BAB 7- Era Shock

1223 Words
“Nggak mau gimana maksud kamu?” Saeid terkejut dengan kalimat Kanaya. “Aku mau tetap di sini. Tapi aku nggak mau berhubungan dengan Gavin. Aku ingin menikmati hidupku yang bebas. Masih muda, nggak capek ngurus suami dan anak.” “Kalau gitu kamu nggak akan bisa kembali ke masa depan. Ke tahun 2023. Semua proses hidup kamu akan diulang lagi dari umur 17 tahun, yaitu usiamu sekarang!” Saeid berkata dengan agak marah. “Bagus dong! Aku bisa menetapkan standar hidupku sekarang. Aku akan jadi wanita karier yang sukses dan banyak uang. Baru aku akan mencari jodoh sepadan yang pasti bisa membahagiakanku.” Saeid membuang napas. “ Kamu nggak merasa sayang, melepaskan semuanya? Pernikahan kamu yang udah bertahun-tahun, suami kamu yang ganteng dan selalu berusaha untuk membahagiakan kamu, juga anak-anak kamu yang lucu.” “Aku nggak tahu. Yang jelas, aku jenuh dan udah nggak punya perasaan apa-apa lagi dengan Gavin. Dia benar-benar udah mengecewakanku. Kita nggak bisa memaksakan kehendak kalau udah berhubungan dengan perasaan kan? Aku Cuma nggak mau lagi menjalani kehidupan seperti kemarin.” Kanaya mulai mengencangkan suaranya. Ia tak peduli meski orang di sekitar mendengar. “Kamu sadar nggak, kalau kehidupan kemarin yang kamu bilang membosankan dan nggak kamu sukai itu, adalah impian beberapa orang.” “Sok tau!” Saeid melotot. Menasihati Kanaya membuat emosinya terpancing. Tapi biar bagaimanapun, sudah menjadi tugasnya untuk membantu mempertahankan sebuah rumah tangga yang berada di ujung tanduk. “Dengar ya Nay, tolong pertimbangkan lagi keputusanmu. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari.” Saeid berusaha bicara dengan nada yang sedikit melunak. “Kenapa sih harus memaksa aku? Kalaupun aku bercerai dan berpisah dengan Gavin, itu nggak merugikan kamu dan semesta ini kan?” Kanaya masih saja keras kepala. Hatinya benar-benar sudah tertutup keegoisan. “Tapi aku nggak bisa berdiam diri kalau keputusan yang kamu ambil itu akan menyakiti tiga makhluk kecil yang nggak berdosa.” “Sekarang aku mau tanya, kenapa harus ngurusin aku doang? Banyak pasangan lain di belahan bumi ini yang akan bercerai. Aku udah bulat dengan keputusanku, jadi silakan nasehatin orang lain aja!” ujar Kanaya sambil menyilangkan tangan di d**a. “Pertama, karena aku kebagian tugas untuk ngurusin kamu, sementara pasangan yang lain ada Malaikat Pernikahannya masing-masing. Kedua, menurut garis takdir, pernikahan kamu ini masih bisa diselamatkan, hanya saja keputusan yang kamu ambil di saat kamu kabur dari rumah, bisa membuat banyak orang terluka dan menjalani kehidupan yang berat ke depannya. Jadi, tolong dengarkan saja kataku dan lakukan sesuai apa yang kuperintahkan.” Jelas Saeid. “Berarti, nggak semua orang yang mau bercerai akan didatangi orang kayak kamu? Cuma beberapa pasangan tertentu aja?” tanya Kanaya. “Aku bukan orang, aku malaikat.” Cetus Saeid. “Bodo amat! Kalau kamu kebanyakan ngomong dan protes dengan keputusanku, mending turun pangkat aja deh jadi manusia. Trus kawin dan rasakan susahnya menjalani rumah tangga. Dipikir gampang apa, bertahan di saat keadaan hidup lagi genting?!” sungut Kanaya. “Nggak mau! Lagian jangan bilang turun pangkat, dong! Manusia itu derajatnya justru yang paling tinggi di antara para makhluk. Cuma emang ujiannya yang paling berat.” “Nah tuh tau! Jadi tolong ya jangan bilang begini begitu kalau kamu sendiri aja nggak ngerasain apa yang aku alami selama ini.” Lagi-lagi Saeid hanya bisa mengembuskan napas. Kebanyakan saat ia melaksanakan tugas seperti ini, para manusia itu pasti akan menolak dan adu argumen dengannya. Jadi, ia pasti bisa menghandle yang satu ini juga. “Oke. Jadi kamu nggak mau nih ketemu dan menjalani hari-hari ke depan dengan Gavin?” “Iya.” “Nggak nyesel? Kamu nggak akan bisa balik ke tahun 2023. Kamu akan tetap di sini dan menjalankan lagi hidup kamu dari umur 17 tahun.” “Bagus dong. Aku senang malah.” Sahut Kanaya judes. “Jangan berpikir mudah menjalani kehidupan yang sudah lama berlalu. Kamu nggak akan bisa bertahan lama di zaman yang masih serba terbatas kayak gini.” “Kata siapa? Emangnya aku lahir langsung berumur 33 tahun? Aku juga pernah kok melewati masa umur 17 tahun. Aku juga dulu merasakan tahun 2007. Jadi ya nggak mungkin kaget lagi. Kecuali aku dikembalikan ke zaman prasejarah, baru aku takut.” Saeid menggeleng. “Tapi dulu kamu di tahun 2007 kan tinggal dengan orang tua kamu di Pontianak. Ini Surabaya, tempat yang sama sekali asing buatmu.” Saeid mengingatkan lagi. “Biarpun ini di Surabaya, kan masih Indonesia juga. Tinggal hubungi orang tuaku, trus minta duit buat pulang ke sana. Beres!” Saeid menyeringai. “Gitu ya? Ya udah kalau gitu. Semoga berhasil dengan rencana kamu.” Saeid berdiri. Ia memberikan selembar uang kertas senilai lima puluh ribu kepada Kanaya. “Buat apa nih?” tanya Kanaya jutek. “Bayar es kelapanya pakai uang ini. Uang yang kamu bawa dari masa depan nggak akan laku di zaman sekarang. Bisa-bisa kamu ditangkap dengan tuduhan mengedarkan uang palsu. Jangan lupa ambil kembaliannya, buat pegangan beberapa hari ke depan.” Kanaya mengambil uang itu. Karena merasa kalau apa yang dikatakan Saeid ada benarnya juga. “Jadi kamu nggak akan datangi aku lagi kan?” tanya Kanaya memastikan. “Nggak. Malah kamu yang nanti akan mencari dan mendatangi aku dengan sendirinya.” Ujar Saeid yakin. “Sok tau! Kalaupun iya, memangnya aku tahu di mana mau cari kamu? Nggak mungkin aku ke langit buat ketemu sama yang namanya ‘Malaikat’...” Kanaya menggerakkan jari telunjuk dan jari tengahnya, membentuk tanda kutip. Seolah memberi penekanan pada kata ‘Malaikat’. “Terserah kamu. Sampai jumpa lagi nanti.” Saeid berkata sambil berjalan menjauh. “Nggak bakal!” teriak Kanaya. Dan Saeid hanya merespons dengan melambaikan tangan tanpa menoleh lagi ke belakang. *** Kanaya berguling-guling di atas tempat tidur. Perutnya sangat lapar. Ia belum makan apa pun sejak pagi, sementara hari mulai beranjak gelap. Sisa uang yang diberikan Saeid sudah habis sejak kemarin. Uang itu hanya bertahan dua hari saja. Ia bahkan sudah mencoba untuk membawa uang yang ada di dompetnya, uang dari masa depan. Dan benar kata Saeid, uang itu tidak laku di sini. Terlebih lagi, setiap kali ia mengeluarkan uang itu, selalu disertai tatapan curiga dari orang-orang. Termasuk Bu Ning, saat kemarin datang ke kamarnya untuk menagih uang kos. Kanaya mengusak rambutnya. Ia pusing sekali. Perutnya yang lapar, ditambah lagi Bu Ning yang memaksanya untuk membayar uang kos dalam waktu paling lambat seminggu, membuat kepala Kanaya berdenyut. Dapat dari mana dia uang dalam waktu dekat seperti ini? Semua sungguh tak sesuai dengan bayangan dan rencana Kanaya. Ia pikir akan mudah menjalani semua. Hanya tinggal mengabari orang tuanya di Kalimantan, dikirimi uang, pulang, dan kembali ke masa-masa sekolah. Namun ternyata Kanaya tak ingat, kalau ia sama sekali tak memiliki ide bagaimana cara untuk menghubungi orang tuanya. Kanaya lupa, kalau ia sama sekali tak hafal nomor ponsel yang digunakan orang tuanya di tahun 2007. Nomor ponsel mereka di tahun 2023 saja Kanaya tak hafal, karena Kanaya hanya menyimpan di memori HP, bukan di ingatannya. Ditambah lagi, zaman sekarang belum ada sosial media yang bisa ia gunakan untuk mengirim pesan langsung ke akun siapa pun. Kanaya hampir saja menangis, saat tiba-tiba saja ia teringat akan sesuatu. “Iya dia...” gumam Kanaya. “Saeid pasti bisa memberi tahu, bagaimana cara menghubungi keluargaku dan pulang ke Kalimantan.” Kanaya nyaris melonjak senang. Namun senyumnya mendadak hilang saat ia kembali berpikir. “Tapi gimana caranya aku bisa menghubungi dia ya?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD