“Maaf ya, aku benar-benar nggak sengaja.”
Entah sudah berapa kali Kanaya mengucapkan kalimat itu. Sejak tadi masih di warung sampai saat mereka kini sedang berjalan santai menuju ke tempat kos.
Gavin menepatinya janjinya untuk mengantar Kanaya pulang. Dan Kanaya, meski sebelumnya sempat menolak, akhirnya membiarkan cowok itu mengantarnya karena merasa bersalah telah membuat Gavin malu setengah mati oleh kejadian tak terduga tadi.
“Iya, nggak pa-pa. Mau diapain lagi? Udah terjadi juga.” Kekehnya.
“Tapi kok kamu bisa ada di situ tadi?”
“Aku emang biasa makan di situ. Selain murah, bisa ngutang juga. Maklum, kiriman orang tua kadang telat beberapa hari. Dan Pak Dhe itu baik banget, bolehin aku dan beberapa anak asrama lain untuk berhutang. Nanti kalau uang udah dikirim, baru bayar.”
“Kalau gitu , kamu tadi traktir aku makan, jatah bulanan kamu berkurang dong.”
Gavin tertawa kecil. “Nggak pa-pa. Duit masih bisa dicari. Tapi kesempatan nolong orang yang lagi kepepet kan nggak tiap hari.”
“Tapi, kenapa kamu tiba-tiba tadi bantu aku? Bukannya kemarin kamu bilang nggak kenal sama aku?” tanya Kanaya, mendadak penasaran.
“Emang aku nggak kenal. Makanya itu, tadi pas lihat kamu, aku jadi ingat kalau kamu cewek yang kemarin datang ke asrama dan mengatakan semua hal yang benar tentang aku. Jadi boleh dibilang, aku bantu tadi juga sebenarnya mau tanya, sebentar kamu siapa? Kok bisa tahu tentang aku? Kemarin kan kamu belum jawab, tahu-tahu main pergi aja.”
Kanaya diam sejenak, memikirkan jawaban apa yang tepat untuk menjawab pertanyaan Gavin.
“Kita omongin hal itu lain kali aja ya. Ceritanya panjang.”
“Sepanjang apa?” tantang Gavin.
“Nanti aja aku ceritain. Anggap aja kemarin aku lagi gila.”
“Ya nggak bisa gitu. Masalahnya kegilaan kamu itu berkaitan sama aku.”
“Kalau gitu kasi aku waktu. Nanti aku jelasin semuanya.”
“Oke, anggap aja aku simpan janji itu. Biar punya alasan untuk ketemu sama kamu lagi.” Ujar Gavin dengan senyum manisnya.
“Kenapa mau ketemu aku lagi? Nanti pacar kamu marah.” Pancing Kanaya.
“Silva, maksud kamu? Dia emang lagi dekat sama aku, tapi belum resmi jadi pacar.”
“Kenapa? Dia kan cantik. Apa kamu punya pacar yang lain?”
Gavin tertawa kecil. “Jujur aja, aku emang dekat dengan beberapa cewek. Tapi nggak ada satu pun pacar aku. Aku nggak boleh pacaran karena masih sekolah.” Jelas Gavin.
Kanaya mengangguk. Diam-diam ia mencuri pandang ke arah Gavin yang tampak tinggi menjulang di sampingnya. Ia heran, kenapa bisa setinggi ini? Apa dulu waktu ia berumur 17 tahun memang masih dalam masa pertumbuhan? Karena seingatnya, kalau ia berdiri di samping Gavin yang telah menjadi suaminya, Kanaya tak sependek ini.
Kanaya juga mengagumi kontur wajah Gavin dari samping. Hidungnya yang bangir memang menjadi favorit Kanaya sejak dulu saat pertama kali bertemu. Hidung mancung yang tak berlebihan, sungguh enak dipandang mata.
Hanya saja, sekarang Gavin terlihat jauh lebih segar dan ganteng. Entah mungkin karena faktor usia atau karena memang saat sekolah, Gavin hanya fokus belajar dan menjaga penampilannya.
Sementara Gavin suaminya, memang tetap selalu menjaga penampilan, tapi hanya sekedar saja karena terlalu sibuk bekerja siang malam.
Kanaya menggelengkan kepala. Membuang jauh semua kekaguman yang sempat meracuni hati. Buat apa? Toh Kanaya sudah pernah memiliki dan merasakan bagaimana rasanya menjadi istri Gavin.
Semua awalnya memang menyenangkan, namun bukankah kini ia sudah bosan dan tak lagi memiliki perasaan pada suaminya itu? Seharusnya, ia tak perlu mengulang perasaan seperti dulu. Segalanya sudah berakhir bagi Kanaya.
“Jadi kamu nge-kost di tempat Bu Ning? Aku boleh main ke sini kapan-kapan?”
Pertanyaan Gavin membuat Kanaya baru sadar kalau mereka sudah sampai di depan kost.
“Mmhh... Boleh aja sih. Tapi kalau mau ketemuan mending di luar kan? Nggak enak sama yang punya kost.” Kanaya memberi alasan. Padahal, ia tak ingin Gavin mendatanginya ke sini. Sebisa mungkin jangan sampai terlalu sering bertemu.
“Kalau gitu aku pulang ya...” pamit Gavin.
“Iya, makasih udah dianterin. Makasih juga udah traktir aku makan.” Ujar Kanaya tulus. Meski dalam hati ia bingung memikirkan hari esok, bagaimana caranya agar bisa makan dan mencari uang untuk membayar kos.
“Masuklah dulu. Biar aku tahu kalau kamu masuk ke dalam dengan aman.”
Kanaya tersanjung. Meski sejak dulu ia tahu, kalau Gavin memang tipe laki-laki perhatian yang akan menjaga perempuan yang ia cintai dengan baik dan sepenuh hati.
Kanaya mengangguk dan masuk ke halaman kos. Namun ia tak sampai ke kamar. Di area yang gelap, ia memilih untuk berhenti dan sembunyi dari pandangan Gavin. Kali ini, ia ingin melihat Gavin yang pergi.
Saat Gavin mulai berjalan menjauh, Kanaya mengendap-endap ke pagar kos. Mengintip diam-diam ke arah Gavin yang tampak berjalan santai menyusuri jalan untuk kembali ke asrama yang tak jauh dari kosnya.
Tanpa sadar Kanaya tersenyum. Dilihat dari belakang saja, Gavin tampak mempesona. Memang usia muda itu adalah anugerah. Segalanya jadi menyenangkan kalau melihat yang segar-segar.
“Duh, asyiknya melihat calon suami.”
Kanaya terkejut setengah mati mendengar seseorang berbicara tepat di samping telinganya. Ia bahkan sampai menjerit kecil dan badannya sedikit terlonjak karena kaget.
“Saeid....?!”
“Dia ganteng kan? Baik lagi. Sayang sekali kalau kamu melepaskan dia begitu aja.”
“Kalau gitu kamu aja yang ambil.” Sahut Kanaya jutek.
“Nggak usah jual mahal. Bilang aja masih cinta.”
Kanaya mendelik. “Denger ya, Malaikat Kurang Kerjaan.... Kalaupun aku masih cinta, tapi aku udah nggak mau lagi hidup bersama dengan dia. Lagian ngapain sih kamu tadi baru nongol pas Gavin udah duduk dan beliin makanan buat aku? Aku sampai nunggu lama tau nggak, Cuma buat ketemu kamu!”
“Ya emang aku sengaja. Aku tahu kamu cari aku bukan karena butuh, tapi mau minta makan kan? Kamu kelaparan karena nggak punya uang sama sekali. Ya jadi udah benar dong, kalau Gavin yang bayarin kamu makan. Dia kan suami kamu, bukan aku. Ngapain juga aku bayarin kamu makan terus. Kamu aja diajak kerja sama untuk mempermudah pekerjaan aku nggak mau. Jangan harap aku juga nolong kamu!”
“Tapi kan....”
“Kalau mau ngomong kita cari tempat lain, jangan di sini. Ayo ikut aku. Kita diskusikan lagi masalah ini.”
Tanpa menunggu jawaban Kanaya, Saeid berjalan menuju suatu tempat yang arahnya berlawanan dari tempat Kanaya tadi datang. Dengan mengentakkan kaki, Kanaya terpaksa mengikutinya.
Mereka sampai di sebuah taman yang minim penerangan, namun ramai dikunjungi orang.
“Kita cari tempat sepi untuk duduk.”
“Terserah ...” sahut Kanaya malas.
Di bawah sebuah pohon rindang, agak jauh dari orang-orang, mereka menemukan tempat yang pas untuk bicara.
“Duduk dulu. Jadi....”
“Aku udah pikirkan. Kalau memang syaratnya aku hanya harus melakukan kontak langsung dengan Gavin, akan aku lakukan. Asal selama di sini aku bisa makan dan pegang uang sendiri. Trus aku harap bisa pulang aja ke Kalimantan. Tapi aku nggak mau kembali ke tahun 2023. Bisa kan kalau kayak gitu?” cerocos Kanaya memotong kalimat Saeid.
“Ya ampun nih anak.... Belum juga aku selesai ngomong....” gerutu Saeid.