Tepat seminggu Shania menyandang status janda. Kayla sudah mengetahui semua masalah yang Shania alami, awalnya wanita itu geram dan berencana untuk melabrak Arman. Namun, Shania berusaha untuk mencegahnya, Kayla tipikal wanita bar-bar. Sudah bisa dipastikan Arman dan Rivanka akan dibuat malu jika dia bergerak.
Satu minggu ini, Shania habiskan untuk beristirahat di ruko. Hitung-hitung menenangkan diri sekaligus melalui proses pemulihan. Kakinya sudah mulai membaik dan kemarin sudah bisa berjalan dengan menggunakan tongkat. Meski masih tertatih-tatih.
Patah hati masih menyelimuti, tapi Shania berusaha untuk tegar dan tidak mau larut dalam kesedihan yang membuatnya terpuruk. Dia ingin bangkit. Shania mau membuat Arman menyesal karena sudah memperlakukan dirinya seperti ini.
"Mau sarapan apa?" Tiba-tiba saja Kayla muncul dari balik pintu kamar.
"Kapan kau kemari?"
"Barusan, tapi aku sempat melihatmu melamun. Ada apa? Jangan bilang kau masih memikirkan lelaki b******k itu.”
"Aku tidak memikirkannya. Aku hanya memikirkan perkataanmu beberapa hari yang lalu, menyuruhku untuk bangkit kembali.”
"Ya, itu harus, bila perlu buat si Arman itu menangis darah karena sudah mencampakkan wanita sehebat dirimu.” Kayla mulai tersulut emosi. Shania hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Sudah-sudah, aku malas dengar ocehanmu, ini masih pagi. Sebaiknya belikan aku sarapan!”
"Mau makan apa?"
"Bagaimana nasi lemak kak Siti? Aku sudah lama tidak merasakannya.”
"Oke.” Tanpa menunggu lama, Kayla langsung bergegas pergi.
Shania mendorong kursi roda sesekali untuk mempercepat gerakan. Dia masih menggunakan alat tersebut. Tangannya menyalakan laptop dan segera melihat data penjualan dan panen sayur. Mata sedikit berbinar tatkala melihat ada grafik positif terkait permintaan sayur.
Sebenarnya, Shania adalah lulusan Sarjana di bidang agribisnis pertanian. Sebagai seorang Sarjana dengan jalur beasiswa, wanita itu tidak mau menyia-nyiakan ilmu dan kesempatan yang didapat. Bisa kuliah saja rasanya sudah syukur, setidaknya Shania bisa mengasah minat sesuai bidang yang memang diminati. Sejak kecil, Shania suka membantu ibu panti menanam sayur dan buah-buahan di halaman belakang panti, saat itulah dia pun menyukai bidang pertanian terutama hortikultura.
Alhamdulillah, kesempatan masih berpihak padanya. Dengan ketekunan, Shania akhirnya bisa kuliah dan mendapat beasiswa dari salah satu perusahaan ternama. Takdir masih berpihak, karena sering memenangkan perlombaan semasa sekolah hingga kuliah, dia pun bisa menyisihkan sedikit uang untuk modal membangun usaha. Puncaknya saat semester 7, Shania mendapat modal usaha karena berhasil memenangkan sebuah kompetisi bisnis plan.
Berawal dari itu semua, akhirnya mantan istri Arman bisa memiliki ruko 3 lantai yang dijadikan kantor dan lahan seluas 1 hektar sebagai tempat untuk memproduksi sayuran. Shania juga memanfaatkan halaman sekitar ruko untuk produksi sayuran berbasis hidroponik. Saat ini lahan yang dimiliki tersisa 1 hektar. Sebenarnya, 2 hektar. Tapi…, ah sudahlah.
"Hei, kau melamun lagi Maimunah." Kayla sudah berdiri dengan bungkus plastik di tangannya.
"Ayo makan, jangan mikirin pekerjaan dulu, biar aku saja yang menanganinya. Kau masih perlu banyak istirahat,” dia mulai mengomel lagi.
"Aku bosan jika harus baring di kasur terus. Lagi pula hanya duduk sambil mengecek beberapa data tidak membuatku kelelahan.”
"Hem, mulai-mulai, selalu saja bandel kalau dinasihati,” ujarnya dengan wajah kesal.
"Maaf Bunda," Shania menggodanya.
"Udah ah, mending makan dulu. Aku buru-buru karena harus pergi menemui klien. Kau tahu, restoran Foodie Healthy, mereka menawarkan kerja sama dengan kita," ucap Kayla bersemangat.
"Benarkah?" Shania pun tak kalah bersemangat. Siapa yang tak kenal nama restoran tersebut. Salah satu restoran terkenal di ibu kota, dan restoran itu menawarkan kerja sama? Apa Shania tidak salah dengar?
"Yap, mereka ingin kita menjadi pemasok sawi dan bayam.”
"Sebenarnya…." Kayla tiba-tiba enggan berbicara.
"Apa?" Shania penasaran.
"Sebenarnya pihak mereka juga meminta kita untuk menyediakan buah jeruk sebanyak 1 ton setiap bulannya, tapi aku tidak bisa menyanggupi permintaan tersebut karena produksi jeruk kita hanya mampu menghasilkan 400 kg per bulan.”
Shania mengangguk, paham akan kesedihan yang dirasakan oleh Kayla. Meski pemilik usaha ini adalah dirinya, tapi Kayla sangat berjasa dalam mengembangkan usaha ini. Jadi wajar jika ia sedih.
"Andai kau tak menjual 1 hektar lahan kita. Aku pastikan kita bisa...,”
"Sudahlah Kay. Aku sudah bilang jangan ungkit yang telah berlalu. Aku juga minta maaf karena...," Shania tak dapat meneruskan kata-kata.
Kayla langsung berdiri dan segera memeluk tubuh sahabatnya. "Aku minta maaf Shan. Aku tidak bermaksud, hanya saja aku kesal dengan sikap Arman yang tidak tahu berterima kasih.”
"Karena dia memang tidak mengetahuinya Kay.”
"Kau masih saja membelanya? Baiklah, dia memang tidak tahu, tapi setidaknya dia bisa berpikir bagaimana cara dia mendapat pekerjaan di perusahaan SindoFarm Grup dengan begitu mudah jika bukan karena kau.” Kayla mulai meluapkan emosi. Setiap membahas Arman, Kayla tidak dapat mengontrol dirinya.
"Sudah aku katakan Kay, dia tidak tahu apa-apa. Dia hanya tahu jika apa yang diraihnya sekarang murni karena kemampuan dirinya.”
"Sungguh pria tidak berguna.” Dia kembali duduk. Meski Shania tahu Kayla masih emosi, tapi dia berusaha untuk tidak terus-menerus membuat sang sahabat merasa bersalah.
"Ya sudah, sebaiknya kau redam amarahmu! Nanti klien bakalan mundur jika kau datang dengan tampang seperti itu,” ucap Shania mencoba mengalihkan pembicaraan.
Kayla menatap sebal dan bersiap-siap untuk pergi. Tak lupa dukungan dan semangat diberikan Shania agar pertemuan berjalan lancar.
Di belahan bumi lain, seorang pria tampak sibuk dengan kopernya.
"Kapan sampai?" Ziko memutar bola matanya, dari tadi sang mama tidak henti-hentinya menelpon dan menanyakan kapan ia sampai di Indonesia.
"Sabar mah, ini masih beres-beres,” jawab Ziko malas.
"Baru beres-beres? Kamu ngapain saja sih dari tadi?!” Ziko menghela napas mendengar mamanya mulai mengomel.
"Tadi masih ngurus surat-surat penyewaan apartemennya, Ma," jawab Ziko beralasan.
"Kenapa tidak diurus dari kemarin-kemarin!"
"Mah...," Ziko mulai jengah. "Udah dong, kalo mama ngomel terus kapan Ziko siapnya.”
"Ya sudah cepat, jangan lama-lama di negara orang!" ujar mama Ziko, sebenarnya dia sudah teramat rindu pada putra bungsunya.
"Iya, Ziko tutup ya teleponnya."
"Oke.”
Sambungan telepon terputus, Ziko melihat sejenak layar ponsel lalu mengedarkan pandangannya, menyapu ruang apartemen yang sudah ia tempati kurang lebih 3 tahun.
Awalnya Ziko memutuskan untuk menetap lebih lama di negeri paman Sam, tapi mengingat kejutan yang diberikan oleh mantan pacarnya beberapa hari lalu, pria itu putar haluan.
Ziko mematikan lampu lalu menyeret koper, dia hanya membawa barang-barang yang dianggap penting saja.
Dia turun dari gedung apartemen lalu menaiki taksi yang memang sudah menunggunya. Saat dalam perjalanan menuju bandara, teleponnya kembali berdering. Ia menatap malas siapa yang meneleponnya.
Grace, mantan pacar Ziko belum menyerah, sejak pagi hingga siang hari sudah puluhan kali wanita itu menelpon dan sudah ada ratusan pesan yang masuk lewat aplikasi hijau di handphone Ziko. Setelah beberapa detik memandangi layar ponsel, akhirnya Ziko memutuskan untuk mengangkat telepon tersebut. Toh dia juga akan pulang pikirnya, jadi dia tidak akan bertemu Grace lagi.
"Ada apa?" Tanya Ziko dengan nada dingin, tidak ada lagi nada bicara yang hangat saat berbicara dengan wanita itu.
"Kamu di mana Ziko?" Tanya Grace di seberang sana.
"Pulang,” jawab Ziko singkat, masih dengan nada bicara yang dingin.
"Ziko please, tolong kamu jangan pulang dulu sebelum kamu mendengar penjelasanku.”
"Apalagi yang perlu dibahas? Aku rasa tidak ada.”
"Zi…,”
Suara Grace terputus, Ziko benar-benar sudah malas untuk berhubungan dengan Grace, bahkan hanya sekedar berbicara. Apa yang dilakukan Grace terhadap dirinya sungguh merupakan sebuah penghinaan. Tidak hanya hati Ziko yang sakit, tapi Ziko juga merasa dipermainkan. Dia menyandarkan punggung sambil memejamkan mata, menikmati perjalanan menuju bandara.
"Uncle…!" Suara mungil yang sangat dirindukan oleh Ziko mengetuk gendang telinga, Ziko menoleh ke sumber suara dan seketika senyum manis tersemat di wajahnya yang tampan.
"Arsya." Ziko pun membalas sambil berlari mendekati pria kecil dengan tinggi sekitar 80 cm itu. Mereka berdua saling berpelukan dengan Ziko yang berjongkok menyejajarkan tingginya.
"Asya angen Uncle," seru Arsya cadel dengan suara yang menggemaskan.
"Uncle juga angen Asya," jawab Ziko menirukan gaya bicara anak tersebut. Arsya terkekeh melihat paman yang amat ia sayangi itu.
"Ayo Uncle kita beli mobil-mobilan." Arsya sudah tidak sabar, dia menarik tangan Ziko dan berusaha untuk membawa pria dewasa itu pergi membeli mainan yang ia inginkan.
"Hehehe, iya nanti kita beli," Ziko terkekeh geli melihat tingkah Arsya. Dia memang sangat menyayangi keponakan satu-satunya itu.
"Bagaimana penerbangannya, Nak?" Tanya Lita, mama Ziko.
"Lancar, Ma," jawab Ziko singkat.
"Kamu pulang sendiri?"
Alis Ziko hampir menyatu ketika mendengar pertanyaan mamanya. "Memangnya mau sama siapa lagi?" Dia balik bertanya.
"Katanya mau ngenalin Mama dengan seseorang.” Mata Ziko membulat, ah dia baru ingat jika pernah berjanji akan membawa seseorang saat pulang ke Indonesia. Ya, siapa lagi kalau bukan Grace, tapi sayangnya keinginan tersebut tidak akan pernah terwujud.
"Tidak jadi,” jawab Ziko malas.
"Kenapa?" Tanya Lita penasaran.
"Ah sudahlah Ma, lebih baik kita cepat ke parkiran! Ziko capek dan pengen cepat-cepat sampai ke rumah," ujar Ziko malas menanggapi mamanya lebih jauh.
Ziko mengangkat tubuh Arsya, menggendong anak tersebut lalu berjalan cepat meninggalkan mamanya yang masih penasaran dengan sikap putranya itu. Percakapan beberapa menit yang lalu bersama mamanya membuat rasa sakit di hatinya kembali terasa. Padahal sejak telapak kakinya menginjak bandara Soekarno Hatta, perasaannya sudah lebih baik. Ziko menghembuskan nafas pelan, dia sudah bertekad untuk menghapus bayangan Grace dari hidupnya.