BAB 10- Menandatangani Perjanjian

1039 Words
“Aku akan dekatin Gavin, tapi aku nggak mau kembali ke tahun 2023. Itu sih sama aja aku harus kembali ke kehidupanku yang lama. Kamu udah bawa aku ke sini, anggap aja kamu memberikan aku kesempatan untuk mengukir dunia yang baru buatku di masa depan.” “Kamu nggak sedang berada dalam posisi untuk negosiasi atau mengatur ketentuan yang udah dibuat oleh semesta, Kanaya. Kamu hanya harus memilih dan menjalani antara dua pilihan. Pertama, kamu setuju untuk menjalani hari-hari bersama Gavin, memahami dengan baik siapa dirinya, dan pulang ke masa depan tempat di mana awalnya ini semua bermula. Atau kamu bisa saja menolak untuk mendekati dan memahaminya, tapi resikonya kamu akan tetap terperangkap di waktu dan tubuh seperti sekarang ini. Dan kalau sudah begitu, aku lepas tangan. Urusan kamu kembali kepada keluargamu di Kalimantan, bukan termasuk dalam tanggung jawabku. Artinya, setelah kau memutuskan untuk tetap di sini, maka kau akan berjuang sendiri. Paham?!” “Jadi aku nggak boleh tetap di sini meski sudah mendekati Gavin?” “Nggak boleh! Kalau kamu mendekati dia, tapi maunya makan enak dan kembali ke usia muda hanya untuk mengubah garis takdir, itu artinya kamu serakah. Dan kami tak akan mengizinkan itu terjadi.” Kanaya berpikir keras. Ia tak mungkin bisa bertahan hidup sendiri di tempat yang sama sekali tak ia kenal. Untuk sehari tak makan dan tagihan uang kos saja dia sudah merasa mau mati. Apalagi kalau sampai Saeid lepas tangan dan membiarkannya. “Kalau aku mendekati Gavin dan setuju untuk berusaha mengenal dia lebih baik lagi, apa kamu akan membantu aku untuk keluar dari masalah keuangan selama di sini?” “Pasti! Kalau kau mau bekerja sama, tentu saja aku pasti akan memberi beberapa kemudahan buatmu.” “Kalau gitu aku setuju. Aku akan mendekati Gavin dan berusaha untuk mengenal dirinya dengan baik. Setelah itu aku akan pulang ke masa depan.” Ujar Kanaya dengan penuh percaya diri. “Yakin?” “Yakin...” “Nggak akan berubah pikiran lagi? Kau siap untuk memenuhi segala ketentuan untuk perjanjian kita ini dan tak akan melanggar pantangan selama berada di sini?” “Iya. Aku nggak akan berubah pikiran.” “Aku peringatkan lagi, Kanaya. Ada dua pantangan selama kau berada di masa lalu seperti sekarang ini. Pertama, jangan pernah mengatakan pada Gavin kalau kau adalah istrinya yang datang dari masa depan. Kalau kau dengan sengaja melakukan itu, maka jalan hidup kalian akan berubah. Kalian bukan lagi pasangan suami istri di tahun 2023. Dan semua yang terjadi dan pernah ada, termasuk anak-anak kalian akan menghilang.” “Iya, iya. Aku mengerti. Kemaren kamu udah bilang.” Ujar Kanaya seolah malas untuk mendengarkan. “Trus yang kedua apa pantangannya? Aku lupa.” Katanya lagi. “Yang kedua, seberapa pun tingginya nafsu kalian, meski sudah di ubun-ubun, jangan pernah melakukan s** atau berhubungan badan.” “Ih, jorok amat bahasanya.” Kanaya merutuk. “Aku serius! Jangan anggap ini sebuah candaan. Ini menentukan jalan hidupmu ke depannya.” “Iya, iya. Trus, apa konsekuensinya kalau aku melakukan pantangan yang kedua?” “Untuk itu, aku tak bisa memberitahumu sekarang.” “Kenapa?” “Karena pantangan kedua boleh dibilang sebagai penentu. Kau akan tahu alasannya suatu saat nanti.” “Demen amat pake rahasia segala!” “Ini sudah peraturan kami! Lagi pula, memangnya kau mau melanggar semua pantangan itu? Jangan coba-coba kalau memang tak mau menyesal seumur hidup!” ancam Saeid. “Iya. Bawel! Udah banyak aturan, cerewet lagi!” sungut Kanaya. “Apa semua udah dimengerti?” “Iya.” “Paham nggak?” “Paham!” “Ada pertanyaan? Karena begitu kita menandatangani perjanjian ini, aku nggak akan memunculkan diri lagi di hadapanmu. Aku hanya akan datang, saat sudah dekat waktunya bagimu untuk kembali ke masa depan.” “Jadi setelah ini, kita nggak akan ketemu lagi? Dan kalau kita ketemu lagi, itu artinya aku akan pulang ke masa depan?” “Iya. Biasanya paling lambat seminggu sebelum saatnya kembali, aku akan memunculkan diri.” Jawab Saeid. “Berapa lama?” “Apanya?” “Berapa lama kamu akan memunculkan diri kalau dihitung mulai dari sekarang?” “Semua tergantung padamu, Kanaya. Semakin cepat kau memahami Gavin, semakin cepat waktumu untuk kembali, maka semakin cepat pula aku akan menemuimu. Dan kalau aku sudah muncul, artinya aku sudah memberi tanda padamu untuk bersiap-siap. Mengerti kan?” “Iya. Nggak perlu diulangin terus! Bikin eneg aja.” “Oke, kalau gitu kita tanda tangani perjanjian kita.” Saeid mengulurkan tangan. Namun Kanaya hanya memandanginya dengan heran. “Mana kertas sama pulpennya?” tanya Kanaya bingung. “Norak! Kami nggak perlu hal yang seperti itu. Cukup bersalaman aja, artinya kau sudah menandatangani perjanjian kita.” “Oke. Cukup seperti ini kan?” Kanaya menyambut uluran tangan Saeid. Namun sedetik kemudian ia menjerit kecil, saat merasa seperti ada sebuah aliran listrik bertegangan rendah yang menjalari tangan hingga ke seluruh tubuhnya. “Aaww.... Apa itu tadi?” tanya Kanaya panik sambil mengurut telapak tangannya yang masih terasa sakit. “Bukan apa-apa. Itu Cuma tanda kalau kau sudah terikat perjanjian dengan kami.” “Bisa nggak sih, nggak usah nyakitin? Mending pake kertas sama pulpen daripada kayak gini.” Protes Kanaya. “Nggak usah banyak mengeluh. Nggak baik buat kesehatan.” Ledek Saeid. Kanaya melotot. “Diem! Bikin pusing aja! Sekarang aku tanya, gimana dengan biaya hidupku selama di sini? Mana uangnya?” Kanaya menggerakkan jari-jari tangan, seolah meminta Saeid untuk menyerahkan lembaran uang padanya. Saeid tersenyum. “Kau jangan salah paham. Aku nggak akan memberimu uang cash.” “Jadi?” “Mau uang dan makan ya harus kerja.” “Aseem... Kamu bohongin aku?!” “Nggak, kok. Sekarang kamu pulang aja. Tidur yang nyenyak. Soal makan minum dan biaya hidup, kami yang akan membuka jalan dan memberikan kemudahan buatmu. Kini saatnya aku pamit. Sampai jumpa nanti. Jangan rindukan aku, ya.” Saeid melewati Kanaya sambil tersenyum. Namun Kanaya masih merasa tak puas hati. “Hei! Seenggaknya minta duit dikit dong buat beli camilan malam ini sama sarapan buat besok pagi. Aku juga mau beli facial wash buat cuci muka. Liat nih, muka aku udah butek!” Kanaya memanggil Saeid setengah berteriak. Namun Saeid hanya melambaikan tangan sambil terus berjalan, tanpa menoleh ke belakang sama sekali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD