FAKTA!

1479 Words
Arman tidak bisa mempercayai apa yang baru saja didengar. Sungguh muncul sedikit rasa penyesalan bercampur kesal. Mengapa Shania tega menutupi semua ini? Apa jangan-jangan dia memang tidak pernah mencintai dan menganggap Arman ada? “Apa Bapak yakin?” “Saya yakin Pak. Untuk apa saya menutupi semua informasi ini. Saya juga salut, pihak Happy Farm dan Ibu Shania selalu memberikan beasiswa untuk 15 orang mahasiswa setiap tahunnya di Universitas ini.” Arman hanya bisa menahan rasa sesak di d**a. Jadi benar. Selama ini Shania bukanlah seperti yang dia kira. Shania bukan wanita biasa. Apa motif Shania menutupi semua ini? “Saya juga terkesan. Ibu Shania selalu meminta pihak kami merahasiakan identitasnya ke publik. Awalnya kami enggan untuk memberikan informasi ini kepada Bapak. Namun, berhubung Anda suaminya. Jadi saya rasa tidak ada salahnya memberitahu.” Arman melihat pria tua di depannya ini berbicara dengan sorot mata penuh bangga. mengapa sesal makin terasa? Kecewa karena baru mengetahui hal ini sekarang. Mengapa tidak dari awal Shania jujur? Sungguh, Arman merasa dipermainkan oleh istrinya sendiri. “Emm ... apa saya boleh bertanya lagi?” “Silakan, Pak?” “Apa beasiswa yang diberikan kepada Ariska dan Arista tidak akan dicabut? Em ... maksud saya apa beasiswa tersebut aman-aman saja?” Arman sungguh ingin memukul kepalanya. Mengapa mulutnya bisa bertanya hal demikian? Seolah-olah takut Shania akan mencabut beasiswa tersebut dan mempersulit pendidikan kedua adiknya. Tidak. Jika itu terjadi. Bagaimana Arman mengatasinya? Dirinya tahu, membiayai dua orang sekaligus di bangku perkuliahan perlu biaya yang tidak sedikit. Terlebih gaji tidak akan cukup untuk memenuhi semua itu. Namun, Arman merasa harus memastikan bahwa perkuliahan Ariska dan Arista aman. Menjadi seorang sarjana adalah impian dan ambisi ibu terhadap anak-anaknya. Arman tidak ingin mengecewakan. “Saya rasa aman-aman saja Pak. Meski saya agak heran …” “Heran kenapa Pak?” Arman memotong omongan kepala Manajemen Sumber Daya Universitas. “Maaf sebelumnya Pak. Saya hanya heran, mengapa beasiswa yang diberikan oleh saudari Ariska dan Arista tidak pernah dicabut. Bahkan keduanya sudah tidak dapat mempertahankan indeks prestasi mereka selama 2 semester terakhir ini. Sedangkan di sisi lain, masih banyak mahasiswa yang berprestasi dan membutuhkan beasiswa. Tapi saya bisa memaklumi. Mungkin hal tersebut dikarenakan Ariska dan Arista adalah adik ipar dari donatur. Jadi saya rasa wajar-wajar saja. Bapak beruntung memiliki istri seperti ibu Shania.” Ucapan tersebut bagai percikan api di tengah tumpahan bensin. d**a seperti terbakar. Bahkan pipi Arman terasa pedas. Apa maksudnya semua itu? Apa pria di depannya sengaja ingin menyindir atau bahkan mengejek? Dasar tua bangka. Kalau saja dia bukan orang penting di Universitas ini. Sudah pasti bogem mentah mendarat di wajahnya yang jelek itu. Maki Arman. “Apa yang bapak ucapkan sangat benar. Saya beruntung bisa memiliki istri seperti Shania. Terlebih dia tidak pernah memberitahu saya soal beasiswa ini. Semakin membuat saya kagum padanya,” jawab Arman. Berusaha untuk tetap tenang dan tidak terbawa emosi. “Baik Pak. Kalau begitu saya permisi dulu. Masih banyak hal lain yang harus saya selesaikan.” “Sama-sama Pak. Sampa salam saya kepada ibu Shania.” Dengan enggan. Arman menyambut uluran tangan. Dia berusaha sabar. Pikirnya, masih banyak hal lain yang harus ditelusuri. Shania. Kamu memang benar-benar tega. Bisa-bisanya informasi seperti ini kamu tutupi dari mas selama ini, monolognya dalam hati. Arman segera meninggalkan gedung Universitas. Kepala terasa pusing. Mendengar semua yang diucapkan oleh pihak Universitas. Membuat dirinya semakin menyesal telah melepas Shania. Tidak-tidak, Shania harus kembali. Arman masih mencintainya. Ya, Amran masih mencintai istrinya itu. Arman langsung melajukan mobil ke perusahaan tempat ia bekerja dulu. Masih penasaran dengan ucapan Kayla. Sulit sekali mendapat penjelasan langsung dari Shania. Terpaksa dia harus mencari tahu sendiri. Arman ingin membuktikan bahwa semua perkataan Kayla tidak benar. Tidak. Sudah pasti itu hanya omong kosong belaka. Sindo Farm adalah bukti dari kerja kerasnya. Tidak ada campur tangan Shania. Arman yakin itu. Tak terasa mobilnya sudah berada di depan gedung 3 lantai. Perusahaan di mana dulu Arman bekerja. Perusahaan yang membuat dia bisa melihat betapa sang ibu bahagia mengetahui anaknya sukses karena bekerja di perusahaan sebesar Sindo Farm. “Selamat pagi.” “Selamat pagi Pak Arman. Sudah lama tidak bertemu,” ujar wanita yang berdiri di depan Arman. Nada bicaranya sedikit genit. Arman hanya tersenyum. Wanita itu masih saja seperti dulu. Selalu menggoda dengan tatapan nakalnya. Arman jadi teringat masa-masa indah mereka. “Baik. Kamu, bagaimana kabarnya?” jawab Arman sambil tersenyum. Tubuh sintal itu masih saja menggoda. “Sedikit kurang baik. Terutama ketika Bapak sudah tidak bekerja di sini lagi dan memutuskan hubungan kita.” “Maaf,” ujar Arman sedikit merasa bersalah. “Kapan kita bisa menghabiskan waktu lagi Pak?” Wanita itu bertanya dengan sedikit berbisik. “Kabari saja nanti.” “Oke. Oh iya. Ngomong-ngomong, Bapak ada perlu apa?” Suara si wanita kembali profesional. “Aku ingin bertemu dengan Bu Rita.” “Bu Rita yang mana Pak?” “Hais. Bu Rita kepala personalia.” “Oh. Bu Rita sudah tidak bekerja di sini.” “Hah? Serius?” Arman cukup kaget mendengar hal tersebut. “Iya. Dia resign kurang lebih 1 minggu setelah Bapak keluar.” Arman tertegun sejenak. Apa perginya Rita ada sangkut pautnya dengannya? Arman tahu, Rita menaruh hati padanya. Mereka memang sempat bersama untuk beberapa bulan. Tapi Arman tidak serius dengan hubungan itu. Apa iya itu penyebabnya? Pikir Arman. “Halo Pak?” “Ah iya. Em ..., kalau begitu bisa aku bertemu dengan kepala divisi personalia yang baru?” “Bapak sudah punya janji?” Arman menggeleng. Sial! Dia lupa bahwa orang-orang penting di perusahaan ini tidak mudah untuk ditemui. Terlebih mereka yang memiliki jadwal padat. “Bapak sudah tahu jawabannya kan?” Arman mengangguk. “Apa aku tidak bisa bertemu dengannya hari ini? Bisakah kau mencoba untuk menanyakan hal tersebut?” ujarnya. Dia tidak pantang menyerah. Jelas semua harus segera diketahui kebenarannya. “Tunggu sebentar ya. Bapak bisa duduk dulu di kursi tunggu. Nanti Bapak capek.” Arman mengangguk dan mengikuti arahan. Beberapa orang yang mengenalnya menyapa. Tidak ada yang berubah dari perusahaan ini sejak terakhir kali dia bekerja. Sembari menunggu, Arman baru ingat. Setelah berhasil mendapatkan informasi dari sini, dirinya harus segera ke rumah sakit. Arman ingin tahu, mengapa Shania bisa kembali berjalan dengan normal. Meski masih sedikit pincang. Bukankah dokter mengatakan jika Shania lumpuh akibat kecelakaan itu? “Pak Arman.” Arman menoleh dan langsung menghampiri meja resepsionis. “Bagaimana?” “Bapak beruntung. Kepala personalia mau bertemu sekarang.” Helaan napas lega lepas begitu saja saat mendengar hal tersebut. Akhirnya, Arman merasa usahanya tidak sia-sia. “Kalau boleh tahu ada perlu apa sih Pak?” “Ah. Bukan masalah penting.” “Ish! Sudah suka main rahasia-rahasiaan ya sama aku.” Arman hanya tersenyum menanggapi sikap manja wanita itu. “Bukan masalah penting. Lain kali kita ketemu ya. Kabari aja oke. Aku pergi dulu.” Sengaja Arman kedipkan sebelah mata sebelum berlalu. Dirinya tahu, itu cukup untuk membuat teman mainnya merasa senang. Lift berjalan menuju lantai 2. Lantai di mana semua kepala divisi berada. Arman segera menuju ruang yang sudah tidak asing. Ruang yang sekarang dituju, menyimpan banyak kisah antara dirinya dan Rita. Wanita yang tidak kalah cantiknya dari Rivanka maupun Shania. Tangan kekar langsung mendorong pintu setelah dipersilahkan oleh sekretaris yang ada di depan. Wanita itu memang sudah akrab dengan Arman. Bahkan mengetahui hubungan yang pernah Arman jalani dengan Rita. “Bapak Arman?” Seorang pria sebaya tersenyum tipis. Tepat setelah Arman dipersilahkan duduk. “Benar Pak.” “Ada perlu apa?” “Begini Pak. Apa saya bisa mendapatkan informasi terkait perekrutan pegawai 2 tahun yang lalu?” “Maksud bapak?” Pria di hadapan Arman tampak bingung. “Maksud saya informasi terkait perekrutan saya 2 tahun yang lalu Pak.” “Kalau boleh tahu untuk keperluan apa ya?” Gigi Arman sempat bergemeletuk. “Saya hanya ingin memastikan. Bahwa dulu saya diterima di perusahaan ini atas kemampuan pribadi. Saya sudah dituduh melakukan kecurangan saat melamar di perusahaan ini. Isu tersebut bisa merusak reputasi saya Pak.” Arman berusaha sedikit jujur. Jelas dia juga tidak ingin ucapan tak mendasar dari wanita Kayla bisa merusak citranya. “Kalau masalah itu saya tidak bisa melakukannya. Bapak bukan lagi pegawai di perusahaan ini. Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk memberikan informasi yang bapak inginkan. Saya rasa bapak juga mengerti akan hal itu.” Arman membenarkan. Dia mengenal betul Sindo Farm. Ucapan kepala personalia sangat masuk akal. Tapi bagaimana dirinya bisa membantah tuduhan Kayla? Bagaimana jika Shania atau Kayla menyebar fitnah tersebut kepada pihak Akcaya Grup? Itu jelas akan menghancurkan karier Arman. “Sekali lagi saya minta maaf Pak.” “Ah. Tidak masalah. Saya paham akan hal tersebut. Kalau begitu, saya permisi dulu Pak. Terima kasih atas waktunya.” Arman segera pergi. Dia memilih mundur dulu, mungkin saat ini dirinya belum bisa membuktikan omong kosong Kayla. Bagi Arman sekarang, dia sebaiknya ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi Shania yang sebenarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD