BAB 4- Calon Saingan Kanaya

958 Words
“Cari siapa Mbak?” tanya seorang gadis cantik berambut cokelat saat melihat Kanaya celingukan di depan gerbang asrama putra. “Aku lagi nyari seseorang yang katanya tinggal di asrama ini. Kalau mau ketemu, kita mau minta izin sama siapa ya?” tanya Kanaya senang, karena merasa ada seseorang yang mungkin bisa membantunya. Kanaya memang memutuskan untuk mendatangi asrama putra, tempat di mana cowok yang nama dan wajahnya begitu mirip dengan Gavin suaminya. “Emang Mbak mau ketemu sama siapa?” tanya gadis itu lagi. “Namanya Gavin. Dan kalau memang nggak salah orang, namanya Gavin Fabiandra.” Jawab Kanaya kurang yakin. “Emang Mbak siapanya?” tanya gadis itu dengan tatapan tak suka. “Eehh... Mungkin bisa dibilang istrinya...” jawab Kanaya sekenanya. Karena dia sendiri pun bingung hendak menjawab apa. Gadis itu mendecih. “Gila... Mana ada anak yang tinggal di asrama sini udah punya istri. Mereka masih pada sekolah.” “Ya, tapi kalau memang dia Gavin yang saya kenal, berarti saya emang istrinya di masa depan.” Sahut Kanaya sengit. Ia tersinggung karena dibilang gila. Gadis cantik di depannya itu menyipitkan mata dan berkata dengan nada judes,” pergi aja deh Mbak. Di sini nggak ada yang namanya Gavin Fabiandra. Saya tahu, karena saya tiap hari ke sini. Dan saya kenal hampir semua siswa yang tinggal di asrama ini.” “Masa’ sih? Tapi penjaga konter itu tadi bilang kalau Gavin tinggal di asrama ini.” “Nggak ada, bohong kali dia.” “Tapi.....” “Silva...?” Kalimat Kanaya terpotong saat ada suara yang sangat ia kenal memanggil nama gadis yang kini sedang berdebat dengannya. Saat menoleh ke asal suara, Kanaya sangat terkejut karena memang yang baru saja muncul di hadapannya adalah Gavin yang tadi bertemu dengannya di konter. Dengan wajah julid, Kanaya memandang ke arah gadis yang tadi dipanggil dengan nama Silva itu. “Kamu bilang di sini nggak ada yang namanya Gavin? Dia Gavin kan?!” tanya Kanaya judes sambil menunjukkan ke arah Gavin yang terheran-heran. Silva tak menjawab, hanya membuang muka sambil menyilangkan tangan di d**a. “Apa sih maksud kamu bohong kayak gitu?!” tanya Kanaya lagi, seolah masih belum puas karena belum mendapatkan jawaban. “Kenapa, Va?” tanya Gavin pada Silva, yang mana gadis itu langsung mendekati dan memeluk tangannya. Melihat pemandangan itu, Kanaya langsung paham, bahwa Silva adalah pacar Gavin yang dimaksud oleh penjaga konter tadi. Pantas saja saat Kanaya bertanya tentang Gavin dan bilang kalau dia adalah istrinya di masa depan, Silva tampak tak suka. “Itu perempuan gila yang bilang kalau dia adalah istri kamu di masa depan.” Ujar Silva sinis, membuat bibir Kanaya langsung mengeriting. “Hah, kok bisa?” tanya Gavin makin tak mengerti. Kanaya semakin benci melihat Silva yang terlihat sengaja bergelayut manja di lengan Gavin. Meski Kanaya sekarang membenci suaminya itu, tetap saja ia tak suka melihat kalau ada perempuan lain yang dekat-dekat dengan Gavin. Kanaya berdehem. Bagaimanapun, ia tetap harus bertanya karena menyangkut keanehan yang terjadi pada dirinya hari ini. “Gavin...? Nama lengkap kamu Gavin Fabiandra kan?” “Iya. Kamu siapa ya?” “Kamu nggak kenal aku?” Kanaya menunjuk mukanya. Gavin hanya menggeleng. Kanaya tampak frustasi. Namun kemudian ia bertanya lagi. “Kamu asalnya dari Ketapang kan? Nama Ibu kamu Salamia dan Bapak kamu Irmanto. Kamu punya adik perempuan yang bernama Ifa dan adik laki-laki, namanya Aidan.” Kanaya menyebut semua yang ia tahu. Gavin bengong. “Kamu siapa sih? Kok bisa tahu tentang aku?” “Nggak usah heran, Vin. Dia bisa aja tahu tentang kamu dari teman-teman yang lain.” ujar Silva judes. “Kamu yakin nggak kenal aku?” tanya Kanaya lagi, seolah tak mempedulikan Silva yang berada di samping Gavin. Gavin menggeleng lagi. “Emang kamu siapa?” “Aku mau tanya, sekarang umur kamu berapa?” Kanaya justru balik bertanya. “Nggak lama lagi umurku 19 tahun.” “Jadi maksudnya, sekarang umur kamu 18 tahun?” Tanya Kanaya dengan mata setengah melotot. “I-iya... Emangnya kenapa? Apa mukaku kelihatan tua, nggak sesuai umur?” Gavin justru balik bertanya dengan dahi berkerut. Namun bukannya mendapatkan jawaban, Gavin justru melihat gadis aneh yang tadi sok kenal di depannya itu justru membalikkan badan dan pergi sambil menutup mulut dengan tangan kanannya. “Hei, mau ke mana?! Kamu belum menjawab pertanyaanku!” panggil Gavin. Namun Kanaya tak menghiraukan. Ia terus berjalan, entah mau menuju ke mana. Yang jelas ia butuh tempat yang tenang untuk memikirkan semua keanehan yang terjadi pada dirinya. “Udah biarin aja, Vin. Namanya juga orang gila. Mungkin dia udah sadar.” Ujar Silva sambil menarik tangan Gavin. “Mendingan kita jalan-jalan sebentar yuk.” Ajaknya, dan Gavin mau tak mau menurut, meski ia masih penasaran dengan sosok gadis yang sudah dua kali bertemu dengannya itu. Sementara Kanaya memutuskan untuk kembali ke tempat kostnya. Dia ingin mencoba untuk mencari seseorang yang mungkin bisa membantunya mengetahui apa yang sudah terjadi. Kanaya heran, bagaimana bisa wajahnya tampak kembali muda? Ia bahkan bertemu dengan Gavin yang juga sepertinya masih remaja. Yang lebih membingungkan lagi, ia seolah tak mengenal daerah ini. Semua terasa asing baginya. Saat baru saja ia memasuki halaman kost, terdengar suara seorang wanita mengagetkannya. “Wah, ini cewek yang diantar malam-malam itu sama taksi ya? Akhirnya bangun juga. Udah dua hari kamu tidur terus, sampe di cek sama yang punya kost, dikira meninggal. Ternyata Cuma tidur. Tapi kok bisa sih kamu dua hari nggak bangun-bangun? Kecapekan banget kayaknya ya? Emang nggak lapar atau pengen pipis kah? Trus, kamu abis dari mana nih?” tanya gadis itu nyerocos. Kalimat yang meluncur dari mulut gadis berusia sekitar dua puluh tahunan itu membuat Kanaya menganga tak percaya. “Maaf, saya nggak paham. Maksud Adek, saya tidur selama dua hari di sini?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD