Tubuh Shania masih bergetar, menahan sakit yang tak kunjung pergi. Di hadapannya, Arman duduk dengan raut wajah yang sulit diartikan. Sekar masih memandang dengan tatapan sinis, begitu juga dengan kedua putrinya.
"Sudahlah Arman, untuk apa kamu mempertahankan istri yang tidak bisa membuatmu bahagia."
Hati Shania perih, mendengar ibu mertuanya terus-terusan menghina. Dia tidak mengerti apa salahnya, mengapa Sekar sangat sulit untuk menerima kehadiran dirinya.
"Arman tidak bisa, Bu," jawab Arman pelan.
"Kenapa! Kau masih tidak sadar juga?" Ucap Sekar dengan suara tingginya.
"Bu-bukan Bu, tapi sudah Arman katakan bahwa ini menyangkut karier Arman di perusahaan,” kilahnya.
Shania mendengus, jelas itu hanya alibi Arman saja. Meski dia mencintai sang suami, tapi membayangkan betapa teganya lelaki itu, hati Shania sangat kesal.
"Tidak apa-apa, Bu. Mas Arman tidak perlu menceraikan Shania." Rivanka ikut berbicara setelah beberapa menit hanya duduk diam.
"Lalu, kamu bagaimana sayang? Dari dulu ibu sangat ingin kamu menjadi menantu ibu. Kamu wanita pintar, berpendidikan dan memiliki gelar sarjana. Tidak seperti dia, bahkan asal usulnya saja tidak jelas.”
Shania memejamkan mata mendengar perkataan tajam itu. Ah iya, dia baru ingat, salah satu alasan Sekar tidak menyetujui hubungan mereka karena wanita itu tahu, Shania cuma tamatan SMK dan merupakan anak panti asuhan. Sekar memandang remeh.
Sekar selalu membanggakan Arman yang merupakan seorang lulusan sarjana dan juga selalu mengatakan jika dia ingin memiliki menantu yang juga memiliki gelar sarjana. Jelas dari awal, Shania sudah tidak memenuhi kriteria tersebut.
"Tidak apa-apa Bu, Riva ikhlas melepas Mas Arman. Mungkin kami memang tidak berjodoh.” Rivanka berbicara dengan nada sedihnya.
"Arman dengar! Apa kamu ingin kehilangan Rivanka untuk kedua kalinya?" Sekar kembali mendesak.
Shania melirik Arman, suaminya tampak gamang, bingung harus berbuat apa.
"Lagi pula, dia bisa apa Arman? Sedikit pun dia tidak pernah berjasa untuk keluarga kita. Bagaimana mau berjasa, pekerjaannya saja tidak jelas." Sekar menatap remeh wajah Shania.
"Wajar saja, tamatan SMK sulit untuk mendapat pekerjaan bagus." Ariska ikut berbicara, gadis 20 tahun itu selalu bangga karena bisa berkuliah di kampus yang cukup terkenal di Jakarta.
"Kalau begitu jadikan saja Rivanka yang kedua, biar kamu ada yang urus Man. Bagaimana Rivanka? Kamu tidak masalahkan jika jadi istri keduanya Arman?"
Shania kaget bukan main, kali ini rasa sakit di hati sudah tidak dapat dibendung. Hancur bagai gelas kaca yang pecah berkeping-keping. Wanita berusia 27 tahun itu selalu menjunjung tinggi prinsip hidup. Salah satunya adalah menolak dipoligami, apa pun alasannya.
"Riva bersedia saja, Bu," jawab Rivanka santai.
Shania langsung menoleh ke arah Arman dengan tatapan dingin. "Mas, kamu sudah tahukan apa yang tidak aku sukai." Akhirnya, setelah cukup lama terdiam, keberanian untuk berbicara muncul.
"Hei...! Berani sekali kau mengancam putraku!" Sekar berteriak marah.
"Saya tidak mengancam, tapi saya hanya memperingatkan Mas Arman," bentak Shania, membalas ibu mertuanya. Entah keberanian dari mana yang datang hingga dia berani berbicara dengan nada yang tak kalah tinggi.
"Shania jaga sikapmu! Dia itu ibuku!" Arman balas membentak.
"Lihat Arman, lihat! Wanita seperti ini yang ingin kamu jadikan seorang istri? Perilakunya saja tidak sopan begitu.” Sekar mengambil kesempatan dengan memprovokasi Arman.
"Sudah syukur Mas Arman mau menikahinya," cibir Arista, saudara kembar Ariska. Mereka sama-sama menyebalkan.
"Apa yang kamu takutkan Arman?" Kini, bapak mertua ikut bicara, sungguh mereka semua kompak menyerang Shania.
"Mas jangan khawatir. Jika Mas dipecat, Mas bisa bekerja di perusahaan tempat temanku bekerja. Kebetulan saat ini perusahaan tempat ia bekerja sedang membutuhkan Manajer.”
Shania kembali menatap Rivanka, apa maksud dari perkataannya itu?
"Benarkah?" Arman bertanya dengan mata berbinar.
"Iya, aku tahu Mas mungkin takut kehilangan karier jika memiliki masalah. Jika itu terjadi, aku akan membantu Mas untuk mendapatkan posisi di perusahaan tersebut. Lagi pula, perusahaan tersebut profesional. Urusan pekerjaan dan pribadi tidak akan dicampur adukkan."
Arman tampak bimbang, dia melihat ke arah istrinya, lalu berkata. "Shania, izinkan saja Mas menikah dengan Riva. Mas janji akan merawatmu selamanya.”
Sang istri mendengus. "Aku tetap dengan pendirianku, Mas," ujarnya dingin.
"Hei, kamu itu harusnya ngaca!" Ariska meledek.
"Coba saja jika kamu yang dimadu? Apa mau?" Shania balik menyerangnya.
"Jangan bicara sembarangan ya!” Dia berteriak.
"Aku tidak bicara sembarangan,” jawab Shania santai.
"Kau…!"
"Apa..?!” Kini balik Shania yang berteriak.
"Cukup! Shania, bisakah kau bersikap dewasa!" Bentak Arman, sudah dua kali dia berteriak di depan Shania.
"Bersikap dewasa? Harusnya kamu sadar Mas!" Shania membalas Arman, jelas dia tidak mau terus-terusan ditindas.
"Sudahlah Arman, untuk apa kau meminta izin kepada dia, menikah saja." Dengan santainya Sekar berbicara demikian.
"Ceraikan aku Mas!" Shania berkata pelan. Namun, diyakini masih bisa didengar oleh semua orang di ruangan tersebut. "Ceraikan aku jika kamu tetap ingin bersama wanita itu," lanjutnya.
"Sudahlah Arman, ceraikan saja! Wanita seperti dia apa untungnya dipertahankan." Sang Ibu terus menghasut.
Shania menatap wajah suaminya, yang juga menatap dengan tatapan datar. Jantung teramat pedih melihat tatapan itu, tidak ada lagi sorot hangat yang sering diberikan.
"Baiklah, aku talak kamu Shania Azzahra. Mulai saat ini kau bukan istriku lagi."
Ucapan tersebut seperti kata sambutan bagi Sekar dan kedua putrinya. Mereka bertepuk tangan, tanpa sedikit pun bersimpati terhadap perasaan Shania.
Shania menunduk, menahan agar air mata di sudut mata tidak jatuh begitu saja. Kepala sekuat tenaga mendongak, melihat Arman yang ternyata tetap sama, ekspresi wajahnya datar. Dia pamit sekenanya dan langsung mendorong kursi roda untuk keluar dari rumah tersebut.
Rumah itu, sudah 2 tahun ditunggu agar bisa tinggal di sana bersama Arman. Nyatanya, tak sampai satu hari, Shania sudah harus keluar dengan cara yang menyedihkan. Bahkan dia belum sempat memasukkan barang-barang di sana. Dipandangi lagi pintu rumah yang terbuat dari kayu jati. Berharap Arman berlari mengejar, meski hanya sekedar ingin mengantarnya pulang. Namun, harapan tinggal harapan, Arman tidak akan melakukan hal tersebut.
Shania menatap ruko 3 lantai di hadapannya. Sudah jarang bertandang, semenjak berkenalan dengan Arman. Ah, lagi-lagi dia mengingat mantan suaminya itu. Teringat bagaimana 2 tahun yang lalu, mereka tak sengaja bertemu di depan salah satu supermarket. Waktu itu, Shania baru selesai berbelanja bulanan untuk kebutuhan anak-anak panti, tapi naas, tasnya di jambret oleh 2 orang pria. Di saat yang bersamaan, Arman lewat dan ia berusaha mengejar jambret tersebut. Namun sayang, saat itu Arman gagal karena ia berlari, sedangkan jambret tersebut mengendarai motor.
Shania tetap berterima kasih kala itu atas kebaikannya. Itulah awal pertemuan mereka, Arman cerita bahwa dia adalah seorang perantau dan sedang mencari pekerjaan. Setengah tahun berkenalan, Shania selalu membantu Arman mencari pekerjaan hingga akhirnya diterima di perusahaan tempat lelaki itu bekerja sekarang.
Sayang, Arman ternyata lupa atas apa yang sudah Shania lakukan. Bukannya tidak ikhlas, hanya saja sakit rasanya ketika kita sudah membantunya berjuang akan tetapi ia dengan mudahnya mencampakkan kita, itulah yang dirasakan Shania.
Andai Arman tahu apa yang sudah Shania korbankan agar dirinya bisa bekerja di perusahaan tersebut, apa Arman masih tega mengkhianati mantan istrinya itu? Tak terasa air mata kembali jatuh begitu saja. Shania menghirup udara dalam, mencoba menenangkan diri sebelum masuk ke dalam ruko.
"Shania.” Baru saja pintu ruko bergeser, Kayla sudah berlari mendekat. Ah, Shania lupa dengan si cerewet ini, pasti dia akan melayangkan pertanyaan bertubi-tubi setelah ini.
"Mengapa kau ke sini?" Tanyanya heran.
Shania pun tak kalah heran mendengar pertanyaan tersebut. "Apa ada larangan untuk mengunjungi kantor sendiri?"
"Tidak-tidak, kau jangan salah paham. Hanya saja mengapa langsung ke sini? Bukannya kau masih di rumah sakit?"
"Aku sudah diperbolehkan pulang sama dokter tadi pagi," jawabnya santai.
"Lalu, mengapa tidak pulang saja ke rumahmu? Kau masih perlu banyak istirahat Shania," ujar Kayla gemas.
"Aku sudah lama tidak ke sini. Lagi pula aku sudah merasa baik-baik saja. Hanya saja belum bisa berjalan.”
Kayla menyipitkan mata, ini yang Shania tidak sukai jika berhadapan dengan sahabatnya. Dia bisa membaca raut wajah Shania.
"Kau ada masalah? Apa?"
Nah kan, sudah bisa ditebak. Kayla mulai menginterogasi.
"Tidak!" Buru-buru Shania menjawab. Meski diyakini itu semakin membuat Kayla curiga.
"Apa Arman menyakitimu?" Dia bertanya dengan mata memicing.
Shania hanya diam, jelas tidak akan pernah bisa berbohong di hadapan Kayla.
"Huh…." Terdengar helaan napasnya. "Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi sudah kukatakan Shania, jangan terlalu percaya dengan laki-laki, apalagi aku merasa Arman bukan pria yang baik.” Dia mulai berubah menjadi ibu-ibu yang siap mengomeli anaknya.
"Bisakah kau biarkan aku masuk dulu. Aku ingin beristirahat,” ujar Shania.
"Kau ingin beristirahat di mana? Di atas? Dengan kondisi kakimu seperti itu?" Dia berkata sewot.
"Jangan mentang-mentang sudah jarang ke sini, kau lupa jika tidak ada lift di sini. Lagi pula lantai 3 sudah kujadikan gudang," ucap Kayla enteng.
"Mengapa kau jadikan gudang? Lalu, di mana barang-barangku?" Mata Shania melotot ke arah Kayla. Seenaknya saja perempuan ini, pikir Shania.
"Barang-barangmu masih aman. Lagian daripada lantai tiga tidak kau tinggali, lebih baik kujadikan gudang. Lumayan untuk menaruh barang-barang.”
"Mungkin kita perlu membeli ruko lagi,” jawab Shania.
"Heh...!” Kayla menatap sebal sambil mendengus. "Duit dari mana? Daripada membeli ruko, mending uangnya ditabung untuk membeli lahan baru. Hitung-hitung untuk mengganti lahan yang kau jual hanya...,”
"Cukup Kay! Aku malas membahas itu lagi, yang lalu biarkan berlalu, yakin saja nanti kita bisa memiliki lahan baru." Shania sudah mengetahui apa yang ingin dibahas oleh sahabatnya itu, tapi dia tidak ingin mendengarnya, terutama untuk saat ini.
"Sekarang bisa kau siapkan ruangan untuk aku beristirahat di lantai dasar ini?"
"Heh..., menyusahkan saja. Ya sudah, kau tunggu dulu biar aku siapkan.” Kayla melengos dengan raut wajah kesal. Namun justru sedikit menghibur.
Semangat Shania, kau jangan lemah. Ayo kembali bersemangat, ucapnya dalam hati, mencoba menyemangati diri sendiri.