu harus tahu, besok tidak perlu aku ajarkan lagi, kan?”
Mata Gaby membesar, menggeleng dengan cepat.
“Jangan terlalu sering memperlihatkan matamu yang bulat dan indah itu. Bisa-bisa aku tidak bisa tidur nanti malam.” Gathan menyalakan mesin mobil lalu memutar kemudi, dalam waktu singkat, mobilnya sudah melaju di padatnya jalan Ibu Kota.
Gaby mendecak, lalu membuang pandangannya ke luar jendela.
“Siapa kamu sebenarnya?” tanya Gaby sinis.
“Kamu benar-benar lupa?”
Gaby menggeleng, “Tidak ingat sama sekali. Siapa kamu sebenarnya?”
Gathan menarik napas, lalu menatap Gaby sekilas. “Mungkin sepuluh tahun lalu ... Kakku Aggel?”