SATU hari terasa berjalan sangat lambat sekarang ini. Setiap detiknya terasa seperti satu menit yang tak kunjung usai. Malam lama sekali berlalu jika sedang menantikan kedatangan pagi. Sejak kembali dari tempat perawatan Damian, Flora tidak beranjak dari lorong di depan kamarnya dengan pria itu. Dia memperhatikan pergerakan langit yang terasa jauh lebih lambat menyongsong malam dan berganti menjadi siang. Sesekali tatapannya terarah ke bawah, berharap nantinya ada serigala dengan garis putih di lehernya berlarian tanpa luka sama sekali. “Kau benar. Mansion tetap terasa beda jika tidak ada kau di sini,” gumamnya. “Kukira aku tak akan merindukanmu. Kukira lebih baik tanpa ada seorang pengganggu yang menyebalkan sepertimu.” “Kau belum tidur, Luna?” Flora menggeleng pelan, tidak menoleh s

