“Apa-apaan nih? Masa’ aku makan roti kadaluwarsa?” Katanya sambil kembali membaca tulisan dan mengecek keadaannya roti yang ia makan.
“Masih bagus kok, masih enak banget malah. Apa salah cetak ya? Masa’ ini roti buatan tahun 2007?” gumamnya. Tapi ia tetap berpikir positif. Mungkin memang Cuma salah cetak. Ia pun melanjutkan makannya.
Tiba-tiba saja Kanaya teringat kalau ponselnya kehabisan baterai dan tak menemukan charger di konter tadi.
“Oh iya! Apa pinjam charger sama Mbak Ning aja ya?” serunya, seolah baru saja menemukan ide cemerlang.
Dengan cepat ia keluar kamar, mencari keberadaan Bu Ning. Dan ia melihat wanita itu sedang menyapu teras rumah.
“Gimana? Udah mendingan?” tanya Bu Ning begitu melihat Kanaya datang lagi.
“Iya, makasih Mbak. Tapi saya boleh pinjam charger HP? Baterai HP saya habis. Dan kayaknya charger ketinggalan di rumah.”
“Sebentar ya. Saya ambilkan.” Bu Ning kembali masuk ke dalam dan keluar lagi dengan membawa sebuah charger.
“Charger HP saya bukan yang kayak gini Mbak. Yang gepeng.” Kata Kanaya.
“Emang ada charger HP yang gepeng?” Bu Ning heran.
“Iya, untuk HP yang kayak gini.” Kanaya menunjukkan smartphone miliknya.
“HP apa kayak gini? Kok layar semua? Tombolnya pada ke mana?” Bu Ning semakin keheranan. Kanaya bahkan jauh lebih heran. Masa’ ada orang zaman sekarang yang nggak pernah melihat smartphone?
“Ini android keluaran terbaru Mbak. Maaf, emangnya Mbak masih pake HP jadul ya?” tanya Kanaya hati-hati, takut wanita itu tersinggung.
“HP saya juga keluaran terbaru. Nih...” Bu Ning mengeluarkan sebuah ponsel berkamera dari sakunya. Kanaya melotot.
Itu kan HP jadul yang sempat ngetrend waktu dia masih kelas 2 SMA dulu? Namun ia tak pernah mampu membeli karena harganya sangat mahal. Ternyata masih ada orang yang pakai seperti itu di zaman sekarang.
“Kenapa sih, kok bengong aja? Jadi minjem nggak charger-nya?” tanya Bu Ning karena Kanaya hanya melongo sejak tadi.
“Nggak usah Mbak, saya cari di tempat lain aja nanti.” Ujar Kanaya. Ia merasa tak habis pikir dengan segala keanehan sejak bangun tidur hari ini.
“Oh, ya udah...” kata Bu Ning sambil membetulkan posisi charger di tangannya.
“Saya boleh minta izin keluar sebentar Mbak? Saya haus, mau cari minum yang segar-segar.”
“Ya boleh. Silakan, yang penting hati-hati aja di jalan.” Pesan Bu Ning.
Kanaya mengangguk dan kembali berjalan keluar kost. Kali ini ia tak tahu ke mana tujuannya. Ia hanya memerlukan sebuah tempat untuk berpikir dengan jernih.
Sekitar setengah jam berjalan, ia melihat ada warung kecil di pinggir jalan yang menjual es kelapa. Kanaya singgah dan memesan es. Di saat seperti ini ia perlu sesuatu yang dingin untuk menyegarkan pikiran.
Saat sedang termenung sambil meminum es, Kanaya terkejut saat ada seseorang yang tiba-tiba duduk di depannya. Lelaki berkacamata hitam itu duduk berseberangan meja dengannya.
“Banyak pikiran ya? Mau kubantu?” tanya lelaki itu sambil melipat kacamata dan memasukkannya ke saku baju.
“Maksudnya? Maaf, anda siapa ya?”
“Nggak ingat?” lelaki itu mendekatkan mukanya. Kanaya tampak shock saat sadar siapa yang ada di depannya itu. Itu adalah sopir taksi yang malam itu mengantarnya.
“Hahhh.... Kamu kan...?”
“Nggak usah heboh. Santai aja ngomongnya. Kita bicarakan pelan-pelan.” Kata lelaki itu sambil melambaikan tangan pada pemilik warung. “Es kelapanya satu lagi Pak Dhe.”
“Siapa kamu? Dan apa yang udah kamu lakukan padaku?” tanya Kanaya dengan nada tajam dan dingin.
“Biar kuperkenalkan diriku. Namaku Saeid. Aku adalah Malaikat Pernikahan.”
Kanaya menarik bibir kanan atasnya. “Apaan tuh?”
“Aku adalah malaikat yang mengurus soal pernikahan, soal rumah tangga.”
“Baru denger.” Cetus Kanaya.
“Terserah mau percaya atau nggak. Tapi kamu udah tahu sendiri kan, apa yang terjadi dengan kamu belakangan ini? Kamu sadar kan dengan semua keanehan yang terjadi? Kamu tadi juga udah ketemu sama suami kamu waktu dia masih muda. Dan kamu, juga kembali muda.”
Kanaya diam. Meski benci dengan apa yang ia dengar, namun ia mengakui itu semua.
“Jadi, bisa jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku harus mengalami itu semua?”
“Kau pasti sudah tahu, kalau kini kau sedang berada di tahun 2007. Kami mengembalikanmu ke masa 16 tahun yang lalu, beberapa tahun sebelum kau bertemu dengan suamimu, Gavin.” Malaikat Pernikahan memulai penjelasannya.
“Kami? Siapa kami?”
“Semesta dan pemiliknya. Kau tak perlu pikirkan soal itu. Yang jelas, kami membawamu ke tempat ini, di masa kini adalah karena suatu alasan. Yaitu agar kau bertemu lagi dengan suamimu di masa lalu dan bisa mengenalnya dengan baik.”
“Buat apa?”
“Apanya?”
“Buat apa melakukan hal seperti ini? Tanpa mengembalikan aku ke masa lalu pun, aku sudah mengenal suamiku dengan baik.”
“Kau yakin?”
“Yakin. Seyakin keinginanku untuk berpisah dengannya.”
“Jadi karena itu kau sampai hati meninggalkan suami dan anak-anakmu tanpa berpamitan sama sekali?” sindir Saeid, Kanaya hanya mendelik sebal.
“Itu urusanku!”
“Aku tahu. Tapi aku tak bisa membiarkan semua terjadi begitu saja.”
“Kenapa? Bukankah selama ini kalau orang menikah, terus bercerai itu adalah sebuah hal yang biasa?”
“Memang biasa. Tapi setidaknya kau tak boleh mengatakan kalau hal yang paling kau sesali di dunia ini adalah menikah. Bagaimanapun, kau sendiri yang dulu memutuskan untuk menikah.”
“Oke anggap itu salahku. Trus aku harus gimana?”
“Menetaplah di sini selama beberapa waktu, lakukan kontak langsung dengan Gavin, kenali dia dengan baik. Tapi ingat, kau sama sekali tak boleh mengatakan kalau kau adalah istrinya dari masa depan.”
“Memangnya kenapa?”
“Kalau kau bilang kau adalah istrinya di masa depan, maka jalan hidup kalian akan berubah. Semua yang ada dan pernah terjadi, termasuk anak-anak kalian akan menghilang.”
“Kalau aku nggak mau gimana?”