Sepuluh tahun lalu? Gaby mengulang perkataan Gathan dalam hati. Beberapa detik, Gaby terdiam, tidak tahu apa yang akan dia ucapkan.
Gathan mengulang panggilan itu, “Aggelos!”
“Apa?” Gaby menoleh. Apa? Mengapa panggilan itu, membuat dia otomatis menoleh.
Gathan tertawa kecil. “Panggilan itu masih ada di alam bawah sadarmu.”
Gaby gelagapan sendiri. “Sepuluh tahun sudah lama sekali.” wanita itu lantas diam. Mengingat-ingat di mana dia pernah bertemu Gathan. Lalu Gaby ingat, sepuluh tahun lalu, matanya membesar, menunjuk Gathan.
“Kamu ... Anak kaya manja yang itu?”
Gathan mengangguk sambil tersenyum.
Ah, bagaimana Gaby bisa lupa? Meski sudah coba lupakan. Tapi kadang, Gaby sangat merindukannya.
“Harusnya aku tahu sejak awal,” ujar Gaby, sambil menyilangkan tangan di depan d**a. Tangannya terulur, dia mencubit pipi Gathan. “Astaga, kamu jadi lelaki yang mapan. Semua perempuan di universitas ini pasti kagum dan banyak yang ngejar kamu.”
“Aduh, aduh, sakit,” keluh Gathan.
Gaby melepas cubitan itu. “Jadi kamu yang akan jadi rektor di sini? Gantikan Pak Soen?”
“Ya, begitulah,” Gathan mengusap-usap pipi bekas cubitan Gaby.
“Jadi, bagaimana hidupmu sekarang?” tanya Gaby.
Gathan melirik ke arah Gaby. “Baik. Kamu sendiri?”
“Baik dan sulit,” jawabnya lancar, tanpa dibuat-buat.
Gathan tertawa lepas, membuat Gaby mendelik melihat ke arahnya.
Gaby lalu melihat jemari Gathan yang dihiasi cincin. “Kamu menikah?”
Gathan menggeleng sambil tersenyum, “Tunangan.”
“Ah, lagian, siapa juga yang mau menikahi kamu. Anak manja ...” ledek Gaby tertawa kecil. Tapi dalam hatinya ada rasa kecewa, sedikit. Nyeri di d**a, apakah ini tanda serangan jantung?
Gathan tidak enak membicarakan soal pertunangannya. “Jadi, arah rumah kamu masih sama? yang dulu?”
Gaby tersenyum menatap Gathan. Binar mata itu terlihat oleh Gathan, walau hanya beberapa detik. Tapi, mampu membuat detak jantung Gathan berantakan.
Ternyata, sepuluh tahun berlalu, rasanya pun masih sama. Paling tidak untuk Gathan.
“Masih. Emang masih ingat?”
“Masih,” jawab Gathan datar.
Dahi Gaby mengerut, tadi Gathan ceria. Sekarang?
Sepanjang sisa perjalanan, Gaby dan Gathan diam seribu bahasa.
Sampai di depan rumah Gaby.
“Terima kasih,” kata Gaby dengan sopan. Lalu turun dari mobil.
Sopannya, Gaby menunggu saat Gathan berlalu dengan mobilnya, melambaikan tangan. Dan Gathan membunyikan klakson.
Di rumah, Gaby melihat anaknya yang berusia sebelas tahun di meja makan.
“Anak mama lagi apa, ni?” tanya Gaby sambil mendekat ke arah anaknya.
“Belajar, masa lagi berenang,” jawabnya acuh tak acuh.
“Gab! Pulsa listrik!” pekik ibunya dari arah belakang.
Gaby menghela napas, lalu mengeluarkan ponselnya. Beli pulsa listrik lewat daring saja. Dan menghubungi seseorang untuk mengantar beras.
Ini masih pukul enam, harusnya masih ada waktu sebelum makan malam.
Gaby lantas meninggalkan anaknya yang sedang belajar.
Membersihkan diri, melihat surel melihat beberapa pekerjaan mahasiswa bimbingannya.
Ibu dan anak Gaby sedang menonton televisi ketika Gaby keluar dari kamar.
“Ma, jangan lupa, besoj aku perlu alat untuk menggambar. Kan mau ikut lomba.” Itu Airlangga, anak dari Gaby. Satu-satunya, lelaki dan masih duduk di bangku SD. “Sepatu aku juga udah jebol, Ma, depannya.”
“Iya, besok mama belikan, ya,” jawab Gaby sambil merangkul pundak anaknya.
“Mama juga perlu, lho buat arisan lusa. Dan, kamu juga jangan lupa. Adik kamu bulan depan harus bayaran kuliah,” kalau yang ini mamanya Gaby, Dian. Untung saja, yang tersisa tinggal mamanya, papa Gaby sudah lama meninggal.
Mungkin kalau papanya masih hidup, Gaby lebih tertekan.
“Aku mau bobo dulu,” pamit Airlangga, cium tangan Gaby dan neneknya.
Gaby menyayangi anak itu, memeluknya adalah hal yang paling membahagiakan untuk Gaby. Ketegangan hari ini, reda semua. “Mimpi indah, ya,” ucapnya lalu mengelus kepala anak itu.
Setelah anaknya benar-benar masuk kamar, Gaby menatap ibunya lagi.
“Astrid, kan sudah besar, Ma. Gaby aja dulu bayar kuliah sendiri. Masa Astrid nggak? Lagi pula. udah Gaby tawarin beasiswa di tempat Gaby ngajar, dia pilih kampus lain.”
Dian mendelik ke arah Gaby. “Kasihan, lah, adik kamu. Masa kamu nggak mau bantu, si? Waktu kamu kuliah sambil kerja, Astrid juga bantuin kamu jagain anak kamu, Airlangga. Sekarang, apa susahnya kalo kamu bantu dia?”
Gaby menarik napas, hari sial di kalender Gaby hampir setiap hari. Kalau mama yang mengomel, banyak menuntut, dan selalu terjepit oleh kebutuhan hidup rasanya sudah biasa.
“Makanya, kan mama bilang, jangan sok-sok-an dulu minta cerai dari suamimu. Coba kalau sekarang kamu masih dengan Cahyanto, pasti makmur. Kenapa, si, perempuan zaman sekarang belagu? Diperlakukan tidak adil sedikit, langsung minta cerai. Di hardik sedikit, bilangnya kekerasan dalam rumah tangga, apa, si, maunya?”
Gaby tidak menjawab apa pun perkataan mamanya. Dia menggaruk kepala, kalau ditinggal nanti dibilang tidak tahu sopan santun.
“Terus, gimana pengangkatanmu?”
Gaby mengaduh dalam hati. Lalu menggeleng.
“Ditangguhkan lagi? Atau gimana? Kamu ini terlalu banyak alasan! Sudah mama bilang juga, kalau pindah saja dari sana. Apa, si yang kamu pertahankan di sana, hah?”
Dian mendengkus, sementara Gaby masih terdiam. Penat kepalanya, seperti ada benang kusut di sana. Dan belum bisa diurai sedikit pun!
“Mungkin beberapa bulan lagi, Ma. Tadi Gaby bicara dengan rektornya.”
“Apa?” Mata Dia bertambah makin galak. “Kamu ini.” Dian menghela napas, lalu meminum air mineral yang ada di depannya. “Gabriella, mungkin ini saatnya kamu memikirkan tawaran mama tempo hari.” Nada suara mama beubah jadi lembut dan juga hati-hati.
Sekarang Gaby yang emosi. “Gaby belum kepikiran untuk menikah lagi, Ma.”
Dian menatap Gaby, menggenggam erat tangan anak sulungnya. “Pikirkan saja dulu, Gabriella. Tidak mudah membesarkan anak sendirian. Apalagi, Airlangga makin besar. Kebutuhannya makin banyak. Lagi pula kasihanilah anak kamu, dia tidak pernah mengenal figur seorang ayah.”
“Airlangga masih punya Gaby, Ma.”
Dian tidak mau bersuara lagi, lelah kalau diskusi dengan Gaby. Menurut Dian, anak ini sombong. Mentang-mentang punya penghasilan sendiri. Padahal, gaji bulanannya selalu habis. Uang belanja harian saja, pas-pas-an! Dumel Dian dalam hati.
“Apa salahnya cari suami lagi? Atau kembali ke sisi Cahyanto? Itu yang terbaik untuk kamu, Gabriella.”
Gaby mendecak, tidak tahan dengan ocehan mama. “Udahlah, Gaby tidur dulu,” pamitnya.
“Gaby! Paling tidak coba saja dulu,” pekik mamanya lagi. Dian selalu berambisi ingin memperbaiki taraf hidup. Jadi Dian menyusul Gaby ke kamarnya.