HIDUP DANU YANG TERLALU SIBUK
Di sebuah rumah besar tiga lantai terlihat lampu ruang tamu masih menyala. Rumah itu milik keluarga Wicaksono, keluarga terpandang yang dikenal memiliki restoran dan rumah sakit.
Danu Arya Wicaksono usia 29 tahun seorang dokter muda juga pemilik dua restoran besar, dan pewaris rumah sakit keluarga. Banyak yang bilang hidupnya sempurna tentunya banyak yang iri dan menginginkan untuk berada di posisinya.
Danu menatap dirinya di cermin tanpa ekspresi seolah hidupnya hanyalah rutinitas yang harus ia jalani, bukan sesuatu yang ia nikmati. Ia merapikan kerah kemeja dan jas abu-abu muda yang sejak seminggu terakhir menjadi pakaian andalan karena ia tak punya waktu memikirkan gaya. Rambutnya disisir sederhana, rapi, dan terkesan dingin seperti wajahnya.
Ponselnya bergetar ada pesan masuk dari sang Ayah.
“Rapat jam 08.00, jangan terlambat.”
Danu mendengus pelan, tidak membalas pesan dari Ayahnya.
Pesan singkat itu membuatnya sadar bahwa ia harus segera bersiap. Danu meraih jam tangan hitam pemberian Ibunya, satu-satunya benda yang membuatnya merasa sedikit hangat.
Ibunya meninggal lima tahun lalu. Sejak itu rumah ini terasa hampa tanpa adanya seorang Ibu.
Danu turun ke lantai bawah. Pelayan rumah langsung menunduk hormat.
“Selamat pagi Tuan Muda,” ucap salah satu pelayan.
“Pagi,” balas Danu singkat.
Di meja makan sudah tersaji sarapan lengkap, tapi Danu hanya mengambil kopi hitam. Ia bukan tipe yang makan pagi kecuali sedang kelelahan. Belum sempat ia menyeruput kopi, pintu depan terbuka ayahnya masuk.
Bima Wicaksono pria berusia 55 tahun dengan aura wibawa yang kuat. Tegas, dingin, dan punya banyak reputasi di dunia bisnis. Banyak orang segan pada sosok Bima termasuk anaknya sendiri, Danu.
“Kamu siap?” tanya Bima tanpa salam dan berbasa-basi.
“Tentu.” jawab Danu.
“Kita harus bertemu Darwin ini penting.” ucap Ayah tegas.
Darwin, nama itu sudah beberapa kali ia dengar. Darwin Jakarsa adalah pengusaha besar yang punya pengaruh kuat di perizinan, impor, dan terutama dunia F&B. Sang Ayah sudah lama ingin kerja sama dengan Darwin.
Danu tidak suka bisnis yang dicampuri permainan politik. Tapi ia juga tidak bisa menolak. Ia anak satu-satunya, pewaris semua usaha. Mau tidak mau ia harus mengikuti langkah ayahnya.
“Kalau begitu kita berangkat sekarang?” tanya Danu.
“Lima menit lagi!” jawab Ayah.
Ayahnya naik sebentar ke lantai dua. Danu menghembuskan napas panjang.
Sebelum berangkat Danu memeriksa ponselnya lagi. Tak ada pesan dari siapa pun kecuali satu nama yang baru ia hapus tiga minggu lalu, Laras.
Nama itu muncul sekelebat di pikirannya, membuat dadanya sesak.
Laras Ayu Purnama mantan kekasihnya seorang Model, Cantik dan Ambisius. Perempuan yang dulu ia kira akan ia nikahi. Tapi hubungan itu hancur perlahan karena pekerjaan Laras yang membuatnya sering keluar negeri, dan karena tekanan ayah Danu yang ingin keluarga mereka fokus pada reputasi bukan dunia hiburan.
Danu berusaha menghilangkan pikiran itu.
Perjalanan menuju restoran milik Darwin di bilangan Senopati berlangsung tanpa banyak percakapan. Bima duduk di sampingnya, sibuk dengan ponselnya sementara Danu hanya memperhatikan jalanan yang mulai macet.
Begitu mobil berhenti di depan restoran besar bernama Jakarsa Prime, seorang pria kekar dengan rambut yang memutih sebagian langsung menyambut kedatangan mereka dialah Darwin Jakarsa.
Wajahnya tegas, matanya tajam, tubuhnya besar seperti bekas atlet. Banyak orang bilang Darwin bukan sekedar pengusaha. Ia punya jaringan yang mampu mengguncang bisnis siapa saja yang melawannya.
Danu turun dari mobil memberi hormat singkat, sementara ayahnya langsung menyalami Darwin seperti rekan lama.
“Bima,” ucap Darwin sambil menepuk pundak ayah Danu. “Kau selalu datang sepagi ini.”
“Aku tidak suka menunda sesuatu yang penting,” jawab Bima.
Darwin tertawa kecil. Tatapannya kemudian beralih pada Danu.
“Ini putramu? Terakhir aku lihat dia masih pakai seragam SMP.” tanya Darwin.
Danu menunduk sopan. “Senang bertemu Pak Darwin.”
“Sudah dewasa rupanya dan makin mirip Ibumu.” ucap Darwin.
Nada Darwin berubah lebih lembut saat menyebut nama mendiang Ibu Danu.
“Kau anak baik, semoga terus begitu.” ucapnya.
Sang Ayah terdiam, seolah ucapan itu tidak perlu ditanggapi.
Mereka bertiga masuk ke ruangan VIP di lantai dua. Restoran masih sepi karena belum buka.
Darwin duduk, kedua tangannya disilangkan.
“Baik, aku anggap kalian sudah membaca proposal kerja sama rumah sakit dan jaringan F&B yang aku ajukan.” ucapnya tanpa basa-basi.
“Ya dan kami setuju,” jawab Bima cepat.
Danu menoleh pada ayahnya merasa heran dengan secepat itu tanpa ada diskusi dan pertimbangan sang Ayah langsung mengambil keputusan sepihak!
Darwin tersenyum kecil, “Bagus kalau begitu,”
“Ada satu hal lagi,” lanjut Darwin. “Kerja sama besar selalu lebih kuat kalau kedua keluarga terikat.” ucapnya menatap Danu.
Danu langsung tahu arah pembicaraan ini.
Ayahnya tidak terkejut seolah sudah tahu sejak awal pembicaraan akan ke situ.
Darwin meneruskan, “Aku punya seorang anak perempuan namanya Intan usia 28 tahun. Sopan, cerdas, dan tidak neko-neko.”
Bima mengangguk dengan senyum tipis. “Aku sudah melihat fotonya.” ucap Bima.
Danu mengepal tangan di bawah meja.
Darwin menatap Danu. “Aku ingin Intan mengenalmu dan bila cocok kita bisa lanjutkan hubungan ini dalam bentuk keluarga.” ucap Darwin.
Danu menarik napas ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
“Maaf, saya tidak tahu harus bilang apa, Pak.” lirih Danu.
Darwin tidak tersinggung ia malah tersenyum ramah.
“Tenang saja Danu, kita hanya bicara kemungkinan lagipula Intan anaknya tidak sulit dia tidak pernah melawan keputusan keluarga.” ucap Darwin tenang.
Pembicaraan itu membuat d**a Danu berat bukan karena Intan namun Ia belum pernah bertemu wanita itu karena baginya ini terlalu cepat dan memaksa, dan ayahnya jelas tidak memberi ruang untuk menolak.
Bima menoleh ke Danu.
“Masalah ini akan kita bahas di rumah.” ucapnya datar.
Danu hanya mengangguk samar.
Pertemuan selesai satu jam kemudian. Darwin mengantar mereka sampai pintu.
Begitu mobil berjalan meninggalkan restoran, ia memecahkan keheningan.
“Ayah serius soal ini?” tanya Danu.
Bima menutup ponselnya dan menatap lurus. “Serius.” jawab Bima seadanya.
“Aku tidak mengenalnya.” lirih Danu.
“Kamu bisa mengenalnya.” ucap Bima.
“Ayah, ini terlalu cepat.” kata Danu.
“Ayah butuh stabilitas untuk bisnis keluarga. Darwin bukan orang yang bisa kamu abaikan.” ucap Bima tegas.
“Tapi..” ucapnya terhenti karena ayah langsung memotongnya.
“Dan itu keputusan keluarga. Kamu anak laki-laki satu-satunya.” lanjut sang Ayah.
Danu terdiam, kata-kata itu seperti rantai yang mengikat lehernya. Ia tahu apa pun bantahannya tidak akan mengubah keputusan Ayahnya.
“Ayah, aku baru saja putus. Aku tidak siap.” Danu mencoba sekali lagi.
“Laras, ya?” tanya Bima.
Danu menelan ludah. “Itu bukan urusan Ayah.”
“Sudah kuingatkan, perempuan itu bukan untuk keluarga kita.” ucap Bima.
“Ayah tidak mengenalnya.” ucap Danu tak terima.
“Ayah tidak perlu mengenalnya. Dunia yang dia jalani sudah cukup memberitahuku.” ucap Bima.
Danu memalingkan wajah, tidak mau memperpanjang. Ia ingat suara Laras saat terakhir kali mereka bertengkar.
“Kalau keluargamu tidak bisa terima pekerjaanku, kamu bisa bicara baik-baik! Bukan malah diam dan hilang begitu saja.” ucap Laras yang lalu.
Ia menggigit bibir mencoba menepiskan kenangan itu.
Mobil kembali hening sampai tiba di rumah. Ayahnya langsung masuk ke ruang kerja, sementara Danu naik ke kamarnya dengan langkah berat.
Ia membuka kemejanya, melepaskan jas, dan duduk di tepi ranjang sambil menutup wajah.
Hatinya berantakan, tidak hanya soal perjodohan. Tapi karena ia merasa hidupnya bukan miliknya lagi.
Ponselnya kembali bergetar tertera Nomor tidak dikenal tapi Danu tau siapa, Laras.
Ia menekan tombol mute tanpa membukanya. Bukan karena benci tapi karena semuanya sudah hancur sejak ayahnya memutuskan masa depan untuknya.
Dan hari ini Ayahnya kembali menentukan jalan hidupnya tanpa tanya.
Danu meletakkan ponsel, berdiri lalu menatap keluar jendela kamar yang menghadap halaman luas.
“Hidup macam apa ini?” gumamnya pelan.
keputusan pagi ini adalah langkah pertama yang akan membawa hidupnya bertabrakan dengan dua perempuan berbeda.
Intan, yang akan menjadi istrinya. Dan Laras, yang belum mau melepaskannya.