BAB 3- Kabur dan Bertemu Sopir Taksi yang Aneh

1512 Words
“Bilang padaku, berapa orang wanita yang jadi selingkuhan kamu, Vin?!” Kanaya melempar ponsel Gavin ke atas tempat tidur, sesaat baru saja suaminya itu selesai berpakaian. Gavin yang menyadari kalau Kanaya telah melihat isi pesannya, terlihat lemas. “Aku bisa jelaskan, Naya. Ini semua nggak seperti yang kamu pikirkan.” “Mau ngelak kayak gimana lagi, kamu?! Udah jelas-jelas kamu ngirim duit ke perempuan lain. Dan mantan pacar kamu ngajak bertemu.” “Iya, tapi aku nggak ada ketemuan, Naya. Dan soal uang itu, memang aku ada mengirimnya, tapi untuk sekarang aku nggak bisa bilang dulu apa alasannya.” “Kenapa? Kenapa nggak bisa bilang? Sekarang kamu udah mulai pandai menyimpan rahasia dengan aku ya? Kalau gitu kamu nggak usah jelaskan, karena aku udah tahu apa yang sedang terjadi.” “Apa maksud kamu? Jangan suka mengambil kesimpulan sendiri. Belum tentu itu yang udah terjadi.” “Jangan coba-coba membodohi aku, Gavin. Kamu jujur aja, yang namanya Mariana itu selingkuhan kamu kan? Atau justru istri siri, karena kamu sampai transfer uang segitu banyaknya untuk dia.” “Jangan mengada-ada, Naya...” “Dan siapa mantan kamu yang ngajak ketemuan? Kenapa kamu Cuma tulis nama inisialnya aja? Siapa ‘S’? Kamu segitu cintanya sama dia, sampai-sampai nggak mau aku tahu tentang mantan kamu yang satu itu?” cecar Kanaya. “Kamu ini ngomong apa sih, Nay? Jauh sekali pemikiranmu. Bilang aku punya istri siri, punya mantan yang masih aku cinta... Terlintas aja nggak pernah hal-hal yang seperti itu. Tolong jangan memancing pertengkaran! Aku pusing, Naya!” “Kamu pikir kamu aja yang pusing? Kamu aja yang banyak pikiran? Sama... aku juga pusing, capek, bosan! Kamu enak-enakan keluar malah bersenang-senang dengan perempuan lain!” “Aku keluar cari uang, bukan bersenang-senang. Aku berusaha supaya kamu dan anak-anak bisa hidup berkecukupan di rumah!” tukas Gavin mulai emosi. “Tapi nyatanya apa? Mau makan sehari-hari aja masih susah. Kerja siang malam, dapat duit malah ngasih cewek lain. Kalau tahu kayak gini, aku nggak akan dengerin kamu yang melarang aku kerja. Dulu aku udah enak jadi wanita karier yang hampir menapak kesuksesan di perusahaan besar. Tapi kamu nyuruh aku berhenti dan berjanji akan membahagiakan aku, yang penting aku fokus menjaga keluarga dan anak-anak kita. Tapi nyatanya, jangankan bahagia, perhatian kamu aja sekarang udah nggak aku dapatkan lagi. Uang belanja beberapa bulan ini stuck! Dan sekarang aku tahu, ternyata diberikan untuk perempuan lain. Pantas aja, aku dan anak-anak makin nggak keurus. Kamu nggak tahu betapa sulitnya menjaga 3 orang anak sendirian, Vin! Kamu tahunya mereka udah makan dan udah mandi. Tapi nggak tahu betapa stresnya aku ngurus mereka sendirian.” Emosi Kanaya meledak-ledak. Semua uneg-unegnya selama ini ia keluarkan. “Aku punya alasan sendiri soal uang itu Naya. Aku nggak bisa memberitahumu sekarang. Setelah urusanku selesai dengan Mariana, baru aku akan ceritakan. Aku Cuma minta kamu sekarang bersabar. Hidup kita memang susah hanya beberapa bulan belakangan ini kan? Aku janji semua akan baik-baik aja ke depannya. Kesulitan ini nggak akan lama. Tolong beri aku waktu dan dukunganmu.” “Ke depannya, mungkin kamu udah mendepak aku dan menikahi perempuan lain!” sahut Kanaya ketus. “Jangan sembarang bicara, Naya! Kata-katamu udah keterlaluan. Kalau kamu masih keras kepala begini lebih baik aku nggak pulang dulu sampai otak kamu dingin.” Gavin mengambil tas pinggang yang biasa ia bawa. Tanpa berkata-kata lagi ia berjalan keluar. Tak peduli kemarahan dan teriakan Kanaya yang sudah pasti terdengar tetangga kiri kanan. Gavin tak peduli. Ia lebih memilih pergi tanpa menjawab lagi. Ia khawatir kalau diteruskan pertengkaran itu, dia bisa gelap mata dan melakukan kekerasan pada Kanaya. Biar bagaimanapun dia sebenarnya sangat menyayangi sang istri dan tak pernah ingin menyakitinya. “Iya. Pergi aja! Nggak usah pedulikan kami! Nggak usah pulang sekalian! Karena begitu kamu pulang, aku udah nggak ada di sini lagi! Aku akan pergi! Kamu dengar Gavin?! Kamu nggak akan pernah ngeliat aku lagi!” Gavin masih tak menanggapi. Dia terus memundurkan motornya dan mengeluarkan ke halaman. Gavin yakin, itu hanya gertakan Kanaya. Sebab setiap kali mereka bertengkar, Kanaya selalu mengatakan hal yang sama. “Gavin...!” Kanaya menarik lengan kanan Gavin yang sudah siap menarik tuas gas motornya. “Asal kamu tahu, hal yang paling aku sesali adalah menikah dengan kamu!” Gavin melengos. Tanpa menanggapi ucapan Kanaya, ia langsung mengebut membelah jalan raya. Sementara Kanaya hanya bisa terpaku memandangi jalan setelah Gavin pergi. Ia tak peduli meski ada beberapa orang tetangga yang melihatnya sambil bergosip dan berbisik-bisik. Air matanya sudah tumpah sejak tadi. Napasnya menderu menahan amarah. *** Kanaya mengucek matanya. Entah sudah berapa lama ia tertidur. Setelah ia mengunci pintu, Kanaya sudah tak mau tahu keadaan di luar kamar. Entah pintu rumahnya ditutup atau tidak. Anak-anaknya turun main keluar atau tidak. Ia tak peduli lagi. Ia marah. Dan ia mengunci diri. Kini dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam. Dan suaminya belum pulang juga. Hatinya kembali panas. Dengan hanya berpikir satu kali, ia berdiri mengambil travel bag. Mengisinya dengan beberapa helai pakaian. Hanya ada satu yang diinginkannya saat ini. Ia ingin pergi sejauh mungkin. Selesai berkemas, Kanaya keluar dan cukup lama memandang ketiga anaknya yang tampak tidur berjejer di depan TV. Namun tak ada sedikit pun niat untuk mendekat apalagi melayangkan kecupan untuk para malaikat kecil itu. Entah apa yang ada dalam pikiran Kanaya sekarang ini, sehingga dengan mudahnya ia membalikkan badan dan berjalan keluar dari rumah. Kanaya pergi tanpa berpamitan. Berjalan menyusuri jalan yang benar-benar sudah sangat sepi. Tatapan matanya kosong, dan sedikit pun tak peduli pada keadaan di sekitarnya. Namun meski begitu ia tak merasa menyesal karena telah meninggalkan rumah dan anak-anaknya. Yang ada dalam pikirannya sekarang adalah pergi untuk menenangkan diri dan menjauh dari segala hal yang membuatnya sakit. Ia tak ingin lagi kembali, ia hanya ingin sendiri. Kanaya menghentikan sebuah taksi dengan melambaikan tangannya. “Mau diantar ke mana Mbak?” tanya sopir taksi itu begitu Kanaya sudah masuk dan duduk di belakang. “Tolong bantu carikan saya tempat istirahat untuk malam ini Pak. Tapi jangan hotel. Yang murah-murah aja.” “Saya tahu di mana tempat sewa kamar yang murah Mbak. Tapi di kost-kostan. Bisa dibayar per hari.” “Boleh Pak,” sahut Kanaya pendek. Mobil berjalan menembus pekatnya malam. Kini mereka memasuki jalan raya besar yang masih lumayan ramai meski waktu sudah menjejak tengah malam. “Mbak kok kayaknya sedih banget?” Kanaya yang sedang termenung jadi terkejut saat sopir taksi itu mengajaknya bicara. “Nggak kok Pak. Biasa aja,” elaknya. “Semua masalah ada jalan keluarnya. Jadi kalau bisa dihadapi, jangan kabur. Kalau untuk menenangkan diri sementara sih bolehlah,” kata si sopir taksi. Namun Kanaya kali ini tak menanggapi. “Mbak, di belakang kursi saya ada snack dan minuman kaleng. Silakan ambil, mungkin Mbak lapar.” “Bapak memang menyediakan Snack?” tanya Kanaya kagum. “Iya Mbak, ambil aja. Gratis kok, karena saya niatkan sedekah. Biar penumpang senang.” Kanaya mengecek di bagian belakang kursi si sopir, dan memang benar ada Snack dan minuman kaleng di sana. Dia hanya mengambil satu Snack dan mulai memakannya. Dia memang belum ada makan dari pagi, sejak pertengkarannya dengan Gavin tadi. “Mbak, boleh saya tanya sesuatu?” “Apa Pak?” “Dalam hidup ini, seandainya Mbak diberi satu kali lagi kesempatan untuk kembali ke masa lalu, apa yang ingin Mbak lakukan?” Kanaya diam sejenak. Meski baginya itu adalah sebuah pertanyaan yang aneh, namun ia merasa tertarik untuk menjawab. “Kalau saya kembali ke masa lalu, saya nggak akan menikah,” jawab Kanaya datar namun tegas. “Kenapa?” “Saya menyesal. Saya ingin hidup sendiri aja. Bisa bebas, bisa hidup semaunya. Nggak ada ikatan apa-apa. Nggak ada tali yang mengekang langkah saya.” “Tapi kenapa harus menyesal Mbak? Apa tak ada satu pun hal yang menyenangkan selama pernikahan? Mungkin Mbak bukan menyesali pernikahannya, tapi pasangannya.” “Mungkin....” sahut Kanaya malas, sambil kembali melayangkan pandangannya ke luar. “Mungkin Mbak Cuma belum terlalu mengenal suami Mbak.” “Ngaco!!!” sungut Kanaya dalam hati. “Saya udah bersama selama 10 tahunan Pak. Nggak mungkin saya nggak kenal sama suami saya,” ujar Kanaya, sedikit kesal. “Tapi menurut saya, kalau Mbak kembali ke masa lalu, lebih baik mencoba untuk lebih mengenal karakter suami, dari pada niat nggak mau nikah.” Kanaya mendelik mendengar kalimat si sopir yang menurutnya sok tahu itu. Lagian siapa juga yang mau kembali ke masa lalu? Ada-ada aja nih orang. Padahal nggak kelihatan habis minum alkohol, tapi omongannya kayak orang mabuk. Kanaya lebih memilih untuk tak menyahut lagi. Ia kini mengambil sebuah minuman kaleng dan langsung menenggaknya. Anehnya, belum lama ia minum, Kanaya merasa matanya mengantuk luar biasa. Susah payah ia mengerjapkan mata, demi melawan kelopak matanya yang semakin memberat. “Masih jauh Pak, tempat kost-nya? Saya udah ngantuk nih.” “Nggak pa-pa Mbak. Tidur aja yang nyenyak. Kita akan melakukan perjalanan yang panjang,” ujar si sopir penuh misteri. “Hahh??” Kanaya yang baru saja hendak menanyakan apa maksud perkataan si sopir, mendadak terkulai lemas dan tenggelam dalam tidur panjang yang membawanya menuju sebuah tempat yang jauh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD