Fakta 2!

1526 Words
“Jadi saya salah kira dok?” Pria dengan jas putih itu mengangguk. Arman hanya bisa bersandar di kursi. Meratapi kebodohan yang pernah diperbuat. Menyesal karena langsung percaya begitu saja dengan informasi yang diberikan oleh Ariska waktu itu. “Ibu Shania Azzahra kan? Maaf, saya hanya memastikan. Sebab suka lupa dengan nama lengkap pasien jika tidak melihat dokumennya langsung.” Arman mengangguk. “Benar dok.” “Nah. Istri Bapak hanya mengalami patah tulang. Sedangkan pasien yang lumpuh saat itu kalau tidak salah bernama Sania Aulia Putri.” “Itu dokter bisa mengingat nama lengkap pasien,” ujar Arman heran. “Kebetulan nama putri saya juga Sania Aulia Putri.” Sang dokter tersenyum sambil membetulkan kacamata. “Memang kebetulan, ada dua pasien yang saya tangani dengan nama yang sama saat itu.” Arman hanya mengangguk lemah. Jadi selama ini Shania tidak lumpuh sama sekali. Ariska salah mengira orang. “Bagaimana? Apa istri Anda sekarang sudah bisa berjalan dengan normal? Terakhir dia konsultasi dengan saya 8 hari yang lalu dan syukurnya retak di kakinya sudah membaik.” “Em ... istri saya sekarang lebih baik kok dok.” Arman sedikit kaget mendapat pertanyaan dari dokter. “Tapi. Seingat saya. Bapak belum pernah sama sekali menemani ibu Shania setiap kali konsultasi ya?” “Ah ... itu karena saya memang tidak sempat mengantarnya dok. Maksud saya. Saya hanya mengantar sampai di halaman depan rumah sakit saja.” Arman merasa seperti orang bodoh dicecar terus menerus dengan dokter di depannya. “Lalu. Mengapa Bapak mengira Ibu Shania lumpuh? Apa beliau tidak memberitahu? Aneh rasanya jika Bapak tidak mengetahui perkembangan kondisinya.” Arman menelan ludah. Tidak tahu harus bagaimana menyikapi rentetan pertanyaan dari dokter ini. Sial, dirinya merasa seperti masuk kandang harimau. Kalau tahu begini, Arman memilih tidak bertemu orang ini. “Saya memang belum sempat bertemu langsung dengan istri saya. Selama pemulihannya, saya sedang berada di luar kota Pak.” “Loh. Barusan Anda bilang sering mengantar ibu Shania ke rumah sakit selama check up. Jadi, ini mana yang benar Pak?” Arman ingin sekali berteriak. Kenapa dokter sangat menyebalkan. Kepalanya mau pecah. “Maaf dok. Saya lupa jika sebentar lagi ada meeting. Kalau begitu terima kasih banyak atas waktunya.” Ini tidak bisa dibiarkan. Arman merasa harus segera lari dari situasi ini. * “Sial!” Tak peduli jika suara klakson mobil menciptakan polusi suara. Arman ingin melampiaskan rasa kesal. “Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Dia pusing mencari cara bagaimana agar Shania bisa kembali. Meski rasa cinta pada Shania tidak begitu besar dibanding Rivanka. Tapi sangat disayangkan jika wanita seperti Shania dilepas begitu saja. Terlebih Arman harus membuat Shania tidak menaruh dendam agar wanita itu tidak berbuat buruk pada keluarganya. Termasuk masalah pendidikan Ariska dan Arista. Mobil berjalan meski tak tahu harus ke mana. Saat ini, pikiran benar-benar kacau. Ketika sedang dalam perjalanan. Arman tak sengaja melihat Shania sedang keluar dari sebuah salon bersama Kayla. Lantas membuatnya penasaran. Terlebih ada dorongan untuk melihat wajah Shania yang beberapa hari terakhir ini sangat berbeda. “Apa ini tidak terlalu berlebihan Kay?” Arman sengaja memarkirkan mobil tak jauh dari tempat mereka berdiri. Dia rasa keduanya tidak akan menyadari keberadaannya. “Apanya yang berlebihan. Ingat, kita itu diundang makan malam bersama keluarga Pak Emran. Jadi penampilan kita harus memukau.” “Masak iya hanya makan malam harus persiapan seperti ini. Aku jadi curiga. Pasti ada sesuatu yang kamu tutupi kan?” Dari percakapan mereka. Arman mengetahui bahwa Shania diundang makan malam bersama pak Emran. Dirinya baru ingat akan undangan tersebut. Itu tandanya malam ini dia akan bertemu dengan Shania. “Sejak kapan kamu suka menuduh orang? Pasti ini pengaruh buruk yang ditularkan Arman padamu.” Telinga Arman panas mendengar perkataan itu. Dia harus memberi perhitungan pada Kayla. “Aduh. Sudahlah. Aku malas mendengar namanya lagi.” “Ciee udah move on nih. Kenapa? Apa jangan-jangan udah punya pengganti?” “Apaan sih. Aku ini baru saja menjanda. Mana mungkin langsung dapat pengganti. Apa kata orang nanti jika aku secepat itu dekat dengan pria lain.” Batin Arman teriris mendengar kata janda yang keluar dari mulut Shania. Lagi. Dirinya merasa menjadi orang yang paling bodoh. Jika dilihat-lihat. Shania tidak kalah cantik dari wanita lain termasuk Rivanka. Terlebih dengan gaya pakaiannya sekarang. Mini dress selutut dengan rambut terurai yang membuatnya semakin menggoda. Arman kesal. Mengapa kecelakaan itu harus terjadi. Coba tidak terjadi. Mungkin dirinya masih merasakan kebahagiaan bersama Shania. Dia segera meninggalkan parkiran. Arman harus mempersiapkan diri agar Shania terkesan saat bertemu dengannya nanti malam. Dia ingin membuat Shania menatap penuh kagum seperti dulu. * “Yuk Mas.” Arman mengumpat dalam hati. Rivanka sudah berdiri di depan pintu rumah. Ah! Dirinya lupa jika sang istri sudah tahu bahwa ada jamuan makan malam bersama Pak Emran. Sialnya. Arman sudah terlanjur janji untuk mengajaknya. Selama di perjalanan. Hening menyelimuti keduanya. Arman memilih fokus dengan kemudi. Sedangkan Rivanka sesekali melirik ke arah sang suami. “Kamu kenapa sih Mas? Mukanya kayak nggak senang gitu?” Rivanka berkacak pinggang. “Aku kurang cantik ya?” Dia mengamati tubuhnya. “Atau bajunya kurang pas?” “Jawab dong Mas!” “Kamu bisa diam nggak sih! Aku sedang fokus nyetir. Kalau ketabrak bagaimana?” jawab Arman tak kalah keras. Pusing sekali mendengar ocehan Rivanka yang tak ada habisnya sejak mereka masuk ke dalam mobil. “Kamu akhir-akhir ini kok sering marah? Ada masalah? Atau aku ada salah sama kamu?” “Sudahlah Ri. Bisa tidak kamu diam! Aku lagi fokus.” “Alasan. Dulu-dulu kamu tidak begini.” “Terserah.” “Ingat ya Mas. Seharusnya kamu berterima kasih. Kalau bukan karena aku, mana bisa kamu bekerja di perusahaan sebesar Akcaya Grup. Apalagi bisa dekat dengan Pak Emran.” Arman langsung menepikan mobil dan menatap tajam ke arah Rivanka. Sungguh, perkataan Rivanka membuat harga dirinya merasa diinjak. Sebagai seorang laki-laki, pantang bagi Arman untuk direndahkan. “Jaga ucapanmu Ri!” “Memang faktanya begitu kok. Makanya kamu jangan mancing-mancing masalah. Kamu kira aku tidak tahu kalo kamu sedang berusaha mendekati mantan istrimu lagi?” Arman terdiam. Dia curiga, jangan-jangan Rivanka melihat kejadian saat dirinya berbicara dengan Shania di parkiran perusahaan beberapa waktu lalu. “Kenapa diam? Kaget? Kamu lupa kita satu perusahaan?” “Jangan asal tuduh!” “Alah! Masih mau menyangkal. Kamu pikir aku buta? Kamu pikir aku tidak tahu mengenai Shania yang sebenarnya.” Rivanka semakin berapi-api sambil terus memajukan wajahnya ke arah Arman. “Kenapa? Mau balikan lagi sama dia setelah tahu Shania seorang pengusaha? Kamu pikir aku nggak tahu kenapa kamu kayak begini malam ini. Kamu menyesalkan ngajak aku karena tahu Shania juga akan datang. Iya kan?!” “Cukup Rivanka! Jaga sikapmu! Aku ini suamimu.” Sungguh, Arman benci diintimidasi seperti ini. Belum pernah ada satu wanita pun yang melakukan hal ini kepadanya. “Kamu yang mulai dulu. Bisa-bisanya kamu mendekati Shania lagi. Terus kamu anggap aku ini apa?!” “Sudah. Hentikan! Jika kau masih terus ngoceh, lebih baik turun.” “Bisa ya kamu perlakukan aku seperti ini?” “Terserah.” Arman kembali melajukan mobil. Biarlah Rivanka mau bicara apa. Arman tidak peduli. * “Silakan dinikmati acaranya. Malam ini saya sengaja mengundang kalian semua karena ingin memperkenalkan putra saya. Sekaligus merayakan keberhasilan atas gelar S2 yang sudah ia peroleh.” Arman menarik napas dalam. Ternyata malam ini bukan jamuan makan malam biasa. “Meriah ya Mas. Aku kira Pak Emran cuma mengundang beberapa orang saja,” Rivanka berbisik di telinga Arman. “Iya. Perayaan kelulusan Pak Ziko rupanya.” “Aku baru tahu jika Pak Emran punya putra selain Pak Riko.” Rivanka menatap penuh kagum ke arah panggung. “Tapi keluarga Pak Emran memang sangat tertutup sih.” Arman mendengar beberapa karyawan berbisik membicarakan tentang Pak Emran dan keluarganya. Ternyata banyak juga yang belum tahu tentang Ziko. “Kalau begitu saya perkenalkan putra kedua saya. Ziko Putra Syah.” “Hah Ziko?” “What! Jadi selama ini Ziko putranya Pak Emran? Tahu gitu makin gencer gue pepetnya.” “Iiihh. Pantesan mukanya mirip Pak Emran gitu.” Arman hanya bisa geleng kepala sambil tersenyum tipis. Reaksi beberapa karyawan wanita yang histeris saling beradu. Dasar wanita gila harta, batin Arman. “Memang perayaan ini agak sedikit terlambat. Ziko sudah 1 bulan bekerja di perusahaan. Ini semua karena saya dan keluarga harus mengurus banyak hal terlebih dahulu.” “Ziko. Silakan bicara!” Arman melihat pak Emran turun dari panggung dan langsung bergabung dengan para dewan direksi. Sedangkan Ziko masih berdiri di atas sana. Sudut bibir Arman terangkat. Dirinya berpikir, apa kerennya seorang Ziko? Lelaki itu hanya menang kaya dan terlahir menjadi anak dari pak Emran. Tidak ada yang istimewa bagi Arman. “Ganteng ya Mas,” celetuk Rivanka. Dibalas lirikan tajam. “Jangan kegatelan kamu!” “Apa sih. Aku kan cuma memuji. Lihat tuh! Dia memang ganteng. Mirip Pak Emran yang punya ras campuran.” Arman jengah mendengar Rivanka tak berhenti memuja Ziko. Dia memilih mengedarkan pandangan. Mengapa Arman belum melihat Shania di sini? Namun, saat mata mencari-cari. Tiba-tiba sosok indah tersebut muncul dari balik pintu masuk. “Cantik dan menggoda.” Hanya itu yang mampu Arman ucapkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD